Chapter 4 of 33
Latihan Keras, Bisikan Rahasia
2.1k words
Wei Chen merasakan lumpur dingin meresap ke dalam sepatu boot usangnya, setiap langkah berat menyeretnya semakin dalam ke kelelahan yang mencekik. Keringat asin mengalir dari keningnya, perih saat menetes ke mata yang bengkak. Punggungnya terasa nyeri akibat hantaman tongkat bambu instruktur yang tak kenal ampun. Hari ketiga di kamp latihan militer perbatasan ini terasa seperti siksaan tak berujung.
“Bangun, prajurit!” suara Jenderal Huo menggelegar, lebih tajam dari cambuk kulit yang menghantam punggung rekannya di samping. Instruktur itu, dengan kumis tebal dan tatapan mata elang, seolah mampu melihat setiap kelemahan yang bersembunyi di balik kulit. Wei Chen tersentak, mencoba menarik napas dalam-dalam, paru-parunya terasa terbakar.
Perutnya melilit, perih menuntut makanan yang tak kunjung datang sejak sarapan bubur encer yang nyaris tak terasa. Kelaparan ini akrab baginya, teman lama yang kini berubah menjadi algojo. Pedang Jian di punggungnya terasa seperti beban mati, beratnya seperti membenamkan setiap inci tubuh kurusnya ke dalam tanah.
*Inang biologis: detak jantung tidak stabil. Probabilitas kolaps: 67%.* Sebuah bisikan dingin, tanpa emosi, menusuk benaknya. Suara Unit-Logika-04, entitas di dalam pedang, semakin jelas, namun tak pernah menawarkan simpati. Itu hanya data, fakta mentah yang memperburuk rasa putus asa Wei Chen.
Ia terhuyung saat mencoba mengangkat kaki, otot-ototnya berteriak protes. Pandangannya berputar, dunia di sekelilingnya tampak kabur. Rekan-rekan prajurit lain, kebanyakan petani yang lebih kekar darinya, juga terlihat lelah, namun tak ada yang separah Wei Chen. Ia adalah yang terlemah, sebuah fakta yang terus-menerus diingatkan oleh setiap pukulan dan bentakan.
Lumpur lengket mencengkeram kakinya, menolak untuk melepaskannya. Sebuah tendangan keras mendarat di betisnya, membuatnya terjatuh ke depan. Wajahnya menghantam lumpur basah, rasa anyir tanah langsung memenuhi indra penciumannya. Ia terbatuk, berusaha bangkit, namun tubuhnya menolak untuk menurut.
“Lemah! Sampah!” teriak Jenderal Huo, bayangan raksasa yang menjulang di atasnya. Tongkat bambu itu kini berhenti di dekat kepalanya, ancaman yang nyata. “Kau tidak akan bertahan seminggu jika terus seperti ini!”
Wei Chen hanya bisa mengerang, matanya menatap sepatu bot kulit instruktur yang mengkilap. Rasa malu membakar pipinya, bercampur dengan kemarahan yang samar terhadap nasibnya. Ia sudah berjuang sekuat tenaga, tetapi itu tidak pernah cukup di tempat ini. Pedang di punggungnya bergetar sedikit, getaran dingin yang menembus kain tipis seragamnya.
*Inang biologis: tekanan darah rendah. Suhu tubuh inti: menurun.* Bisikan itu kembali, tak henti-hentinya. Wei Chen memejamkan mata, mencoba mengabaikan suara digital yang seolah mengejek kelemahannya. Ini bukan waktunya untuk menyerah. Ia harus bangkit, demi ibunya, demi janji untuk melunasi utang.
Dengan sisa tenaga terakhir, ia mendorong kedua tangannya ke tanah, lumpur licin menyelinap di antara jemarinya. Otot-ototnya bergetar hebat saat ia memaksa tubuhnya berdiri. Jenderal Huo mendengus, namun tak lagi memukulnya. Sebuah kemenangan kecil, tetapi bagi Wei Chen, itu adalah segalanya.
---
Sore harinya, matahari terik menyengat kulit di lapangan simulasi pertarungan. Wei Chen memegang pedang kayu yang terasa seringan kapas setelah terbiasa dengan beban Jian miliknya. Ia berdiri di hadapan seorang prajurit muda berwajah garang, rambutnya diikat ketat. Mereka harus berduel, melatih respons cepat dan pertahanan.
“Bersiap!” teriak Jenderal Huo. Wei Chen mengangkat pedang kayunya, tangannya sedikit gemetar. Ia tahu ia tidak punya keterampilan bertarung. Semua gerakan yang diajarkan terasa asing dan kaku di tubuhnya yang lemah. Musuhnya, seorang pemuda bernama Li Ming, segera mengambil kuda-kuda kokoh.
