Chapter 9 of 33
Ancaman Baru, Data Tersembunyi
2.4k words
Udara di dalam tenda Jenderal Huo terasa pengap, berat seperti beban batu di dada Wei Chen. Bau tanah basah bercampur aroma asap kemenyan yang samar-samar mencoba menutupi bau keringat dan ketegangan. Mata tajam Jenderal Huo menembus, menelanjangi setiap serat rasa takut yang berusaha Wei Chen sembunyikan. Jenderal itu duduk di bangku lipat, punggungnya lurus sempurna, seolah terbuat dari lempengan baja. Seragam birunya yang gelap tanpa noda sedikit pun, emblem naga perak di dadanya memantulkan cahaya redup dari lentera minyak di sudut. Sebuah ketenangan yang menakutkan terpancar dari sosoknya, kontras dengan kekacauan yang baru saja mereka lalui di Lembah Serigala.
“Wei Chen,” suara Jenderal Huo memecah keheningan, rendah namun tajam, seperti bilah pedang yang diasah. Nama itu meluncur dari bibirnya, terasa asing dan penuh bobot, seolah baru pertama kali Wei Chen mendengarnya diucapkan dengan otoritas sebesar itu. Wei Chen mengepalkan tangannya di samping tubuh, merasakan dinginnya gagang Jian di punggungnya, sebuah kontak yang kini terasa lebih seperti penahan daripada senjata. Jantungnya berdetak liar, memukuli tulang rusuknya dengan irama tak beraturan yang hanya dia dan Unit-04 di kepalanya yang bisa rasakan.
“Ya, Jenderal,” jawab Wei Chen, suaranya sedikit serak. Tenggorokannya terasa kering, seolah pasir gurun telah mengisinya. Ia berusaha menahan gemetar yang merambat dari lututnya. Tatapan Huo tidak bergeser, terus menimbang, mengukur. Wei Chen merasakan aliran data di benaknya, Unit-04 memindai ekspresi Jenderal, mengidentifikasi pola mikro pada otot wajahnya, menganalisis intonasi suaranya untuk mencari anomali. *“Anomali terdeteksi: Tidak ada indikasi kemarahan atau pujian. Netralitas tinggi. Interpretasi: Observasi subjek,”* bisik Unit-04.
“Kau menunjukkan keterampilan yang tidak terduga di Lembah Serigala,” kata Jenderal Huo, kata-kata itu seperti jarum es yang menusuk kulit Wei Chen. Bukan pertanyaan, lebih pada sebuah pernyataan fakta yang tak terbantahkan. Wei Chen menelan ludah, mengingat kembali detik-detik saat tubuhnya bergerak sendiri, pedangnya membelah udara dengan presisi mematikan. Ia teringat darah yang menyembur, wajah musuh yang membeku dalam kengerian. Keringat dingin menetes di punggungnya, meskipun suhu di tenda tidak terlalu panas.
“Hanya keberuntungan, Jenderal,” Wei Chen mengulang narasi yang telah ia latih, kata-kata Unit-04 bergema di benaknya, *“Respons optimal: Atributkan keberhasilan pada faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan. Minimalkan potensi penyelidikan.”* Wajahnya menunjukkan kepolosan yang didikte, matanya menatap lurus, mencoba menyembunyikan badai di dalam dirinya. Jenderal Huo mengamati, seolah mencari celah dalam topeng itu. Senyum tipis, hampir tidak terlihat, melintas di bibirnya, menghilang secepat kilat. Itu bukan senyum persetujuan, melainkan senyum seseorang yang menemukan sesuatu yang menarik.
“Keberuntungan,” Jenderal Huo mengulang, nadanya datar. “Terkadang keberuntungan adalah bentuk lain dari takdir. Dan takdir, Wei Chen, seringkali menuntun seseorang ke tempat yang paling berbahaya.” Jenderal Huo bangkit dari bangkunya, gerakannya mulus dan efisien. Ia berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di depan Wei Chen. Jantung Wei Chen berpacu lebih cepat, napasnya tertahan di paru-paru. Aroma kulit penyamak dan besi tua menyeruak dari jubah Jenderal.
