Chapter 31 of 33

Chapter 31: Memasuki Sarang Ular

2.0k words

Udara malam menggigit kulit, menusuk tulang Wei Chen saat ia meluncur di atas dinding istana yang menjulang tinggi. Debu dan lumut yang tebal menempel di telapak tangannya, kasar dan dingin, menawarkan cengkeraman yang nyaris tak ada. Di bawahnya, Xiao Ming bergerak lincah, seperti bayangan yang menyelinap tanpa suara. Wei Chen menahan napas, paru-parunya terasa sesak oleh ketegangan, setiap ototnya menegang dalam antisipasi. Ia menekan pedang Jian di punggungnya, bilah dingin itu seolah menyalurkan sebagian dari ketenangan beku Unit-04 langsung ke sumsum tulangnya. "Data lingkungan: Dinding luar sektor gamma, tingkat keamanan moderat," bisik Unit-04 di benaknya, suaranya kini terasa lebih dalam, lebih mirip gema di gua kuno. "Titik masuk terdekat: Celah ventilasi di bawah menara pengawas. Probabilitas deteksi: 0.01% jika bergerak dalam tiga detik berikutnya. Koordinasi dengan inang biologis lain diperlukan." Wei Chen mengangguk kecil, menoleh ke Xiao Ming yang kini menempel di dinding di bawahnya, matanya tajam menembus kegelapan. "Tiga detik," bisik Wei Chen, suaranya serak nyaris tak terdengar. Jemarinya mencengkeram erat 'Kunci Gerbang Bulan' yang terasa hangat di saku rompinya, artefak kuno itu seperti detak jantung kedua di tengah malam yang dingin. Ia bisa merasakan energi aneh dari kunci itu merambat, menciptakan semacam selubung tak terlihat yang meredam kehadiran mereka. Xiao Ming mengangkat tangannya, memberikan isyarat siap. Detik berikutnya, ia melompat dengan gerakan akrobatik yang presisi, menempel pada tonjolan batu yang nyaris tak terlihat. Wei Chen mengikutinya, mengandalkan setiap instruksi Unit-04 yang membanjiri kesadarannya: Sudut dorong optimal, 87 derajat. Daya cengkeram jari, 72% dari kapasitas maksimal. Hembuskan napas saat mendarat. Kakinya menjejak tanah becek yang lembap di balik celah, terasa seperti bantal yang tak terduga. Lumpur basah menempel di sol sepatunya, dingin dan lengket. Mereka berdua merayap melalui terowongan sempit, bau apek dan lembap menusuk hidung Wei Chen. Udara di sini terasa berat, seolah tidak pernah tersentuh sinar matahari. Setiap gesekan pakaian mereka dengan dinding batu terdengar seperti guntur di telinganya yang tegang. Pedang Jian di punggungnya terasa semakin dingin, memancarkan cahaya biru samar yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk menerangi retakan-retakan pada batuan tua. "Pergerakan di atas," Unit-04 memperingatkan. "Dua unit patroli. Interval: setiap 90 detik. Tingkat kewaspadaan: rendah. Probabilitas korupsi: 93%." Suara Unit-04 datar, namun informasi itu cukup membuat napas Wei Chen tercekat. Korupsi. Itu berarti penjaga di istana ini bisa dibeli, tapi juga tidak terduga, mungkin saja mereka lengah namun bisa berubah ganas dalam sekejap. Suara langkah kaki yang berat, disusul tawa serak, terdengar mendekat dari ujung lorong. Wei Chen menarik napas tajam, menekan punggungnya ke dinding batu yang dingin dan licin. Debu dari dinding itu menempel di rambut dan pakaiannya. Xiao Ming sudah membeku, siluetnya menyatu sempurna dengan bayangan. Mereka berdua bersembunyi di balik tumpukan karung goni tua yang berbau apek, sarang tikus yang diselimuti jaring laba-laba tebal. Jantung Wei Chen berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin keluar. "Tiga puluh delapan meter. Bergerak dengan ritme tidak teratur," Unit-04 berbisik, membanjiri Wei Chen dengan data real-time. "Dua unit biologi. Postur tubuh menunjukkan kelelahan. Konsumsi alkohol terdeteksi. Tingkat ancaman: rendah, namun