Chapter 12 of 21

Chapter 12: Bisikan Ketakutan: Konspirasi Gagal

1.6k words

Udara di dalam Aula Harmoni Agung masih terasa berat, bahkan setelah Lin Changzhi melangkah keluar. Aroma hio dan parfum mahal para menteri menempel di jubah kasarnya, terasa seperti kotoran yang sulit dibersihkan. Setiap langkah yang diambilnya di atas lantai pualam yang licin terasa seperti memikul beban kegagalan, bukan hanya miliknya sendiri, tetapi juga jutaan perut lapar yang menggantungkan harapan pada proposalnya yang baru saja ditolak. Jemarinya mengerat, kuku-kuku menekan telapak tangan hingga meninggalkan jejak merah. Suara Ouyang Xiang masih terngiang, tenang namun menghancurkan. “Kebijakanmu, Lin Changzhi, terlalu dingin. Angka-angka tidak bisa memahami hati manusia, atau tatanan yang telah berakar ribuan tahun.” Sebuah dalih, Changzhi tahu. Sebuah selubung retorika untuk menutupi sesuatu yang lebih busuk. Kemarahan mendidih di dalam dadanya, rasa panas yang tidak biasa bagi dirinya yang biasanya tenang. Dia adalah seorang shutong, seorang pelayan akademi yang berani bicara di depan para pejabat tinggi, dan mereka telah membungkamnya dengan elegansi yang mematikan. Bahu Changzhi terasa semakin bungkuk, bukan lagi karena kebiasaan membungkuk di atas gulungan naskah, melainkan karena beban kekalahan ini. Ia merasakan panas tipis menjalar di pergelangan tangan kirinya, dari gelang giok yang disamarkan. Guang diam. Tidak ada bisikan data, tidak ada analisis probabilitas. Sang AI membiarkannya merasakan kekalahan ini, membiarkannya terbakar dalam api frustrasi. Udara dingin koridor istana menusuk jubahnya yang tipis, namun tidak mampu memadamkan bara kemarahan yang membara di dalam dirinya. Ia berjalan cepat, hampir berlari, melewati pilar-pilar berukir naga dan burung phoenix, melewati taman-taman yang tertata apik dengan kolam ikan koi yang berkilauan. Semua kemewahan ini terasa menjijikkan, sebuah ejekan di tengah berita kelaparan di pedalaman. Bagaimana mungkin mereka bisa bicara tentang tatanan dan tradisi saat rakyat mereka mati kelaparan? Wajah-wajah pucat para petani yang pernah dilihatnya saat ia masih kecil melintas di benaknya, mata cekung yang memohon. Hatinya perih, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremasnya. Changzhi tahu proposalnya sempurna, logis, dan efisien. Guang telah memastikan itu. Setiap angka, setiap proyeksi, setiap detail logistik telah dihitung dengan presisi tanpa celah. Namun, mereka menolaknya. Bukan karena kekurangannya, melainkan karena menantang kemapanan mereka, karena terlalu berbeda. Ia menggertakkan gigi, rahangnya mengeras hingga terasa nyeri. Ia telah berusaha bermain sesuai aturan mereka, membawa solusi yang rasional, tapi mereka menuntut pengorbanan yang lebih besar dari sekadar data. Napasnya memburu saat ia akhirnya mencapai gerbang luar, tempat para prajurit berjaga dengan tombak-tombak mereka yang mengilap. Pandangan mereka dingin, acuh tak acuh. Mereka tidak melihatnya sebagai seorang cendekiawan muda, melainkan hanya sebagai bayangan tak berarti yang baru saja keluar dari pusat kekuasaan. Changzhi menunduk, menyembunyikan tatapan benci yang berkobar di matanya. Ia tidak akan menyerah. Kekecewaan ini, kemarahan ini, akan menjadi bahan bakar. --- Begitu Changzhi berhasil keluar dari gerbang istana dan menjauh dari keramaian pejabat, bisikan Guang kembali, terasa seperti hembusan angin dingin di telinganya. "Analisis pasca-perdebatan selesai," suara itu datar, tanpa intonasi. "Probabilitas penolakan proposal di level ini adalah 99.7%. Namun, data yang lebih relevan telah teridentifikasi." Changzhi mendengarkan, langkahnya melambat. Ia menuruni anak tangga batu, merasakan hawa dingin merayap ke tulangnya. Angka-angka Guang selalu menjadi palu godam, menghantam kenyataan dengan kejam. "Indikasi manipulasi pasar dan penimbunan gandum oleh