Chapter 6 of 33

Penyergapan Maut, Koreksi Dingin

1.5k words

Udara di Lembah Serigala mendadak menipis, seolah semua oksigen tersedot oleh gong perang yang memekakkan telinga. Suara itu bergetar dalam tulang Wei Chen, mengoyak gendang telinganya. Panah-panah berdesing tajam, membelah angin, menghujani mereka dari rimbun pepohonan di tebing curam. Anak-anak panah itu tampak seperti kawanan serangga raksasa yang lapar, melesat tanpa ampun. Jeritan para prajurit pecah, menyebar menakutkan ke seluruh lembah. Wei Chen melihat Li Ming, prajurit muda di sampingnya, terhuyung, sebuah anak panah menancap di bahunya. Darah segar menyembur, mewarnai seragamnya merah pekat. Li Ming jatuh berlutut, matanya membelalak ketakutan, bibirnya gemetar tanpa suara. Pemandangan itu mengunci Wei Chen di tempatnya. Kakinya terasa seperti akar yang menancap terlalu dalam ke tanah, tak bisa digerakkan. Bau besi, darah, dan tanah basah tiba-tiba menusuk hidungnya. Ada rasa mual yang melilit perut Wei Chen. Keringat dingin membanjiri punggungnya, membasahi kain seragam tipisnya. Ia tidak bisa bernapas. Paru-parunya terasa kosong. Otaknya hanya bisa memutar satu gambaran: Ibunya. Sendirian. Sakit. Dan ia akan mati di sini, di lembah sialan ini, jauh dari rumah. Unit-Logika-04 bergemuruh di kepalanya, _"Peringatan. Ancaman multisektoral. Respon inang biologis: pembekuan motorik. Survival probability: 0.0001%."_ Suara dingin itu terasa asing, namun nyata. Seolah ada entitas lain yang berbagi ruang di dalam tengkoraknya. Wei Chen ingin berteriak, ingin lari, namun tubuhnya menolak. Ketakutan itu begitu pekat, begitu dingin, sampai-sampai ia tidak merasakan dinginnya bilah pedang di punggungnya. Satu lagi anak panah melesat dekat telinganya, _whiz!_ Anginnya mengibas rambut di pelipisnya. Jantung Wei Chen berpacu, berdebar kencang seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Tanah di sekelilingnya basah oleh darah, para prajurit jatuh satu per satu, menjadi korban keganasan yang tak terduga. Rasa ngeri itu mematikan akal sehatnya, mengubahnya menjadi patung hidup yang menunggu gilirannya. --- _"Bergerak! Diagonal kiri! Sudut 30 derajat!"_ Suara Unit-Logika-04 meledak di benak Wei Chen, lebih mendesak, lebih memerintah dari sebelumnya. Sebuah sensasi aneh menjalar dari gagang pedang di punggungnya, menusuk saraf-sarafnya, memaksa otot-otot kakinya untuk menegang. Kakinya gemetar hebat, namun bergerak. Bukan karena kemauannya, melainkan karena dorongan tak terlihat yang memutar engsel lututnya. Ia limbung, hampir jatuh, tetapi tubuhnya sendiri melakukan koreksi cepat. Wei Chen merasakan hembusan angin dari anak panah yang meluncur tepat di atas kepalanya. Ia tidak melihatnya, tetapi tubuhnya sudah condong ke depan, berlari. Gerakannya canggung, seperti boneka yang ditarik talinya terlalu kencang, namun efektif. Ia berlari zigzag, membelah kerumunan prajurit yang masih berdiri dalam kebingungan atau sudah terkapar tak berdaya. Napasnya terengah-engah, paru-parunya seperti terbakar, tetapi ia tidak bisa berhenti. _"Fokus pandang pada titik koordinat 12-B. Estimasi kecepatan musuh: 8 meter per detik. Hindari lintasan 0-4-0."_ Perintah-perintah itu mengalir tanpa henti, membanjiri kesadarannya, seolah meretas otaknya. Wei Chen melihat kakinya sendiri melangkah tanpa sadar, menghindari genangan darah yang baru terbentuk, melompati tubuh prajurit yang tumbang. Ia melihat kepanikan di mata rekan-rekannya, mendengar teriakan putus asa mereka, tetapi ia tidak bisa berhenti. Ketakutan masih mencengkeramnya. Setiap langkah terasa berat, seperti ia berlari di dalam air. Namun, dorongan dari pedang itu begitu kuat, begitu mutlak, mengalahkan keinginan tubuhnya untuk menyerah. Ia merasakan getaran mikro yang konstan dari gagang pedang di punggungnya, seolah sebuah arloji berdetak kencang, mengendalikan setiap serat ototnya. Ini bukan dia yang berlari. Ini adalah Unit-Logika-04 yang menggerakkan tubuhnya. Ia hanya seorang penumpang di dalam sangkarnya sendiri. Kemeja tipisnya basah kuyup oleh keringat. Wajahnya pucat pasi. _Sreett!