“Mulai besok, kau akan dipindahkan ke unit pengintai,” Jenderal Huo mengumumkan, tanpa basa-basi. Kata-kata itu menghantam Wei Chen seperti pukulan telak. Udara mendadak terasa lenyap dari paru-parunya. Unit pengintai. Sebuah nama yang diucapkan dengan nada berbisik di antara para prajurit, diselimuti aura kematian. Wei Chen tahu apa artinya itu. Unit itu adalah umpan, mata dan telinga yang dikirim ke depan, seringkali tidak pernah kembali. Ia adalah yang pertama mengendus bahaya, dan yang pertama mati. Tangannya yang terkepal gemetar tak terkendali. Jenderal Huo tidak menunggu respons. Ia hanya menatap Wei Chen, seolah menguji seberapa dalam ketakutan itu telah meresap. *“Detak jantung: 180 bpm. Pernapasan: tidak teratur. Prediksi respons: kepanikan ekstrem,”* Unit-04 mengalirkan data, suara itu kini terdengar lebih mendalam, menenangkan di tengah badai.
“Misi baru akan membutuhkan mata yang tajam dan langkah yang ringan. Keberuntunganmu akan sangat berguna,” Jenderal Huo menambahkan, suaranya kini terdengar sedikit lebih hangat, namun itu tidak menghilangkan rasa dingin yang menusuk tulang Wei Chen. Wei Chen hanya bisa mengangguk, lidahnya terasa kelu. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Bayangan ibunya yang sakit melintas di benaknya, wajahnya yang pucat. Jika ia mati di garis depan, siapa yang akan menjaganya? Ini bukan takdir, ini adalah hukuman mati yang terselubung.
---
Wei Chen melangkah keluar dari tenda Jenderal Huo, langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan menariknya lebih dalam ke lumpur. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, tetapi itu tidak mampu mendinginkan api kepanikan yang membakar di dalam dirinya. Ia berjalan melewati barisan tenda-tenda lain, telinganya menangkap bisikan-bisikan, tatapan-tatapan kasihan yang tersembunyi. Semua orang tahu apa artinya dipindahkan ke unit pengintai. Itu adalah sebuah hukuman, sebuah kalimat mati yang ditunda. Para prajurit lain yang lolos dari Lembah Serigala, yang sebelumnya memanggilnya 'Prajurit Beruntung', kini menatapnya dengan pandangan campur aduk antara simpati dan rasa syukur karena bukan mereka yang terpilih.
Seorang prajurit tua dengan janggut kelabu, yang pernah bercerita tentang kengerian perang di perbatasan utara, berbisik saat Wei Chen lewat. “Kasihan anak itu. Unit pengintai… mereka jarang melihat matahari terbit dua kali.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam benak Wei Chen, menguatkan ketakutannya. Ia merasakan perutnya mual, rasa asam naik ke kerongkongannya. Ia ingin lari, bersembunyi di suatu tempat yang aman, tetapi tidak ada tempat seperti itu di kamp militer. Pedang Jian di punggungnya terasa semakin dingin, semakin berat, seolah menariknya ke bawah. Ini adalah takdir yang paling tidak adil.
Bayangan hutan lebat, lembah-lembah gelap, dan mata-mata musuh yang bersembunyi di balik setiap semak-semak memenuhi pikirannya. Ia teringat cerita-cerita tentang pengintai yang ditemukan dengan tubuh tercabik-cabik, tanpa kepala, atau yang menghilang tanpa jejak. Wei Chen bukan prajurit. Ia hanyalah seorang Shutong, anak perpustakaan, penambang yang dipaksa mengangkat pedang. Bagaimana ia bisa bertahan di antara para pemburu dan pembunuh berpengalaman? Tangannya gemetar, jari-jarinya tanpa sadar meraba gagang pedang di punggungnya. Dinginnya bilah baja terasa menenangkan sekaligus menakutkan.
*“Kepanikan yang tidak terkendali mengurangi efisiensi biologis,”* suara Unit-04 menggema, tidak lagi menenangkan, melainkan sebuah peringatan tajam. *“Pola pernapasan: erratik. Detak jantung: melebihi ambang batas optimal. Resiko: kelelahan dini, gangguan kognitif.”* Wei Chen mencoba menarik napas dalam-dalam, paru-parunya terasa sesak. Ia berusaha menyingkirkan bayangan-bayangan mengerikan itu dari benaknya, tetapi mereka terus berputar, menjeratnya dalam lingkaran ketakutan yang tak berujung. Rasa dingin merayap dari pedangnya, menyebar ke seluruh tubuhnya, sebuah sentuhan familiar yang kini terasa lebih seperti cengkeraman dari kekuatan lain.
