Chapter 2 of 33
Bisikan Dingin di Pedang Murah
2.0k words
Wei Chen menarik napas dalam, udara malam yang dingin menusuk paru-parunya yang kurus. Bayangan panjang tiang-tiang kayu bengkel pandai besi Tuan Li menari-nari di bawah cahaya bulan yang separuh. Dia merapatkan jubah lusuhnya, menyembunyikan bongkahan meteorit yang dingin dan aneh itu di balik kain tebal. Beban di pinggangnya bukan hanya berat fisik, tapi juga beban rahasia dan harapan yang menyakitkan.
Setiap langkah kecil di jalan setapak yang becek terasa seperti gema di telinganya. Kakinya bergetar. Dia sudah terlalu sering dihajar Mandor Li, punggungnya masih terasa perih. Jika ketahuan membawa bijih dari area terlarang tambang, hukumannya akan lebih buruk dari cambukan.
Tetapi bijih itu. Dinginnya menembus kulit, bukan dingin seperti es, melainkan dingin yang hidup, berdenyut pelan di sana. Dingin yang memanggil, menjanjikan sesuatu yang tidak dia pahami. Sebuah bisikan tentang `Unit-Logika-04` masih berputar samar di benaknya, sebuah janji atau ancaman yang tak berbentuk.
Asap tipis mengepul dari cerobong bengkel, aroma arang dan besi yang dibakar memenuhi udara. Tuan Li jarang tidur sebelum fajar menyingsing, selalu ada logam yang perlu ditempa, selalu ada api yang perlu dijaga. Ini adalah satu-satunya kesempatannya.
Wei Chen mendekat, langkahnya hati-hati seperti kucing liar. Pintu bengkel berderit pelan saat dia mendorongnya. Panas menyengat langsung menyambutnya, kontras tajam dengan dinginnya malam di luar. Bola matanya menyesuaikan diri dengan cahaya oranye remang-remang dari tungku pembakaran.
`Klek`. Pintu menutup di belakangnya. Suara dentingan palu yang ritmis berhenti. Tuan Li, seorang pria tua dengan otot yang keras seperti baja tempa dan janggut kelabu yang berantakan, mengangkat kepalanya dari landasan kerja. Matanya yang tajam dan lelah menatap Wei Chen.
"Siapa itu?" suaranya serak dan dalam, seperti gesekan batu. Dia memegang palu besar di tangannya yang berurat, seolah siap menggunakannya.
Wei Chen menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya. Dia meremas jubahnya, merasakan dinginnya bijih meteorit di bawah jemarinya. "Saya... Wei Chen, Tuan Li. Maafkan kedatangan saya yang tidak sopan selarut ini."
Tuan Li mengernyitkan dahi. Kilatan api terpantul di lensa matanya yang buram. "Wei Chen? Pelayan tambang yang kurus kering itu? Ada urusan apa kau datang ke sini di tengah malam?" Nada suaranya penuh kecurigaan, setiap kata seperti benturan besi.
"Saya... saya menemukan sesuatu, Tuan Li," Wei Chen memberanikan diri. Tangannya gemetar saat dia perlahan membuka jubahnya, menyingkap bongkahan hitam kebiruan itu. Cahaya redup dari meteorit itu memantul di dinding bengkel yang kotor, memberikan kesan asing.
Tuan Li memiringkan kepalanya, pandangannya beralih dari wajah Wei Chen yang pucat ke batu di tangannya. Kerutan di dahinya semakin dalam. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya mengamati dengan mata menyelidik. Wei Chen bisa merasakan tatapan itu membakar kulitnya.
"Saya tahu ini terlihat aneh," Wei Chen melanjutkan, suaranya sedikit lebih kencang. "Saya... saya ingin Anda menempanya menjadi sebuah pedang. Pedang yang sederhana. Saya akan membayar Anda saat saya menjualnya."