potensi respons acak: tinggi. Bersiap untuk respons cepat." Satu penjaga muncul, mengenakan zirah compang-camping dan helm miring, menguap lebar sambil menyeret tombaknya di lantai batu. Bunyi seret… seret… itu menggema di lorong sempit. Di belakangnya, penjaga kedua mengobrol dengan suara pelan, suaranya yang parau menceritakan tentang taruhan atau minuman keras. Aroma arak murahan yang kuat tercium hingga ke hidung Wei Chen, bercampur dengan bau tubuh yang asam dan amis. "Sembilan belas meter. Jaga posisi," Unit-04 menginstruksikan. Wei Chen bisa merasakan hembusan napasnya sendiri yang tertahan, nyaris tidak terdengar. Ia melihat otot rahang Xiao Ming mengencang, matanya menyipit waspada. Gerakan sekecil apa pun bisa menjadi malapetaka. Perut Wei Chen melilit, bukan karena lapar, tapi karena rasa takut yang menggerogoti. Keringat dingin menetes di pelipisnya, meluncur di pipi, terasa seperti tetesan es. Kedua penjaga itu berhenti tepat di depan tumpukan karung mereka. Salah satu dari mereka menggaruk-garuk perutnya yang buncit, lalu meludah ke lantai. Bunyi phlegm! itu terdengar kotor dan menjijikkan. Wei Chen merasakan mual, mencengkeram gagang pedangnya lebih erat. Ia menahan keinginan untuk batuk atau bersin, setiap sensasi di tubuhnya terasa diperbesar seribu kali lipat. Unit-04 diam, menunggu, hanya memberikan data mentah yang menekan kesadaran Wei Chen. "Pergerakan lambat. Koordinat x-y-z: stabil," suara Unit-04 kembali, tenang dan tanpa emosi. "Mereka akan lewat. Jeda waktu optimal untuk bergerak: empat detik setelah unit terakhir menghilang dari garis pandang. Persiapan aktivasi mode siluman tingkat dua." Setelah penjaga itu berlalu, Wei Chen dan Xiao Ming bergerak lagi, menyusup lebih dalam ke jantung istana. Lorong-lorong berubah menjadi labirin yang rumit, dengan pintu-pintu tersembunyi, tangga yang berkelok, dan balok-balok lantai yang tampak longgar. Udara di sini terasa lebih berat, dipenuhi bau kayu lapuk dan lembap yang menyengat. Setiap langkah harus dihitung, setiap pijakan diperiksa dua kali. Wei Chen merasakan gesekan pedang di punggungnya saat ia membungkuk, berusaha masuk ke celah sempit di balik sebuah permadani usang. "Sensor tekanan terdeteksi di koordinat 12.4, -7.8, 0.3," Unit-04 memperingatkan, suaranya berdenyut di benak Wei Chen. "Jebakan kawat pemicu di sepanjang jalur ini. Pola aktivasi: acak, bergantung pada tekanan. Hindari semua permukaan yang tidak rata. Probabilitas kerusakan: fatal jika terpicu." Wei Chen berhenti, matanya menyapu lantai batu yang tampak mulus namun menyimpan bahaya tersembunyi. Ia melihat celah kecil di antara ubin-ubin, sebuah noda gelap yang nyaris tak terlihat, lalu beralih ke Xiao Ming. "Hati-hati. Jebakan," bisik Wei Chen, menunjuk dengan dagunya ke arah celah itu. Kunci Gerbang Bulan di sakunya terasa berdenyut lebih kuat, seolah merespons bahaya yang tersembunyi. Ini bukan hanya tentang kekuatan fisik, tapi juga tentang kecerdasan. Xiao Ming mengangguk, matanya memancarkan pemahaman. Xiao Ming mengulurkan tangannya, menguji udara di depannya dengan gerakan lembut, seperti seekor ular yang merayap. Jemarinya yang ramping menyentuh seutas kawat tipis yang nyaris tak terlihat, terentang di antara dua pilar ukiran. Kawat itu memantulkan cahaya biru redup dari pedang Wei Chen, seolah ingin bersembunyi. Ia menarik tangannya kembali, ekspresinya tegang. Jantung Wei Chen berdetak kencang, ia membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka tidak waspada. "Pola jebakan: jaring. Akan mengunci area ini," Unit-04 menjelaskan. "Rute alternatif: melalui saluran pembuangan di