Chapter 7 of 33

Darah Pertama, Mata Terbuka

1.6k words

Darah panas menyembur, membasahi wajah Wei Chen. Cairan kental itu terasa lengket di kulitnya, baunya amis dan besi, mengisi rongga hidungnya dengan kepekatan yang menyesakkan. Matanya yang melebar sempurna menatap kaku pada sosok di hadapannya. Seorang pria, yang sedetik lalu masih mengayunkan kapak, kini terkapar di tanah. Kapak itu jatuh dari genggamannya, menimbulkan bunyi *gedebuk* tumpul di antara lumpur dan dedaunan. Tubuh pria itu kejang sekali, lalu diam. Matanya masih terbuka, menatap kosong ke langit kelabu. Sebuah *ngh* tercekat di tenggorokan Wei Chen. Tenggorokannya terasa tersumbat, seolah ada gumpalan tanah liat yang mengganjal. Pandangan matanya memburam, bukan karena air mata, melainkan karena syok murni yang menggoncang seluruh sarafnya. Ia telah melakukan ini. Ia yang telah mengakhiri nyawa seseorang. Pedang Jian di tangannya terasa membeku, dinginnya menembus sarung tangan kulitnya, namun ujung bilahnya yang baru saja menembus leher musuh itu masih menghangatkan udara di sekitarnya. *Kompatibilitas inang biologis: 81%. Efisiensi membunuh: 98,7%. Ancaman primer tereliminasi.* Suara Unit-Logika-04 berbisik datar di benaknya, tanpa emosi, tanpa jeda. Suara itu kontras tajam dengan kekacauan yang berkecamuk di dalam diri Wei Chen. Otaknya seolah berhenti berfungsi, hanya mampu memproses satu gambar: wajah tak bernyawa di kakinya, dengan darah yang terus merembes ke tanah. Kakinya gemetar hebat, lututnya nyaris tidak bisa menopang berat badannya sendiri. Ia ingin jatuh berlutut, memuntahkan isi perutnya, atau sekadar berteriak sampai pita suaranya putus. Namun, tubuhnya masih tegak, kaku seperti boneka kayu. Kelembaban darah di pipinya terasa menjijikkan, memicu naluri primal untuk membersihkannya, tapi tangannya tak bisa bergerak. Pedang itu, yang baru saja menjadi perpanjangan tangannya untuk membunuh, kini terasa seperti jangkar raksasa yang mengikatnya pada tempatnya. Bau darah yang menyengat itu bercampur dengan bau tanah basah dan asap dari obor yang jatuh. Telinganya berdenging, meredam raungan pertempuran yang masih terjadi di sekitarnya, meredam teriakan kesakitan prajurit lain. Ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, menggema di dalam tulang rusuknya, seolah ingin meledak keluar. Wajah pria yang baru saja ia bunuh itu seolah terpatri di retinanya, mata terbuka itu menghantuinya bahkan sebelum ia sempat berkedip. --- Rasa mual yang dahsyat menyeruak dari perutnya, memaksa isi lambungnya naik ke kerongkongan. Wei Chen terhuyung mundur selangkah, bibirnya mengatup rapat, mencoba menahan gejolak itu. Tubuhnya membungkuk, berusaha keras melawan dorongan untuk memuntahkan semua yang ada di dalam dirinya. Bau anyir darah di wajahnya semakin kuat, bercampur dengan aroma keringat ketakutan yang menguar dari kulitnya sendiri. Seluruh dunianya terasa berputar, berpusar dalam pusaran merah dan hitam. *Ancaman belum berakhir. Pergerakan musuh terdeteksi di utara. Jarak: 7,2 meter. Kecepatan mendekat: 4,1 meter per detik. Prioritas: bertahan hidup. Lakukan manuver 03-delta.* Bisikan Unit-Logika-04 kembali membanjiri kesadarannya, dingin dan presisi. Suara itu menjadi satu-satunya jangkar yang menahan Wei Chen agar tidak benar-benar tumbang. Ia tidak bisa menyerah, tidak boleh. Ibunya. Desa Ji An. Semua itu bergantung padanya. Mata Wei Chen masih terpaku pada mayat di depannya, namun otaknya mulai memproses informasi baru yang diberikan pedang. Sebuah titik merah berkedip di sudut pandang internalnya, menunjukkan arah utara. Rasa takut yang campur aduk dengan kengerian atas apa yang baru saja ia lakukan, kini bergeser menjadi ketakutan yang lebih mendesak: ketakutan akan kematiannya sendiri. Kakinya bergerak, terpincang-pincang, mengikuti dorongan tak kasat mata dari Unit-04. Ia melangkah ke samping, memutar tubuhnya secepat yang tubuhnya yang letih bisa lakukan. Udara dingin lembah menampar pipinya, menghilangkan sedikit sensasi lengket darah. *Tarik napas. Kendalikan frekuensi jantung. Otot-otot inti tegang. Posisi pedang: defensif-standar.