Chapter 33 of 33

Chapter 33: Ruang Takhta Kosong, Bisikan Kuno

1.7k words

Udara di ambang pintu aula terasa dingin, menusuk kulit telanjang Wei Chen. Bukan dingin yang biasa, melainkan dingin yang lembab, berat, seolah udara itu sendiri telah berdiam di sana selama ribuan tahun tanpa bergerak. Langkah kaki mereka yang basah dari terowongan sebelumnya, kini memantul hampa di lantai batu obsidian yang gelap. Setiap *tap-tap* kecil terdengar terlalu keras, mengkhianati kehadiran mereka di tengah keheningan yang menyesakkan. Wei Chen mengayunkan pedang Jian-nya perlahan, bilah dingin itu membelah kegelapan. Tidak ada cahaya obor di sini, hanya kilauan redup dari lumut bioluminescent yang merambat di dinding, melukiskan pola rumit yang tampak seperti tulisan kuno. Matanya menyapu setiap sudut, mencari bayangan, mencari pergerakan. Tenggorokannya terasa kering, jantungnya berdebar kencang, menggema di tulang rusuknya. "Kosong," bisik Xiao Ming, suaranya serak. Pedangnya, yang jauh lebih sederhana, terhunus dan dipegang erat di depannya. Matanya memicing, meniru kewaspadaan Wei Chen. "Aku tidak merasakan apa-apa. Atau... justru itu yang aneh?" *"Anomali. Tidak ada jejak biologis hidup. Suhu stabil pada 7 derajat Celsius. Kelembaban 98%. Komposisi material dinding: basalt purba dengan infus mineral tak dikenal,"* suara Unit-04 berdesir di benak Wei Chen, nadanya datar namun intens. *"Tidak ada emisi energi terdeteksi dalam spektrum yang dikenal. Namun, ada... resonansi frekuensi ultra-rendah."* Resonansi? Wei Chen mengerutkan kening, mencoba menangkap getaran itu, tapi yang ia rasakan hanyalah detak jantungnya sendiri yang semakin cepat. Ia melangkah maju, kakinya terasa berat, seolah setiap ototnya menolak bergerak lebih jauh. Lumut di dinding memancarkan cahaya biru kehijauan yang remang, cukup untuk memperlihatkan skala aula yang luar biasa besar. Pilar-pilar batu menjulang tinggi, menopang langit-langit yang hilang dalam bayangan. Aula itu membentang jauh ke depan, berakhir di sebuah singgasana besar yang terbuat dari sesuatu yang tampak seperti tulang belulang raksasa, berkilau gelap di kejauhan. Sebuah rasa merinding menjalar di punggung Wei Chen, bukan karena dingin, melainkan karena perasaan diawasi. Pedang di tangannya terasa seperti satu-satunya jangkar di tengah kekosongan yang mengancam ini. Ia mengangkatnya sedikit, bilah Jian itu memancarkan kilau biru redup, satu-satunya cahaya buatan di ruangan itu. ---. *Syiut...* Sebuah desiran halus, nyaris tak terdengar, mulai mengisi telinga Wei Chen. Awalnya ia mengira itu hanya angin, atau darah yang berdesir di telinganya karena ketegangan. Namun, desiran itu perlahan berubah, membentuk pola, seolah-olah ribuan daun kering bergesekan bersamaan dalam sebuah irama yang aneh. Desiran itu semakin kuat, bukan sebagai suara yang bisa didengar telinga, melainkan sebagai tekanan yang langsung menghantam otaknya. Seperti ada sesuatu yang mencoba menekan informasi langsung ke dalam kesadarannya, melewati indra pendengarannya. Ini adalah bahasa yang tak pernah ia dengar, namun entah mengapa, ia merasakan nuansa kesedihan yang mendalam, sebuah ratapan yang tak berujung, terbawa dalam setiap bisikan. *"Kelemahan... pengkhianatan... kehancuran..."* Frasa-frasa itu muncul di benaknya, bukan sebagai kata-kata, tapi sebagai konsep yang terukir, meninggalkan jejak dingin. Ini seperti hantu emosi, bukan hantu suara. Matanya menyipit, ia mengamati sekeliling. Tidak ada sumber suara yang terlihat. Tidak ada lubang angin. Hanya keheningan absolut yang dibelah oleh bisikan tak berbentuk ini. Xiao Ming tiba-tiba menoleh, matanya melebar. "Kau dengar itu?" suaranya bergetar, lebih dari sekadar bisikan. "Seperti... seperti ada yang bicara. Tapi tidak ada siapa-siapa di sini." Ia memegang gagang pedangnya lebih erat, buku-buku jarinya memutih karena tekanan. Tubuhnya menegang, siap bereaksi terhadap ancaman yang tidak bisa ia lihat, yang tidak bisa ia identifikasi. Wei Chen hanya bisa mengangguk pelan. Bisikan itu kini seperti paduan suara yang jauh, ratusan suara yang meratap bersamaan, membentuk melodi kesedihan yang tak tertahankan. Itu menceritakan kisah kehancuran, tentang sebuah peradaban yang lenyap, tentang janji-janji yang dilanggar, dan tentang sebuah kekuatan yang bangkit dari abu untuk menelan segalanya. Ia merasakan gelombang keputusasaan yang bukan miliknya sendiri, menelannya, membuatnya sulit bernapas. Perutnya bergejolak, seolah jiwanya sendiri sedang diremas. *"Kehampaan... janji yang dikhianati..."