Chapter 10 of 21

Ancaman Kelaparan: Krisis Gandum

1.9k words

Udara di paviliun istana terasa lebih dingin dari biasanya, menembus jubah tipis Lin Changzhi hingga ke tulang. Desas-desus telah berembus sepanjang pagi, bisikan-bisikan seperti angin musim gugur yang membawa berita buruk dari utara. Kini, bisikan itu menjelma menjadi raungan, mengoyak ketenangan semu aula tempat para pejabat tinggi berkumpul. Changzhi berdiri di barisan belakang, berusaha sekecil mungkin, nyaris menyatu dengan bayangan pilar berukir naga. Sebuah gulungan surat yang terikat pita merah tua terlempar ke atas meja perjamuan, mendarat dengan bunyi debam di hadapan Menteri Urusan Rumah Tangga. Wajah sang menteri yang biasanya tenang, kini memucat pasi, bibirnya bergetar saat ia membaca isinya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, menetes ke janggutnya yang rapi. Changzhi bisa merasakan ketegangan merayap di setiap sudut ruangan, seperti kabut tebal yang mencekik. Para pejabat lain mulai saling pandang, kerutan cemas memenuhi dahi mereka. Suara gemerisik kain sutra yang biasanya anggun kini terdengar gelisah, seperti daun kering ditiup angin badai. Changzhi tanpa sadar meremas pergelangan tangannya, merasakan dinginnya giok yang melingkar di sana. Guang, sang entitas tak terlihat, tetap diam, namun Changzhi bisa merasakan fluktuasi energi halus dari dalam gelang itu, seperti detak jantung kedua yang berdenyut tenang di tengah badai. Seorang kasim bergegas masuk, napasnya tersengal, membawa gulungan-gulungan lain yang lebih tebal. Ia menyerahkan dokumen itu dengan tangan gemetar kepada seorang Sekretaris Agung. Wajah sang sekretaris langsung berubah kelabu, matanya melebar tak percaya. “Gagal panen total,” bisiknya, suaranya pecah, “seluruh provinsi utara… dilanda kekeringan parah.” Kata-kata itu menghantam ruangan seperti palu godam. Bisikan riuh meledak menjadi seruan terkejut, beberapa pejabat terhuyung mundur, tangan mereka mencengkeram dada. Lin Changzhi merasakan perutnya bergejolak. Ia pernah merasakan kelaparan. Aroma nasi busuk, rasa hambar ubi yang mengering di kerongkongan, dan tatapan mata ibunya yang kosong karena putus asa—semua itu kembali menghantuinya. Ia melihat sekeliling, pada wajah-wajah para bangsawan yang kini dipenuhi kengerian. Mereka takut. Bukan takut pada kelaparan itu sendiri, pikir Changzhi pahit, melainkan pada kekacauan yang akan ditimbulkannya. Pemberontakan, kerusuhan, hilangnya legitimasi kekaisaran. Mereka takut pada bayangan konsekuensi politik, bukan pada jeritan perut yang kosong. Seorang jenderal tua, dengan janggut putih panjang, membanting tinjunya ke meja. “Bagaimana mungkin ini terjadi? Bukankah laporan pengawasan panen selalu menjanjikan?” Suaranya serak karena marah, bergema di antara pilar-pilar tinggi. Namun, kemarahan itu terasa hampa, hanya sebuah luapan emosi tanpa solusi. Lin Changzhi merasakan giok di pergelangan tangannya berdenyut, sedikit lebih hangat dari sebelumnya. “Anomali iklim ekstrem,” suara Guang berbisik di benaknya, datar dan tanpa emosi, “Data historis menunjukkan probabilitas 0.03% untuk tingkat kekeringan seperti ini dalam siklus 500 tahun terakhir. Sistem pertanian Dinasti Song tidak memiliki protokol adaptasi yang memadai.” Analisis itu, meski dingin, menyentuh inti masalah. Changzhi menelan ludah, menatap wajah-wajah panik di sekelilingnya. Mereka mencari kambing hitam, mencari kejelasan di tengah kegelapan, namun Guang sudah memiliki akar masalahnya. Ia menyadari bahwa di sini, di jantung