*Pindahkan pusat gravitasi ke kiri.* Sebuah instruksi jelas, tiba-tiba muncul di benak Wei Chen, tak lagi terfragmentasi. Itu bukan bisikan, melainkan perintah langsung. Tubuh Wei Chen menegang, matanya sedikit melebar. Itu adalah suara pedang, Unit-Logika-04, yang kini berbicara dengan kejelasan yang mengkhawatirkan.
Wei Chen ragu sesaat, namun Li Ming sudah bergerak. Pedang kayunya menghantam udara dengan kecepatan yang mengejutkan, mengarah ke sisi kanan tubuh Wei Chen. Secara naluriah, Wei Chen hampir mengangkat pedangnya untuk menangkis, gerakan yang ia tahu akan sangat lambat.
*Lengan harus tegak 90 derajat. Putar pinggul 12 derajat ke belakang.* Perintah kedua datang, lebih mendesak. Wei Chen merasakan getaran halus di gagang pedang Jian di punggungnya, seolah pedang itu sendiri yang menekannya untuk bergerak. Sesuatu di dalam dirinya, dorongan tak dikenal, membuatnya menurut tanpa berpikir panjang.
Ia menggeser tubuhnya ke kiri, pinggulnya sedikit berputar, dan pedang kayunya terangkat nyaris secara refleks. Gerakan itu tidak datang dari pikirannya, melainkan dari dorongan mendadak yang mengalir melalui otot-ototnya. Itu adalah gerakan yang lebih cepat, lebih efisien, dari yang pernah ia lakukan.
*Blokir dengan sudut 45 derajat.* Perintah ketiga. *Sekarang.* Suara itu dingin, namun presisi. Pedang kayu Li Ming berayun ke bawah, tepat ke arah bahunya. Gerakan Wei Chen sebelumnya telah membuatnya keluar dari jalur serangan langsung, namun masih ada risiko tergores.
Wei Chen merasakan bisikan itu mengubah posisi pergelangan tangannya, mengoreksi sudut pedang kayunya sedikit. *Krak!* Pedang kayu Li Ming membentur pedang kayu Wei Chen dengan bunyi nyaring. Bukan tangkisan penuh, melainkan hanya gesekan yang cukup untuk mengalihkan serangan lawan agar tidak mengenai bagian vitalnya. Kekuatan benturan membuat tangannya perih, namun ia tidak jatuh.
Li Ming terhuyung sedikit, matanya menunjukkan kejutan. Ia tidak menyangka Wei Chen bisa menangkis serangannya, apalagi dengan gerakan secepat itu. Wei Chen sendiri terkejut. Tubuhnya bergerak sebelum otaknya sempat memproses. Rasa panas menjalari lengannya, namun ada juga euforia aneh dari keberhasilan itu. Pedang di punggungnya terasa sedikit lebih ringan, atau mungkin itu hanya perasaannya.
---
Li Ming, yang masih terkejut dengan tangkisan Wei Chen, segera menyerang lagi. Kali ini lebih cepat, lebih brutal, seolah ingin membuktikan bahwa pukulan sebelumnya hanyalah kebetulan belaka. Pedang kayunya melesat seperti kilat ke arah kepala Wei Chen.
*Geser kepala 10 sentimeter ke kanan. Jangan mengangkat pedang.* Perintah Unit-Logika-04 datang, mendesak dan tanpa kompromi. Wei Chen merasakan denyutan di pelipisnya, seolah suara itu menekan langsung ke sarafnya. Ia tidak mengerti mengapa ia tidak boleh menangkis, namun dorongan untuk mengikuti perintah itu begitu kuat.
Tubuhnya bereaksi sendiri. Kepalanya sedikit miring ke kanan, gerakan kecil namun krusial. Pedang kayu Li Ming hanya *whizzz* melewati telinganya, anginnya terasa dingin di kulitnya. Hantaman keras yang seharusnya menghancurkan tengkoraknya kini hanya mengenai udara kosong di belakangnya.
Para prajurit lain yang menonton terkesiap. Jenderal Huo, yang tadinya menyilangkan tangan di dada, kini menegakkan tubuh. Wei Chen sendiri nyaris tidak percaya. Itu adalah gerakan yang tidak mungkin ia lakukan sendiri. Terlalu cepat, terlalu presisi, terlalu efisien untuk seseorang sepertinya.
Li Ming kehilangan keseimbangan sesaat. Wajahnya memerah karena malu dan frustrasi. Ia menggeram, memutar tubuhnya, dan menghantamkan pedang kayunya dalam busur lebar ke arah rusuk Wei Chen. Kali ini, ia lebih berhati-hati, menargetkan area yang lebih luas.