* Wei Chen bisa merasakan sakitnya, seolah ia adalah bagian dari sejarah kuno itu. Tangannya yang memegang pedang mulai berkeringat dingin, jari-jarinya kaku. Ia belum pernah merasakan ketakutan seperti ini. Bukan ketakutan akan kematian fisik, melainkan ketakutan akan sesuatu yang jauh lebih besar, lebih tua, dan tak terjangkau. Ini adalah teror eksistensial, bisikan dari masa lalu yang tak ingin dilupakan. ---. *"Bahasa kuno terdeteksi. Identifikasi: Dialek Primal Khun-Lai. Usia estimasi: lebih dari tiga ribu tahun,"* suara Unit-04 kini terdengar lebih cepat, hampir terdistorsi oleh laju analisis. *"Pesan: Peringatan. Ancaman: tak terlihat. Sumber: Tidak terdeteksi secara fisik. Dispersi data: holistik, mencakup seluruh volume aula. Probabilitas anomali energi non-fisik: 99.8%. Persentase ancaman langsung: tidak dapat dikalkulasi."* Wei Chen merasakan getaran halus di gagang pedangnya, sebuah indikasi bahwa Unit-04 sedang bekerja dengan kapasitas penuh, memindai setiap partikel udara. Bisikan itu kini tak lagi hanya kata-kata. Ia bisa melihat kilasan gambar-gambar di benaknya: kota-kota megah yang hancur menjadi debu, wajah-wajah putus asa yang menatap langit kelabu, dan sebuah bayangan besar yang menelan cahaya. Itu bukan sekadar informasi, melainkan memori yang ditransfer, sebuah pengalaman utuh dari zaman yang telah lama mati. "Apa itu?" Wei Chen bertanya pelan, suaranya nyaris hilang ditelan bisikan. Ia berbicara pada Unit-04, tapi kata-katanya juga ditujukan pada Xiao Ming, yang kini tampak pucat pasi. Xiao Ming menggelengkan kepalanya perlahan, matanya kosong, seolah ia juga sedang melihat hal yang sama, atau setidaknya, merasakan kengerian yang sama. *"Data korupsi mental inang biologis terdeteksi. Probabilitas kestabilan mental: menurun. Rekomendasi: tutup saluran sensorik. Bahaya paparan berlebihan terhadap informasi temporal,"* Unit-04 memperingatkan, getaran di gagang pedang semakin intens. *"Ancaman tidak bertindak secara fisik, melainkan secara psikologis. Ini adalah... jejak resonansi dari sebuah peristiwa besar. Sebuah kehancuran yang tak terbayangkan."* Jejak resonansi? Wei Chen menelan ludah yang terasa pahit. Bisikan itu kini seperti hantaman ombak di kepalanya, setiap kata mengandung beban sejarah yang mematikan. Ia merasakan tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena kengerian murni yang mengalir ke dalam dirinya. Otot-otot rahangnya mengencang, menahan dorongan untuk berteriak. Ia ingin menutupi telinganya, tapi ia tahu itu tidak akan membantu. Suara ini bukan dari luar, melainkan dari dalam, dari inti kesadaran yang terhubung dengan pedangnya. "Kita harus pergi," Xiao Ming tiba-tiba terkesiap, suaranya lebih seperti erangan. "Ini... ini bukan tempat manusia." Matanya kini tampak panik, irisnya melebar, mencari jalan keluar. Keringat dingin membasahi pelipisnya, mengalir ke bawah dagu. Ia tidak lagi melihat sekeliling untuk mencari musuh fisik, melainkan untuk melarikan diri dari teror yang tak berwujud ini. Ketakutan itu menjalar, menular dari satu ke yang lain, menciptakan lingkaran kepanikan yang menyesakkan di antara mereka. ---. "Aku tidak suka ini," Xiao Ming berbisik lagi, suaranya nyaris tak terdengar di tengah paduan suara bisikan kuno yang kini mencapai puncaknya. "Terlalu sunyi. Terlalu kosong. Tapi... penuh sekali." Ia mengalihkan pandangannya dari satu sudut aula ke sudut lain, seolah berusaha menemukan sumber suara yang tidak ada, sumber keganjilan yang tak terlihat. Bibirnya bergetar, dan Wei Chen bisa melihat butiran keringat menetes dari dahinya. Wei Chen tidak bisa menyalahkannya. Aula itu memang secara fisik kosong, namun secara spiritual, ia terasa penuh sesak. Penuh dengan desahan keputusasaan, dengan ratapan perpisahan, dan dengan bisikan janji-janji yang hancur. Ini adalah akumulasi penderitaan dari sebuah peradaban yang telah tiada, dipadatkan menjadi sebuah kehadiran yang menekan. Ia merasakan beban itu, menindih bahunya, membuat napasnya terasa dangkal. *"Analisis pola emosi: Kengerian, pengkhianatan, kehilangan, kemarahan tak berujung,"* Unit-04 melaporkan, suaranya kini memiliki resonansi yang lebih dalam, seolah AI itu sendiri terpengaruh. *"Ini adalah sisa-sisa mental dari entitas kolektif. Dalang Sejati... mungkin adalah entitas yang mengumpulkan ini, atau... yang menyebabkan kehancuran ini."