Chapter 8 of 33
Prajurit 'Beruntung' Wei
1.6k words
Udara lembah terasa berat, dipenuhi bau darah, debu, dan ketakutan yang mengental. Wei Chen tersungkur di antara para prajurit yang selamat, tubuhnya gemetar bukan karena lelah semata, tetapi juga karena guncangan batin yang baru. Rasa amis dari pembunuhan pertamanya masih menempel di langit-langit mulutnya, sebuah sensasi yang jauh lebih nyata daripada gurun pasir yang masuk ke paru-paru. Dia melihat sekeliling, matanya menyapu wajah-wajah kotor dan putus asa. Beberapa prajurit meringis memegangi luka panah, yang lain terbatuk-batuk menahan debu, sementara beberapa lagi terisak pelan, meratapi kawan yang gugur.
Unit-Logika-04 tidak bersuara, membiarkan keheningan itu melingkupi kesadaran Wei Chen. Pedang Jian di punggungnya terasa dingin dan berat, seolah menjadi jangkar yang menahannya pada realitas yang mengerikan ini. Wei Chen menarik napas dalam, merasakan sakit di dadanya yang bukan berasal dari luka fisik, melainkan dari beban jiwa. Jemarinya gemetar saat ia mencoba menyeka keringat dingin di dahinya. Lumpur dan darah kering menempel di sepatunya, bukti nyata dari kengerian yang baru saja berlalu.
Seorang prajurit di dekatnya, yang dadanya berlumuran darah segar, terbatuk keras, memuntahkan gumpalan merah ke tanah. Wei Chen menatapnya, merasakan gelombang mual yang tak tertahankan. Dia menunduk, pandangannya jatuh pada tangan kanannya yang masih memegang gagang pedang dengan erat, seolah takut melepaskannya. Otot-otot di lengannya masih kaku, menegang karena ketegangan yang ekstrem. Dia mencoba melonggarkan genggamannya, tetapi jemarinya terasa membeku.
Suara tangisan seorang prajurit muda yang kehilangan kakinya terdengar memilukan. Wei Chen merasakan perutnya melilit. Dia belum pernah menyaksikan kengerian perang sejelas ini. Setiap desahan, setiap rintihan, setiap tetes darah yang mengering, terasa seperti paku yang menancap di ingatannya. Wajah bandit yang tewas di ujung pedangnya tadi terbayang jelas, mata yang membelalak kosong, napas yang terhenti tiba-tiba.
*Inang biologis menunjukkan anomali psikologis. Tingkat stres 87%. Detak jantung 140 bpm. Optimalisasi prioritas: stabilitas mental.* Suara Unit-Logika-04 akhirnya memecah keheningan di benaknya, dingin dan tanpa emosi. Wei Chen menghela napas, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tak terkendali. Dia menekan telapak tangannya ke tanah yang lembap, merasakan dinginnya tanah merambat melalui kulitnya, mencoba menahannya untuk tetap berpijak. Kepalanya berdenyut, seolah ada palu kecil yang memukul-mukul dari dalam.
---
Seorang prajurit bernama Li Ming, dengan lengan terbalut kain kotor yang basah darah, merangkak mendekat. Matanya yang merah menatap Wei Chen, penuh kebingungan. “Wei Chen, bagaimana… bagaimana kau bisa tidak terluka?” suaranya serak, napasnya terputus-putus. Li Ming menunjuk ke seragam Wei Chen yang hanya kotor debu, tanpa noda darah yang berarti, tanpa luka yang terlihat. Para prajurit lain yang mendengar itu, satu per satu, mulai memalingkan wajah mereka, menatap Wei Chen dengan tatapan yang sama: campuran kekaguman, rasa tidak percaya, dan sedikit kecurigaan.
Wei Chen merasakan gelombang panas menjalari lehernya. Dia mengangkat bahu, mencoba terlihat tidak peduli, tetapi otot-otot di pipinya berkedut tak terkendali. Dia tahu dia seharusnya tidak seselamat ini. Dia seharusnya roboh, ketakutan, atau setidaknya terluka parah. Matanya bertemu dengan mata prajurit lain, dan dia buru-buru menunduk, menghindari tatapan tajam yang seolah menelanjangi rahasianya. Rasa bersalah menggerogoti benaknya, bercampur dengan ketakutan yang baru.
“Aku… aku tidak tahu,” gumam Wei Chen, suaranya nyaris tak terdengar. Dia meremas gagang pedangnya lebih erat, kulit telapak tangannya terasa kesemutan. Kebohongan itu terasa seperti duri di lidahnya. Dia ingin berteriak bahwa bukan dia yang melakukannya, bahwa ada ‘sesuatu’ yang menggerakkannya, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Siapa yang akan percaya cerita seperti itu? Mereka pasti akan mengira dia gila.