---
Tuan Li mendekat, palu besinya masih di tangan. Dia tidak terlihat terkejut dengan permintaan itu, hanya penasaran. Matanya yang tua menyipit, meneliti permukaan bijih meteorit yang memancarkan cahaya biru samar. Sebuah sentuhan ujung jarinya yang kasar pada permukaan dingin itu, dan kerutan di dahinya sedikit mengendur. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Ini bukan bijih biasa, Nak," gumam Tuan Li, suaranya lebih lembut sekarang, diselimuti rasa ingin tahu yang langka. Dia menggeser tangannya, merasakan berat dan densitasnya. "Dinginnya... aneh. Seperti menelan cahaya bulan."
Wei Chen mengangguk cepat. "Saya... saya tidak tahu apa itu, Tuan. Tapi saya butuh uang. Jika Anda bisa membuat pedang darinya, saya bisa menjualnya. Saya harus membayar utang keluarga saya."
Ekspresi Tuan Li tetap datar, namun matanya yang lelah menunjukkan kilatan perhitungan. Dia adalah pandai besi yang pragmatis, dan bijih aneh ini adalah tantangan yang menarik. Dia mengambil bijih itu dari tangan Wei Chen, merasakan tarikan gravitasi yang tak biasa dari massa kecil itu. Beratnya jauh melampaui ukurannya.
"Sederhana katamu?" Tuan Li mendengus, kembali ke tungkunya. "Bijih ini punya karakternya sendiri. Membuat pedang darinya tidak akan sederhana. Tapi... aku tertarik." Dia meletakkan bijih itu di atas landasan tempa, suaranya mantap.
Dia mengambil penjepit panjang, memegang bijih itu dan memindahkannya ke dalam tungku yang menyala-nyala. Api oranye-merah menjilat permukaannya. Wei Chen menyaksikan, napasnya tertahan. Panas yang membakar seharusnya membuat bijih itu memerah, meleleh, namun bijih itu hanya... memantulkan cahaya api.
Menit-menit berlalu. Tuan Li menunggu, memompa bellow, membuat api semakin berkobar. Bijih itu tetap hitam kebiruan, seolah menolak panas. Keringat membasahi dahi Tuan Li, bukan hanya karena panas, tapi karena frustrasi yang tumbuh.
"Belum pernah aku melihat yang seperti ini," Tuan Li menggeram, suaranya dipenuhi campuran kekaguman dan kemarahan. Dia menarik bijih itu keluar, meletakkannya kembali di landasan, dan mengangkat palu besinya tinggi-tinggi. `DANG!`
Suara benturan logam bergema, menusuk telinga Wei Chen. Tapi bijih itu tidak bergerak, tidak penyok, tidak menunjukkan tanda-tanda deformasi. Palu itu sendiri terasa seperti terpental, getarannya membuat lengan Tuan Li bergetar. Tuan Li mencoba lagi, `DANG! DANG!` dengan kekuatan penuh, otot-ototnya menonjol di bawah kulit yang keriput.
Tidak ada efek. Bijih itu tetap utuh, dingin, dan kaku. Tuan Li terengah-engah, meletakkan palu. Matanya menatap bijih itu, lalu ke Wei Chen, dengan ekspresi yang tak terbaca. "Pedang, katamu? Ini bisa jadi pedang yang tak bisa dihancurkan, atau justru tak bisa dibentuk sama sekali." Dia mengusap janggutnya, senyum tipis terukir di bibirnya yang tebal. "Baiklah. Aku akan coba. Tapi jangan harap akan cepat."
---
Berhari-hari berlalu. Wei Chen kembali ke tambang, tetapi setiap malam dia menyelinap ke bengkel Tuan Li, menyaksikan proses aneh yang terjadi. Tuan Li bekerja tanpa lelah, menggunakan teknik yang belum pernah Wei Chen lihat. Dia mencampurkan bubuk mineral langka ke dalam bara api, menciptakan panas yang luar biasa. Dia menggunakan palu yang lebih kecil, yang dia klaim terbuat dari inti meteorit lain yang lebih lunak, untuk memahat dan membentuk bijih itu.
Panas tungku memaksanya berkeringat deras, otot-otot Tuan Li mengejang dengan setiap ayunan. Bijih itu akhirnya mulai merespons, tidak meleleh, tetapi melunak, membiarkan dirinya ditarik dan dibentuk. Prosesnya lambat, menyiksa, dan penuh dengan suara `sreet` gesekan logam yang menusuk dan `dang` benturan palu yang berat. Tuan Li mengumpat, memaki, namun matanya tak pernah lepas dari bilah yang perlahan muncul.