bawah lantai. Lebar saluran: 0.6 meter. Ketinggian air: 0.2 meter. Risiko penyakit: tinggi. Namun probabilitas keamanan: 99.9%." Wei Chen mengernyitkan hidung membayangkan bau busuk saluran pembuangan, tapi pilihan mereka terbatas. Mereka berdua berjongkok, mengangkat ubin lantai yang longgar dengan hati-hati. Udara dingin dan bau kotoran langsung menyergap hidung Wei Chen. Ia menahan napas, menuruni celah sempit itu dengan hati-hati, mengikuti Unit-04 yang terus membanjirinya dengan data tentang kedalaman air, struktur saluran, dan titik-titik lemah. Kaki Wei Chen terendam air dingin yang keruh, terasa menjijikkan. Setiap langkah, air berdesir swish... swish... di antara sepatunya, suara itu terasa sangat keras dalam keheningan yang mencekam. Setelah keluar dari saluran yang bau, Wei Chen merasakan hawa dingin yang menusuk punggungnya, bukan dari udara, melainkan dari firasat. Istana ini terlalu sepi. Terlalu sunyi. Setiap bayangan terasa seperti mata yang mengawasi, setiap embusan angin seolah membawa bisikan ancaman. Ia mencengkeram gagang pedangnya, bilah Jian itu terasa berdenyut samar, memancarkan getaran frekuensi rendah yang hanya bisa ia rasakan di tulangnya. Unit-04 kini lebih sering diam, hanya memberikan data penting, seolah menghemat energi atau menunggu momen yang tepat. "Deteksi anomali energi. Sumber: tidak diketahui. Pola: fluktuatif," Unit-04 akhirnya berbisik, suaranya terdengar lebih hati-hati dari biasanya. "Tingkat ancaman: tidak dapat dikalkulasi. Jaga kewaspadaan tinggi." Wei Chen dan Xiao Ming akhirnya mencapai ujung koridor yang panjang. Di depan mereka berdiri sepasang pintu ganda yang menjulang tinggi, terbuat dari kayu jati tua yang menghitam dan dihiasi ukiran naga yang mengerikan. Pintu itu tampak seberat sebuah gerbang benteng, permukaannya ditutupi lumut tipis dan debu. Cahaya obor yang samar dari dinding hanya mampu menyinari sebagian kecil dari permukaannya, meninggalkan sebagian besar detail dalam bayangan yang gelap dan menakutkan. Aroma logam karat dan batu tua terasa tajam di udara. "Ruang takhta terdeteksi. Tidak ada unit biologi di dalam," Unit-04 melaporkan, suaranya kembali ke ritme normalnya. "Namun, ada fluktuasi energi yang kuat di sekitar pintu masuk. Pola yang tidak dikenal. Rekomendasi: hati-hati saat mendekat." Wei Chen mengangguk pelan, matanya menatap ukiran naga di pintu. Mata naga itu seolah mengikuti gerakannya, kosong namun penuh ancaman. Ia bisa merasakan energi yang disebut Unit-04, seperti desiran listrik statis yang menggelitik kulitnya. Xiao Ming sudah berada di sampingnya, tangan kanannya memegang erat gagang pedang pendeknya, sementara tangan kirinya menyentuh permukaan pintu dengan gerakan yang hati-hati. Jemarinya yang ramping menyusuri ukiran naga itu, seolah mencari sesuatu. "Di sini," bisik Xiao Ming, suaranya serak. Ia menunjuk ke sebuah bagian di antara cakar naga yang terukir, tempat lumut dan debu sedikit lebih tipis. Wei Chen mendekat, menyipitkan mata. Di sana, tersembunyi di balik lapisan kotoran, ada sebuah simbol yang terukir dalam pada kayu. Simbol itu berbentuk spiral ganda yang melingkar ke dalam, dikelilingi oleh tiga titik kecil yang tidak beraturan. Garis-garisnya tajam dan presisi, kontras dengan ukiran naga yang kasar. Jantung Wei Chen berpacu. Simbol itu... ia pernah melihatnya. Bukan di buku, bukan di dinding kuil, tapi di selembar perkamen tua yang lusuh. Peta Master Liao. Ingatan itu datang seperti sambaran petir, membakar otaknya. Peta yang menunjukkan rute ke Kuil Matahari Tersembunyi, tempat di mana rumor mengatakan Kunci Gerbang Bulan berasal. Simbol