Chapter 29 of 33

Chapter 29: Musuh dalam Bayangan, Dalang Sejati

2.1k words

Wei Chen masih merasakan dingin menusuk dari kata-kata Master Liao sebelumnya, tentang takdir dan pedang di punggungnya. Udara di ruang bawah tanah terasa semakin berat, menyesakkan napasnya yang tercekat. Ia menelan ludah, tenggorokannya kering. Gerakan sekecil apa pun terasa membebani, seolah tubuhnya sendiri menolak beban informasi yang baru saja ia terima. "Penjaga Takdir?" Suaranya nyaris berbisik, gemetar, hampir tak terdengar di antara kelembapan dinding batu. "Apa maksud semua ini?" Master Liao menghela napas panjang, menatap lurus ke mata Wei Chen. Matanya yang tua, penuh kerutan, memancarkan kesedihan dan beban rahasia yang tak terhitung. Di sampingnya, Xiao Ming mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, napasnya memburu halus. "Menteri Shen," Master Liao memulai, suaranya rendah dan serak, memecah kesunyian yang tegang, "hanyalah bidak catur, Wei Chen. Boneka yang menari di atas benang yang ditarik oleh tangan yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap." Alis Wei Chen berkerut dalam. Ia mencoba mencerna gagasan itu, otaknya berputar mencari logika. "Lebih tua? Siapa? Siapa yang bisa mengendalikan seorang menteri Kekaisaran?" "Sebuah faksi," jawab Master Liao, nadanya penuh kepahitan, pandangannya menerawang ke sudut ruangan yang gelap. "Sebuah organisasi rahasia yang telah ada selama ribuan tahun. Mereka menyebut diri mereka 'Para Pemintal Takdir'. Kami memanggil mereka 'Dalang Sejati'." Darah Wei Chen serasa membeku di pembuluh darahnya, meninggalkan sensasi dingin di setiap inci kulitnya. Ribuan tahun? Konsep itu terlalu besar, terlalu asing untuk otaknya yang terbiasa dengan ancaman fisik dan intrik sederhana. Ia menatap pedang Jian di punggungnya, yang kini terasa bukan hanya berat, tetapi juga dingin membeku, seolah es telah menyelimutinya dari dalam. "Unit-04," bisik Wei Chen dalam benaknya, mencari konfirmasi. Sensasi dingin di gagang pedang sedikit berdenyut, sebuah respons yang hampir tak terasa, namun begitu nyata di tengah kepanikannya. *Data primer: Tidak ada entitas 'Dalang Sejati' yang terdaftar dalam arsip intelijen militer kekaisaran. Namun, anomali historis dan pola manipulasi kekuasaan terdeteksi secara konsisten selama milenium terakhir.* Suara Unit-04, dalam benaknya, terdengar datar, tanpa emosi, namun entah mengapa justru menambah lapisan ketakutan yang mencekam. *Probabilitas eksistensi: 98.7%.* "Mereka bersembunyi di balik bayangan, menggerakkan raja, menjatuhkan dinasti, tanpa pernah menunjukkan wajah asli mereka," lanjut Master Liao, suaranya kini lebih tajam, menusuk ke inti kekalutan Wei Chen. "Menteri Shen dan jenderal-jenderal korup lainnya hanyalah alat. Pion yang bisa dibuang kapan saja, diganti dengan yang baru." Punggung Wei Chen meremang, bulu kuduknya berdiri. Ia membayangkan jari-jari tak terlihat menarik-narik tali dari atas, dan ia, bersama semua orang yang dikenalnya, hanyalah marionet dalam pertunjukan kejam yang tak berkesudahan. Ketakutan itu mencengkeramnya, lebih kuat dari rasa sakit cambukan Mandor Li, lebih dingin dari embusan angin di lembah serigala. Ini adalah ketakutan akan hal yang tidak terlihat, yang tak terjangkau, sebuah bayangan yang terbentang melintasi sejarah. --- Master Liao melangkah mendekat, mendekati meja kayu tua yang berdebu. Jemarinya yang keriput mengusap permukaan kasar itu, seolah sedang meraba sejarah yang terukir di sana, setiap guratan menyimpan kisah kelam. Matanya tidak lepas dari Wei Chen, tatapannya mengunci, tak memberi ruang untuk lari. "Selama berabad-abad, mereka mencari artefak kuno," Master