* Perintah itu mengalir tanpa henti, setiap kata seolah dipahat langsung ke dalam sarafnya. Wei Chen tidak berpikir, hanya bereaksi, membiarkan tubuhnya menjadi instrumen bagi kehendak pedang. Seorang prajurit musuh tiba-tiba muncul dari balik semak belukar, mengayunkan tombak kayu yang kasar. Ujung tombak itu berkilat tajam di bawah cahaya remang. Wei Chen merasakan dorongan kuat di pergelangan tangannya, menggerakkan pedang Jian-nya secara refleks. Pedang itu berputar dalam busur sempurna, bilahnya memantulkan cahaya redup saat menghantam batang tombak dengan bunyi *kleetang* keras. Getaran hantaman itu merambat ke lengannya, membuatnya meringis, namun ia tidak melepaskan genggamannya. --- Wei Chen mengayunkan pedang lagi, kali ini dengan sedikit kesadaran yang mulai menyusup di balik kabut syoknya. Pedang Jian-nya, yang seberat beban hidup, bergerak dengan kecepatan yang tidak ia sadari. Perintah Unit-Logika-04 tidak lagi terdengar seperti bisikan asing, melainkan seperti gema dari instingnya sendiri, insting yang baru ia temukan. *Sudut tangkis 30 derajat. Beban di kaki kiri. Jaga keseimbangan.* Setiap gerakan adalah respons instan terhadap data yang dihantamkan ke otaknya. Lawan di depannya adalah seorang pria berbadan kekar dengan janggut lebat dan mata liar. Pria itu menggeram, mengayunkan tombaknya lagi, kali ini dengan serangan tusukan cepat ke arah dada Wei Chen. Wei Chen merasakan hawa dingin pedang menuntun tangannya untuk mengangkat bilah ke atas, menangkis tusukan itu dengan presisi sempurna. Ujung tombak bergeser dari dadanya hanya sejengkal, menimbulkan desiran angin yang menampar kulitnya. Ketakutan itu nyata, namun kini ia merasakannya sebagai energi, bukan kelumpuhan. *Gerakan memutar. Bidik sendi lutut. Non-fatal, efisiensi gerak.* Wei Chen merasakan otot-ototnya menegang, kakinya berputar di atas tanah berlumpur. Pedang itu melesat ke bawah, bilahnya berkilat. Pria janggut itu mendengus kaget, mencoba menarik tombaknya kembali, namun sudah terlambat. Ujung pedang Wei Chen menghantam lututnya dengan suara *krak* tumpul. Pria itu menjerit, suaranya pecah di tengah riuhnya pertempuran, dan seketika jatuh berlutut, memegangi lututnya yang patah. Wei Chen tidak menunggu. Tubuhnya terus bergerak, dipandu oleh Unit-Logika-04. Darah musuh lain, seorang pemanah yang terhuyung-huyung di dekatnya setelah panahnya habis, kini menjadi target berikutnya. Ia tidak berniat membunuh lagi, tidak jika ia bisa menghindarinya. Rasa mual itu masih ada, namun ia mengabaikannya, memaksa dirinya fokus pada setiap perintah yang masuk. *Pukulan tumpul ke ulu hati. Lumpuhkan. Hindari kerusakan organ vital.* Pedang itu berputar di tangannya, gagangnya terasa pas dalam genggamannya, seolah telah menyatu dengan tulangnya. Pedang itu menghantam ulu hati pemanah dengan dorongan kuat, membuat pria itu terbatuk keras, napasnya tercekat, dan ia jatuh terkapar tanpa daya. Wei Chen melompati tubuhnya, terus bergerak maju. Ia tidak lagi melihat wajah para musuh, hanya titik-titik merah di pandangan internalnya, target-target yang harus dinetralisir atau dihindari. Ia adalah mesin, perpanjangan dari kehendak yang lebih besar. Ia adalah pedang itu, dan pedang itu adalah dirinya. --- Jenderal Huo, yang sedari tadi mengamati pertempuran dari garis depan, memutar kepalanya. Pandangannya, setajam elang, menyapu medan perang yang kacau. Matanya tertuju pada sosok kurus Wei Chen, yang kini bergerak di antara prajurit musuh dengan kelincahan yang mencengangkan. Wei Chen menangkis sebuah ayunan pedang dengan gerakan secepat kilat, lalu memutar tubuhnya, mendorong gagang pedang ke perut musuh hingga pria itu terbatuk-batuk dan ambruk. Ini bukan gerakan seorang penakut. Ini bukan gerakan seorang Shutong yang baru direkrut kemarin sore. Sebuah kerutan muncul di dahi Jenderal Huo. Ia telah melihat Wei Chen saat latihan, dan bocah itu nyaris tidak bisa mengangkat pedangnya sendiri. Namun kini, di tengah hujan anak panah dan