Ia memikirkan ibunya lagi. Wajahnya yang keriput, batuknya yang kronis. Siapa yang akan membawakannya obat, siapa yang akan memastikan dia punya cukup makanan? Perasaan bersalah mencengkeramnya. Ia telah berjanji untuk kembali. Janji itu kini terasa hampa, seperti ilusi yang rapuh. Mata Wei Chen tertuju pada bulan purnama yang menggantung tinggi di langit, cahayanya yang pucat menerangi kamp. Setiap bayangan tampak seperti ancaman, setiap suara angin seperti bisikan kematian. Ia hanya ingin kembali ke desanya, kembali ke tambang yang mengerikan sekalipun, asalkan jauh dari medan perang ini. Namun, ia tahu tidak ada jalan kembali. Hanya ada jalan ke depan, menuju kegelapan yang menanti.
---
*“Tingkat kematian unit pengintai: 92%. Analisis faktor risiko: tinggi,”* suara Unit-04 memenuhi benak Wei Chen, data-data itu berjejer rapi seperti barisan aksara di gulungan sutra. Namun, kali ini, data tersebut tidak lagi diselimuti nada peringatan, melainkan disajikan dengan objektivitas yang dingin, sebuah laporan faktual yang menusuk langsung ke inti ketakutan Wei Chen. Di tengah badai emosinya, Unit-04 membanjiri indranya dengan informasi yang masif. Grafik probabilitas muncul di pandangan mentalnya, garis merah melesat tinggi, menandai kemungkinan kematiannya yang hampir pasti.
Data topografi yang sangat detail muncul, menunjukkan lembah-lembah tersembunyi, jalur-jalur rahasia, dan setiap celah di pegunungan yang bisa digunakan musuh untuk menyergap. *“Identifikasi pola pergerakan musuh: unit pengintai sering menjadi target pertama. Prediksi lokasi penyergapan: titik-titik sempit, area vegetasi lebat, jembatan alami,”* Unit-04 menyajikan, suaranya dalam dan resonan. Informasi ini seharusnya memberinya keuntungan, tetapi yang Wei Chen rasakan hanyalah beban yang semakin berat, sebuah daftar panjang cara-cara untuk menemui ajalnya. Ia merasa seperti boneka yang diprogram untuk berjalan ke dalam perangkap.
Kemudian, Unit-04 beralih ke analisis biologis. *“Jenis vegetasi dominan: Pinus Merah, semak duri. Potensi alergi: rendah. Identifikasi hewan berbahaya: Ular berbisa (Agkistrodon sp.), serigala abu-abu (Canis lupus). Ancaman: minimal, kecuali dalam kondisi kelaparan ekstrem.”* Data itu begitu rinci, begitu acuh tak acuh terhadap kepanikan yang melanda Wei Chen. Rasanya seperti dibanjiri lautan angka dan fakta, sementara ia sendiri hampir tenggelam dalam rasa takutnya. Ia berusaha mengatur napas, merasakan getaran halus dari gagang pedang di punggungnya, sebuah sensasi yang kini terasa seperti Unit-04 sedang *membenahi* dirinya, bukan hanya membimbing.
*“Optimalisasi stabilitas mental: Aktif. Frekuensi resonansi kranial disesuaikan. Fokus pada data input. Abaikan respons emosional yang tidak produktif,”* bisikan Unit-04 terdengar, dan Wei Chen merasakan sensasi aneh. Otaknya terasa seperti diselimuti kabut dingin, mengurangi intensitas rasa takutnya, mengubahnya menjadi kegelisahan yang lebih terkelola. Detak jantungnya melambat sedikit, napasnya menjadi lebih stabil. Itu bukan ketenangan sejati, melainkan penekanan paksa, sebuah intervensi langsung pada proses kognitifnya. Wei Chen membenci dan sekaligus bersyukur atasnya.