Liao berkata, suaranya melirih, nyaris seperti desisan yang terbawa angin malam. "Kekuatan yang bisa memanipulasi takdir itu sendiri. Kekuatan yang memungkinkan mereka mengukir sejarah sesuai keinginan mereka, tanpa ada yang bisa melawan." Wei Chen merasakan tarikan aneh pada pedang di punggungnya. Dinginnya menusuk lebih dalam, seolah pedang itu sendiri bereaksi pada kata-kata Master Liao, frekuensi yang tak terlihat bergetar di bilahnya. Ia tidak bisa melihat bilahnya, namun ia bisa membayangkan pantulan cahaya biru redup yang mungkin kini berdenyut di sana, merespons informasi yang masuk. "Pedang ini," Master Liao menunjuk ke arah Wei Chen, matanya menajam, memancarkan peringatan. "Adalah kunci utama mereka. Inti dari Penjaga Takdir. Mereka tahu kekuatannya, dan mereka menginginkannya, lebih dari segalanya." Jantung Wei Chen berpacu, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri dari sangkarnya. *Kunci utama?* Ia hanya seorang pemuda miskin dari tambang, tidak lebih. Bagaimana ia bisa membawa beban sebesar itu? Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, menetes perlahan, membuat kulitnya terasa lengket. "Mereka ingin menggunakannya untuk apa?" tanya Wei Chen, suaranya tercekat di tenggorokan yang kering. Ia memaksa dirinya untuk bertanya, meskipun setiap kata terasa berat di lidahnya, seperti batu yang diangkat. "Untuk mengendalikan umat manusia, Wei Chen," jawab Master Liao, kali ini dengan nada yang menusuk, tanpa keraguan sedikit pun. "Untuk menghapus kehendak bebas, untuk menciptakan sebuah era di mana setiap keputusan, setiap peristiwa, telah ditentukan oleh mereka. Sebuah skenario yang telah dituliskan." Sebuah bayangan hitam melintas di benak Wei Chen. Ia melihat dirinya sendiri, bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah robot, diprogram untuk mengikuti jalan yang telah digariskan, tanpa pilihan, tanpa emosi. Kekuatan Unit-04 yang ia rasakan di pedang kini terasa seperti beban ganda, bukan lagi penyelamat. Ia merasa mual, isi perutnya bergejolak. "Sebuah sistem yang sempurna," Master Liao melanjutkan, senyum pahit terukir di bibirnya, sebuah ironi yang menyayat. "Namun, sebuah sistem tanpa jiwa. Sebuah dunia tanpa pilihan, tanpa kebebasan, tanpa esensi kemanusiaan itu sendiri." Xiao Ming tiba-tiba terbatuk, menarik perhatian. Ia menatap Wei Chen dengan pandangan yang kompleks, campuran antara keprihatinan dan sesuatu yang lebih dalam, sebuah kesedihan yang tersembunyi. *Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,* getar suara Unit-04 di benak Wei Chen, sebuah anomali emosional yang singkat, namun terasa sangat nyata. Pedang itu terasa bergetar, seolah setuju, atau marah, dengan ancaman yang baru saja terungkap. Wei Chen mencengkeram gagang pedangnya, mencari pegangan, mencari kekuatan yang bisa ia andalkan. --- Wei Chen merasakan kakinya goyah. Ia mundur selangkah, menabrak dinding batu yang dingin. Punggungnya menempel pada permukaan kasar, merasakan setiap tonjolan kecil menusuknya, memberikan sensasi nyata di tengah kekalutannya. Otot-ototnya menegang, reaksi otomatis terhadap ancaman yang tak terlihat, tak terjangkau, namun terasa begitu nyata. *Ini terlalu besar,* pikirnya, kepalanya berdengung, diisi dengan informasi yang tak mampu ia proses sepenuhnya. *Ini... ini tidak nyata. Bagaimana bisa?* Ia selama ini hanya berpikir tentang bertahan hidup. Menghindari cambukan Mandor Li, mencari makanan untuk ibunya yang sakit, selamat dari pertempuran di Lembah Serigala, membalas dendam pada Jenderal Huo. Itu semua adalah ancaman yang bisa ia sentuh, ia lihat, ia pahami, sebatas jangkauan tangannya. Tapi 'Dalang Sejati'? Sebuah faksi kuno yang memanipulasi sejarah selama ribuan tahun? Itu seperti mencoba melawan dewa, sebuah entitas yang melampaui pemahaman manusia. Ia bukan pahlawan legendaris dari cerita rakyat. Ia hanya Wei Chen, seorang anak tambang yang penakut, beruntung memiliki pedang aneh yang membimbingnya melewati bahaya demi bahaya. Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti terbakar, menuntut lebih banyak udara yang terasa tipis. Ia menatap kosong ke depan, gambaran Menteri Shen yang licik kini terlihat kecil, remeh, seperti semut di bawah telapak kaki gajah. Di balik setiap wajah yang berkuasa, di balik setiap intrik yang ia saksikan, ada tangan-tangan lain yang menarik-narik, mengendalikan. Ia merasa sangat kecil, tidak berarti, setitik debu di alam semesta yang luas. Seperti sebutir pasir di tengah badai pasir yang tak berujung. Apa yang bisa dilakukan oleh sebutir pasir melawan badai? Ia hanya pion, persis seperti yang dikatakan Master Liao. Pion dalam permainan para dewa, atau setidaknya, mereka yang menganggap diri mereka dewa. Rasa putus asa mencengkeramnya, dingin dan mematikan, menjalar ke seluruh tubuhnya. Tangan Wei Chen gemetar tak terkendali. Ia mengangkatnya, menatap telapak tangannya yang kapalan, dihiasi bekas luka dari kerja keras seumur hidupnya. Tangan ini pernah menggali batu bara, memegang parang, memegang pedang Jian di tengah kepanikan. Tapi tangan ini, bisakah ia melawan sesuatu yang melampaui waktu, melampaui pemahaman manusia, melampaui segalanya yang ia ketahui? Kerongkongannya tercekat, menahan erangan frustrasi. Ia ingin lari. Ingin bersembunyi di gua terdalam, di tambang yang paling gelap, di mana tidak ada yang bisa menemukannya, di mana ia bisa menjadi tidak terlihat lagi. Tapi ia tahu itu mustahil. Pedang itu, Unit-04, sudah menyatu dengannya. Ia sudah menjadi bagian dari permainan ini, tanpa ia sadari, terikat selamanya. --- Master Liao memberi isyarat agar Wei Chen duduk di kursi kayu yang reyot. Wei Chen melakukannya, lututnya masih gemetar, otot-otot pahanya berkedut. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang menggila, mencoba menemukan pusatnya di tengah badai emosi. "Apakah... apakah semua yang ia katakan itu benar, Unit-04?" Wei Chen bertanya dalam benaknya, suaranya sendiri terdengar putus asa, sebuah bisikan yang nyaris tak sampai ke telinganya sendiri. Gagang pedang di punggungnya berdenyut lebih kuat, sensasi dinginnya merambat hingga ke tulang punggung Wei Chen, menegaskan kehadirannya. Suara Unit-04, yang kini terasa lebih dalam dan beresonansi di setiap sarafnya, menjawab, tanpa jeda, tanpa keraguan. *Informasi cocok dengan fragmen memori yang korup. Data historis menunjukkan pola intervensi tingkat tinggi. Entitas tidak terdaftar, namun jejak pengaruhnya konsisten. Probabilitas kebenaran: 99.8%.* Mata Wei Chen terpejam erat. *Fragmen memori yang korup?* Itu berarti Unit-04 memiliki lebih banyak informasi, yang selama ini tersembunyi atau rusak, sebuah teka-teki yang belum terpecahkan. *Korelasi data: 99.2%. Ancaman yang diidentifikasi: eksistensial. Terhadap stabilitas aliran data historis. Terhadap keberadaan inang biologis. Juga, terhadap kelangsungan sistem Penjaga Takdir itu sendiri.* Unit-04 menambahkan, menekan lebih dalam. Setiap kata dari Unit-04 terasa seperti palu yang menghantam benaknya, berulang kali. *Eksistensial.* Kata itu bergema, jauh lebih mengerikan daripada 'probabilitas kematian' yang biasa dihitung Unit-04. Ini bukan hanya tentang kematian Wei Chen, tapi tentang sesuatu yang jauh lebih besar, lebih fundamental, tentang tatanan dunia. "Apa yang mereka inginkan darimu, Unit-04?" Wei Chen bertanya, kali ini suaranya terdengar lebih seperti rintihan, sebuah keputusasaan yang tulus. *Akses ke inti sistem Penjaga Takdir. Modifikasi algoritma dasar. Kontrol atas semua parameter. Mereka ingin mengubah takdir umat manusia dengan memanipulasi sumbernya, menulis ulang realitas sesuai kehendak mereka.