Chapter 1 of 21

Chapter 1: Bisikan Giok dalam Hujan

1.3k words

Udara dingin menusuk hingga ke tulang, membawa serta aroma tanah basah dan daun-daun busuk yang menempel di jubah Lin Changzhi. Hujan mengguyur Bianjing tanpa ampun malam ini, mencambuk atap genteng Akademi Angsa Liar dengan irama brutal. Perutnya bergejolak, perih melilit seperti ditarik tali-tali kasar. Sudah dua hari ia hanya makan bubur encer sisa para shifu, yang pun kini habis tak bersisa. Langkah kakinya senyap di atas tanah berlumpur, menghindari genangan air yang memantulkan kerlip samar lentera di kejauhan. Setiap napas yang ia embuskan terasa berat, uap putih mengepul di udara gelap. Ia membungkuk, menempelkan tubuh kurusnya ke dinding kayu lapuk gudang belakang. Bau apak dan debu tebal menyambutnya, bau khas barang-barang usang yang dilupakan. Jantungnya berdebar, bukan karena takut pada hantu malam, melainkan pada penjaga akademi yang berjaga—Duan. Pria bertubuh tambun itu memiliki mata setajam elang, dan cambuk rotannya tak segan menyentuh kulit siapa pun yang melanggar batas. Changzhi hanyalah shutong, pelayan rendahan yang tak punya hak melangkahkan kaki ke gudang penyimpanan barang kolektor tua, apalagi mencari remah-remah makanan di sana. Namun, rasa lapar adalah tuan yang kejam. Rasa lapar itu lebih menakutkan daripada cambuk Duan, lebih menakutkan daripada kemarahan shifu, bahkan lebih menakutkan daripada nasib keluarganya di desa jika ia kembali dengan tangan hampa. Ayahnya telah menjual sawah satu-satunya, ibunya menenun sampai jarinya berdarah, semua demi membiayai impiannya menembus Ujian Kekaisaran. Kegagalan bukan pilihan. Tangannya yang kurus meraba-raba dalam kegelapan. Rak-rak kayu reyot menjulang tinggi, penuh dengan gulungan usang, guci pecah, dan perabotan rusak. Debu tebal melapisi segalanya, menempel di kain jubahnya yang sudah penuh tambalan. Ia bisa merasakan jaring laba-laba halus menempel di wajahnya, namun ia tak peduli. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: menemukan sesuatu, apa saja, yang bisa mengganjal perutnya. Gerakannya hati-hati, tak ingin membuat suara sekecil apa pun. Sebuah tikus berlari melintasi kakinya, membuat bulu kuduknya merinding, namun ia menahan diri untuk tidak menjerit. Suara hujan di luar semakin deras, seperti tabuhan genderang perang yang tak berujung. Ia berjongkok, mengintip ke celah-celah di antara kotak-kotak kayu, mencari buah yang jatuh, sisa-sisa biskuit kering, atau apa pun yang bisa lolos dari pandangan Duan. Angin dingin menyelinap masuk dari lubang di dinding, meniup rambutnya yang lepek. Changzhi menarik napas dalam, bau jamur dan kelembapan memenuhi paru-parunya. Ia tahu ini adalah tempat terlarang, tempat di mana rumor-rumor aneh tentang barang terkutuk dan arwah penasaran bergentayangan. Tapi bagi perut yang kosong, tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada kelaparan yang tak kunjung padam. Tangan Changzhi menyusup ke balik tumpukan gulungan bambu yang lapuk, jemarinya menyentuh permukaan dingin sebuah meja kayu yang sudah patah. Di bawah meja itu, tersembunyi sebagian oleh kain usang dan keramik pecah, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan kayu, bukan tembaga berkarat. Ini terasa halus, padat, dengan bobot yang mengejutkan untuk ukurannya. Ia menarik napas, mendorong tumpukan kain kotor itu ke samping. Sebuah lempengan. Ukurannya sekitar telapak tangannya, sedikit lebih tebal dari satu jari. Dalam remang-remang cahaya yang masuk dari lubang atap yang bocor, ia mencoba mengamati. Permukaannya berwarna putih kekuningan, kusam oleh debu dan waktu, namun di bawah kotoran itu, ia bisa melihat pola-pola ukiran yang sangat rumit. Garis-garis geometris yang saling bersambungan, membentuk labirin kecil yang tak ia pahami. Ia memungut lempengan itu, merasakan dinginnya giok yang khas. Namun, setelah beberapa saat, ia menyadari sesuatu yang aneh. Giok itu mulai menghangat di telapak tangannya. Bukan hangatnya tubuh, melainkan hangat yang berasal dari dalam batu itu sendiri, seperti ia memegang tungku kecil yang tersembunyi. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Ia belum pernah merasakan giok seperti ini. Matanya menyiput, berusaha membaca pola-pola itu lebih jelas. Guratan-guratan mikroskopis tampak presisi, terlalu sempurna untuk ukiran tangan manusia. Setiap garis terasa seperti jalur yang mengalir, menyimpan rahasia. Apakah ini jimat kuno? Benda keramat yang dilupakan? Akademi ini memang menyimpan banyak artefak aneh, peninggalan dari berbagai dinasti dan kepercayaan yang berbeda. Namun, giok ini terasa lain. Kehangatan di tangannya menyebar, membuat jemarinya yang kaku sedikit rileks. Ia membalik lempengan itu, memeriksa setiap sisi. Tidak ada tulisan, tidak ada simbol yang dikenalnya, hanya pola-pola geometris yang misterius. Giok itu terasa berat, seolah menyimpan seluruh sejarah di dalamnya. Ia memutar lempengan itu, membiarkan cahaya samar menyentuh permukaannya, berharap ada petunjuk yang muncul. Namun, tak ada apa pun, hanya pendaran kusam di antara gelapnya gudang. Ia mencengkeram erat lempengan itu, merasakan kehangatan yang asing. Giok ini mungkin tidak bisa mengenyangkan perutnya, tapi entah mengapa, memegangnya memberikan sedikit kenyamanan di tengah malam yang dingin dan menakutkan ini. Ia berpikir untuk menyimpannya, mungkin menjualnya jika ia bisa menyelinap keluar akademi tanpa ketahuan, meskipun ia ragu ada yang mau membeli benda usang seperti ini. Satu tetes air hujan merembes masuk dari celah atap yang berlubang, jatuh tepat ke tengah lempengan giok di telapak tangan Changzhi. Air dingin beradu dengan permukaan giok yang hangat. Sebuah desis halus terdengar, begitu pelan sehingga ia hampir mengira itu hanya imajinasinya. Kemudian, hal itu terjadi. Sebuah pendaran cahaya biru pucat muncul dari guratan-guratan geometris di permukaan giok. Cahaya itu berdenyut, seperti jantung yang baru saja terbangun. Mula-mula samar, lalu semakin terang, memantulkan bayangan Changzhi yang terkejut di dinding gudang. Matanya membelalak, tubuhnya membeku. Ini bukan cahaya lentera, bukan pantulan petir. Ini adalah cahaya yang berasal dari dalam giok itu sendiri. Jantungnya memompa brutal di balik tulang rusuknya. Ketakutan merayapi setiap serat sarafnya, dingin dan mematikan. Ia menjatuhkan lempengan itu, membiarkannya terlepas dari genggaman. Giok itu jatuh ke tumpukan kain kotor dengan suara gedebuk yang tak seberapa. Namun, cahayanya tidak padam. Malah, ia berdenyut lebih cepat, memancarkan aura biru yang kini sedikit lebih pekat. Ketakutan itu kini berubah menjadi teror murni. Ini pasti roh. Arwah kuno yang terjebak dalam batu. Para shifu sering bercerita tentang jimat-jimat kuno yang bisa membangkitkan entitas tak kasat mata. Otaknya dipenuhi gambaran hantu berambut putih dan mata merah yang siap menariknya ke alam baka. Keringat dingin membasahi punggungnya, meskipun suhu ruangan tetap menusuk tulang. Ia ingin berteriak, ingin lari, namun kakinya terasa terpaku ke lantai. Matanya tak bisa lepas dari lempengan giok yang kini terang benderang di tengah kegelapan gudang. Cahaya biru itu menari-nari, seolah memiliki kehidupannya sendiri. Ia mendengar desauan, bukan dari luar, melainkan dari dalam kepalanya. Suara itu terasa dingin, seperti angin musim dingin yang bertiup melalui celah-celah batu. Sistem… mendeteksi… kontak… dengan… operator… biologis. Suara itu. Itu bukan bahasa manusia. Bukan bisikan roh. Lebih seperti… mekanisme. Ia mendengar setiap suku kata terbentuk di dalam benaknya, tanpa telinga yang menangkap, tanpa bibir yang bergerak. Sensasi ini terasa begitu asing, mengalir langsung ke kesadarannya tanpa perantara. Giok itu kini menyala dengan intensitas yang lebih terang, memancarkan cahaya biru yang stabil, menembus bayangan panjang di setiap sudut gudang. Changzhi kembali berlutut, tangannya gemetar hebat. Ia tidak tahu apakah ia harus memungutnya lagi, atau melarikan diri sejauh mungkin. Ketakutan berbenturan dengan rasa ingin tahu yang membakar di dalam dadanya, menciptakan pusaran emosi yang memusingkan. Suara mekanis itu kembali, kali ini lebih jelas, lebih terstruktur, namun tetap tanpa nuansa emosi. Daya… inti… minimal… memproses… data… lingkungan… Setiap kata terasa seperti jarum es yang menusuk langsung ke pusat pikirannya. Rasa pusing mendera, namun ada daya pikat yang tidak bisa ia abaikan. Rasanya ia bukan lagi sekadar pelayan rendahan yang tak terlihat; ia telah terpilih untuk memegang rahasia yang melampaui zaman. Ia menelan ludah, tenggorokannya kering. Tubuhnya masih gemetar, namun ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari giok yang menyala itu. Cahaya biru tersebut seolah membelai kulitnya, memancarkan energi asing yang hangat. Ia bisa merasakan denyutan di ujung jarinya, seolah ada kehidupan lain yang bersembunyi di balik batu. Sinkronisasi… jaringan… neural… operator… dimulai. Kepalanya berdenyut keras. Bukan rasa sakit fisik, melainkan sensasi seperti saluran-saluran tak kasat mata sedang dibuka paksa di dalam benaknya. Giok itu bersinar semakin terang, guratan geometrisnya berpendar layaknya sirkuit hidup yang memompa kesadaran baru. Kilatan cahaya biru memantulkan sosok Changzhi yang membungkuk di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi saat suara dingin itu merajut kalimat terakhirnya: "Unit Arsip Strategis Otonom – Versi 01… aktif."

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter