Chapter 11 of 21
Perdebatan Dewan: Jaring Tradisi
1.4k words
Udara di dalam Ruang Dewan Negara terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, tidak peduli jubah sutra baru yang membalut tubuh Lin Changzhi. Aroma dupa cendana bercampur dengan bau kertas gulungan tua dan peluh yang tak terlihat, menciptakan simfoni kekakuan yang mencekam. Langkah kaki Changzhi bergema terlalu keras di lantai marmer, setiap detiknya terasa seperti palu yang menghantam gendang telinganya. Ia berhenti di tengah ruangan, tepat di hadapan deretan meja panjang tempat para menteri duduk dalam keheningan yang menghakimi.
Mata Ouyang Xiang, tenang dan tajam, menyorot langsung ke arahnya dari ujung meja paling besar. Ada secercah rasa ingin tahu yang tersembunyi di balik ketenangannya, namun Changzhi lebih merasakan beratnya sejarah yang dipanggul oleh pria tua itu. Ia menelan ludah, tenggorokannya mendadak kering. Rasa gugup itu berdenyut di nadinya, ancaman pingsan terasa dekat.
Namun, di balik kegelisahan itu, ada kekuatan lain yang bersemayam. Gelang giok di pergelangan tangannya terasa hangat, pendar cahaya biru yang tak terlihat oleh mata telanjang, berdenyut pelan. Suara Zi-01 muncul di benaknya, jernih dan tanpa emosi, sebuah kontras sempurna dengan badai yang berkecamuk di dada Changzhi. “Fokus pada data. Emosi adalah bias. Tarik napas dalam. Kendalikan ritme jantung.”
Changzhi memejamkan mata sesaat, mengikuti instruksi tak kasat mata itu. Ia menarik napas panjang, paru-parunya mengembang, menekan rasa gentar yang mencoba menguasai. Saat matanya terbuka, pandangannya lebih lurus, tatapannya menyapu wajah-wajah serius di depannya. Tidak ada yang menunggunya untuk merasa nyaman. Mereka hanya menunggunya untuk berbicara, atau gagal.
Ia memegang gulungan kertas yang berisi proposalnya, berat namun juga memberinya keyakinan. Setiap angka, setiap rute, setiap prediksi di dalamnya adalah hasil kalkulasi Zi-01 yang tak pernah meleset. Ini bukan lagi tentang dirinya, seorang shutong miskin. Ini tentang kebenaran yang kejam, namun efisien. Ini tentang menyelamatkan ribuan nyawa dari kelaparan yang kian mendekat.
“Tuan-tuan terhormat,” suara Changzhi memecah keheningan, lebih mantap dari yang ia kira. Ia melihat beberapa alis terangkat. “Saya datang untuk menguraikan solusi terhadap krisis pangan di provinsi utara.” Keyakinan yang dipinjam dari Guang kini mulai menjadi miliknya sendiri.
---
Lin Changzhi membuka gulungannya, jari-jarinya menunjuk pada peta yang tergambar rapi. Bukan peta geografis biasa, melainkan visualisasi rute distribusi yang dioptimalkan, dengan titik-titik merah dan hijau yang menunjukkan potensi hambatan dan titik efisiensi. Ia tahu tidak ada seorang pun di ruangan itu yang pernah melihat presentasi seperti ini. Ini adalah bahasa masa depan, disajikan dalam tinta kuno.
“Situasi saat ini,” Changzhi memulai, suaranya kini mengalir lebih lancar, “adalah akibat dari keterlambatan distribusi dan inefisiensi penyimpanan yang kronis. Berdasarkan analisis volume gandum yang tersedia di lumbung-lumbung selatan dan kecepatan rata-rata transportasi darat maupun sungai, kita menghadapi defisit 30% dalam waktu tiga bulan jika tidak ada perubahan drastis.”
Ia menjelaskan, dengan gestur tangan yang pasti, bagaimana rute sungai yang ada terlalu panjang, membuang waktu kritis dan meningkatkan risiko kerusakan. “Jalur Sungai Kuning, yang sering diandalkan, memiliki titik bottleneck di tiga lokasi utama. Ini menyebabkan penumpukan kapal dan kerugian gandum hingga 15% akibat kelembaban dan hama selama transit yang terlalu lama.”
Suara Guang bergema di dalam kepalanya, memberikan rincian angka yang presisi. “Usulkan jalur pengalihan melalui kanal sekunder yang kurang dimanfaatkan, dengan pembangunan tiga stasiun transfer sementara untuk pengemasan ulang dan pengeringan. Ini akan mengurangi waktu transit sebesar 40% dan kerugian gandum menjadi di bawah 5%.” Changzhi mengulanginya, seolah itu adalah gagasannya sendiri yang baru saja terbentuk.
Kemudian, ia beralih ke strategi penyimpanan. “Lumbung-lumbung tua di pinggir kota tidak lagi memadai. Suhu dan kelembaban yang tidak terkontrol menyebabkan pembusukan. Proposal saya adalah membangun tiga pusat penyimpanan terpusat, menggunakan teknologi pengeringan udara yang lebih maju, dengan dinding berlapis tanah liat padat dan atap miring untuk drainase optimal.”
Ia menatap Ouyang Xiang. Ekspresi Kanselir itu tidak berubah. Sebuah topeng yang sempurna. Sementara itu, beberapa menteri lain mulai berbisik, ada yang mengernyitkan dahi, ada yang terlihat bingung. Mereka terbiasa dengan retorika puitis, bukan angka-angka telanjang yang membedah setiap inefisiensi dengan presisi bedah. Changzhi merasakan adrenalin bercampur dengan kepuasan kecil. Logika, setidaknya, telah disampaikan.
---
Keheningan kembali menyelimuti ruangan begitu Changzhi menyelesaikan presentasinya. Bukan keheningan yang mengagumi, melainkan keheningan yang penuh pertimbangan. Lalu, Ouyang Xiang menurunkan tangannya dari dagu, tatapan matanya tetap tajam, namun ada kilatan ironi yang kini lebih terlihat.
“Lin Changzhi,” Ouyang Xiang memulai, suaranya tenang dan berwibawa, namun setiap katanya terasa seperti baja yang diasah. “Presentasimu memang… inovatif. Penuh dengan angka dan perhitungan yang rumit.” Ia berhenti sejenak, seolah memberi waktu bagi kata-kata itu untuk meresap. “Namun, apakah kau lupa, Nak, bahwa kita tidak sedang berbicara tentang mesin atau tumpukan batu bata?”
Changzhi merasakan denyutan di pelipisnya. “Tuan Kanselir, kami berbicara tentang gandum. Makanan pokok rakyat. Setiap butir yang hilang berarti ada keluarga yang kelaparan.”
“Dan kau berpikir membangun ‘stasiun transfer sementara’ di kanal-kanal sepi itu, atau merombak lumbung dengan ‘teknologi pengeringan udara’ yang belum pernah kita dengar, akan menyelesaikan masalah?” Ouyang Xiang tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. “Tradisi, Lin Changzhi, adalah fondasi stabilitas. Rakyat telah terbiasa dengan cara-cara lama. Mereka percaya pada lumbung desa mereka, pada rute yang telah digunakan para leluhur selama berabad-abad.”
Ouyang Xiang mengibaskan lengan jubahnya. “Perubahan drastis seperti yang kau usulkan hanya akan memicu keresahan. Bayangkan. Petani melihat gandum mereka dialihkan ke jalur yang tak dikenal, disimpan di bangunan asing yang tak mereka pahami. Ketidakpercayaan akan tumbuh, desas-desus akan menyebar seperti api. Dan dari ketidakpercayaan itu, lahirlah pemberontakan.”
Seorang menteri di samping Ouyang Xiang mengangguk setuju, janggutnya bergoyang pelan. “Kanselir benar. Tatanan adalah segalanya. Rakyat memang lapar, tapi mereka juga butuh keyakinan pada sistem yang mereka kenal.”
Changzhi mencoba menyela. “Tapi, Tuan Menteri, data menunjukkan bahwa sistem yang kita kenal ini justru yang menyebabkan kelaparan itu sendiri.”
Ouyang Xiang mengangkat tangannya, gerakan sederhana yang menghentikan Changzhi. “Data, Nak, adalah angka di atas kertas. Rakyat adalah manusia, dengan emosi, kepercayaan, dan ketakutan. Tidakkah kau pikir para leluhur kita telah memikirkan efisiensi ketika mereka merancang sistem ini? Bukan. Mereka memikirkan ketertiban dan harmoni.” Mata Ouyang Xiang kini menatapnya seolah ia adalah anak kecil yang naif, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak dibimbing oleh Guang.
---
Perdebatan mulai memanas, meskipun suara-suara di dalam ruangan tetap terkendali. Para menteri konservatif, yang selama ini hanya mengamati, kini mulai bersuara, menggemakan sentimen Ouyang Xiang. Mereka berbicara tentang ‘tatanan langit’, ‘mandat leluhur’, dan ‘bahaya bid’ah’ dalam administrasi negara. Setiap argumen logis yang Changzhi lontarkan, setiap angka yang ia sebutkan, seolah menabrak dinding tak kasat mata yang terbuat dari dogma dan ketakutan terhadap perubahan.
“Gandum diangkut di atas gerobak yang sama dengan yang digunakan ayah mereka, di sepanjang jalan yang dibangun oleh kakek buyut mereka,” kata seorang menteri dengan janggut putih panjang. “Itu memberikan rasa aman, Lin Changzhi. Rasa aman itu lebih berharga dari efisiensi beberapa persen.”
“Tapi rasa aman tidak akan mengisi perut yang kosong!” Changzhi membalas, suaranya sedikit lebih keras dari yang ia inginkan. Ia merasakan gelombang frustrasi yang membakar. Guang di dalam kepalanya mencoba menawarkan skenario retoris yang lebih halus, namun emosi Changzhi telah mendidih.
“Rakyat akan lebih memilih kelaparan dengan martabat, daripada kenyang dengan cara yang mengkhianati leluhur mereka,” timpal menteri lain, tatapannya menghina. Changzhi melihat bagaimana kata-katanya, yang seharusnya menjadi penyelamat, justru dianggap sebagai ancaman.
Ia melirik Ouyang Xiang. Kanselir itu hanya duduk tenang, mengamati pertukaran itu seolah-olah sedang menonton pertunjukan drama yang sudah ia prediksi. Ada kepuasan samar di sudut bibirnya. Changzhi menyadari bahwa ia telah terjebak. Ini bukan perdebatan tentang logistik atau ekonomi. Ini adalah pertarungan ideologi, pertarungan antara masa depan yang dingin dan efisien melawan masa lalu yang hangat namun mematikan.
Guang memproyeksikan probabilitas kegagalan. “Probabilitas proposal diterima: 0.01% jika pendekatan tidak berubah. Strategi harus disesuaikan. Sentuh sisi emosional dan konsekuensi sosial-politik secara lebih mendalam.” Namun, Changzhi merasa kedinginan. Sebuah hawa dingin yang bukan berasal dari AC ruangan, tetapi dari kenyataan pahit yang menusuknya. Logika tidak cukup di sini. Kebenaran tidak cukup.
Ouyang Xiang akhirnya bangkit dari kursinya, gerakannya lambat dan penuh kekuasaan. Ia berjalan menghampiri Changzhi, berhenti hanya beberapa langkah di depannya. Aroma dupa dan sutra mahal kini terasa memabukkan. “Kau belajar dengan cepat, Lin Changzhi,” bisiknya, cukup pelan agar hanya Changzhi yang mendengar. Matanya yang tajam menatap Changzhi, sebuah pesan tersirat tentang permainan yang lebih besar. Kemudian, Ouyang Xiang tersenyum dingin, sebuah senyum kemenangan yang membuat bulu kuduk Changzhi meremang, dan ia tahu, pertarungan ini baru saja dimulai, bukan dengan pedang, melainkan dengan kata-kata.