_ Sebuah anak panah menancap ke pohon di sampingnya, hanya beberapa inci dari kepalanya, kayunya pecah berderak. Wei Chen bahkan tidak sempat mengedip. Tubuhnya sudah melesat maju, bersembunyi di balik sebuah batu besar, persis seperti yang dibisikkan suara dingin itu di benaknya. Ia terhuyung di balik batu, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar gila. Matanya membelalak, melihat ke sekeliling, mencari musuh yang tak terlihat. --- Seorang prajurit musuh tiba-tiba menerjang dari balik semak, pedang pendeknya berkilat di antara dedaunan basah. Matanya liar, dipenuhi amarah. Pedang itu melesat lurus ke arah dada Wei Chen, bertujuan menusuk jantungnya. Wei Chen melihat kilatan baja itu, merasakan udara dingin yang dibelahnya. Otaknya membeku lagi, seluruh tubuhnya menegang, siap menerima takdirnya. Namun, Unit-Logika-04 bereaksi lebih cepat. _"Tangkis! Sudut 110 derajat! Tekanan 7 kilogram!"_ Sebuah kekuatan tak kasat mata menjalar dari pedang Jian di punggungnya, melewati lengannya yang kurus. Tangan kanan Wei Chen terangkat tanpa sadar, meraih gagang pedang itu, menariknya keluar dari sarungnya dengan gerakan yang mulus dan cepat. Pedang Jian itu terasa dingin, namun entah bagaimana, ada kekuatan aneh yang mengalir ke telapak tangannya. _Sringg!_ Bilah Jian biru redup itu berbenturan dengan pedang musuh. Percikan api menyambar di udara lembap. Benturan itu keras, menggetarkan seluruh lengan Wei Chen hingga bahunya. Ia merasakan kekuatan mentah dari serangan musuh, beratnya baja yang beradu. Namun, tangannya, yang biasanya lemah, memegang pedang dengan kokoh. Tidak ada goyangan, tidak ada keraguan, seolah pedang itu adalah bagian tak terpisahkan dari lengannya. Wei Chen membelalakkan mata, terkejut pada dirinya sendiri. Tangkisan itu sempurna. Kekuatan itu bukan miliknya. Gerakan itu bukan gerakannya. Ia hanya berdiri di sana, menjadi wadah bagi kekuatan lain yang tak ia pahami. Wajah musuh itu menunjukkan keterkejutan sesaat, matanya melebar saat serangannya ditangkis dengan presisi yang tak terduga. Ia tidak menyangka seorang prajurit ceking seperti Wei Chen bisa bertahan. Unit-Logika-04 berbisik lagi, _"Keseimbangan musuh terganggu. Prioritaskan pertahanan. Koordinat posisi: 7-alpha-delta."_ Perintah itu terdengar seperti perhitungan mesin yang akurat, tanpa emosi. Wei Chen merasakan kakinya sendiri bergeser, sedikit ke samping, mempertahankan posisi. Ia melihat mata musuh itu menyipit, bibirnya menarik seringai tipis, bersiap melancarkan serangan kedua. Namun, kali ini, Wei Chen tidak lagi lumpuh karena ketakutan. Ada sesuatu yang lain dalam dirinya, sebuah ketegangan aneh yang membuatnya siaga, menunggu gerakan selanjutnya. --- Musuh melancarkan serangan beruntun, pedangnya berkelebat cepat, mengincar leher, perut, dan kaki Wei Chen. Setiap ayunan begitu brutal, penuh niat membunuh. Wei Chen, yang sebelumnya tak pernah memegang senjata sungguhan dalam pertarungan hidup-mati, kini bergerak seperti penari di tengah badai. Tangannya mengangkat pedang Jian, menangkis, memutar, dan memblokir dengan presisi mematikan yang tak ia sadari. Setiap benturan baja menghasilkan suara nyaring yang mengoyak ketenangan lembah. _Sringg! Clang!_ Suara-suara itu bergema, beradu dengan jeritan prajurit dan desingan anak panah di kejauhan. Wei Chen merasakan denyutan di lengannya, getaran dari setiap parry yang sempurna. Ia melihat bilah pedang musuh, hanya berjarak beberapa inci dari matanya, namun ia tidak merasakan panik yang sama. Seolah tubuhnya bekerja secara otomatis, terlepas dari kehendak sadarnya. Matanya tetap fokus, tidak pada musuhnya, melainkan pada titik-titik samar yang muncul di bidang pandangnya, sebuah proyeksi data yang hanya ia yang bisa melihatnya. Unit-Logika-04 terus membisikkan data, _"Tekanan balik 12 Newton. Rotasi pergelangan tangan 15 derajat. Prediksi serangan berikutnya: tusukan ke ulu hati."