Akhirnya, pada suatu malam, dalam cahaya remang-remang lampu minyak, pedang itu tergeletak di atas meja kerja, sudah selesai. Sebuah pedang Jian sederhana, bilahnya lurus dan ramping, gagangnya dibungkus kulit ikan pari hitam yang kasar. Tidak ada hiasan mewah, tidak ada ukiran naga atau phoenix. Murni dan fungsional.
"Ambil ini," Tuan Li menggeram, suaranya lelah namun ada nada bangga yang tersembunyi. Dia menyeka keringat dari dahinya dengan punggung tangan. "Ini adalah pedang yang aneh, Nak. Dingin saat ditempa, dingin saat disentuh. Beratnya... bukan seperti besi biasa. Ini seperti memegang bagian dari langit itu sendiri."
Wei Chen mendekat, tangannya gemetar saat menjangkau. Jemarinya melingkari gagang pedang. Kulit ikan pari terasa kesat di telapak tangannya. Dia mengangkat pedang itu. Beratnya mengejutkan, jauh lebih berat dari yang terlihat. Otot lengannya menegang. Itu bukan beban yang tak bisa diangkat, tapi beban yang tak terduga, seolah pedang itu sendiri memiliki massa yang lebih padat dari yang seharusnya.
Bilahnya memantulkan cahaya redup, seolah menahan sebagian dari cahaya bulan yang dingin di permukaannya. Tidak ada kilau tajam yang mematikan, hanya pantulan yang tenang. Wei Chen merasakan dingin yang menembus kulitnya, merambat dari gagang ke seluruh lengannya, lalu ke dadanya. Dingin yang sama seperti saat pertama kali dia menyentuh bijih itu.
"Terima kasih, Tuan Li," bisik Wei Chen, suaranya nyaris tak terdengar. Dia meremas gagangnya, merasakan getaran samar, seolah ada sesuatu yang hidup di dalam pedang itu, berdenyut pelan, menunggunya. Pedang ini bukan hanya alat untuk membayar utang, tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang baru dan menakutkan.
---
Saat Wei Chen memegang gagang pedang, sensasi getaran aneh menjalari lengannya. Bukan getaran fisik dari mesin atau benturan, melainkan getaran internal, seperti denyut nadi yang beresonansi dengan tulangnya. Dingin yang menusuk sebelumnya kini terasa sedikit menghangat, namun tetap asing. Itu terasa seperti ada sesuatu yang terbangun di dalam. Sensasi itu mengalir dari telapak tangannya, naik ke pergelangan tangan, lalu menyusuri sarafnya hingga ke bahu.
Kemudian, sebuah suara. Bukan suara yang terdengar di telinganya, melainkan suara yang beresonansi langsung di dalam kepalanya, seperti bisikan tanpa bibir, bahasa tanpa lidah. `Data... terkorupsi...`. Suara itu tanpa emosi, datar, dan mekanis, namun entah bagaimana, mampu memicu rasa panik yang dingin di dada Wei Chen.
Dia mengerjap. Dia menoleh ke belakang, mencari sumber suara. Tuan Li sedang sibuk membersihkan alat-alatnya, punggungnya menghadap Wei Chen, tidak mungkin dia yang bicara. Suasana bengkel tetap sama: bau arang, denting sesekali dari alat-alat yang disimpan, keheningan malam.
`Inang... teridentifikasi.` Bisikan itu datang lagi, lebih jelas, namun tetap terfragmentasi. `Fungsi inti... belum aktif...`
Wei Chen meremas gagang pedang dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdebar, memompa darah dengan kecepatan yang gila. Dia merasa ingin menjatuhkan pedang itu, melarikan diri dari suara asing ini. Apakah dia sudah gila? Apakah kedinginan di tambang dan kelaparan telah merenggut kewarasannya?