tebasan pedang, Wei Chen menari dengan presisi mematikan. Matanya menyipit, mencoba memahami apa yang sedang ia lihat. Apakah itu keberuntungan murni? Atau ada sesuatu yang lain? Sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan kosong dan tubuh gemetar bocah itu? Wei Chen merasakan tatapan itu, sebuah sengatan dingin di punggungnya. Ia tidak perlu melihat untuk tahu bahwa itu adalah Jenderal Huo. Kesadarannya, yang sempat melebur dengan bisikan Unit-Logika-04, kini sedikit terpecah. Rasa takut yang samar muncul lagi, bukan takut pada musuh, melainkan takut pada Jenderal Huo. Takut ketahuan. Takut pada pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan datang. Ia bergerak lebih cepat, berusaha menghilang di antara kerumunan prajurit yang masih bertempur sengit. *Ancaman terdeteksi: 12 meter, posisi 02-beta. Komandan musuh.* Suara Unit-Logika-04 terdengar lebih mendesak. Wei Chen tidak punya waktu untuk memikirkan Jenderal Huo. Tubuhnya berputar, pedang Jian-nya menyapu ke samping, memblokir sebuah kapak yang nyaris membelah bahunya. Ia merasakan dorongan untuk bergerak ke arah komandan musuh, ke arah titik merah yang berkedip di pandangannya. Namun, tubuhnya terasa berat, setiap otot menolak untuk bergerak lebih jauh. Ia tahu ia sudah mencapai batasnya. Setiap langkah adalah perjuangan. Setiap ayunan pedang terasa seperti mengangkat batu raksasa. Keringat membasahi rambutnya, menetes ke matanya, membuat pandangannya sedikit kabur. Tapi bisikan pedang itu tidak pernah berhenti. *Lanjutkan. Efisiensi di bawah standar. Tingkatkan performa. Survival probability menurun.* Perintah itu adalah cambuk, mendorongnya maju, bahkan ketika setiap sel dalam tubuhnya berteriak untuk menyerah. --- Penyergapan akhirnya mereda. Suara-suara pertempuran berangsur-angsur senyap, digantikan oleh rintihan kesakitan, erangan prajurit yang terluka, dan hembusan napas lelah. Bau darah dan kematian menggantung pekat di udara, menyelimuti Lembah Serigala dalam selubung horor. Wei Chen berdiri terhuyung-huyung di antara mayat-mayat, tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal. Ia nyaris tidak bisa mempertahankan keseimbangan, seolah gravitasi telah berlipat ganda. Pandangannya menyapu sekeliling. Prajurit-prajurit Kekaisaran, termasuk Li Ming yang pucat pasi, terlihat terengah-engah, sebagian masih memegangi senjata mereka dengan tangan gemetar. Beberapa lainnya sudah ambruk, baik karena luka atau karena kelelahan luar biasa. Mayat-mayat berserakan di mana-mana, beberapa dari mereka adalah musuh, tapi beberapa di antaranya adalah prajurit mereka sendiri, tergeletak tak bernyawa di lumpur. Sebuah pemandangan yang akan menghantuinya seumur hidup. Ia mengangkat tangannya yang masih memegang erat gagang pedang Jian-nya. Telapak tangannya terasa basah dan lengket, bukan hanya karena keringat, tapi juga karena darah yang mengering. Ia mencoba melepaskan pedang itu, tapi cengkeramannya begitu kuat, seolah jari-jarinya telah menyatu dengan kulit gagangnya. Pedang itu terasa seperti perpanjangan dari lengannya, sebuah bagian yang tak bisa dilepaskan. *Kompatibilitas inang biologis: 91%. Data lingkungan dianalisis. Potensi ancaman: rendah. Status misi: berhasil.* Suara Unit-Logika-04 terdengar sedikit berbeda, entah mengapa. Lebih dalam, lebih resonan. Wei Chen menatap pedang itu dengan mata kosong. Bukan sekadar senjata, melainkan bagian dari dirinya. Sumber kengeriannya, namun juga satu-satunya alasan ia masih berdiri di sini, bernapas, hidup. Ia telah membunuh. Ia telah bertahan. Dan pedang itu, entitas dingin yang bersemayam di dalam besi, telah membimbingnya melalui neraka ini. Perasaan horor yang mendalam bercampur dengan rasa syukur yang aneh, dingin, dan mengerikan. Pedang itu telah melihatnya, mengendalikannya, dan menyelamatkannya. Di tengah mayat-mayat, pandangan Wei Chen tertuju pada pedang Jian di tangannya, yang kini berdenyut dengan cahaya biru yang lebih terang, seolah-olah telah 'meminum' kekuatan dari kekejaman yang baru saja terjadi.

End of Chapter 7