Chapter 3 of 33

Panggilan Perang, Takdir Tak Terhindarkan

1.6k words

Suara derap kuda memecah hening pagi di Desa Ji An, menciptakan riak panik yang merambat cepat dari satu gubuk ke gubuk lain. Debu halus mengepul di jalur tanah, menandai kedatangan yang tidak diundang. Wei Chen, yang sedang menambal dinding bambu rumahnya yang reot, merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia menghentikan tangannya, napasnya tertahan di paru-paru yang terasa sesak. Para tetangga mulai berkerumun di halaman utama, wajah mereka pias seperti kertas usang. Kecemasan mencengkeram erat. Sebuah kereta perang sederhana yang ditarik dua ekor kuda hitam pekat berhenti di pusat desa. Dari dalam kereta, seorang pria berbadan tegap melompat turun, seragam militernya berwarna biru tua dan dihiasi lambang naga perak yang gagah. Ia membawa gulungan perkamen yang diikat pita merah dan cambuk kulit yang tebal menggantung di pinggangnya, memantulkan cahaya matahari pagi. Matanya menyapu kerumunan dengan tatapan tajam yang tidak menyisakan ruang untuk perlawanan. "Dengarkan, penduduk Ji An!" Suaranya berat, bergema, dan setiap kata terasa seperti pukulan palu. Wajahnya yang keras dihiasi kumis tipis yang terawat rapi, menambah kesan kejam pada penampilannya. Pria itu mengangkat gulungan perkamen tinggi-tinggi, mengisyaratkan bahwa tidak ada yang berani menyela. Ia berdiri tegak, memancarkan aura otoritas yang dingin dan tak tergoyahkan. "Kekaisaran membutuhkan putra-putra terbaiknya!" lanjutnya, sorot matanya kini tertuju pada barisan pria muda yang gemetar di depan. Wei Chen merasa tatapan itu menembusnya, menguliti setiap lapis keberanian yang bahkan tidak ia miliki. Ketakutan itu membekukan setiap otot di tubuhnya. Ia menelan ludah, kerongkongannya terasa kering dan pahit. "Siapa pun yang berusia antara tujuh belas dan tiga puluh tahun, yang sehat fisik, diwajibkan untuk mendaftar. Ini adalah titah kaisar!" Ia melambaikan tangan ke arah dua prajurit lain yang berdiri di belakangnya, memberi isyarat agar mereka mulai memeriksa satu per satu. Para prajurit itu bergerak seperti robot, mata mereka mencari-cari target. Beberapa pria tua dan wanita mulai terisak pelan di kerumunan. Wei Chen merasakan dingin merayap dari ujung jari kakinya hingga ke ubun-ubun kepala. Usianya baru tujuh belas. Tubuhnya memang kurus kering, jauh dari kata sehat, namun ia tahu itu tidak akan menjadi alasan. Ia mencoba menyusutkan diri di balik punggung seorang tetangga yang lebih besar, berharap bisa luput dari pandangan mata elang para prajurit. Detak jantungnya berpacu, mengguncang dadanya. "Kamu! Yang kurus di sana!" Suara utusan itu menembus kerumunan, menunjuk tepat ke arah Wei Chen. Jemarinya yang ramping dan kokoh tampak seperti bilah pisau yang mengarah padanya. Wei Chen merasa seluruh perhatian kini tertuju padanya. Wajahnya memerah, lalu pias. Ia tidak bisa lari. Kakinya terpaku ke tanah, seolah-olah diikat rantai. --- Wei Chen melangkah maju dengan enggan, kepalanya menunduk dalam-dalam. Tanah berpasir terasa dingin di bawah kakinya yang telanjang. Sebuah bisikan ketakutan melingkar di benaknya, membakar pikirannya. Ia mencoba mengumpulkan keberanian, tetapi rasanya seperti mencoba menangkap asap. Utusan itu menatapnya, bibirnya membentuk seringai tipis yang mengerikan. "Saya... saya tidak bisa, Tuanku," kata Wei Chen, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Ia mengangkat kepalanya sedikit, memberanikan diri menatap mata utusan itu. "Saya lemah, Tuanku. Saya bahkan kesulitan mengangkat karung arang. Saya tidak akan berguna di medan perang." Wajahnya memohon, matanya dipenuhi keputusasaan yang tulus. Utusan itu tertawa kecil, suara tawa itu kering dan kejam, menusuk telinga Wei Chen. Tawanya membuat para prajurit lain ikut menyeringai. "Kelemahanmu adalah urusanmu, Nak. Tugasmu adalah melayani Kekaisaran." Ia melangkah