ini adalah salah satu dari tanda-tanda yang Master Liao lukiskan di sudut peta, tanpa penjelasan, hanya sebuah petunjuk visual yang samar. "Unit-04, pindai simbol ini," perintah Wei Chen, suaranya sedikit tegang. Ia menarik sarung pedangnya sedikit, membiarkan ujung bilah baja itu mencuat, memantulkan cahaya redup ke ukiran. "Bandingkan dengan data yang ada tentang Kunci Gerbang Bulan." Unit-04 butuh beberapa detik. Keheningan yang mengikuti terasa seperti jurang yang dalam, menekan telinga Wei Chen. Ia menahan napas, menatap simbol itu, mencoba mencari tahu maknanya. Apakah ini sebuah kode? Sebuah jebakan? Atau petunjuk ke sesuatu yang lebih besar? "Pola identik terdeteksi," Unit-04 akhirnya berkata, nadanya berubah menjadi resonansi yang lebih dalam, yang hanya muncul ketika menemukan sesuatu yang sangat penting. "Ini adalah 'Segel Bintang Kembar'. Diperkirakan sebagai penanda lokasi dari artefak kuno dengan energi resonansi tinggi. Data ini ditemukan dalam arsip yang berkaitan dengan Kunci Gerbang Bulan." Wei Chen merasakan adrenalin membanjiri tubuhnya. Segel Bintang Kembar. Jadi Master Liao tahu. Dia tahu persis di mana mereka harus mencari. Tetapi mengapa Master Liao tidak pernah mengatakan apa-apa? Mengapa dia hanya menggambarkannya di peta, seperti teka-teki bisu yang menunggu untuk dipecahkan? Perasaan khianat bercampur dengan rasa takjub. "Apakah ini segel untuk membuka pintu ini?" tanya Xiao Ming, suaranya pelan, matanya yang tajam menatap simbol itu dengan intensitas yang sama. "Tidak ada tanda-tanda mekanisme pembuka. Tidak ada tombol, tidak ada tuas, tidak ada lubang kunci," Unit-04 menjawab. "Namun, fluktuasi energi di sekitar simbol ini sangat kuat. Ada kemungkinan simbol ini berfungsi sebagai konduktor atau amplifikasi energi." Wei Chen mengangkat tangannya, jemarinya hampir menyentuh ukiran. Rasa dingin menjalar dari ukiran ke ujung jarinya, lalu menyebar ke lengannya. Bukan dingin yang biasa, melainkan dingin yang terasa hidup, seolah simbol itu berdenyut dengan energi di bawah sentuhannya. Ia merasakan Kunci Gerbang Bulan di sakunya bergetar, resonansinya kini jauh lebih kuat, seperti detak jantung kedua. Getaran itu terasa semakin mendesak, menuntut sesuatu darinya. "Unit-04, apa yang harus kita lakukan?" Wei Chen bertanya, suaranya nyaris tidak terdengar. Getaran di sakunya semakin keras, hampir melukai kulitnya. "Artefak resonansi tinggi. Simbol ini merespons Kunci Gerbang Bulan," Unit-04 menjelaskan, suaranya kini terdengar seperti instruksi yang jelas. "Perkiraan fungsi: Titik aktivasi. Letakkan Kunci Gerbang Bulan pada simbol. Namun, potensi respons sistem: tidak dapat diprediksi. Bisa berupa mekanisme pembuka, atau aktivasi pertahanan energi." Wei Chen menatap Xiao Ming, matanya dipenuhi keraguan. Jika ini adalah jebakan, mereka akan menjadi sasaran pertama. Tapi jika ini adalah kunci, ini adalah kesempatan mereka. Kunci Gerbang Bulan di sakunya berdenyut liar, menggerakkan seluruh tubuhnya. Sebuah pilihan sulit di antara bahaya yang tidak diketahui dan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Ia menarik napas dalam, merasakan udara dingin mengisi paru-parunya. Tangan Wei Chen bergerak, perlahan, menuju sakunya, tempat Kunci Gerbang Bulan bergetar tak sabar, seolah memanggil untuk bersatu dengan simbol kuno itu, sebuah langkah yang bisa mengubah segalanya, atau mengakhiri perjalanan mereka di sini. Bagaimana Anda ingin melanjutkan bab cerita ini? Apakah Anda ingin saya menambahkan adegan saat kuncinya ditempelkan, atau Anda ingin fokus pada rincian pertarungan setelahnya?

End of Chapter 31