faksi-faksi tertentu dalam jajaran istana. Pola pembelian masif selama musim panen yang buruk, diikuti oleh penundaan distribusi, menunjuk pada skema keuntungan pribadi," Guang melanjutkan, memproyeksikan data langsung ke dalam pikiran Changzhi. Peta jaringan perdagangan, grafik harga gandum yang melonjak tidak wajar, nama-nama pedagang besar dan pejabat yang terafiliasi—semuanya muncul dalam kilasan informasi di benaknya, tajam dan tak terbantahkan. Changzhi terhuyung, seolah dipukul tepat di ulu hati. Ia berhenti di tepi jalan yang ramai, keramaian Bianjing seolah lenyap menjadi dengungan tak berarti. Para pedagang berteriak menawarkan barang dagangan mereka, anak-anak berlarian, namun suara-suara itu tidak menembus dinding keterkejutan yang baru saja dibangun di sekelilingnya. Penimbunan. Manipulasi. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, setiap suku kata terasa seperti kotoran. Kelaparan ini, ribuan nyawa yang terancam, bukan takdir, bukan bencana alam murni. Ini adalah keserakahan yang terorganisir. "Faksi Ouyang Xiang memiliki afiliasi tidak langsung dengan beberapa konsorsium pedagang gandum terbesar di Bianjing dan Hebei," Guang menambahkan, seperti membaca pikirannya. "Penolakan proposalmu adalah langkah logis untuk menjaga stabilitas harga yang telah diatur, serta memaksimalkan keuntungan sebelum distribusi bantuan resmi." Sebuah jaringan korupsi yang begitu besar, begitu rapi, terbentang di depan matanya seperti peta kotor. Changzhi merasakan lidahnya kering, tenggorokannya tercekat oleh rasa mual yang tiba-tiba. Giok di pergelangan tangannya terasa dingin, namun informasi yang mengalir darinya begitu panas, membakar syaraf-syarafnya. Ini bukan hanya tentang kebijakan yang ditolak. Ini tentang kejahatan. Kejahatan yang dilakukan di balik senyum-senyum formal, di balik jubah sutra mahal, di balik wibawa dan retorika luhur tentang tradisi. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir gambar-gambar kelaparan dari benaknya, namun data Guang semakin memperjelas siapa yang paling diuntungkan dari penderitaan itu. --- Perut Changzhi bergejolak, isi perutnya terasa teraduk-aduk. Bukan karena lapar, meskipun tubuhnya memang selalu kurang gizi, tetapi karena mual yang luar biasa. Ia mencondongkan tubuh sedikit, menekan tangannya ke perut. Bau terasi dan minyak wijen dari warung mie di dekatnya yang biasanya menggugah selera, kini terasa memuakkan, menyengat hidungnya dengan bau busuk korupsi. Bagaimana bisa ada manusia yang tega memperdagangkan nyawa demi keuntungan? Bagaimana bisa mereka tidur nyenyak di atas tumpukan gandum yang seharusnya bisa menyelamatkan ribuan orang? Dia teringat ibunya yang selalu menaruh porsi terkecil untuk dirinya sendiri agar anak-anaknya bisa makan lebih banyak. Dia teringat tetangganya yang berbagi sedikit beras terakhir mereka di musim paceklik. Kebaikan-kebaikan kecil itu, kontras dengan kegelapan yang baru saja diungkap Guang, terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. Ia menggigit bibir bawahnya, rasa asin darah memenuhi mulutnya. Ia ingin berteriak, ingin memuntahkan semua informasi kotor yang memenuhi pikirannya. Guang tetap diam, membiarkan Changzhi bergulat dengan rasa jijik itu. Ini adalah bagian dari proses, bagian dari pemahaman yang lebih dalam tentang dunia yang sebenarnya. Dunia di mana logika murni hanya berguna jika ia memahami kebobrokan naluri manusia. Changzhi merasa otaknya terlalu penuh, seolah ada beban tak kasat mata yang menekan tengkoraknya. Visi tentang lumbung-lumbung gandum yang penuh, terkunci rapat, sementara di luar dinding istana anak-anak menangis kelaparan, berputar-putar dalam benaknya. Ia melihat ke arah sungai Bian yang mengalir tenang, perahu-perahu layar meluncur pelan. Keindahan semu Bianjing terasa semakin ironis. Kota yang megah ini dibangun di atas penderitaan, diselubungi oleh