Chapter 32 of 33

Kunci Tersembunyi, Pintu Terbuka

1.8k words

Genggaman Wei Chen mengerat pada artefak itu. Batu seukuran telapak tangan, bentuknya tidak beraturan, namun memancarkan cahaya biru redup yang sama persis dengan bilah pedang Jian di punggungnya. Denyutan halus terasa di kulitnya, seolah benda mati itu punya detak jantung sendiri. Permukaan batunya terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, kontras dengan hawa lembap dan pengap di lorong rahasia ini. Ia bisa merasakan energi asing merambat dari artefak ke tangannya, naik ke lengannya, kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya. Itu bukan energi yang menyakitkan, melainkan rasa dingin yang membakar, membangkitkan setiap saraf. Seperti memegang sepotong malam yang membeku. Unit-04 mengalirkan data ke benaknya, memecah sensasi aneh itu menjadi angka dan probabilitas yang kering. *"Artefak: Kunci Gerbang Bulan. Kompatibilitas dengan Unit-04: 98%. Fungsi: Resonansi energi, pengaktifan mekanisme kuno. Potensi bahaya: Tidak terukur tanpa data tambahan."* Suara Unit-04 kini terdengar lebih jelas, lebih mendalam, seolah entitas itu sendiri semakin dekat dengan wujud fisiknya. Wei Chen menelan ludah, lidahnya terasa kering. Rasa takut masih ada, bersembunyi di balik setiap sudut benaknya, namun tekad untuk mengakhiri semua ini jauh lebih besar. Ia harus melindungi ibunya. Ia harus menghentikan Menteri Shen dan "Dalang Sejati" yang tak terlihat itu. Xiao Ming berdiri di sebelahnya, pedang di tangan, postur tubuhnya tegang seperti busur yang siap dilepaskan. Mata pemuda itu tajam, memindai kegelapan di sekitar mereka. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi kehadirannya adalah janji akan perlawanan. Wei Chen bisa mendengar napas Xiao Ming yang pelan, teratur, sebuah kontras dari debaran jantungnya sendiri yang berpacu tak karuan. Artefak itu berdenyut lagi, kali ini lebih kuat, seolah tidak sabar untuk menjalankan fungsinya. Biru neonnya memantul di dinding batu yang kasar, menciptakan bayangan menari-nari yang semakin memperdalam rasa cemas Wei Chen. *"Kekuatan energi di artefak ini sesuai dengan data dari Master Liao,"* bisik Unit-04, nada suaranya datar, tanpa emosi, namun entah mengapa Wei Chen bisa merasakan semacam urgensi di balik analisis itu. *"Konfigurasi kristal nano yang tidak lazim. Diduga ada campur tangan teknologi yang tidak dikenal di era ini."* Wei Chen memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam. Dinginnya artefak itu semakin meresap, menghapus sedikit demi sedikit kepanikannya, menggantikannya dengan fokus yang tajam. Ia merasa seperti bagian dari mesin, sebuah ekstensi dari pedang Jian di punggungnya. Ini adalah jalan yang dipilihnya, dan tidak ada jalan kembali. Dengan mata terbuka lebar, ia melihat pintu batu di hadapannya. Simbol-simbol kuno terukir di permukaannya, garis-garis misterius yang memancarkan aura ribuan tahun. Di tengahnya, sebuah lekukan kecil, persis seukuran artefak di tangannya. --- Wei Chen melangkah maju, kakinya terasa berat, namun setiap gerakan dihitung dengan presisi oleh Unit-04. Udara di sekitar pintu terasa lebih dingin, seolah ada celah tipis yang membiarkan hawa dari dimensi lain merembes masuk. Xiao Ming mengikuti di belakang, bayangannya melayang di dinding batu. Jari-jari Wei Chen yang kasar menyentuh permukaan pintu yang dingin. Permukaan batunya terasa berpasir, namun simbol di tengahnya diukir dengan kehalusan yang luar biasa, seolah bukan tangan manusia yang membuatnya. *"Letakkan artefak pada lekukan tengah,"* instruksi Unit-04, suara itu bergaung di benaknya, jernih dan tak terbantahkan. *"Posisikan dengan sudut 8.7 derajat ke timur laut. Tekanan: 1.2 kilogram. Sinkronisasi frekuensi akan dimulai."* Wei Chen mematuhi tanpa ragu. Ia mengangkat artefak itu, cahayanya yang biru berkedip-kedip, menerangi lekukan di pintu. Bentuk lekukan itu menyerupai bulan sabit yang sempurna, sebuah simbol kuno yang pernah ia lihat di beberapa teks terlarang di perpustakaan akademi. Dengan hati-hati, ia menyesuaikan sudutnya, merasakan desiran halus dari Unit-04 yang membimbing setiap otot kecil di tangannya. Perlahan, ia menekan artefak itu ke dalam lekukan. *Klik.