Chapter 5 of 33

Gerbang Lembah Kematian

2.1k words

Udara pagi menyengat kulit, membawa embun beku dari puncak pegunungan yang masih diselimuti kabut tipis. Ratusan prajurit berkumpul di lapangan latihan, derap sepatu bot mereka memecah keheningan sebelum fajar. Wei Chen berdiri di antara mereka, bahunya terasa nyeri akibat latihan kemarin, pedang Jian di punggungnya terasa dingin dan berat, seperti beban mati yang melekat pada tulangnya. Jenderal Huo muncul dari tenda komando, langkahnya mantap, seragam birunya pekat seperti malam. Matanya yang setajam elang menyapu barisan, menangkap setiap kegelisahan yang tersembunyi. Suasana tegang, membuat napas setiap prajurit tertahan di dada. "Perhatian!" Suara Jenderal Huo menggelegar, memantul di antara barisan tenda. "Hari ini, kita memiliki misi krusial. Pasukan pertama akan menyisir jalur selatan menuju pos pengawasan." Jemarinya yang kokoh menunjuk ke peta yang terpasang di tiang, sebuah garis merah tebal membentang di atasnya. "Jalur itu melewati Lembah Serigala." Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada datar, namun efeknya bagai pukulan di ulu hati Wei Chen. Sebuah getaran halus merambat dari gagang pedangnya, namun Unit-04 belum mengeluarkan instruksi apa pun. Hanya keheningan mesin yang menakutkan. Bisikan-bisikan mulai terdengar di antara prajurit, seperti gerimis yang baru turun. Wei Chen bisa merasakan gelombang kecemasan yang tiba-tiba menyebar. Beberapa wajah pucat, tangan-tangan meremas gagang pedang dengan erat, bahkan ada yang menelan ludah dengan susah payah. Jenderal Huo menunggu keheningan kembali. "Lembah Serigala adalah sarang bandit dan sisa-sisa pemberontak. Namun, ini adalah jalur tercepat menuju pos kita. Kita akan bergerak dalam formasi serigala. Kecepatan dan kewaspadaan adalah kuncinya. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang berhenti." Kata-kata itu menancap, dingin dan mematikan. Wei Chen merasakan perutnya bergejolak, sensasi asam yang menusuk. Keringat dingin mulai merembes di punggungnya, membasahi lapisan kain tipis. Ia mencoba menahan napas, berharap kecemasannya tidak terlihat. Tubuhnya yang kurus terasa semakin ringkih di bawah tekanan ancaman yang tidak terlihat ini. Sebuah suara di sampingnya berbisik, "Lembah itu. Aku dengar, tidak ada yang pernah kembali utuh jika masuk ke sana pada malam hari." Suara itu milik Li Ming, prajurit muda dengan otot lengan yang lebih besar dari paha Wei Chen. Wei Chen hanya melirik. Li Ming sendiri tampak tegang, meski ia selalu memamerkan keberaniannya. Matanya terus menatap ke arah peta, seolah mencoba menghafal setiap lekuk lembah yang mengerikan itu. Ketegangan nyata melingkari tubuhnya. "Malam atau siang, sama saja," prajurit lain menyahut dengan suara serak, suaranya sarat ketakutan. "Pamanku pernah bertugas di sana. Katanya, lembah itu menelan tentara seperti tanah menelan air. Tidak ada jejak, hanya keheningan." Tangannya gemetar saat ia menyentuh jimat di lehernya. Jenderal Huo memandang mereka satu per satu, senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. "Ini bukan patroli biasa. Ini adalah ujian. Siapa pun yang berhasil kembali akan diakui sebagai prajurit sejati." Sebuah tantangan yang diselimuti ancaman. Wei Chen tahu itu. Ia hanya ingin bertahan hidup. Ia tidak peduli pengakuan. "Persiapkan diri kalian. Kita berangkat dalam satu jam." Perintah itu mengakhiri upacara pagi. Barisan pecah, prajurit mulai bergerak, mempersiapkan bekal dan senjata mereka. Sebuah gelombang kepanikan mulai menyergap Wei Chen, mengancam untuk menelannya. Jantungnya berdebar kencang, memukuli tulang rusuknya dengan irama tak beraturan. --- Wei Chen bergegas menuju tendanya, setiap langkah terasa berat. Suara-suara di sekelilingnya kini terdengar lebih jelas, lebih mendesak. Bisikan-bisikan tentang Lembah Serigala menyelinap