kekaisaran, di antara jubah-jubah sutra dan topi-topi kebesaran, mereka semua sama-sama buta. Ia bisa mendengar erangan seorang pejabat muda yang jatuh terduduk, wajahnya ditutupi kedua tangan. Ketakutan itu nyata. Ketakutan akan kehancuran. Changzhi tahu, naluriahnya berkata, bahwa ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan puisi atau retorika Konfusianisme. Ini adalah masalah logistik, masalah angka, masalah hidup dan mati. Dan Guang adalah satu-satunya entitas di ruangan ini yang memahami bahasa itu. --- Pertemuan darurat berlangsung di Ruang Audiensi Kekaisaran, tempat yang biasanya hanya digunakan untuk dekrit penting atau penyambutan duta besar. Kini, suasana khidmatnya terkoyak oleh keputusasaan. Lin Changzhi duduk di bangku paling belakang, jubah usangnya terasa semakin menonjol di antara sutra dan brokat. Ia mencoba menyerap setiap kata, setiap angka, setiap detail laporan yang dibacakan. Laporan-laporan itu datang dari berbagai prefektur di utara, ditulis dengan tinta hitam pekat pada kertas beras, namun isinya jauh lebih gelap. Sebuah laporan dari Provinsi Hebei menyebutkan “separuh dari lahan garapan tidak menghasilkan apa-apa. Cadangan beras habis dalam tiga pekan.” Laporan lain, dari Shanxi, berbicara tentang “anak-anak yang perutnya bengkak, mata cekung, dan kerusuhan kecil mulai terjadi di pasar desa.” Setiap kata terasa seperti pukulan di dada Changzhi. Ia melihat angka kematian, probabilitas penyebaran penyakit, dan daftar desa-desa yang ditinggalkan. Angka-angka itu bukan lagi abstrak; mereka adalah wajah-wajah yang pernah ia lihat di desanya sendiri, mata yang memelas, tangan-tangan yang kurus kering. Tenggorokannya tercekat, napasnya terasa dangkal. Ouyang Xiang duduk di ujung meja, tatapannya tenang namun tajam, menyapu wajah setiap pejabat. Ia tidak menunjukkan kepanikan, namun rahangnya yang sedikit mengeras adalah satu-satunya indikator kegelisahan. “Berapa banyak cadangan gandum di gudang pusat?” tanyanya, suaranya pelan tapi menusuk, memotong keributan bisikan. “Dan berapa banyak yang dapat kita alihkan dari provinsi selatan?” Seorang pejabat keuangan, dengan janggut keperakan, tergagap. “Cadangan… tidak mencukupi, Tuan Kanselir. Panen tahun lalu sudah dialihkan untuk pembangunan kanal. Dan provinsi selatan… mereka juga melaporkan penurunan hasil panen akibat banjir.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan menunduk dalam, seolah malu atas kenyataan yang ia sampaikan. Lin Changzhi merasakan mual. Sistem yang seharusnya kokoh, yang ia pelajari dari gulungan-gulungan klasik, kini terlihat rapuh dan penuh celah. Setiap keputusan masa lalu yang dianggap bijaksana—pembangunan kanal, pengalihan cadangan—kini berubah menjadi rantai yang mencekik. Ia menekan pergelangan tangannya, merasakan denyut giok itu kian kuat, seolah Guang juga merasakan urgensi, meski tanpa emosi. “Probabilitas kegagalan sistematis mencapai 87% jika tidak ada intervensi radikal dalam 72 jam ke depan,” bisik Guang di benaknya, suaranya tetap monoton, kontras dengan kepanikan di ruangan itu. “Proyeksi kelaparan akan meluas ke 75% populasi utara dalam enam bulan, menyebabkan destabilisasi politik dan keruntuhan ekonomi total.” Changzhi terbatuk, berusaha menyembunyikan getaran di tubuhnya. Angka-angka itu menghantamnya dengan kejam. Begitu presisi, begitu tanpa ampun. Ia mengangkat pandangannya, melihat Ouyang Xiang menatapnya. Tatapan kanselir itu tidak menghakimi, hanya sebuah pertanyaan tak terucapkan, seolah ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda