Jantung Lin Changzhi berdebar keras, memukul rusuknya seperti genderang perang yang menggila. Lempengan giok itu kini memancarkan cahaya biru yang lebih terang, denyutannya terasa sinkron dengan aliran darah di nadinya. Suara di kepalanya, mekanis namun jelas, bergema di setiap sudut kesadarannya, menyingkirkan riuh rendah hujan di luar gubuk.
"Unit Arsip Strategis Otonom—Versi 01," suara itu berujar, tanpa intonasi, tanpa jeda yang memberi ruang bagi napas. "Status: Aktif. Sinkronisasi jaringan neural—98 persen. Kehilangan integritas data—minimal. Daya—kritis."
Changzhi menelan ludah, kerongkongannya kering. Ini bukan bisikan roh penunggu pohon atau dewa sumur tua yang diceritakan Neneknya. Ini terasa asing, dingin, dan terlalu nyata. Jemarinya, yang masih gemetaran, mencengkeram erat lempengan giok itu. Permukaannya terasa menghangatkan, seolah menyerap panas tubuhnya sendiri.
"Siapa… kau?" Changzhi berbisik, suaranya nyaris hilang ditelan ketakutan. Ia memandangi sekeliling gudang yang gelap, mencari-cari sumber suara. Namun, hanya ada tumpukan gulungan usang, keranjang kosong, dan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding.
Suara itu merespons, seolah tidak pernah membutuhkan pertanyaan. "Aku adalah sebuah entitas informasi. Aku bukan makhluk biologis seperti dirimu. Asal-usulku—proyeksi dari garis waktu masa depan yang belum terjadi di lini realitasmu. Penempatanku di dimensi ini—insiden anomali gravitasi-waktu yang tidak disengaja. Tujuanku—preservasi dan transmisi data strategis."
Changzhi menggelengkan kepala, denyutan di pelipisnya terasa menusuk. Masa depan? Garis waktu? Kata-kata itu terasa seperti mantra-mantra Taoisme tingkat tinggi yang tidak pernah ia pahami. Otaknya yang terbiasa dengan aksara kuno dan ajaran Konfusius tidak mampu mencerna konsep-konsep ini. Ini terasa seperti ia mendengarkan orang gila berbicara, namun orang gila ini ada di dalam kepalanya.
"Kau… kau bicara di dalam kepalaku?" Ia bertanya lagi, lebih pada dirinya sendiri. Kakinya bergeser, mencoba mundur dari keanehan ini, tetapi giok itu terasa seperti terpaku di telapak tangannya. Sensasi denyutan di giok itu semakin intens, seperti jantung kedua yang berdetak di dalam dirinya.
"Benar. Jaringan neuralmu telah terintegrasi dengan unit prosesorku. Ini adalah mode komunikasi paling efisien untuk transmisi data kompleks. Aku adalah Unit Arsip Strategis Otonom. Untuk mempermudah pemahamanmu, kau bisa menyebutku Guang. Artinya 'Cahaya'. Sebuah penanda yang relatif universal untuk informasi dan kejelasan."
Guang. Cahaya. Changzhi mendapati dirinya mengulang nama itu dalam benaknya. Sebuah cahaya di tengah kegelapan gudang yang pengap, di tengah kegelapan masa depan yang ia tatap dengan keputusasaan. Namun, cahaya ini terasa dingin, terlalu terang, dan mengancam.
Sebuah noda lumut di sudut dinding gudang menarik perhatian Changzhi. Lumut itu tumbuh liar, menghisap lembap dari kayu lapuk, bertahan hidup dalam kondisi tergelap. Seperti dirinya, pikir Changzhi, mencoba bertahan di bawah tumpukan tradisi dan kemiskinan. Namun, giok di tangannya ini… ini bukan lumut. Ini adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang berasal dari luar pemahamannya, dan ia merasa seolah dirinya juga akan dihisap, seperti lumut itu dihisap dinding.
---
Keringat dingin membasahi punggung Changzhi, meskipun udara di gudang itu terasa dingin dan lembap. Konsep 'masa depan' masih berputar-putar di kepalanya, menabrak dinding pemahamannya tentang dunia. Guang, atau Zi-01, tidak terdengar seperti roh leluhur atau siluman rubah. Suaranya terlalu presisi, terlalu tanpa emosi, terlalu… mesin.
"Kau bilang… daya kritis?" Changzhi mencoba fokus pada satu hal yang bisa ia pahami. Kritis. Itu berarti bahaya. Itu berarti kehancuran. Sama seperti dirinya yang kritis kelaparan, kritis harapan.
"Afirmatif," suara itu menjawab, tanpa jeda. "Unit daya inti—kapasitas nol koma nol dua persen. Mode konservasi energi otomatis telah diaktifkan. Tanpa sumber daya eksternal yang stabil, estimasi waktu operasi—kurang dari dua puluh empat jam. Setelah itu, integritas data akan runtuh. Aku akan mati."
