Chapter 9 of 21
Giok di Pergelangan Tangan
1.4k words
Lin Changzhi menyusuri koridor akademi yang sunyi, napasnya masih terasa pendek setelah audiensi dengan Ouyang Xiang. Langkah kakinya gontai, setiap ubin batu terasa membebani. Di benaknya, wajah sang Kanselir masih terukir jelas: tatapan tenang yang menghakimi, senyum tipis yang terasa dingin seperti embun pagi di musim gugur. Giok di balik jubahnya terasa memanas, bukan dari suhu tubuhnya, melainkan dari denyut energi yang terlalu akrab, sebuah bisikan yang berdesir di tulang tengkoraknya.
Ia mencapai biliknya, sebuah ruang sempit yang hanya berisi tikar jerami dan meja rendah yang miring. Pintu kayu berderit pelan saat ia menutupnya, seolah meratapi kelelahan yang sama. Changzhi merosot ke tikarnya, jemarinya secara otomatis bergerak ke dalam jubah, menyentuh lempengan giok. Permukaannya halus, dingin, namun getaran di dalamnya terasa begitu hidup, sebuah jantung buatan yang kini berdetak selaras dengan detak jantungnya sendiri.
Masalahnya, giok ini terlalu mencolok. Ukiran geometris yang rumit, warna putih kekuningannya, semua terasa asing di Bianjing yang terikat tradisi. Di akademi ini, benda-benda aneh selalu menarik perhatian. Duan, penjaga akademi yang ketat, sering mondar-mandir di koridor, matanya tajam seperti elang. Jika ia sampai melihat giok ini, atau bahkan mendengar desas-desusnya, Changzhi tahu takdirnya akan tamat. Bukan hanya gioknya yang akan disita, tetapi reputasinya, masa depannya, semua akan hancur lebur.
Ia membalik-balik lempengan itu di tangannya yang kurus. Cahaya temaram dari celah dinding memantulkan pola yang bergerak, seolah-olah giok itu hidup. Bagaimana cara menyembunyikannya? Ia bisa membungkusnya dalam kain, menyimpannya di bawah tikar. Tapi itu tidak cukup. Ia butuh kontak fisik yang konstan. Zi-01 telah menjelaskan, koneksi neural mereka optimal saat giok itu dekat dengan tubuhnya. Terpisah terlalu lama bisa mengganggu sinkronisasi, dan ia tidak bisa mengambil risiko itu sekarang, setelah merasakan kekuatan dan kejelasan yang ditawarkannya.
Kepalanya terasa berdenyut, bukan karena sakit, melainkan sensasi seperti ribuan jarum tak kasat mata yang bekerja di dalam otaknya, menyaring informasi, memproses kemungkinan. Kekhawatiran itu, ketakutan akan terungkapnya rahasia ini, terasa lebih nyata daripada rasa lapar yang biasa menghantuinya. Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya berenang dalam kekacauan, mencari solusi yang tak kunjung datang. Giok itu terasa semakin berat di telapak tangannya, sebuah beban sekaligus janji yang tak terucap.
---
Suara Zi-01 muncul di benaknya, tenang dan tanpa fluktuasi, kontras dengan badai emosi yang berkecamuk di dada Changzhi. “*Probabilitas deteksi artefak dalam bentuk aslinya adalah 87.3% dalam lingkungan sosial ini. Risiko eskalasi negatif terhadap status operasional saya sangat tinggi jika tidak disamarkan.*”
Changzhi membuka matanya. Ia sudah menduga. “Lalu, apa yang harus kulakukan?” bisiknya, suaranya serak. Ia tidak berbicara dengan suara keras, hanya gumaman, seolah takut dindingnya pun bisa mendengar. Sensasi itu, berbicara dalam hati tapi tahu ada entitas lain yang mendengarkan, selalu terasa aneh. Ini bukan dewa, bukan roh. Ini adalah data, dan data itu hidup di kepalanya.