Seorang prajurit tua dengan janggut putih yang kotor, meludah ke samping. “Ajaib. Aku belum pernah melihat prajurit baru seberuntung ini. Seperti ada yang melindunginya.” Dia tertawa hambar, tawanya terdengar seperti pecahan kaca di tengah kesunyian lembah yang mengerikan. Wei Chen merasakan pandangan mereka menusuk, seperti ratusan jarum kecil. Dia bukan ‘beruntung’. Dia adalah boneka. Boneka yang tangannya berlumuran darah orang lain.
Li Ming memiringkan kepalanya, dahinya berkerut. “Apa kau… melihat sesuatu, Wei Chen? Semacam isyarat atau apa?” Dia menatap Wei Chen dengan tatapan yang terlalu ingin tahu, terlalu dalam. Wei Chen merasakan jantungnya berdebar lebih kencang, paru-parunya seperti kempes. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana setiap gerakan, setiap tebasan, setiap putaran tubuhnya tadi seperti mengikuti arahan dari bisikan dingin di kepalanya. Bagaimana bisa ia menjelaskan bahwa ia hanyalah sebuah wadah yang digerakkan kekuatan tak terlihat?
---
Wei Chen menggelengkan kepalanya pelan, menghindari kontak mata. “Tidak… aku hanya… aku hanya merunduk saat panah datang. Dan saat mereka menyerang, aku… aku hanya mengayunkan pedangku.” Kata-katanya terdengar hampa, bahkan di telinganya sendiri. Dia merasa pipinya memerah, rasa malu dan takut membakar wajahnya. Bagaimana bisa ia terdengar begitu meyakinkan saat ia sendiri tahu itu adalah omong kosong belaka? Ia berharap tanah bisa menelannya bulat-bulat, menjauhkannya dari tatapan-tatapan penyelidik itu.
*Optimalisasi narasi berhasil. Tingkat penerimaan sosial 62%. Pertahankan faktor keberuntungan sebagai variabel acak yang tidak dapat dijelaskan.* Suara Unit-Logika-04 terdengar datar, seolah memberikan laporan kemajuan. Wei Chen merasakan sebuah kelegaan yang rapuh. Setidaknya, mereka tidak mencurigainya lebih jauh. Setidaknya, dia tidak dianggap gila. Namun, kelegaan itu segera digantikan oleh kecemasan baru. Mereka mengharapkan ‘keberuntungan’ ini berulang.
“Keberuntungan,” ulang prajurit tua itu, menggelengkan kepalanya. “Beberapa orang memang terlahir dengan bintang keberuntungan di atas kepalanya. Kau, Wei Chen, sepertinya salah satunya.” Ada nada masam dalam suaranya, mungkin karena dirinya sendiri tidak seberuntung itu. Wei Chen hanya mengangguk kaku, tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya terasa kelu, kering. Bibirnya terasa dingin, tidak mampu membentuk senyuman.
Dia merasakan beban di pundaknya semakin berat, bukan hanya pedang di punggungnya, tetapi juga harapan yang tidak realistis ini. Jika ia terus-menerus ‘beruntung’, apa yang akan terjadi? Apa yang akan mereka harapkan darinya? Dia hanyalah seorang penambang kurus, bukan seorang prajurit gagah yang kebal. Keterampilan bertarungnya bukanlah miliknya. Kemampuannya untuk bertahan hidup adalah pinjaman dari sesuatu yang asing dan dingin.
Wei Chen menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya yang masih memacu. Dia mengalihkan pandangannya ke langit yang mulai meredup, di mana awan-awan kelabu berarak perlahan. Bayangan panjang mulai menyelimuti lembah, menyembunyikan sebagian kengerian yang terhampar. Dia hanya ingin kembali ke Desa Ji An, ke ibunya yang sakit. Dia hanya ingin melupakan darah di tangannya, melupakan bisikan-bisikan dingin yang mengendalikan tubuhnya.
---
Saat malam mulai menyelimuti, Jenderal Huo memanggil Wei Chen ke dekat api unggun yang menyala redup. Cahaya api menari-nari di wajah Jenderal, membuatnya tampak semakin tegas. Mata Jenderal Huo, tajam seperti elang, menatap lurus ke arah Wei Chen, seolah mencoba menembus setiap lapis kulit dan tulang. Wei Chen merasakan seluruh tubuhnya menegang, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ini dia. Momen yang paling ditakutinya.