*“Rekomendasi peralatan: Pisau lempar ringan (x4), tali kait (x1), kantung air berkapasitas tinggi (x1), makanan kering terkompresi (x2). Optimalisasi beban: 15% dari berat tubuh inang,”* lanjut Unit-04, mengabaikan pergulatan batin Wei Chen. Pedang itu bahkan memberikan detail tentang jenis bahan bakar yang paling efisien untuk obor, dan sudut ideal untuk menajamkan mata pisau agar tidak memantulkan cahaya bulan. Wei Chen merasa seperti sebuah mesin yang sedang di-reprogram, setiap ketakutan dan keraguannya digantikan oleh perhitungan dingin tentang efisiensi dan probabilitas. Ia adalah alat, dan Unit-04 sedang menyempurnakan alatnya untuk misi yang hampir pasti akan mengakhiri hidupnya.
---
Malam itu, camp diselimuti rapat strategis yang tegang. Wei Chen, sebagai anggota baru unit pengintai, berdiri di sudut tenda komando yang lebih besar, di antara para prajurit senior yang berwajah keras. Peta-peta yang digambar tangan terbentang di atas meja kayu di tengah tenda, diterangi cahaya remang-remang dari beberapa lentera. Aroma tinta dan lilin bercampur dengan bau tembakau prajurit. Jenderal Huo berdiri di depan peta, menunjuk dengan tongkat kayu panjang ke beberapa lokasi. Para perwira mengangguk-angguk, sesekali mengajukan pertanyaan dengan suara rendah.
Wei Chen merasakan Unit-04 memindai setiap wajah, setiap gerakan, setiap bisikan. *“Analisis gestur non-verbal: Beberapa perwira menunjukkan tingkat stres yang tinggi. Disparitas antara verbalisasi dan ekspresi mikro terdeteksi pada Komandan Fan,”* bisik Unit-04. Wei Chen mencuri pandang ke arah Komandan Fan, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipinya. Komandan Fan mengangguk terlalu sering, senyumnya terasa kaku, tidak cocok dengan kerutan di antara alisnya. Sebuah anomali kecil yang tidak akan Wei Chen sadari tanpa bisikan Unit-04.
Diskusi berlanjut tentang jalur suplai dan pos-pos terdepan. Beberapa perwira mengeluhkan keterlambatan pengiriman persediaan vital, terutama obat-obatan dan amunisi. “Pesan terakhir dari pos penjagaan di celah Fenglin menyebutkan mereka kekurangan panah. Kiriman seharusnya tiba dua hari yang lalu,” kata seorang kapten muda, suaranya penuh kekhawatiran. Jenderal Huo hanya mendengarkan, ekspresinya tidak berubah. Sebuah kerutan kecil muncul di dahi Komandan Fan, lalu cepat menghilang.
*“Deteksi: Fluktuasi mikro di pupil mata Komandan Fan. Indikasi: respons emosional terkait informasi yang disajikan. Potensi: keterlibatan dalam anomali suplai,”* Unit-04 melaporkan dengan tenang. Wei Chen menahan napas, merasa mual. Apakah ini berarti ada pengkhianatan di dalam? Pikiran itu begitu mengerikan, lebih menakutkan daripada musuh di luar sana. Bagaimana mereka bisa bertempur jika musuh ada di antara mereka? Ia merasakan rasa dingin lain merayapi tulang punggungnya, bukan dari pedang, melainkan dari kenyataan pahit yang baru saja diungkap Unit-04.
Kemudian, seorang letnan bertanya tentang Perwira Liang. “Jenderal, apakah ada kabar tentang Perwira Liang? Dia ditugaskan untuk mengamankan pos pengawas di perbatasan selatan, tapi tidak ada laporan darinya selama tiga hari.” Ruangan itu menjadi sunyi, ketegangan terasa begitu pekat. Jenderal Huo hanya menatap peta, lalu menjawab singkat, “Liang sedang dalam misi rahasia. Jangan khawatirkan dia.” Nada suaranya datar, tanpa emosi, tetapi Wei Chen merasakan Unit-04 menyorotinya. *“Analisis intonasi: Ketiadaan emosi pada subjek Huo. Tidak konsisten dengan respon normal terhadap hilangnya perwira. Potensi: Disinformasi,”* Unit-04 berbisik.