* Wei Chen merasakan dingin yang menusuk di dadanya, lebih dalam dari suhu ruangan. Jika Dalang Sejati adalah sesuatu yang bisa mengumpulkan atau menyebabkan kehancuran sebesar ini, maka mereka berhadapan dengan kekuatan yang melampaui pemahaman manusia. Ia merasakan tangan kirinya, yang tidak memegang pedang, gemetar hebat. Sebuah ketidakberdayaan yang mutlak menyergapnya. Bahkan Unit-04, dengan segala kecerdasannya, terdengar tidak yakin, mencari jawaban di antara data-data historis yang hilang. "Kita harus pergi, Wei Chen," Xiao Ming memohon, kini suaranya lebih mendesak. Ia meraih lengan Wei Chen, cengkeramannya dingin dan gemetar. "Aku tidak peduli Dalang Sejati itu apa. Ini... ini bisa menghancurkan kita dari dalam." Matanya memancarkan ketakutan murni, ketakutan yang tidak bisa dilawan dengan pedang atau strategi. Ini adalah ketakutan akan kegilaan, ketakutan akan kehilangan diri sendiri di tengah lautan penderitaan kuno. Wei Chen memejamkan mata sesaat, mencoba mengenyahkan bisikan yang memekakkan itu. Tetapi bisikan itu semakin menguat, membentuk gelombang suara yang koheren, seolah ribuan mulut kuno kini berbicara langsung padanya. *"Dia datang... kejatuhanmu... takdirmu..."* Suara-suara itu berputar-putar, membingungkan, namun satu hal jelas: ada ancaman yang mendekat, ancaman yang terikat pada dirinya, pada takdirnya sendiri. Rasa mual melanda perutnya, kepalanya berdenyut-denyut. Ia merasa seolah jiwanya ditarik keluar dari raganya. ---. Tiba-tiba, bisikan itu terputus, mati seketika, meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya. Keheningan yang tiba-tiba ini terasa lebih menakutkan daripada bisikan itu sendiri. Xiao Ming terkesiap, lalu menatap Wei Chen dengan mata bingung, cengkeramannya pada lengan Wei Chen mengencang. Wei Chen merasakan bulu kuduknya berdiri. Keheningan itu seperti jurang kosong yang terbuka di hadapannya. Lalu, sebuah denyutan dimulai. Denyutan itu berasal dari singgasana tulang di ujung aula. *Gleam... gleam...* Sebuah cahaya gelap, keunguan, mulai memancar dari celah-celah tulang yang saling melilit, seperti jantung yang berdenyut lambat. Cahaya itu tidak menerangi ruangan, melainkan justru memperdalam bayangan, membuat pilar-pilar batu terlihat lebih mengerikan, lebih kuno. *Pulsar...* Denyutan itu semakin cepat, dan dari tengah singgasana, di atas dudukan yang seharusnya diisi oleh seorang raja, sebuah proyeksi mulai terbentuk. *Flicker... swirl... morf...* Mulanya hanya kilauan kabur, seperti fatamorgana di udara panas. Lalu, bentuk itu perlahan mengkristal. Sebuah sosok berjubah hitam pekat, siluetnya ramping namun memancarkan aura kekuatan yang tak terbatas. Jubah itu menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan kegelapan absolut di tempat wajah seharusnya berada. Di tangan sosok itu, tergenggam erat sebuah pedang. Sebuah pedang Jian. Pedang itu tampak identik dengan yang dipegang Wei Chen: bilahnya ramping, ada pola gelombang air samar di permukaannya, dan memancarkan cahaya biru redup yang sama persis. Wei Chen merasakan seluruh tubuhnya membeku. Darahnya terasa dingin di pembuluh darahnya, seolah berubah menjadi es. Sosok itu, pedang itu... itu terlalu mirip. Terlalu sempurna. Matanya membelalak, ia menatap pada pedangnya sendiri, lalu pada proyeksi di singgasana. Mustahil. Sebuah ketidakpercayaan mutlak mencengkeramnya. *"Anomali memori!"* Suara Unit-04 meledak di benak Wei Chen, bukan lagi desiran data, melainkan teriakan murni yang mengguncang jiwanya, sebuah frekuensi tinggi yang membuat telinganya berdenging. *"Ini... ini adalah aku! Dari masa depan!"*

End of Chapter 33