mendekat, bayangannya menjulang tinggi di atas tubuh kurus Wei Chen. Aroma kulit dan besi dari seragamnya menusuk hidung. "Ibu saya sakit-sakitan, Tuanku," Wei Chen mencoba lagi, suaranya kini sedikit lebih lantang, dipicu oleh kepanikan. "Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Jika saya pergi, siapa yang akan menjaganya? Siapa yang akan memberi makan kami?" Ia menunjuk ke arah gubuk reotnya, seolah meminta belas kasihan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Utusan itu mengangkat cambuk kulitnya, ujungnya menyentuh bahu Wei Chen dengan tekanan ringan yang mengerikan. _Sreeet..._ Suara gesekannya tajam. "Setiap prajurit memiliki ibu, Nak. Dan setiap prajurit memiliki kewajiban." Matanya menyipit, mengancam. "Apa kau lebih suka kaisar menuduh desa ini menolak titahnya? Apa kau ingin melihat seluruh penduduk menderita karena pembangkanganmu?" Ancaman itu terasa seperti es yang menusuk paru-paru Wei Chen. Ia melihat wajah-wajah ketakutan para tetangga di belakangnya, tatapan mereka memohon agar ia tidak membuat masalah. Bibirnya bergetar, kata-kata penolakan tercekat di tenggorokannya. Ia tahu ia tidak bisa membahayakan seluruh desa demi dirinya sendiri. Beban itu terlalu berat. "Saya... saya akan pergi, Tuanku," bisik Wei Chen, kepalanya kembali menunduk. Cambuk itu terangkat dari bahunya, tetapi rasa dinginnya masih tertinggal. Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa pahit kekalahan memenuhi mulutnya. Ia telah menyerah. --- Di dalam gubuk yang gelap dan pengap, Ibu Wei Chen terisak pelan, bahunya bergetar hebat. Matanya bengkak dan merah, tangannya yang kurus meremas-remas kain usang. "Anakku... anakku sayang," bisiknya, suaranya pecah oleh kesedihan. Aroma tanah dan ramuan herbal kering yang selalu memenuhi ruangan kini bercampur dengan bau air mata. Wei Chen berlutut di depannya, tangannya menggenggam tangan ibunya yang keriput. "Jangan khawatir, Ibu," kata Wei Chen, berusaha agar suaranya terdengar kuat, meskipun hatinya meronta. Ia menelan ludah, mencoba menahan air matanya sendiri. "Aku akan kembali. Aku akan menjadi prajurit yang kuat. Aku akan membawa pulang banyak uang agar Ibu bisa membeli obat dan makanan yang enak." Janji-janji itu terasa hampa, rapuh seperti daun kering yang dihantam angin. Ibunya menggeleng lemah, air mata terus mengalir di pipinya yang cekung. "Medan perang itu kejam, Nak. Banyak yang pergi dan tidak pernah kembali." Jemarinya membelai pipi Wei Chen yang tirus. Sentuhannya dingin dan rapuh. "Kamu satu-satunya yang Ibu punya." Isakannya semakin keras, memenuhi gubuk kecil itu dengan kesedihan yang tak tertahankan. Wei Chen bangkit berdiri. Ia mengambil pedang Jian yang tergeletak di sudut ruangan. Pedang itu, dengan bilahnya yang gelap dan motif gelombang air samar, terasa dingin di tangannya. Beratnya menusuk telapak tangan dan pergelangan tangannya. Ini adalah satu-satunya harta berharga yang ia miliki, dan satu-satunya hal yang ia percaya bisa melindunginya. Sebuah bisikan samar bergema di benaknya, _"Objek: pedang Jian. Status: siap."_ Ia menyarungkan pedang itu ke sabuk pinggangnya, bilahnya yang panjang menyentuh betisnya. Dingin dari besi menembus lapisan kain pakaiannya. Wei Chen menatap ibunya sekali lagi, mencoba mengukir setiap detail wajahnya di benak. "Aku harus pergi, Ibu." Suaranya tercekat. Ia melangkah keluar dari gubuk, meninggalkan ibunya dalam tangisan yang pilu. Langkahnya terasa berat, seolah-olah ia memikul seluruh dunia di bahunya. --- Perjalanan menuju kamp militer adalah neraka yang perlahan. Wei Chen berjalan di antara barisan panjang pemuda lain, sebagian besar lebih besar dan lebih kuat darinya. Matahari membakar kulitnya, dan debu yang diangkat oleh ratusan pasang kaki menyumbat hidung serta tenggorokannya. Setiap embusan angin membawa aroma keringat dan ketakutan. Pedang Jian di punggungnya terasa seperti beban mati, bilah besinya yang dingin menekan tulang punggungnya, seolah mencoba menembusnya. Setiap langkah memicu rasa sakit yang menusuk. Ia mencoba menyesuaikan posisinya, tetapi berat pedang itu tetap tidak berkurang. Suara langkah kaki yang monoton terdengar seperti genderang kematian yang mengiringi mereka. Para prajurit yang mengawal mereka berjalan di sisi jalan, tombak mereka berkilat di bawah terik matahari. Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya tatapan dingin dan desakan sesekali agar mereka bergerak lebih cepat. Wei Chen merasa seperti ternak yang digiring ke tempat penyembelihan. Pikirannya melayang pada ibunya, pada gubuknya yang reot, pada kehidupannya yang sederhana yang kini telah direnggut paksa. _"Inang biologis: detak jantung tidak stabil. Indikator stres: tinggi."_ Suara mekanis itu muncul di benaknya, jernih dan tanpa emosi. Wei Chen terkesiap pelan, mencoba menyembunyikan keterkejutannya dari prajurit di sebelahnya. Bisikan pedang itu selalu ada, tetapi kini terasa lebih nyata, lebih mendesak. Ia menyentuh gagang pedangnya yang dingin dengan jemarinya yang gemetar. Ia menatap langit biru yang luas, memikirkan betapa kecilnya dirinya di hadapan takdir. Rasa cemas mencengkeramnya begitu kuat hingga perutnya terasa mual. Para pemuda di sekitarnya juga menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan ketakutan, wajah mereka kuyu dan pucat. Beberapa batuk kering, yang lain hanya menunduk, menghindari kontak mata. Wei Chen tahu bahwa ia tidak bisa mundur. Pedang ini, yang aneh dan misterius, adalah satu-satunya harapannya. Mungkin pedang ini bisa membantunya bertahan. Mungkin. Itu adalah harapan yang rapuh, namun satu-satunya yang ia miliki. Rasa dingin dari pedang itu kini terasa seperti jangkar, satu-satunya hal yang nyata dalam kekacauan ini. --- Malam pertama di kamp militer adalah kekacauan sensorik. Bau asap dari api unggun bercampur dengan bau keringat, tanah, dan kotoran kuda. Ratusan pria berdesakan di barak panjang, suara batuk, dengkuran, dan bisikan memenuhi udara. Wei Chen menemukan sebuah sudut kecil di dekat dinding kayu yang dingin, jauh dari kerumunan yang ribut. Ia menaruh pedangnya di sampingnya, bilahnya yang gelap memancarkan cahaya biru redup yang nyaris tak terlihat. Ia mencoba memejamkan mata, tetapi setiap suara kecil membuatnya terlonjak. Gambar-gambar medan perang yang mengerikan melintas di benaknya: darah, jeritan, tubuh-tubuh yang terkapar. Ia bukan prajurit. Ia tidak pernah memegang senjata sungguhan, apalagi bertarung. Perutnya bergolak, dan ia harus menahan diri agar tidak muntah. Ketakutan itu nyata, membakar setiap sarafnya. _"Parameter lingkungan: kepadatan termal tidak efisien. Potensi deteksi musuh: tinggi."_ Suara di kepalanya berbisik lagi, lebih jelas dari sebelumnya. Wei Chen membuka matanya. Ia menatap pedangnya yang tergeletak. Dinginnya bilah itu terasa menenangkan, namun juga mengancam. Bisikan itu tidak lagi terdengar seperti pecahan data, melainkan instruksi. _"Posisikan tubuh 15 derajat ke kanan untuk meminimalisir deteksi panas."_ Instruksi itu sangat spesifik, sangat aneh. Wei Chen mengerutkan kening. Deteksi panas? Apa maksudnya? Ia tidak mengerti, tetapi ada sesuatu dalam nada mekanis itu yang menuntut ketaatan. Ia bergerak sedikit, menggeser tubuh kurusnya 15 derajat ke kanan, memunggungi pintu barak. Rasanya konyol, namun ia melakukannya. Pedang itu seperti menuntutnya. Ia memejamkan mata lagi, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Pedang ini bukan hanya pedang. Ini adalah takdirnya. Bisikan-bisikan aneh itu adalah bagian darinya sekarang. Ia harus belajar mendengarkan, belajar memercayainya. Di tengah kamp militer yang berisik, pandangan Wei Chen terpaku pada bayangan pedang di punggungnya, yang seolah-olah berbisik, _"Probabilitas kelangsungan hidup: 0.003%. Optimalisasi diperlukan."_

End of Chapter 3