*Putar tubuh. Kaki kiri sebagai tumpuan. Angkat pedang 30 derajat.* Intruksi Unit-Logika-04 mengalir lancar, satu demi satu. Wei Chen tidak perlu memikirkan urutan gerakannya. Tubuhnya hanya mengikuti, seolah ada benang tak terlihat yang menarik setiap ototnya pada waktu yang tepat.
Ia berputar, menghindari hantaman pertama, lalu mengangkat pedang kayunya. *Blokir pada hitungan kedua.* Pedang kayu Li Ming kembali membentur. *Krak!* Suara benturan yang sama, namun kali ini Wei Chen merasakan kontrol lebih besar. Tangannya tidak lagi bergetar liar. Ia bahkan bisa merasakan titik benturan yang tepat, meminimalkan guncangan.
“Apa yang kau lakukan, Wei Chen?” teriak Jenderal Huo, suaranya mengandung campuran kejutan dan kemarahan. “Sejak kapan kau bisa bergerak seperti itu?”
Wei Chen tidak punya jawaban. Ia sendiri tidak tahu. Rasa takutnya sedikit mereda, digantikan oleh adrenalin murni dan kebingungan. Pedang di punggungnya bergetar lagi, kali ini lebih lama, seperti sebuah dengungan rendah. Itu seperti mesin yang baru saja menemukan efisiensi baru.
*Data masukan: respons positif. Pola pergerakan inang: meningkat.* Bisikan itu kini terdengar seperti laporan, analisis yang tenang. Wei Chen menatap Li Ming, yang kini mundur selangkah, napasnya tersengal. Wajahnya menunjukkan kekalahan. Wei Chen, si lemah, baru saja berhasil menahan tiga serangan tanpa terkena satu pun.
---
Jenderal Huo melangkah mendekat, tatapan matanya menusuk Wei Chen. Wajahnya tanpa ekspresi, namun Wei Chen bisa merasakan gelombang pertanyaan yang memancar darinya. Instruktur itu berhenti tepat di depannya, pedang kayunya kini dipegang di pinggang.
“Kau… prajurit,” Jenderal Huo memulai, suaranya rendah dan tajam. “Aku sudah mengamatimu tiga hari ini. Kau seperti sebatang ranting yang kering, mudah patah. Tapi barusan…” Ia mengernyit, memiringkan kepalanya sedikit. “Gerakanmu itu… bukan milikmu.”
Wei Chen menelan ludah, tenggorokannya kering. Rasa takut yang sempat mereda kini kembali membakar. Apakah rahasianya terbongkar? Apakah Jenderal Huo akan menuduhnya berbuat curang, atau lebih buruk lagi, menganggapnya dirasuki sesuatu? Pedang Jian di punggungnya terasa dingin, berat, sebuah keberadaan yang kini menuntut perhatian.
“Aku… aku hanya mencoba mengingat apa yang diajarkan, Jenderal,” Wei Chen berbohong, suaranya serak. Ia mencoba menjaga tatapan matanya tetap lurus, menahan gemetar yang mengancam untuk meruntuhkan seluruh pertahanannya. Berbohong pada seorang Jenderal adalah tindakan bodoh, tetapi ia tidak punya pilihan.
Jenderal Huo tidak bergeming. Ia memandangi Wei Chen dari ujung kepala hingga ujung kaki, tatapannya berhenti sesaat di area punggung, di mana pedang Jian itu tersimpan di balik kain seragamnya. Sebuah kerutan muncul di antara alis tebalnya. Ia pasti merasakan sesuatu yang aneh. Mata Jenderal Huo yang tajam seperti sedang menimbang, memilah, mencari kebohongan dalam setiap serat tubuh Wei Chen.
“Mengingat, katamu?” Jenderal Huo mendengus, nada suaranya skeptis. “Aku sudah melihat ratusan rekrutan mencoba ‘mengingat’. Tak ada yang bisa bergerak secepat atau setepat itu tanpa tahunan latihan.” Ia menggelengkan kepalanya perlahan. “Ada sesuatu yang aneh padamu, Wei Chen.”
Rekrutan lain berbisik-bisik, menatap Wei Chen dengan campuran rasa iri dan kebingungan. Li Ming terlihat paling frustrasi, masih tidak percaya bahwa ia telah dihindari oleh prajurit terlemah di kamp. Wei Chen merasakan semua mata tertuju padanya, tekanan itu terasa seperti beban berat di dadanya.