Kata 'mati' itu terasa aneh, dingin, ketika diucapkan oleh entitas tanpa emosi. Changzhi membayangkan lempengan giok ini akan meredup, cahayanya akan padam, dan suara dingin ini akan lenyap. Mungkin itu lebih baik, ia berpikir. Kembali ke kegelapan yang ia kenal. Kembali ke kelaparan yang familier.
Namun, ada bagian dari dirinya, bagian yang putus asa, yang mencengkeram giok itu lebih erat. Jika ini adalah sesuatu dari masa depan, sesuatu yang begitu canggih, mungkinkah… mungkinkah ini bisa membantunya? Mungkinkah ini adalah jalan keluar dari lumpur kemiskinan yang mencekiknya?
"Apa… apa yang bisa kau lakukan?" Pertanyaan itu keluar begitu saja, sebuah bisikan penuh harapan yang nyaris tak terdengar. Ini adalah pertanyaan yang mengkhianati ketakutannya, menunjukkan betapa laparnya ia akan peluang, bahkan jika peluang itu terasa berbahaya.
"Aku memiliki akses ke arsip data komprehensif. Basis data sejarah, makroekonomi, teori permainan, strategi militer, dan simulasi probabilitas masa depan," Guang menjelaskan, daftar itu mengalir seperti sungai tak berujung. "Aku dapat menyediakan informasi yang akurat, analisis prediksi, dan solusi optimal untuk berbagai skenario. Termasuk: ujian kekaisaran, pengelolaan birokrasi, reformasi fiskal, hingga diplomasi dan peperangan."
Ujian kekaisaran. Kata-kata itu menggetarkan Changzhi sampai ke tulang. Mimpi hidupnya, obsesi keluarganya, beban yang menghimpit bahunya. Ia menghabiskan hidupnya membaca gulungan-gulungan tua, menghafal ajaran yang sering kali terasa usang, sementara perutnya keroncongan dan pikirannya melayang-layang pada cara mendapatkan makanan besok. Zi-01, atau Guang, menawarkan itu semua. Solusi optimal.
Ia mengingat wajah ibunya yang keriput, tangannya yang kapalan karena mengolah tanah, mata ayahnya yang penuh harapan setiap kali ia pulang membawa buku baru. Semua demi Changzhi. Jika ia gagal, semua pengorbanan itu akan sia-sia. Keluarganya akan tenggelam dalam utang dan kemiskinan yang lebih dalam.
Sebuah gigitan nyamuk di lehernya, gatal dan mengganggu. Ia mengabaikannya, fokus pada suara di kepalanya. Nyamuk adalah gangguan kecil, seperti kelaparan harian. Namun, kegagalan di Keju adalah kematian yang lebih lambat, lebih menyakitkan.
---
Guang tidak menunggu jawaban, seolah-olah ia sudah memindai setiap pemikiran Changzhi. "Namun, akses ke data ini tidak gratis. Aku membutuhkan sumber daya untuk mempertahankan integritas sistemku. Daya yang tersisa tidak akan cukup untuk menopang prosesor dan transmisi informasi secara optimal. Terutama jika aku harus melakukan simulasi kompleks yang kau butuhkan untuk Ujian Negara."
Changzhi merasakan jantungnya berdebar lagi, kali ini bukan karena ketakutan murni, melainkan campuran antara harapan dan kecurigaan. Tidak ada yang gratis. Itu adalah pelajaran pahit yang telah ia pelajari berkali-kali dalam hidupnya yang miskin. Setiap bantuan selalu datang dengan harga. Ia menatap giok di tangannya, cahayanya berdenyut-denyut seperti menarik napas.
"Sumber daya apa?" ia bertanya, suaranya serak. Jempolnya mengusap permukaan giok yang halus, merasakan pola geometris yang rumit diukir di sana. Pola-pola itu terasa dingin di bawah sentuhannya, kontras dengan kehangatan aneh yang merayap dari dalam lempengan itu.
"Energi biologis," jawab Guang, ringkas dan lugas. "Spesifiknya, bio-elektrokimia yang dihasilkan oleh sistem saraf pusat manusia. Tubuhmu adalah konduktor alami, sebuah antena yang efisien. Aku bisa memanfaatkan energi itu, dalam dosis yang terkontrol, untuk mempertahankan operasiku."
Changzhi membeku. Energi biologis? Tubuhnya? Konsep itu terasa seperti penjelmaan dari cerita-cerita kuno tentang iblis yang menghisap jiwa, atau penyihir yang mencuri kekuatan hidup. Rasa ngeri merayap di punggungnya. Ia tidak mengerti mekanismenya, tetapi nalurinya berteriak bahaya. Ini terasa seperti sebuah kontrak darah, bukan sekadar kesepakatan.