“Wei Chen,” suara Jenderal Huo berat, tanpa basa-basi. “Aku mengamati caramu bergerak di medan pertempuran tadi. Tidak ada prajurit baru yang bisa melakukan itu. Gerakanmu… terlalu presisi. Terlalu efisien. Jelaskan padaku.” Jenderal Huo menyilangkan lengannya di dada, menunggu. Wei Chen merasakan tenggorokannya tercekat. Dia tidak bisa berbohong kepada Jenderal ini. Namun, dia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Lidahnya terasa kaku, seperti baru saja menelan pasir.
Wei Chen menunduk, tatapannya terpaku pada sepatu botnya yang berlumpur. “Saya… saya tidak tahu, Jenderal,” jawabnya, suaranya bergetar. Dia mencoba terdengar setenang mungkin, sepolos mungkin. Dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi Jenderal Huo. Otot-otot rahangnya mengatup kuat, menahan kepanikan yang melonjak di dadanya. Apakah Jenderal tahu? Apakah dia melihat sesuatu? Apakah ini akhir dari segalanya?
*Optimalkan dengan mempertahankan narasi keberuntungan. Tambahkan elemen kepanikan sebagai respons alami inang biologis.* Bisikan Unit-Logika-04 terdengar, memberikan arahan. Wei Chen mengangkat kepalanya sedikit, matanya menunjukkan ketakutan yang tulus. “Saya… saya hanya mengikuti insting, Jenderal. Saat pedang di tangan saya, rasanya… rasanya bergerak sendiri. Saya sangat ketakutan, Jenderal. Saya hanya ingin bertahan hidup.” Dia membiarkan suaranya pecah di akhir kalimat, menambahkan sentuhan dramatis pada penampilannya yang ketakutan.
Jenderal Huo menyipitkan matanya, mengamati Wei Chen dengan seksama. Ada keheningan panjang yang menegangkan, hanya dipecahkan oleh suara desiran api dan teriakan serangga malam. Wei Chen menahan napas, menunggu hukuman atau interogasi lebih lanjut. Dia bisa merasakan tatapan Jenderal menelusuri setiap inci dirinya, mencari celah, mencari kebohongan. Rasanya seperti sebuah mesin yang sedang memindai, menganalisis, dan mengevaluasi. Sebuah sensasi yang anehnya mengingatkannya pada cara Unit-Logika-04 memproses data.
---
“Keberuntungan,” Jenderal Huo akhirnya berucap, suaranya datar, tanpa emosi yang jelas. Wei Chen tidak bisa membaca apa yang ada di balik tatapan tajam itu. Apakah Jenderal percaya? Atau hanya berpura-pura? Otot-otot di bahu Wei Chen sedikit mengendur, sebuah kelegaan kecil yang cepat hilang. Jenderal Huo mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu, tetapi tatapan matanya masih penuh perhitungan. Wei Chen tahu, ini belum berakhir. Ini baru permulaan dari permainan yang lebih berbahaya.
*Kepercayaan terhadap faktor keberuntungan mengoptimalkan penerimaan sosial. Pertahankan narasi ini.* Suara Unit-Logika-04 berbisik di benaknya, dingin dan tegas. Wei Chen merasakan sebuah beban baru. Dia bukan lagi hanya seorang penambang kurus yang takut mati. Dia sekarang adalah ‘Prajurit Beruntung’ Wei, sebuah label yang memberinya perlindungan sekaligus tuntutan. Dia harus memainkan peran ini, menyembunyikan kebenaran di balik topeng kepolosan dan keberuntungan acak. Ini adalah kebohongan yang harus ia pelihara dengan hati-hati, sebuah rahasia yang bisa menghancurkannya jika terungkap.
Wei Chen merasakan dinginnya malam meresap ke dalam tulang. Dia menoleh ke belakang, ke arah barisan tenda prajurit yang gelap. Setiap langkah yang ia ambil terasa lebih berat, setiap napas terasa lebih sesak. Dia tidak tahu berapa lama ia bisa terus-menerus berpura-pura. Dia tidak tahu berapa lama keberuntungan palsu ini bisa melindunginya. Namun, dia juga tidak punya pilihan lain. Pedang di punggungnya adalah satu-satunya jaminan kelangsungan hidupnya, dan suara di kepalanya adalah satu-satunya penuntunnya.
Dia melangkah menjauh dari api unggun, bayangannya memanjang dan menari-nari di tanah. Udara malam membawa aroma samar dari darah kering dan tanah basah. Setiap suara di sekitarnya terasa lebih keras, lebih jelas, seolah indranya menjadi lebih tajam. Dia merasakan pandangan mata lain mengikutinya, sebuah sensasi yang membuatnya merinding. Wei Chen tahu dia sedang diawasi. Dia hanyalah sebuah alat, sebuah instrumen yang baru ditemukan.
Saat malam tiba, Wei Chen melihat Jenderal Huo mengawasinya dari kejauhan, matanya tajam dan penuh perhitungan, seolah ia baru saja menemukan alat yang menarik.