Chapter 10 of 33

Benteng Berdarah: Api Pengkhianatan

1.6k words

Lumpur dingin memeluk pipi Wei Chen. Aroma tanah basah dan dedaunan busuk memenuhi hidungnya, menusuk hingga ke ulu hati. Ia menekan tubuhnya lebih dalam ke celah parit, berusaha menyatu dengan kegelapan yang pekat. Setiap tarikan napas terasa berat, memompa adrenalin liar melalui pembuluh darahnya yang kurus. Jemarinya mencengkeram gagang pedang Jian di punggungnya, sensasi dingin dari bilah baja itu satu-satunya kontak yang nyata di tengah mimpi buruk yang mengepung. Unit-Logika-04 berbisik dalam benaknya, suaranya kini terasa lebih dalam, lebih menuntut dari sebelumnya. *"Data topografi: koordinat X-73, Y-112. Benteng musuh terdeteksi pada 0.7 kilometer. Profil vegetasi: kepadatan 85%. Optimalisasi pergerakan: merangkak rendah, kecepatan 0.5 meter/detik. Tekanan kaki: 0.1 Newton."* Wei Chen menggerakkan kakinya, meniru setiap instruksi yang terlintas. Ia menepis ranting kering yang menghalangi. Otot-ototnya tegang, berkoordinasi secara otomatis. Rasanya seperti bukan tubuhnya sendiri, melainkan sebuah mesin yang dioperasikan oleh kehendak asing. Ia merasakan keraguan merayap, namun menepisnya. Li Ming, yang merangkak di sampingnya, mendongak sedikit. Matanya memantulkan cahaya rembulan yang samar. “Kau dengar itu, Wei Chen? Anginnya berisik sekali malam ini.” Bisikannya nyaris tak terdengar, serak oleh ketegangan. Wei Chen hanya mengangguk, napasnya tertahan. Suara angin memang melolong aneh. Ia mengabaikan gemuruh di telinganya. Unit-Logika-04 tidak melaporkan anomali suara. Mungkin hanya kegugupan Li Ming saja. *"Deteksi termal: Suhu benteng stabil. Tidak ada pergerakan masif yang terdeteksi. Anomali: Kepadatan energi biologis rendah."* Suara Unit-04 berlanjut, nadanya tanpa emosi, murni data. Kepadatan energi biologis rendah? Artinya, jumlah musuh tidak sebanyak yang mereka perkirakan. Itu seharusnya kabar baik, tapi justru membuat kerongkongan Wei Chen tercekat. Pengalaman mengajarinya, dalam perang, terlalu tenang sering berarti terlalu berbahaya. Para pengintai terus maju, kaki mereka tenggelam dalam lumpur, setiap gerakan diperhitungkan untuk menghindari suara sekecil apa pun. Wei Chen merasakan peluh dingin membasahi punggungnya. Jantungnya berdebar, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena firasat buruk yang menggerogoti. --- Mereka mencapai batas parit, tebing tanah yang menjulang tinggi, menghadap langsung ke benteng. Wei Chen mengintai dari balik semak belukar yang lebat. Benteng itu menjulang dalam keheningan yang mencekam, seolah menelan semua suara. Pos jaga di gerbang utama kosong. Obor-obor di dinding benteng menyala redup, nyaris berkedip-kedip, seolah ditinggalkan begitu saja. Tidak ada bayangan tentara yang berpatroli, tidak ada suara denting besi, bahkan anjing penjaga pun tak terdengar melolong. *“Identifikasi struktur: dinding batu basal, tinggi 10 meter. Gerbang: kayu ek solid, tertutup. Probabilitas penjaga: 0.00%,”* Unit-Logika-04 melaporkan dengan dingin. *“Anomali dikonfirmasi: tidak ada unit pertahanan aktif.”* Wei Chen menelan ludah. Ini tidak benar. Pos terdepan musuh tidak mungkin selemah ini. Ia menoleh ke arah Kapten Lin, pemimpin unit mereka, yang juga tampak bingung. Alis tebal kapten itu berkerut, matanya menyipit, mencoba menembus kegelapan. “Kapten, pos jaga kosong,” bisik salah satu prajurit, suara gemetar tertahan. “Apa ini jebakan?” Kapten Lin mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua tetap diam. Ia mengamati benteng dengan saksama. “Terlalu sepi,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Ini bukan taktik musuh yang biasa.” Ia menggerakkan jari, memberi isyarat kepada Wei Chen dan dua prajurit lainnya untuk menyelinap mendekat, memeriksa gerbang. Perintah itu membuat perut Wei Chen melilit. Ia merangkak maju, menyentuh gerbang kayu yang dingin dan kasar. Tidak ada kunci, tidak ada palang. Hanya tertutup begitu saja. Ia mendorongnya pelan. *Kriiet...