pada pemuda shutong ini. “Kita harus segera mengirimkan bantuan!” teriak seorang menteri pertahanan, matanya memerah. “Berapa pun biayanya!” “Bantuan apa, Jenderal?” sahut Ouyang Xiang dingin. “Dengan apa? Dari mana? Kereta kuda terbatas, jalan rusak, dan lumbung kosong. Emosi tidak akan mengisi perut rakyat, Tuan.” Kata-kata itu menusuk. Changzhi merasakan beban dunia di pundaknya. Ia bukan lagi Lin Changzhi si shutong yang hanya peduli pada esai dan buku. Ia adalah seorang pejabat muda, di tengah-tengah krisis yang bisa meluluhlantakkan negerinya, dan ia memiliki sebuah rahasia yang mungkin menjadi satu-satunya harapan. --- Setelah pertemuan yang penuh ketegangan itu, Lin Changzhi kembali ke kamarnya yang sederhana, kepalanya berdenyut. Suara Guang masih bergaung di benaknya, kini lebih aktif, lebih intens. Giok di pergelangan tangannya terasa hangat, bahkan panas, seolah memompa data langsung ke setiap sarafnya. Ia duduk di meja kayu kecil, menatap kosong ke dinding. “Analisis awal telah selesai,” kata Guang, suaranya memenuhi ruang mental Changzhi. “Masalah logistik inti: kapasitas transportasi tidak memadai, korupsi distribusi tingkat tinggi, dan kurangnya data riil mengenai ketersediaan sumber daya lokal. Sistem informasi Dinasti Song tidak memiliki database terpusat yang efisien.” Changzhi menarik napas dalam, merasakan paru-parunya sesak. “Jadi… kita tidak punya gandum, dan kita tidak bisa mengangkutnya, bahkan jika kita punya?” Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, kecil dan penuh keputusasaan. “Kalkulasi menunjukkan bahwa metode konvensional akan menghasilkan tingkat mortalitas 68% dalam empat bulan,” lanjut Guang, mengabaikan nada emosional Changzhi. “Namun, ada solusi berbasis optimalisasi jaringan pasokan dan alokasi sumber daya prediktif. Ini akan memerlukan restrukturisasi mendasar dalam birokrasi pengadaan dan distribusi.” Changzhi merasakan gelombang informasi membanjiri benaknya: peta-peta rute perdagangan, data kepadatan penduduk, perkiraan kapasitas kapal sungai dan kereta darat, bahkan pola hujan historis dan proyeksi iklim. Ini seperti membuka sepuluh ribu gulungan sekaligus, dan setiap gulungan berisi angka dan grafik yang rumit. Rasa pusing menyerang kepalanya, namun ia memaksakan diri untuk fokus. “Restrukturisasi…?” Changzhi berbisik. “Bagaimana kita bisa melakukan itu? Para menteri tidak akan mau mengubah cara kerja mereka yang sudah berabad-abad.” Ia membayangkan wajah-wajah konservatif yang menolak gagasannya tentang reformasi fiskal, kini menghadapi perubahan yang jauh lebih radikal. Mereka akan menolaknya mentah-mentah. “Setiap sistem memiliki titik lemah,” sahut Guang. “Celah efisiensi. Dengan analisis data yang tepat, kita dapat mengidentifikasi pejabat yang kompeten dan jalur logistik yang paling efisien, melewati hierarki yang korup. Ini membutuhkan presisi, kecepatan, dan kemampuan untuk memanipulasi informasi untuk mencapai hasil optimal.” Manipulasi informasi. Kata-kata itu berputar di benak Changzhi. Ia tahu bahwa dunia istana penuh dengan intrik, namun ia selalu membayangkan dirinya sebagai agen kebenaran, bukan pemain dalam permainan kotor. Giok di pergelangan tangannya berdenyut lagi, seolah mendorongnya. “Apa… apa yang harus aku lakukan?” tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar. “Anda harus menjadi jembatan,” jawab Guang. “Menerjemahkan logika murni menjadi retorika yang bisa diterima, mengidentifikasi risiko, dan menyajikan solusi yang tidak hanya efektif