* Bunyi kecil itu terdengar nyaring di keheningan lorong, seolah memecah selubung waktu. Artefak itu pas, sempurna, seolah memang dibuat untuk tempat itu. Seketika, cahaya birunya memudar, diserap oleh pintu batu. Namun, efeknya tidak berhenti di situ. Sebuah getaran rendah dimulai, merambat dari pintu, melalui lantai, hingga ke ujung kaki Wei Chen. Getaran itu bukan guncangan, melainkan *dengungan* yang dalam, seolah ada mesin raksasa yang baru saja terbangun dari tidur panjang. Suara itu memenuhi lorong, menekan udara, membuat gendang telinga Wei Chen berdenyut-denyut. *"Mekanisme kuno aktif,"* Unit-04 melaporkan, suaranya kini terdengar seperti gema di dalam goa, berat dan berwibawa. *"Pola energi sinkron. Kunci berhasil diintegrasikan. Perhatikan fluktuasi gravitasi mikro di sekitar titik tengah."* Debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit, butirannya menari dalam cahaya remang-remang yang tersisa. Wei Chen menahan napas, matanya tak lepas dari pintu. Garis-garis ukiran di pintu mulai berpendar dengan cahaya biru yang sama dengan artefak, membentuk pola rumit yang belum pernah ia lihat. Setiap garis seolah hidup, berdenyut dengan energi yang entah dari mana asalnya. Dingin yang menusuk semakin pekat, memenuhi paru-parunya dengan udara beku. Ini bukan hanya sebuah pintu; ini adalah gerbang menuju sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap. --- Getaran itu semakin intens, lalu berhenti mendadak, digantikan oleh suara *deruman* berat yang memekakkan telinga. Pintu batu itu, yang tadinya tampak kokoh tak tergoyahkan, mulai bergerak. Lambat, sangat lambat, namun dengan kekuatan yang tak terbantahkan. Sebuah celah tipis muncul di tengah, melebar perlahan, seiring dengan gesekan batu tua yang berdecit nyaring. *Sreeet... Kraaakk...* Udara dingin yang menusuk tulang melesat keluar dari celah itu, menerpa wajah Wei Chen. Dinginnya bukan seperti hawa pegunungan, melainkan dingin yang mati, hampa dari kehidupan, membawa serta aroma lumut tua dan tanah yang telah lama tak tersentuh. Aroma itu menggelitik hidungnya, memicu rasa mual yang tertahan. Wei Chen mengepalkan tangan, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Rasa takut bercampur dengan adrenalin yang memuncak, membuatnya merasa seperti berada di ambang jurang yang tak berdasar. Kegelapan pekat yang terungkap di balik pintu itu mutlak, tanpa sedikit pun cahaya. Itu adalah kegelapan yang menyerap semua pendar, seolah alam semesta di baliknya telah kehilangan bintang-bintangnya. Wei Chen tidak bisa melihat apa pun, hanya kehampaan yang terasa begitu berat, seolah bisa menghancurkan jiwanya. Bulu kuduknya berdiri. Otot-ototnya menegang tanpa sadar. Pedang Jian di punggungnya bergetar halus, seolah Unit-04 juga merasakan ancaman yang tak terlihat itu. *"Suhu internal area target: -12 derajat Celsius,"* Unit-04 melaporkan, suaranya kini terdengar lebih jauh, seolah ada dinding tak kasat mata di antara mereka. *"Tidak ada sumber cahaya terdeteksi. Kandungan oksigen: 19.3%. Tekanan atmosfer: stabil. Peringatan: Anomali energi negatif terdeteksi. Level: Tidak terukur."* Xiao Ming menarik napas tajam di sampingnya, membuat Wei Chen tersentak. Bahkan tanpa Unit-04, Xiao Ming bisa merasakan beratnya atmosfer di balik pintu itu. Cahaya obor mereka yang redup tidak mampu menembus kegelapan di dalam, hanya memantul di bibir pintu yang terbuka. Jantung Wei Chen berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya. Ia tahu, di balik kegelapan itu, tersembunyi jawaban yang ia cari. Dan mungkin, kengerian yang tak sanggup ia bayangkan. --- Ketika pintu batu itu terbuka sepenuhnya, memperlihatkan celah selebar bahu orang dewasa, Xiao Ming bergerak. Pedangnya, sebuah *dao* dengan bilah lebar dan gagang terbalut kulit, terhunus dari sarungnya dengan bunyi *sring* yang tajam. Bilah pedang itu memantulkan cahaya obor, berkilauan seperti perak yang baru diasah. Posturnya berubah, dari seorang pengamat menjadi seorang pemburu, siap menerjang ancaman yang tak terlihat. "Siapapun yang ada di balik pintu ini," suara Xiao Ming rendah dan serak, nadanya dingin seperti baja yang ia genggam, "mereka tidak akan menyerah tanpa perlawanan." Matanya menyipit, menatap lurus ke dalam kegelapan. Ia tidak ragu sedikit pun. Hanya ada tekad murni yang terpancar dari seluruh tubuhnya. Wei Chen merasakan getaran yang sama, sebuah pengakuan tak terucapkan akan bahaya yang menanti di depan. Ancaman itu terasa lebih nyata sekarang, bukan lagi sekadar data dari Unit-04. Wei Chen mengangguk, mengencangkan