masuk ke setiap celah pikirannya, melukiskan gambaran mengerikan di benaknya. "Mereka bilang, bandit-bandit di sana itu buas. Mereka tidak ambil tahanan," seorang prajurit bertubuh kekar berbisik kepada temannya, suaranya rendah tapi penuh ketakutan. "Mereka menguliti musuh hidup-hidup, lalu menggantungnya di pohon sebagai peringatan." Tangannya mencengkeram erat kantung bekalnya. Wei Chen bisa merasakan bulu kuduknya meremang. Ia ingat cerita-cerita dari desa tentang perampok gunung. Namun, cerita ini terdengar jauh lebih mengerikan, lebih kejam. Ia tidak pernah membayangkan akan berhadapan dengan kekejaman seperti itu. Ia hanya seorang penambang, bukan seorang algojo. "Dan suara gong itu... *ngghh*..." Prajurit lain menyahut, tatapan matanya kosong. "Gong itu berarti mereka sudah menyergap. Jika kau mendengarnya, itu sudah terlambat." Tubuhnya sedikit bergetar, seolah mendengar suara itu sekarang. Wei Chen menelan ludah, tenggorokannya kering dan pahit. Sebuah gambaran muncul di benaknya: dirinya tergantung terbalik di pohon, kulitnya terkoyak, darahnya menetes. Rasa mual melanda, ia nyaris saja memuntahkan sarapan yang baru saja ia paksa masuk ke perutnya. Ia mencengkeram gagang pedangnya yang dingin, berharap itu bisa memberinya sedikit ketenangan. Namun, pedang itu tetap membisu, hanya menjadi beban yang tidak pengertian. Apakah Unit-04 tidak peduli dengan ketakutan manusianya? Apakah ia hanya peduli pada efisiensi, pada probabilitas? "Dulu, ada satu kompi yang masuk ke sana," suara Li Ming kembali terdengar, ia berjalan di samping Wei Chen, ekspresinya serius. "Empat puluh orang. Hanya tiga yang kembali. Dan mereka... mereka tidak waras lagi. Terus berteriak tentang bayangan yang melingkar di atas mereka." Mata Li Ming membesar, menunjukkan ketakutan yang ia coba sembunyikan. Wei Chen merasakan jantungnya berdetak makin cepat, seperti drum perang yang ditabuh di dalam dadanya. Ia tidak punya ilmu bela diri, tidak punya kekuatan fisik, dan kini ia harus menghadapi monster-monster yang bahkan membuat prajurit berpengalaman ketakutan. Kesempatan hidupnya terasa semakin tipis. Telapak tangannya basah oleh keringat, dan ia harus menekan dorongan untuk berlari, bersembunyi. Namun, ke mana ia bisa lari? Jika ia kabur, ia akan dianggap desersi, dan itu berarti hukuman mati. Pilihannya hanya dua: menghadapi kematian di lembah, atau menghadapi kematian di tangan algojo kekaisaran. Udara di sekitar mereka terasa semakin dingin, seolah Lembah Serigala sudah mulai mengulurkan tangannya dan mencengkeram mereka bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di sana. Wei Chen bisa merasakan setiap otot di tubuhnya menegang, bersiap untuk sesuatu yang ia tidak tahu apa itu. Ia berharap pedangnya akan berbicara, memberinya sedikit harapan, sebuah strategi untuk bertahan hidup. --- Ketakutan Wei Chen mencapai puncaknya. Otot-otot di rahangnya mengatup kuat, dan ia merasakan denyutan di pelipisnya. Pedang di punggungnya, yang biasanya menjadi beban pasif, tiba-tiba terasa hidup. Sebuah gelombang data yang intens membanjiri kesadarannya, seolah Unit-04 baru saja terbangun dari tidur panjangnya. _"Input lingkungan. Topografi area Lembah Serigala terdeteksi. Estimasi kepadatan vegetasi: 87.3%. Estimasi ketinggian tebing: 60-80 meter. Analisis pola angin: Kecepatan rata-rata 3.8 meter/detik, arah berubah-ubah."_ Suara mekanis itu terdengar dingin, tanpa emosi, namun detailnya begitu tajam, seolah Wei Chen melihat peta tiga dimensi langsung di benaknya. Pandangannya mulai beradaptasi, bukan dengan mata telanjang, melainkan dengan data yang ditanamkan Unit-04. Ia melihat lereng-lereng terjal, lekukan tanah yang bisa menjadi perlindungan, bahkan bayangan pepohonan yang bisa dimanfaatkan untuk bersembunyi. Ini bukan lagi gambaran samar, melainkan informasi taktis yang presisi. _"Titik buta pengamatan musuh teridentifikasi di sektor 4B dan 7C. Risiko deteksi minimum. Probabilitas sukses penyelinapan: 62.1%."