Dia memejamkan mata, mencoba mengusir suara itu. Pikiran tentang Mandor Li, utang keluarga, dan kelaparan yang selalu mengintai, memaksa Wei Chen untuk tetap berpegang pada kenyataan. Pedang ini adalah harapannya, seaneh apa pun itu.
`Transmisi... error...` Suara itu terdengar seperti mesin yang rusak, berulang-ulang, namun setiap pengulangan terasa seperti pukulan kecil ke kepalanya. `Unit-Logika-04... aktivasi tertunda...`
Wei Chen membuka matanya. Pedang di tangannya terasa lebih berat, dinginnya semakin dalam, dan getaran di lengannya semakin konstan. Dia bisa merasakan bilah pedang itu berdenyut lembut, seolah ada aliran energi yang tak terlihat mengalir di dalamnya. Dia menatap Tuan Li, yang akhirnya berbalik. Ekspresi lelah di wajah pandai besi itu tidak menunjukkan bahwa dia mendengar apa pun.
"Ada apa, Nak?" Tuan Li bertanya, melihat ekspresi pucat di wajah Wei Chen. "Kau terlihat seperti baru melihat hantu."
Wei Chen menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Tuan Li. Tidak ada apa-apa. Saya... hanya kelelahan. Terima kasih sekali lagi. Saya akan pergi sekarang."
---
Wei Chen melangkah keluar dari bengkel, udara malam yang dingin terasa seperti tamparan di wajahnya. Dia menyarungkan pedang itu di punggungnya, menggunakan tali kulit yang kusam. Beratnya terasa menekan, seolah benda itu menariknya ke bawah. Setiap langkah yang dia ambil di jalanan desa yang gelap terasa berat, bukan hanya karena kelelahan fisik, tapi juga karena beban pikiran yang kacau. Bisikan-bisikan aneh itu masih bergema samar di benaknya, sebuah melodi yang tidak dia inginkan.
Rumah kumuhnya, sebuah gubuk reyot yang nyaris roboh, menyambutnya dengan kegelapan dan kesunyian. Tidak ada lilin yang menyala, tidak ada api di perapian. Aroma apek dan debu menyambutnya. Dia melemparkan jubahnya ke sudut, meletakkan pedang itu di sampingnya. Lalu dia berbaring di atas tikar jerami yang tipis, berusaha keras untuk menenangkan detak jantungnya yang masih memburu. Matanya menatap ke langit-langit yang bocor, pikirannya berputar-putar tak karuan.
Pedang itu. Pedang itu bukan sekadar besi. Itu sudah jelas. Dingin yang hidup, berat yang tak wajar, bisikan-bisikan asing di kepalanya. Semua itu adalah bukti nyata bahwa dia telah membawa pulang sesuatu yang jauh melampaui bijih biasa. Ketakutan merayap naik, dingin dan mematikan, tetapi di bawahnya ada intrik yang aneh, rasa ingin tahu yang tak bisa dia sangkal.
Dia meraih pedang itu lagi, mengusap bilahnya yang dingin dengan ibu jarinya. Permukaannya terasa halus, nyaris seperti kaca, namun ada pola gelombang air yang samar terukir di sana, memantulkan cahaya bulan yang menembus celah atap. Dia mendekatkan telinganya ke bilah. Tidak ada suara.
Namun, sensasi itu kembali. Sebuah denyutan lembut, sebuah ritme asing yang memancar dari dalam pedang itu. Seperti detak jantung yang sangat pelan, sangat dalam, beresonansi langsung di tubuhnya, bukan di telinganya. Denyutan itu terasa seperti energi yang bergerak, perlahan-lahan menyebar dari bilah ke gagang, lalu ke tangannya.
Wei Chen menatap bilah pedang di kegelapan. Sebuah cahaya biru redup mulai berpendar dari permukaan pedang itu, sebuah cahaya yang sangat samar namun tak terbantahkan, seperti bintang yang terkunci di dalam logam. Cahaya itu berdenyut, mengikuti irama yang dia rasakan. Lalu, suara itu kembali, jernih dan tak berperasaan, seperti gema dari jurang yang tak berdasar, mengisi kehampaan di benaknya.
`Parameter inang biologis: kelemahan ekstrem. Prognosis: tidak efisien.`