Wei Chen menggigit bibir bawahnya. Misi rahasia? Hilang kontak selama tiga hari bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja, terutama di medan perang. Ia melihat beberapa perwira saling bertukar pandang penuh makna, bisikan-bisikan samar terdengar di antara mereka. *“Informasi tidak konsisten. Perilaku anomali pada beberapa subjek. Pola: potensia pengkhianatan internal. Rekomendasi: Observasi lebih lanjut,”* Unit-04 menegaskan. Sebuah firasat buruk mencengkeram Wei Chen. Ia bukan hanya akan menghadapi bandit dan musuh, tetapi juga bahaya dari dalam barisan mereka sendiri. Unit pengintai kini terasa seperti misi bunuh diri ganda.
---
Wei Chen kembali ke tendanya, langkahnya tergesa-gesa, pikirannya dipenuhi dengan kepingan informasi yang saling bertabrakan. Dinginnya malam menusuk kulit, tetapi tidak mampu meredakan gejolak di dalam dirinya. Ia duduk di atas alas tidurnya yang tipis, pedang Jian masih menempel di punggungnya, keberadaannya kini terasa seperti beban yang berat, sebuah tanggung jawab yang tak diinginkan. Ia mencoba mengingat setiap detail dari pertemuan tadi, setiap bisikan, setiap tatapan yang mencurigakan. Unit-04 tidak henti-hentinya membanjiri benaknya dengan data, menganalisis, menyusun pola-pola yang tak kasat mata.
*“Pola perilaku Jenderal Huo: Perintah non-standar terdeteksi. Pengalihan sumber daya dari sektor vital ke sektor dengan resiko rendah. Ketidakkonsistenan antara prioritas verbal dan tindakan nyata,”* Unit-04 memaparkan, suaranya kini terdengar seperti hakim yang membacakan vonis. Wei Chen memejamkan mata, mencoba memahami implikasinya. Jenderal Huo, pemimpin mereka, orang yang seharusnya melindungi mereka, mungkin adalah sumber masalahnya. Sebuah pikiran yang begitu mengerikan sehingga ia ingin menolaknya, tetapi data Unit-04 begitu presisi, begitu dingin dan tak terbantahkan.
Ia mengingat bagaimana Jenderal Huo mengalihkan sepasukan prajurit veteran dari garis depan utama ke sebuah pos terpencil yang seharusnya tidak strategis. Pada saat itu, Wei Chen tidak memikirkannya, tetapi sekarang, dengan analisis Unit-04, tindakan itu terasa sangat janggal. *“Analisis: Penempatan pasukan veteran di lokasi non-strategis mengurangi kekuatan ofensif di titik krusial. Potensi: Pembukaan celah pertahanan yang disengaja,”* Unit-04 melanjutkan, setiap kata seperti palu yang menghantam dinding pertahanan mental Wei Chen. Perasaan tidak nyaman yang samar-samar tadi kini berubah menjadi ketakutan yang dingin dan menusuk.
Wei Chen membuka matanya, menatap kegelapan tenda. Ia merasa seperti terperangkap di antara musuh yang terlihat dan pengkhianatan yang tidak terlihat. Unit-04 tidak memiliki emosi, tidak memiliki loyalitas. Ia hanya memproses data, mencari efisiensi dan kelangsungan hidup. Dan data-data yang disajikannya tentang Jenderal Huo kini melukiskan gambaran yang sangat mengkhawatirkan. Perintah-perintah yang tampaknya masuk akal di permukaan, kini, dengan lapisan analisis Unit-04, menunjukkan motif yang jauh lebih gelap.
Jenderal Huo yang tegas, yang selalu dihormati, kini tampak seperti labirin yang penuh jebakan. Wei Chen merasakan keringat dingin membasahi pelipisnya. Misi pengintaian ini, yang tadinya ia kira hanyalah ancaman dari musuh luar, kini terasa jauh lebih berbahaya, seolah ia sedang berjalan ke dalam sebuah perangkap yang dirancang oleh orang-orangnya sendiri. Ia memandang gagang pedang di punggungnya, bilahnya memancarkan cahaya biru redup yang nyaris tak terlihat dalam kegelapan. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia percayai sepenuhnya.
Di bawah kerudung malam, sebuah peta lama terbentang di markas Jenderal Huo, menunjuk ke sebuah benteng terpencil yang dijaga ketat, dan Unit-04 berbisik di benak Wei Chen: *“Anomali terdeteksi. Koordinat ini tidak sesuai dengan protokol pertahanan. Potensi: pengkhianatan.”*