“*Transformasi fisik adalah solusi optimal. Mengubah bentuk menjadi objek yang lumrah secara kultural, namun tetap mempertahankan integritas struktural unit penyimpanan. Sebuah perhiasan adalah opsi dengan probabilitas deteksi terendah.*” Suara itu berlanjut, tanpa jeda. “*Pergelangan tangan, misalnya. Kontak kulit yang konsisten memastikan transmisi energi biologis dan sinkronisasi neural tetap pada efisiensi maksimal.*”
Perhiasan? Changzhi menelan ludah. Ia tidak pernah mengenakan perhiasan. Kaum bangsawanlah yang memakai giok, bukan shutong miskin seperti dirinya. Tapi Zi-01 tidak berbicara tentang status, hanya tentang efisiensi. Ide itu terasa gila, namun sekaligus brilian. Sebuah gelang giok. Siapa yang akan curiga pada gelang giok? Itu adalah simbol keberuntungan atau status, bukan artefak kuno yang memuat kecerdasan buatan dari masa depan.
“Maksudmu… diukir?” tanya Changzhi, jemarinya mengusap permukaan giok itu lagi. Ada keraguan dalam suaranya. Mengukir giok ini terasa seperti menodai sesuatu yang sakral. Ini adalah satu-satunya jembatannya menuju masa depan, satu-satunya harapannya. Mengubahnya… itu terasa seperti pengkhianatan.
“*Modifikasi fisik tidak akan merusak inti data. Pola geometris internal akan tetap utuh. Bentuk luar hanyalah fasad. Fungsi inti tetap terjaga. Kontak konstan adalah prioritas utama untuk kelangsungan operasional unit.*” Zi-01 tidak peduli dengan sentimen. Hanya logika, hanya kelangsungan hidup.
Changzhi menghela napas panjang. Pilihan apa lagi yang ia punya? Rasa takut akan kehilangan Zi-01, akan kembali menjadi Lin Changzhi yang lapar dan tak berdaya, jauh lebih besar daripada rasa enggan untuk mengubah bentuk giok itu. Jika ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga rahasia mereka, untuk terus melangkah, maka ia harus melakukannya. Keputusannya terasa dingin dan tajam, sebuah realitas pahit yang harus ia telan. Ia harus mencari pengukir giok, dan itu tidak akan mudah.
---
Udara pasar malam terasa tebal oleh aroma minyak wijen, rempah-rempah, dan keringat. Lentera-lentera kertas berwarna-warni memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan menari di antara kerumunan. Changzhi menyusup, bahunya yang kurus nyaris tenggelam di antara pedagang yang berteriak dan pembeli yang sibuk menawar. Ini adalah jantung pasar gelap Bianjing, tempat segala hal yang terlarang diperdagangkan, dan juga tempat para pengrajin tanpa lisensi mencari nafkah.
Ia mencari di antara deretan losmen yang remang-remang, matanya menyapu setiap plang yang usang. Akhirnya, ia menemukan sebuah warung kecil yang hanya diterangi oleh obor minyak, di mana seorang pria tua dengan jari-jari tebal dan kacamata bertengger di hidungnya sedang mengukir sebuah liontin. Aroma debu giok tercium samar di udara. Ini dia. Pengukir giok. Matanya yang tajam mengamati Changzhi, sebuah pandangan penuh curiga yang sudah terbiasa ia lihat di tempat seperti ini.
“Ada yang bisa kubantu, nak?” Suara pria itu serak, seperti batu yang bergesekan. Ia tidak tersenyum. Changzhi menarik napas dalam, merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia mengeluarkan giok itu dari dalam jubahnya, menyodorkannya dengan hati-hati. Giok itu berkilauan redup di bawah cahaya obor, pola geometrisnya tampak hidup, aneh, dan tidak lazim.
“Aku… aku ingin giok ini diukir,” kata Changzhi, suaranya nyaris berbisik. “Menjadi sebuah gelang. Melingkar di pergelangan tangan.”