_ Unit-04 tidak berbicara tentang pertempuran langsung, melainkan tentang bertahan hidup, tentang menghindar. Ini membuat Wei Chen merasa sedikit lebih tenang, meskipun perutnya masih melilit. Ia merasakan gagang pedang bergetar, frekuensi rendah yang hanya ia yang bisa merasakannya. Sensasi ini berbeda dari getaran cemasnya sendiri; ini adalah getaran yang terukur, sebuah sinyal dari entitas di dalam besi dingin itu. Jantungnya masih berdebar, namun ada secercah harapan yang mulai menyelinap masuk. _"Koreksi posisi tubuh untuk efisiensi pergerakan di medan curam. Sudut kemiringan ideal: 23 derajat. Distribusi berat: 60% pada kaki belakang saat menanjak, 70% pada kaki depan saat menurun."_ Data ini mengalir tanpa henti, sebuah instruksi mikro yang terus-menerus mengoreksi setiap gerakannya, bahkan saat ia hanya berjalan biasa. Wei Chen mengernyit, otaknya berusaha memproses semua informasi ini. Ini terlalu banyak, terlalu cepat. Namun, anehnya, tubuhnya mulai merespons secara naluriah. Ia menyesuaikan langkahnya, merasakan perbedaan kecil dalam keseimbangan, sebuah efisiensi baru yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ini seperti ia memiliki instruktur pribadi yang sangat detail, dan instruktur itu ada di dalam kepalanya. _"Potensi posisi penembak jitu musuh: Ketinggian 70 meter di sisi timur lembah. Jarak tembak efektif: 150-200 meter. Prioritas: Tetap di bawah garis pandang maksimal."_ Suara Unit-04 terus berbisik, memberinya gambaran medan perang yang begitu jelas, begitu mengerikan. Ia melihat ancaman yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang rekan-rekannya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, namun kali ini bukan hanya karena ketakutan. Ada juga sensasi mental yang intens, seolah otaknya bekerja jauh melampaui kapasitas normalnya. Ia merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang bisa melihat dunia dalam bentuk angka dan probabilitas yang mematikan. Ia menghela napas, berusaha menenangkan detak jantungnya. Misi ini bukan hanya tentang bertahan hidup secara fisik, tetapi juga secara mental. Ia harus memercayai suara di dalam kepalanya, suara yang dulunya ia anggap sebagai kegilaan, kini menjadi satu-satunya panduan yang ia miliki di tengah ancaman yang nyata. --- Pasukan mulai bergerak. Derap kaki mereka terdengar berirama, namun setiap langkah terasa berat, penuh kehati-hatian. Wei Chen berjalan di barisan tengah, pedang Jian di punggungnya terasa semakin dingin, seolah menyerap semua kehangatan dari tubuhnya. Udara di lembah itu terasa aneh, berat dan lembab, seolah menekan setiap napas yang ia ambil. Pepohonan menjulang tinggi di kedua sisi, kanopi dedaunan lebat menciptakan bayangan yang pekat, menelan cahaya matahari pagi. Pandangan Wei Chen mulai buram, bukan karena kelelahan, melainkan karena ketegangan yang merayapi setiap serat sarafnya. Otot-otot di lehernya kaku, dan ia terus memaksakan diri untuk melihat setiap detail, setiap bayangan yang bergerak. Unit-04 terus membanjiri pikirannya dengan data. _"Kerapatan vegetasi di sisi kiri: 92%. Berpotensi menjadi lokasi penyergapan. Awas terhadap pergerakan di antara dedaunan lebat."_ Suara itu bagai bisikan konstan, menajamkan setiap indranya, mengubah rasa takutnya menjadi kewaspadaan yang dingin. Wei Chen menelan ludah, lidahnya terasa kasar. Ia melirik ke arah rekan-rekannya. Wajah-wajah mereka tegang, mata mereka memindai setiap sudut lembah dengan gugup. Beberapa prajurit menggerakkan gagang pedang mereka, seolah mencari kepastian dari genggaman besi dingin itu. Keheningan lembah itu sangat menakutkan. Tidak ada suara burung, tidak ada desiran angin yang kuat, hanya suara langkah kaki mereka yang teredam oleh tanah lembab. Keheningan ini terasa seperti sebuah jebakan, menunggu momen yang tepat untuk meledak. Wei Chen bisa merasakan detak jantungnya yang berdentum di telinga, seolah mengantisipasi suara yang akan datang. _"Anomali termal terdeteksi di koordinat X-Y-Z. Beberapa unit biologis. Bersembunyi di balik bebatuan besar. Suhu tubuh mendekati suhu lingkungan. Kamuflase efektif."