_ Informasi itu membanjiri benaknya, memberinya peta pergerakan lawan bahkan sebelum lawan itu menyelesaikannya. Wei Chen melihat tangannya sendiri melakukan gerakan antisipasi, mengarahkan pedang Jian ke posisi yang tepat. Pedang itu, dengan bilah biru redupnya, terasa seperti perpanjangan dari kesadarannya, dingin namun begitu responsif. Musuh mendengus frustrasi. Serangannya yang cepat dan mematikan selalu dimentahkan dengan mudah. Ia mulai terlihat kelelahan, gerakannya melambat sedikit. Wei Chen merasakan keringat membasahi pelipisnya, namun ia tidak bisa berhenti. Pedang Jian itu terasa dingin di tangannya, energi aneh mengalir, bukan membeku, melainkan mengalirkan kesiagaan. Ini adalah sensasi baru, sensasi kendali yang tak disengaja, sebuah tarian kematian yang ditarikan oleh tubuhnya yang bukan miliknya. Ia melihat celah kecil di pertahanan musuh, sebuah jeda singkat saat musuh itu mengambil napas dalam. Sebuah dorongan kuat, tak terlihat, menjalar ke lengannya. Pedang Jian itu terangkat tinggi, bilah birunya memantulkan cahaya redup dari langit kelabu. Wei Chen melihat ayunan pedang itu, sebuah gerakan elegan namun mematikan yang tidak pernah ia latih. Sebuah desiran halus, seolah bilah itu sendiri bernyanyi, membelah udara dengan kecepatan tak terduga. Ia hanya bisa menonton, sebuah saksi bisu atas apa yang dilakukan tubuhnya. --- _"Tebas vena femoralis! Sudut serangan 45 derajat!"_ Perintah Unit-Logika-04 terdengar dingin, tepat, dan mematikan. Pedang Jian di tangan Wei Chen melesat ke bawah, bukan ke arah dada atau kepala, melainkan ke paha bagian dalam musuh. Gerakan itu begitu cepat, begitu presisi, seolah sudah direncanakan ribuan kali. Wei Chen merasakan kekuatan luar biasa di lengannya, mengayunkan pedang tanpa keraguan, tanpa hambatan mental apa pun. _Sreeet!_ Bilah pedang menembus kain, lalu daging, dengan suara yang mengerikan. Musuh itu terkesiap, matanya membelalak kaget, bukan karena rasa sakit, tetapi karena kecepatan serangan yang tak terduga. Ia menjerit, _"Arrggghhh!"_ Suaranya tertahan, terpotong oleh rasa ngeri dan nyeri yang tiba-tiba. Darah menyembur, panas, membasahi bilah pedang dan tangan Wei Chen. Aroma anyir darah langsung menusuk hidungnya, pahit dan memuakkan. Unit-Logika-04 berbisik lagi, _"Musuh masih memiliki probabilitas serang balik 2.7%. Nonaktifkan secara permanen."_ Sebelum Wei Chen sempat mencerna, tubuhnya sudah bergerak. Pedang itu ditarik dari paha musuh, lalu melesat dalam busur sempurna ke atas. Gerakan itu begitu cair, begitu tanpa cela, seolah pedang itu hidup, mencari target selanjutnya. Musuh itu terhuyung, berlutut, mencoba menahan darah yang menyembur dari pahanya. Wajahnya pucat, matanya kosong. Ia mengangkat pedangnya, mencoba melakukan pertahanan terakhir, namun gerakannya lambat, lemah, putus asa. Wei Chen melihat mata musuh itu, melihat ketakutan dan keputusasaan di sana. Sebuah rasa mual kembali melilit perutnya. Ia tidak ingin melakukan ini. Ia bukan seorang pembunuh. Namun, tangannya bergerak sendiri. Pedang Jian itu melesat dalam busur sempurna, menembus dada musuh tanpa perlawanan, menghunjam tepat di jantungnya. Wei Chen merasakan hantaman bilah pedang itu, lalu desiran hangat yang mengalir di sepanjang bilahnya, membasahi telapak tangannya. Untuk pertama kalinya, Wei Chen merasakan kehangatan darah di tangannya, disusul bisikan Unit-Logika-04 yang dingin dan tanpa emosi, _"Target dilumpuhkan. Efisiensi tercapai."_

End of Chapter 6