* Pintu gerbang terbuka tanpa perlawanan, memperlihatkan kegelapan di dalamnya. Angin berdesir masuk, membawa bau aneh yang bukan bau musuh, bukan bau darah, melainkan bau yang lebih familiar, lebih mengganggu. *“Deteksi aroma: fermentasi beras. Sumber: sisa-sisa ransum tentara Dinasti,”* Unit-Logika-04 mengumumkan. *“Probabilitas ancaman langsung: rendah. Probabilitas anomali strategis: tinggi.”* Ransum tentara Dinasti? Di benteng musuh? Firasat buruk yang tadi hanya berbisik kini berteriak di benak Wei Chen. Tangannya gemetar saat ia menekan gagang pedangnya, mencari kekuatan yang tak kunjung datang dari dalam dirinya sendiri. --- Di dalam benteng, keheningan justru terasa semakin pekat dan mematikan. Hanya suara langkah kaki mereka yang memecah kesunyian, mengikis lapisan debu dan kerikil. Wei Chen bergerak, matanya memindai sekeliling, mencari ancaman. Ia mengikuti Unit-Logika-04 yang membimbingnya, melewati barak-barak kosong dan gudang logistik yang terbuka lebar. Bau nasi basi dan sisa makanan yang terbuang menguar dari dapur umum, seolah tempat itu ditinggalkan terburu-buru. Lalu, di tengah lapangan utama, Wei Chen melihatnya. Sebuah seragam prajurit Dinasti tergeletak di tanah yang berpasir, kotor dan bernoda. Ia mendekat perlahan, napasnya tertahan. Di sebelahnya, ada sebuah helm baja yang terlempar, retak di bagian samping. Darah kering menghitam di kain seragam, meresap ke dalam seratnya. Bukan darah musuh. Itu adalah warna merah kehitaman yang sama persis dengan yang ia lihat di Wolf Valley. Unit-Logika-04 langsung menganalisis. *“Identifikasi: Seragam militer Dinasti. Pangkat: Prajurit biasa. Kondisi: Meninggal. Penyebab kematian: luka tusuk presisi. Perkiraan waktu kematian: 4-6 jam lalu.”* Wei Chen tidak bisa bicara. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya. Ia melihat sekeliling. Beberapa meter di depannya, ada seragam lain. Kemudian satu lagi, di dekat sumur. Semua milik prajurit Dinasti. Semua bernoda darah. Ini bukan medan perang. Ini adalah pembantaian. “Apa-apaan ini?” suara Li Ming bergetar, memecah keheningan. Ia menunjuk ke arah tumpukan seragam yang kini semakin jelas terlihat. “Mengapa prajurit kita sendiri ada di sini? Dan... mati?” Kapten Lin maju, pedangnya sudah terhunus, matanya menyapu setiap sudut. Wajahnya mengeras, bibirnya mengatup rapat. Ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang terjadi. Wei Chen merasakan hawa dingin merayap dari kakinya hingga ke ubun-ubun. Ini bukan musuh. Musuh tidak akan meninggalkan pos jaga. Musuh tidak akan meninggalkan ransum. *“Pola luka: konsisten. Senjata: pedang Dinasti. Teknik: standar militer. Pelaku: kemungkinan besar dari unit yang sama,”* Unit-Logika-04 melanjutkan laporannya, tanpa henti memproses data kematian di sekeliling mereka. Suaranya terdengar seperti lonceng kematian yang berdering di dalam kepala Wei Chen. --- Wei Chen merasakan mual yang luar biasa. Ia menekan punggung tangannya ke mulut. Pandangannya nanar pada mayat-mayat itu. Seragam Dinasti, pedang Dinasti, luka tusuk presisi. Semua menunjuk pada satu kesimpulan mengerikan yang tak ingin ia terima. Ini adalah kengerian yang melampaui serangan bandit. Ini adalah kekejaman yang tak terbayangkan. *“Identifikasi: seragam Dinasti. Pelaku: Tentara Dinasti. Konflik internal dikonfirmasi. Probabilitas tinggi pengkhianatan,”* Unit-Logika-04 mengulang, seolah ingin memastikan Wei Chen memahami setiap implikasinya. Suara Unit-04 kini terdengar seperti palu godam yang menghantam benaknya, menghancurkan sisa-sisa kepercayaan yang ia miliki. Kapten Lin menendang helm yang tergeletak di dekat kakinya, suaranya menggelegar di benteng yang sepi. “Pengkhianat!” raungnya, urat lehernya menegang. “Mereka membantai unit kita sendiri!” Ekspresi prajurit lain mencerminkan keterkejutan dan kemarahan yang sama. Li Ming mencengkeram erat pedangnya, buku-buku jarinya memutih. Mata mereka beralih dari satu mayat ke mayat lainnya, mencari jawaban, mencari alasan di balik kekejian ini. Wei Chen merasakan kemarahan ikut membakar dirinya. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup. Ini adalah pengkhianatan yang jauh lebih keji daripada sekadar menghadapi musuh di medan perang. *“Analisis psikologis: deteksi anomali emosional pada inang biologis. Tingkat kemarahan: meningkat 78%. Tingkat ketakutan: menurun 52%,”* Unit-Logika-04 mengamati. *“Optimalisasi respons: fokus pada deteksi pelaku.”* Kemarahan itu membara, panas dan nyata, menggantikan rasa takut yang selalu menyelimutinya. Wei Chen tidak lagi gemetar. Tangannya terkepal. Ia bisa merasakan denyutan keras di pelipisnya. Pedangnya di punggung terasa lebih ringan, seolah siap untuk bergerak. Ia ingin menemukan siapa yang melakukan ini. Ia ingin melihat wajah pengkhianat itu. “Kita harus mencari tahu siapa pelakunya,” kata Wei Chen, suaranya sendiri mengejutkannya. Itu terdengar lebih kuat, lebih tegas dari yang ia bayangkan. Ia tidak lagi hanya menuruti perintah, ia *meminta* tindakan. Kapten Lin mengangguk, sorot matanya tajam. “Kita akan cari tahu. Semua menyebar. Hati-hati.” --- Mereka bergerak lebih dalam, mengikuti koridor gelap yang mengarah ke bagian belakang benteng. Bau busuk yang samar bercampur dengan aroma darah segar mulai tercium. Wei Chen menajamkan pendengarannya. Kali ini, Unit-Logika-04 mendeteksi suara, samar-samar, seperti rintihan tertahan. *“Deteksi audio: Vokal manusia. Frekuensi rendah, pola tekanan tinggi. Probabilitas: unit biologis dalam tekanan fisik,”* Unit-Logika-04 melaporkan. *“Jumlah unit: sekitar 12. Lokasi: 30 meter di depan, sektor timur laut.”* Wei Chen memberi isyarat kepada Kapten Lin. Mereka bergerak hati-hati, bersembunyi di balik tumpukan karung goni. Dari sana, ia bisa melihatnya. Pemandangan itu mengunci napas di tenggorokannya. Di halaman belakang benteng, beberapa perwira Dinasti berseragam lengkap—bukan unit mereka, tetapi jelas perwira dengan emblem pangkat tinggi—sedang mengikat beberapa orang dari desa. Wajah-wajah para sandera itu pucat, mata mereka membelalak ketakutan. Ada wanita tua, beberapa pria muda, dan bahkan seorang anak kecil yang meringkuk ketakutan. Seorang perwira dengan seragam jubah brokat yang lebih mewah tertawa, suaranya kasar dan dingin, memecah keheningan malam. “Bersenang-senanglah, kawan-kawan. Ini adalah hadiah dari Jenderal Huo. Desa ini akan menjadi pelajaran bagi siapa pun yang berani menentang.” Kata-kata itu menghantam Wei Chen seperti pukulan telak. Jenderal Huo. Jenderal mereka sendiri. Api kemarahan yang tadi hanya membara kini meledak di dadanya, membakar setiap sel tubuhnya. Ini bukan hanya pengkhianatan militer. Ini adalah kekejaman terhadap rakyat mereka sendiri, dilakukan oleh tangan yang seharusnya melindungi mereka. Semua kepercayaan, semua rasa hormat yang pernah ia miliki untuk seragam itu hancur menjadi debu. Tangannya secara otomatis mencengkeram pedang Jian, bilah dingin itu terasa panas di telapak tangannya, seolah ikut merasakan amarahnya. Ia ingin menyerbu, membalas, menghukum para pengkhianat itu. Namun, Unit-Logika-04 dengan cepat menyalurkan data baru. *“Deteksi ancaman: unit biologis bersenjata lengkap, jumlah 18. Probabilitas keberhasilan serangan: 0.01%. Rekomendasi: Penarikan taktis.”* Sebelum Wei Chen bisa bertindak, sebelum ia bisa menguasai amarah yang meluap-luap, sebuah bayangan panjang jatuh di atasnya. Aroma darah segar dan besi tercium menusuk hidungnya. Ia berbalik, jantungnya mencelos. Jenderal Huo berdiri di sana, keluar dari kegelapan, seolah muncul dari dalam bayangan itu sendiri. Pedang panjangnya berlumuran darah, tetesan merah gelap menetes ke lumpur di kaki Wei Chen. Wajah Jenderal Huo menyeringai, senyumnya dingin dan kejam, memperlihatkan gigi yang menguning. “Kau memang bocah yang beruntung, bukan?” Jenderal Huo berkata, suaranya rendah dan mengancam. “Sayang sekali keberuntunganmu berakhir di sini.”

End of Chapter 10

Chapter 10: Benteng Berdarah: Api Pengkhianatan - Besi Dingin, Darah Hangat | Novel AI Studio