_ Bisikan Unit-04 kini terdengar lebih mendesak, lebih dekat, seolah ia benar-benar ada di samping Wei Chen. Wei Chen merasakan dingin merayapi tulang punggungnya. Ada musuh. Sudah ada di sana. Dan ia adalah satu-satunya yang tahu. Ia ingin berteriak, memperingatkan rekan-rekannya, namun ia tahu itu akan menjadi kegilaan. Siapa yang akan percaya pada suara di kepala seorang prajurit kurus seperti dirinya? Ia mempererat genggaman pada gagang pedangnya. Pedang itu terasa lebih dingin, seolah memproyeksikan sensasi peringatan langsung ke telapak tangannya. Matanya memindai area yang disebutkan Unit-04, mencoba melihat sesuatu yang tidak terlihat. Namun, vegetasi terlalu lebat, bebatuan terlalu besar. Hanya Unit-04 yang bisa melihatnya. Setiap langkah yang diambil pasukan terasa seperti melangkah menuju kematian. Wei Chen merasakan udara menjadi semakin berat, seolah oksigen menipis. Ia terengah-engah, bukan karena kelelahan, melainkan karena tekanan yang tak terlihat. Ia bisa merasakan urat-urat di lehernya menegang, setiap ototnya bersiap untuk reaksi yang tak terhindarkan. --- Bau tanah basah dan daun-daun busuk menyeruak, bercampur dengan aroma logam samar dari pedang yang dipegang erat oleh para prajurit. Langkah kaki pasukan semakin lambat, lebih hati-hati, seperti kawanan hewan yang mencium bahaya di udara. Wei Chen merasakan tenggorokannya tercekat, setiap napas terasa dangkal. Ia tahu ini akan terjadi. Matanya menyapu sekeliling, mengikuti setiap instruksi visual yang membanjiri pikirannya dari Unit-04. Ia melihat kontur tanah yang sedikit berbeda, bayangan yang terlalu pekat, seolah ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya. Unit-04 telah mempersiapkannya, mengisi otaknya dengan data mentah yang kini terasa seperti naluri kedua. _"Deteksi anomali. Indikasi serangan musuh: 99.8%. Persiapkan diri."_ Suara mekanis itu berbisik, begitu jelas di benaknya, mengabaikan detak jantungnya yang sudah tak terkendali. Angka itu, 99.8%, begitu mutlak, begitu dingin, meninggalkan sedikit pun ruang untuk keraguan. Wei Chen merasakan seluruh tubuhnya menegang. Otot-ototnya mengencang, mempersiapkan diri untuk benturan yang akan datang. Pupil matanya melebar, berusaha menangkap setiap detail di tengah bayangan lembah. Ia mencengkeram gagang pedangnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih. Pedang itu bergetar, sebuah getaran halus yang hanya ia yang bisa merasakannya, seolah mesin di dalamnya beresonansi dengan ketegangannya. Udara mendadak terasa beku, waktu melambat. Wei Chen bisa merasakan setiap helaan napas rekan-rekannya, setiap desiran kecil dari daun yang bergerak. Konsentrasinya menajam, semua indranya terfokus pada satu titik, menunggu pemicu yang tak terhindarkan. Ia melihat sedikit gerakan di balik semak belukar yang lebat, terlalu cepat untuk diidentifikasi oleh mata normal, namun Unit-04 telah menandainya. _"Vektor pergerakan cepat. Ancaman proyektil terdeteksi."_ Bisikan itu menusuk tepat ke inti kesadarannya. Wei Chen tidak berpikir, tubuhnya bergerak sendiri, hasil dari ribuan data dan koreksi yang telah ditanamkan Unit-04 selama latihan. Ia membungkuk, kepalanya sedikit miring ke kanan, gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang. Refleks yang menakutkan, murni dan tanpa emosi. Dari balik semak-semak, sebuah anak panah berdesing tipis melewati telinga Wei Chen, disusul oleh suara gong perang yang memekakkan dari seluruh penjuru lembah.

End of Chapter 5