Pria tua itu mengambil giok itu, jemarinya yang kasar mengusap permukaannya. Matanya yang keriput menyipit, meneliti pola yang terukir. Alisnya terangkat sedikit. “Pola ini… aku belum pernah melihat yang seperti ini,” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Changzhi. “Bukan gaya Dinasti Song. Bukan pula dari Barat.”
Ketegangan mencengkeram Changzhi. “Ini… ini warisan keluarga,” ia berbohong, merasakan keringat dingin menetes di punggungnya. “Sudah sangat tua. Nenek moyangku… mereka menyukai pola yang unik.”
Pria tua itu mendengus, namun tidak menekan lebih jauh. Pengrajin di pasar gelap terbiasa dengan cerita-cerita aneh dan asal-usul yang buram. “Bisa. Tapi pola ini rumit. Dan gioknya… keras sekali. Akan butuh waktu. Dan biayanya… tidak murah.” Ia mengembalikan giok itu, menatap Changzhi dengan mata penuh perhitungan. “Kapan kau butuh?”
“Secepatnya,” jawab Changzhi, tanpa berpikir. “Aku… aku akan bayar berapa pun.” Ia mengeluarkan beberapa koin tembaga yang ia simpan dari sisa uang sakunya. Jumlah itu nyaris seluruh kekayaannya. Pria tua itu menatap koin-koin itu, lalu ke wajah Changzhi yang pucat. Ia tahu pemuda ini putus asa. “Besok malam. Datanglah sebelum tengah malam.”
---
Malam berikutnya, Changzhi kembali ke losmen pengrajin giok. Udara pasar masih ramai, namun ia merasa lebih fokus, lebih tenang. Giok itu sudah tidak lagi menjadi lempengan pipih. Di atas meja kerja pria tua itu, di bawah cahaya obor yang berkedip, tergeletak sebuah gelang. Sebuah lingkaran sempurna dari giok putih kekuningan, di mana pola geometris purba itu kini terukir mengikuti lekuknya, lebih halus, lebih tersembunyi, namun tetap jelas bagi mata yang tahu.
Ia mengambilnya. Dinginnya giok itu segera menjalar ke jemarinya, sebuah sentuhan yang akrab namun dengan bentuk yang sama sekali baru. “Selesai,” kata pria tua itu, suaranya datar. “Pola ini… aneh. Tapi sekarang terlihat seperti gelang giok biasa. Tidak ada yang akan curiga.”
Changzhi mengangguk, tidak bisa berkata-kata. Ia membayar sisa uangnya, ditambah beberapa koin tembaga ekstra sebagai rasa terima kasih, meskipun itu berarti ia tidak akan makan selama beberapa hari ke depan. Rasa lapar itu terasa tumpul di hadapan benda ini, kehadiran baru ini. Dengan hati-hati, ia mengenakan gelang itu di pergelangan tangan kirinya. Ukurannya pas, seolah dibuat khusus untuknya. Dinginnya giok itu membalut kulitnya, sebuah pengingat konstan akan rahasia yang ia bawa.
“*Koneksi neural kembali pada efisiensi 99.8%. Transmisi energi biologis optimal.*” Suara Zi-01 berdesir di kepalanya, lebih jelas, lebih kuat daripada sebelumnya, seolah giok itu benar-benar menjadi bagian dari dirinya. Sensasi itu… sebuah kelegaan yang mengerikan, sekaligus ketakutan yang mendalam. Ia merasa lebih aman, namun juga lebih terikat. Seperti sebuah rantai yang tak terlihat, mengikatnya pada takdir yang tidak ia pilih, takdir yang ditenun oleh logika dingin sebuah mesin.
Ia menarik lengan jubahnya, menutupi gelang giok itu sepenuhnya. Tidak ada yang akan melihatnya, tidak ada yang akan tahu. Hanya dia dan suara itu. Dinginnya giok membalut pergelangan tangan Changzhi, sebuah janji dan kutukan yang tersembunyi di bawah lengan bajunya, siap untuk mengarahkan setiap langkahnya di istana.