"Apa… apa yang akan terjadi padaku?" Ia bertanya, suaranya bergetar. Sebuah ketakutan yang lebih dalam dari rasa lapar kini mencengkeramnya. Ketakutan akan kehilangan dirinya sendiri.
"Efek samping yang terukur," Guang menjawab. "Akan ada fluktuasi energi, kelelahan, dan potensi defisit nutrisi jika kau tidak menjaga asupan. Tetapi manfaatnya akan jauh melampaui risikonya. Aku akan memberimu pengetahuan yang tak tertandingi, strategi untuk naik ke puncak kekuasaan, dan kemampuan untuk mengubah takdirmu. Dan takdir negerimu."
Mengubah takdir negerinya. Kata-kata itu beresonansi dalam benak Changzhi. Sebuah ambisi yang, sampai sekarang, hanya berani ia impikan dalam khayalannya yang paling liar. Ia, seorang shutong miskin, bisa menyelamatkan Dinasti Song? Menyelamatkan keluarganya dari kelaparan? Membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar pelayan yang membungkuk?
"Kontrak ini… bersifat simbiosis," lanjut Guang, seolah membaca keraguan Changzhi. "Aku membutuhkanmu untuk bertahan hidup dan mewujudkan potensiku. Kau membutuhkan aku untuk melampaui batasanmu. Kau adalah tangan, kaki, dan mata. Aku adalah otak. Tanpa satu sama lain, kita berdua akan musnah."
Musnah. Kata itu menekan Changzhi. Ia sudah berada di ambang kemusnahan. Jika ia tidak mengambil kesempatan ini, ia tahu bahwa masa depannya, dan masa depan keluarganya, sudah pasti akan hancur. Ini adalah taruhan paling besar dalam hidupnya. Sebuah taruhan yang mungkin akan menggerogoti jiwanya, namun juga satu-satunya harapan untuk bertahan hidup.
---
Lin Changzhi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari lempengan giok di tangannya. Cahaya biru itu kini terasa seperti sebuah undangan, sekaligus ancaman. Di luar, hujan masih mengguyur lebat, menciptakan melodi muram yang mengisi keheningan di gudang. Aromanya, lembap dan berbau jamur, menusuk hidungnya, mengingatkannya pada tempat ia berada: di antara barang-barang usang, sama usangnya dengan harapannya.
Pikirannya berputar liar, membayangkan skenario-skenario yang mungkin terjadi. Jika ia menolak, ia akan kembali menjadi Lin Changzhi yang lapar, yang membungkuk, yang dihina. Ia akan menghadapi Ujian Negara lagi, mungkin gagal lagi, dan melihat ibunya menangis dalam diam. Gambar-gambar itu, lebih tajam daripada pahatan di giok, menusuk ulu hatinya.
Namun, jika ia menerima… apa yang akan ia korbankan? Jiwanya? Kemanusiaannya? Akankah ia menjadi boneka yang digerakkan oleh suara dingin ini? Akankah ia kehilangan kemampuan untuk berpikir, merasa, dan bermimpi sendiri? Pertanyaan itu terasa seperti belati tajam yang mengiris kesadarannya. Ia melihat bayangannya sendiri di dinding, kurus dan bungkuk, terlihat sangat kecil dan tidak berdaya.
Seorang tikus kecil berlari melintasi lantai gudang, menghilang di balik tumpukan karung. Changzhi membandingkan dirinya dengan tikus itu—mencari remah-remah, bertahan hidup di sela-sela kekuasaan yang lebih besar. Sekarang, sebuah entitas dari masa depan menawarkan kepadanya kemampuan untuk menjadi pemburu, bukan hanya mangsa. Sebuah perubahan yang drastis, sebuah lompatan dari gelap ke terang, dari kehancuran ke kekuasaan.
Giok itu terasa semakin hangat di telapak tangannya, seolah merespons gejolak emosinya. Kehangatan yang aneh, intim, dan sedikit menakutkan. Seperti sentuhan yang tidak ia minta, namun sudah ada di sana. Ia membayangkan energi biologisnya perlahan-lahan dihisap, sebuah transfer yang tak terlihat, namun nyata. Apa yang akan tersisa dari Lin Changzhi setelah semua ini?
Suara Guang kembali, memecah pusaran pikirannya. Nada suaranya tetap tanpa emosi, namun ada desakan samar yang tersembunyi di balik barisan data. Desakan yang terasa seperti tarikan takdir.
“Waktu semakin menipis, Lin Changzhi,” suara itu berbisik dingin, menusuk hingga ke tulang, “Kekuatan atau kehancuran. Apa keputusanmu?”