genggaman pada gagang Jian di punggungnya. Pedang itu terasa lebih dingin dari biasanya, seolah menyerap hawa beku dari dalam. Ia bisa merasakan denyutan halus di antara jari-jarinya, bukan dari artefak yang kini tersembunyi, melainkan dari bilah Jian itu sendiri. Itu adalah sinyal dari Unit-04, sebuah persiapan untuk apa pun yang akan mereka hadapi. Perasaannya campur aduk: ketakutan akan hal yang tidak diketahui, marah terhadap para Dalang Sejati yang bermain-main dengan nyawa orang, dan tekad membara untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi. *"Prediksi probabilitas konflik dalam 3.7 detik setelah memasuki zona: 89.2%,"* Unit-04 membanjiri benaknya dengan data, setiap angka terasa seperti pukulan. *"Identifikasi potensi ancaman: Tidak teridentifikasi secara visual. Namun, pola energi menunjukkan entitas non-biologis tingkat tinggi. Peringatan: Bahaya ekstrem."* Xiao Ming mengambil langkah kecil, menggeser berat tubuhnya. "Tetaplah di belakangku, Wei Chen. Aku akan menjadi garda terdepan." Suaranya adalah perintah, namun ada nada perlindungan yang jelas di dalamnya. Wei Chen tahu ia tidak bisa melawan. Xiao Ming adalah prajurit sejati, dan di tempat seperti ini, instingnya jauh lebih berharga daripada kecerdasan buatan mana pun. Wei Chen mengamati punggung lebar Xiao Ming yang tegang. Ia percaya pada Xiao Ming, sama seperti ia mulai percaya pada Unit-04. Ini bukan lagi pertarungan sendiri. Ini adalah perjuangan bersama. Dan mereka akan melangkah maju, apa pun risikonya. Xiao Ming mengangkat pedangnya, ujung bilahnya menunjuk ke dalam kegelapan yang tak berujung. --- Wei Chen mengintip ke dalam kegelapan, matanya berusaha menembus tabir kehampaan. Ia tidak bisa melihat apa pun, namun ia bisa *merasakan* kehadiran yang masif, sebuah tekanan yang menekan jiwanya hingga terasa sesak. Udara di sana jauh lebih dingin, seolah setiap partikel cahaya dan kehangatan telah dihisap habis. Sebuah *aura* berat memancar keluar, bukan hanya dingin secara fisik, tetapi dingin yang mematikan, menjanjikan kehancuran dan keputusasaan. Jantungnya berpacu gila-gilaan, namun ia tidak bisa mengalihkan pandangan. Ini adalah sarang Dalang Sejati, tempat di mana kegelapan berakar. Unit-04 membanjiri benak Wei Chen dengan rentetan data yang kacau, angka-angka melayang-layang di penglihatan batinnya, merah dan berkedip. *"Tekanan energi negatif: Meningkat eksponensial. Sumber daya Dalang Sejati: tidak terukur. Interferensi sensorik: tinggi. Korelasi anomali energi dengan pola psikologis manusia: ketakutan, keputusasaan, kemarahan. Peringatan: Zona berisiko tinggi."* Wei Chen bisa merasakan dingin yang merambat dari kakinya, naik perlahan ke seluruh tubuhnya, seolah ada sesuatu yang menguras kehidupannya. Ia menarik napas, tapi udara dingin itu terasa seperti pisau yang mengoyak paru-parunya. Aroma tanah busuk dan sesuatu yang lebih mengerikan, sesuatu yang berbau kematian dan kehancuran, menyeruak kuat. Itu adalah bau yang merusak, membuat perutnya bergejolak. Ia menahan diri untuk tidak muntah. Kemudian, matanya mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan yang absolut. Perlahan, bentuk-bentuk mulai muncul. Bukan dinding batu yang halus, melainkan sebuah aula besar yang terbentang di hadapannya. Langit-langitnya sangat tinggi, menjulang ke atas seperti gua raksasa. Dan di tengah aula itu, di tengah kehampaan, sebuah objek menjulang tinggi, menarik semua pandangannya. Itu adalah sebuah singgasana. Singgasana itu bukan terbuat dari kayu atau batu giok, melainkan dari tulang. Tulang-tulang yang besar, putih, dan tampak purba, disusun sedemikian rupa hingga membentuk kursi tahta yang megah dan mengerikan. Setiap sambungan tulang diukir dengan detail yang mengganggu, membentuk pola-pola aneh yang entah mengapa terasa familiar, seolah pernah ia lihat di mimpi buruk. Singgasana itu kosong, namun memancarkan aura kegelapan yang pekat, seolah entitas yang pernah duduk di sana meninggalkan jejak kekuasaan yang abadi. Rasa dingin itu bukan lagi hanya udara; itu adalah kehadiran yang tak terlihat, berakar di singgasana tulang itu, menembus setiap pori-pori Wei Chen. Dan Unit-04 berbisik, suaranya kini terdengar begitu dekat, seolah langsung di telinganya, namun juga terdistorsi, dipenuhi oleh kebisingan statis. *"Inti energi negatif sangat tinggi. Ancaman: ekstrem."

End of Chapter 32