secara matematis, tetapi juga dapat dilaksanakan secara politis. Ini adalah tantangan yang jauh lebih kompleks daripada ujian kekaisaran.” Changzhi merasakan tekanan yang luar biasa. Ini bukan lagi tentang dirinya, bukan tentang kehormatan keluarga, atau bahkan ambisinya. Ini adalah tentang jutaan nyawa. Ia melihat gambaran samar wajah-wajah kelaparan di hadapannya, seolah ia bisa mendengar rintihan mereka dari jauh. Pikirannya berlomba, mencoba menemukan celah, mencari titik terang di tengah kegelapan yang disajikan Guang. --- Malam tiba, membungkus Bianjing dalam selimut kegelapan, namun di kamar Lin Changzhi, tidak ada kedamaian. Ia duduk di lantai beralaskan tikar pandan, peta kekaisaran yang usang terhampar di depannya. Peta itu, yang biasanya hanya garis dan nama tempat, kini terasa hidup. Setiap garis sungai adalah urat nadi yang tersumbat, setiap provinsi adalah organ yang sekarat. Giok di pergelangan tangannya berdenyut konstan, memancarkan kehangatan yang aneh, seperti bara api kecil. Pikiran Changzhi dipenuhi angka, probabilitas, dan algoritma yang terus-menerus disuplai oleh Guang. Ia melihat jalur-jalur logistik yang tidak efisien, gudang-gudang kosong, dan rute-rute yang terlalu lambat. Otaknya terasa panas, dipaksa bekerja melampaui batas kemampuannya. Ia mencoba memetakan solusi yang disarankan Guang. Memanfaatkan perahu nelayan di danau-danau pedalaman, mengaktifkan lumbung-lumbung cadangan yang sudah lama terlupakan, atau bahkan mengalihkan sebagian pasukan militer untuk membantu transportasi. Setiap ide terdengar radikal, hampir gila, di tengah birokrasi yang kaku. Rasa bersalah mulai menggerogoti. Apakah ia berhak memaksakan perubahan sebesar ini? “Rasa bersalah adalah bias kognitif yang memperlambat proses pengambilan keputusan,” bisik Guang, suaranya begitu dekat, seolah AI itu benar-benar duduk di sampingnya. “Data menunjukkan bahwa penundaan satu hari akan meningkatkan tingkat mortalitas sebesar 0.7%.” Changzhi menghela napas berat, merasakan ketegangan menjalar di otot-otot lehernya. Ia bukan lagi hanya penafsir data, melainkan seorang eksekutor. Setiap keputusannya, setiap kata yang ia ucapkan di istana, kini memiliki bobot jutaan nyawa. Ia yang dulu pemalu, kini harus berdiri tegak di hadapan para menteri, berargumen untuk sebuah sistem yang belum pernah ada. Ia menggeser jemarinya di atas peta, menelusuri garis-garis merah yang melambangkan kekeringan. Garis-garis itu seolah bergerak, berkelok, membentuk kontur wajah-wajah kurus, mata cekung, dan bibir pecah-pecah yang pernah ia lihat di desanya. Wajah-wajah itu menuntut jawaban, menuntut solusi. Ia harus menemukan cara untuk tidak hanya memahami data Guang, tetapi juga menjadikannya kenyataan. “Ini adalah beban yang tidak bisa saya pikul sendiri,” bisik Changzhi, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Guang. Namun, ia tahu tidak ada pilihan lain. Ia telah menerima Guang, membiarkan AI itu menyatu dengannya, dan kini konsekuensinya terpampang nyata di depan mata. “Anda tidak sendiri,” jawab Guang, ada nada finalitas dalam suaranya. “Anda adalah operator sistem. Data telah dianalisis. Strategi telah dioptimalkan. Sekarang, eksekusi adalah satu-satunya variabel.” Changzhi menatap peta kekaisaran yang membentang di mejanya, garis-garis merah yang melambangkan kekeringan seolah bergerak, membentuk wajah-wajah kelaparan yang menuntut jawaban, dan Zi-01 berbisik: “Waktu bergerak cepat, Lin Changzhi. Apakah Anda siap untuk keputusan yang tak bisa diubah?”

End of Chapter 10