“Latihan selesai untuk hari ini,” Jenderal Huo mengumumkan tiba-tiba, suaranya kembali menggelegar, memecah keheningan tegang. Ia menatap Wei Chen untuk terakhir kalinya, tatapan yang masih penuh kecurigaan, namun juga diselimuti secercah minat yang tak tersembunyi. “Tapi kau, Wei Chen, temui aku besok pagi sebelum fajar. Kita akan berlatih satu lawan satu.”
Perintah itu terasa seperti hukuman mati. Wei Chen merasakan perutnya melilit lagi, kali ini bukan karena lapar, melainkan karena ketakutan. Satu lawan satu dengan Jenderal Huo, yang terkenal akan keahlian pedangnya? Itu adalah undangan ke neraka. Pedang di punggungnya berdenyut lagi, *klik*, seolah setuju dengan penilaiannya.
---
Malam itu, kamp diselimuti kegelapan pekat. Suara dengkuran keras dan bisikan samar memenuhi barak, namun Wei Chen tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, merasakan sendi-sendinya berdenyut nyeri. Ia menyelinap keluar, mencari tempat terpencil di balik barak, di bawah naungan pohon tua yang menjulang tinggi.
Udara malam dingin, menusuk hingga ke tulang. Wei Chen menarik napas dalam-dalam, uap putih keluar dari mulutnya. Ia mengeluarkan pedang Jian dari sarungnya. Bilah pedang itu memantulkan cahaya bintang yang redup, permukaannya terasa dingin di telapak tangannya. Beratnya masih terasa, namun kini ada sensasi aneh, seperti pedang itu adalah perpanjangan dari dirinya.
*Aktivasi mode latihan.* Suara Unit-Logika-04 terdengar tenang, lebih jernih dari sebelumnya. *Lakukan gerakan yang kau rasakan tadi.* Perintahnya sederhana, namun Wei Chen tahu itu tidak akan mudah. Ia memegang pedang kayu yang juga ia bawa, meniru posisi awal Li Ming.
Ia mencoba mengulang gerakan Li Ming, memvisualisasikan ayunan pedang kayu ke arah kepalanya. Kemudian, ia berusaha menggeser kepalanya sepuluh sentimeter ke kanan, persis seperti yang dipandu oleh Unit-Logika-04 sore tadi. Tubuhnya menolak. Otot lehernya kaku, gerakannya lambat dan canggung. Itu hanya setengah dari presisi yang ia alami sebelumnya.
*Tidak efisien. Sudut rotasi leher: -3 derajat dari optimal. Kecepatan: 40% dari maksimal.* Data mengalir dalam benaknya, detail yang begitu presisi hingga membuat Wei Chen merinding. Ia bukan hanya mendengar suara itu, ia seperti bisa melihat angka-angka itu melayang di udara, di samping bayangannya.
Wei Chen mencoba lagi, dan lagi. Ia mengulang ayunan, mencoba menyesuaikan setiap otot, setiap sendi, dengan data yang diberikan. Rasa frustrasi mulai merayap, namun bisikan Unit-Logika-04 tetap sabar, tanpa emosi, sebuah panduan mekanis yang sempurna. *Pusatkan berat pada telapak kaki kanan. Tekuk lutut 5 derajat lebih dalam.*
Perlahan, tubuh Wei Chen mulai terbiasa. Ia merasakan otot-ototnya bergerak dengan cara yang belum pernah ia alami sebelumnya. Gerakan yang tadinya kaku kini menjadi sedikit lebih luwes. Ia bisa merasakan pergeseran berat badannya, keseimbangan yang lebih baik, seolah tubuhnya sedang direkalibrasi. Otot-ototnya terasa terbakar, namun ada kepuasan aneh yang menyertainya.
*Hnggh…* Ia mengerang pelan saat memutar pinggulnya, mencoba mencapai sudut 12 derajat yang disebut Unit-Logika-04. Tubuhnya meregang dengan cara yang menyakitkan, namun ia terus mendorong. Pedang Jian di tangannya bergetar halus, seolah memuji usahanya.
Wei Chen mengayunkan pedang kayunya ke depan, meniru tangkisan yang berhasil ia lakukan. *Krak!* Ia membayangkan pedang Li Ming membentur pedangnya. Tubuhnya mulai ‘mengingat’ gerakan itu, tidak hanya dari memori visual, tetapi dari sensasi ototnya sendiri. Harapan kecil mulai tumbuh di dadanya, setipis benang, namun nyata.
Ia mengulang lagi, dan lagi. Hingga tiba-tiba, dalam satu gerakan yang nyaris sempurna, ia berhasil menghindari bayangan tebasan instruktur yang ia bayangkan. Pedang di punggungnya bergetar dan sebuah data muncul di benaknya: *Kompatibilitas inang: 78%*.