lapisan kemunafikan yang tebal. Ia merasa seperti baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang, mimpi tentang dunia yang adil, di mana kecerdasan dan niat baik cukup untuk mengubah nasib. Kenyataannya jauh lebih brutal. Kelaparan ini bukan bencana alam, melainkan hasil dari perhitungan dingin para pedagang dan pejabat yang haus kekayaan. Sebuah rasa dingin merayap dari gelang giok di pergelangan tangannya, seperti sentuhan penenang. Atau mungkin sebuah pengingat bahwa ia tidak sendirian. Ia punya Guang, sang otak silikon yang tidak mengenal belas kasihan, namun juga tidak mengenal keserakahan. Hanya angka, hanya data. Mungkin hanya itu yang bisa menandingi kegelapan ini. Changzhi menelan ludah, berusaha menekan mualnya. Ia harus beradaptasi, harus belajar bermain kotor, jika ia ingin menyelamatkan siapa pun. --- Dinginnya giok di pergelangan tangan Changzhi terasa seperti jangkar yang menahannya agar tidak limbung. Ia tahu ia tidak bisa lagi bermain sesuai aturan. Aturan yang mereka ciptakan sendiri, aturan yang dirancang untuk melindungi kepentingan mereka, bukan rakyat. Kepalanya terasa berat, namun pikirannya mulai bekerja dengan kecepatan yang baru, di bawah bimbingan Guang yang kini kembali aktif, memancarkan gelombang data yang teratur. "Langkah selanjutnya?" Changzhi berbisik, suaranya serak. Ia tidak lagi bicara pada dirinya sendiri, tetapi pada entitas tak terlihat di pergelangan tangannya, pada suara di kepalanya. "Bagaimana kita melawan ini?" Ia menekan giok itu dengan ibu jarinya, seolah mencari jawaban fisik dari benda mati tersebut. Sebuah rasa lelah yang mendalam merayapi tubuhnya, namun di baliknya ada tekad baru yang membara, tekad yang lahir dari kemarahan dan rasa jijik. "Fokus pada pembentukan jaringan intelijen alternatif. Identifikasi jalur suplai tidak resmi dan simpul-simpul penimbunan gandum di luar pantauan pemerintah," Guang merespons dengan cepat. "Gunakan data demografi dan pola cuaca untuk memprediksi daerah yang akan terkena dampak terparah. Ini akan menjadi basis untuk tindakan disruptif." Kata-kata Guang dingin, tanpa emosi, namun sarat dengan strategi yang kejam. Ini adalah bahasa perang, bukan diplomasi. Changzhi mengangguk, tanpa sadar. Ia merasakan setiap detil informasi yang masuk ke dalam otaknya, setiap perhitungan jalur logistik, setiap potensi risiko dan keuntungan. Ia harus berpikir seperti Guang, mengesampingkan emosi, melihat manusia sebagai variabel, dan keadilan sebagai hasil dari kalkulasi yang presisi. Rasa bersalah berkelebat, namun ia menekannya dalam-dalam. Apa artinya moralitas jika ribuan orang mati kelaparan? Ia membiarkan Guang memindai peta mental Bianjing dan daerah sekitarnya, mencari celah, mencari kelemahan dalam jaringan korupsi yang begitu rumit. Ia akan menggunakan senjata mereka sendiri, memanipulasi informasi, mengganggu pasar gelap, bahkan mungkin menciptakan kekacauan yang terencana. Sebuah rencana kotor, sangat jauh dari cita-cita cendekiawan yang diidamkannya dulu. Namun, ia tidak punya pilihan. Demi rakyat, ia harus menjadi serigala di tengah kawanan serigala. "Kita akan membutuhkan sumber daya, dan sekutu yang tidak terduga," Guang menambahkan, memproyeksikan beberapa nama dan profil ke dalam benak Changzhi. Pejabat kecil yang tidak puas, pedagang jujur yang terpinggirkan, bahkan mungkin bandit lokal yang bisa dimanfaatkan. Changzhi menarik napas dalam. Jalan di depannya penuh duri, dan ia harus berjalan di atasnya dengan kaki telanjang. Ia melihat ke langit Bianjing yang mulai meredup, matahari terbenam menyisakan jejak jingga. Di balik keindahan senja itu, tersembunyi kegelapan yang mengancam. Ia merasakan giok di pergelangan tangannya berdenyut pelan, seolah memperingatkannya akan bahaya yang lebih besar, sebuah konspirasi yang tersembunyi di balik senyum-senyum para pejabat tinggi.

End of Chapter 12