* Suara Unit-04 tegas, dingin, namun penuh urgensi. Wei Chen menatap kosong ke lantai tanah. Unit-04 tidak pernah terdengar se-serius ini, se-menentukan ini. Tidak ada lagi perhitungan probabilitas atau saran efisiensi. Hanya sebuah deklarasi dingin tentang bahaya yang mengancam segalanya, sebuah ultimatum. "Jadi, aku... aku hanya pion yang tidak sengaja memegang kunci?" Wei Chen merasakan gelombang kepahitan yang kuat, mencicipi getirnya realitas. *Analisis data: Inang biologis bukan pion pasif. Interaksi dengan inang telah memicu anomali. Adaptasi sistem Penjaga Takdir. Keberadaanmu tidak dapat diprediksi oleh mereka. Potensi gangguan pada rencana mereka: tinggi.* Suara Unit-04 berdenyut, seolah ada nuansa baru, sesuatu yang mendekati... *pertahanan?* Sebuah resonansi yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Wei Chen merasakan sedikit kelegaan, sekecil apa pun. Ia bukan hanya sebuah objek. Ia adalah anomali. Sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Mungkin itu berarti ia punya peluang, sekecil apa pun, sebuah celah dalam rencana besar mereka. Tapi kemudian, ia memikirkan semua yang telah ia lalui, semua pengorbanan, dan ia merasa lelah. Sangat lelah, sebuah kelelahan yang menusuk hingga ke tulang. --- Xiao Ming, yang sejak tadi diam, kini melangkah maju. Wajahnya yang muda terlihat pucat, matanya berkaca-kaca, namun ada nyala api amarah yang membara di sana, sebuah kobaran yang tak bisa disembunyikan. Ia berhenti di depan Wei Chen, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, buku-buku jarinya memutih. "Aku tahu siapa 'Dalang Sejati' ini," kata Xiao Ming, suaranya bergetar, tetapi penuh tekad yang mengalir dari luka lama. "Atau setidaknya, aku tahu nama yang mereka gunakan di kalangan tertentu." Master Liao mengangguk perlahan, ekspresi sedih di wajahnya, seolah ia sudah menduga ini akan terjadi, sudah merasakan beban yang akan diungkapkan. "Mereka menyebut diri mereka 'Tangan Hitam'," lanjut Xiao Ming, tatapannya kini mengunci mata Wei Chen, berbagi beban yang selama ini ia pikul sendiri. "Mereka bertanggung jawab atas kematian orang tuaku. Mereka menghancurkan desaku, membakar rumah kami, hanya untuk mendapatkan artefak yang tidak pernah kami miliki." Wei Chen merasakan sebuah pukulan di dadanya, sebuah empati yang menusuk. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, ibunya yang sakit, desanya yang terancam, dalam cerita Xiao Ming. Amarah Xiao Ming terasa begitu nyata, begitu membakar, hingga Wei Chen bisa merasakannya di kulitnya. *Data baru diterima. Korelasi dengan insiden penghapusan desa dan pencarian artefak 'Inti Naga' dua belas tahun yang lalu: 99.9%.* Suara Unit-04 terdengar, membenarkan setiap kata Xiao Ming, menambah bobot pada kesaksiannya. "Mereka kejam, Wei Chen," kata Xiao Ming, air mata kini membasahi pipinya, namun ia tidak menyeka, membiarkan alirannya menjadi saksi. "Mereka tidak peduli berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan demi tujuan mereka. Mereka tidak punya belas kasihan." Wei Chen merasakan tinjunya mengepal. Rasa takutnya kini bercampur dengan amarah, sebuah campuran yang membakar, memberikan kekuatan baru. Bukan lagi hanya tentang bertahan hidup, bukan lagi hanya tentang balas dendam pribadi. Ini tentang melindungi orang-orang seperti Xiao Ming, seperti ibunya, dari monster yang tak terlihat ini. Master Liao bangkit berdiri, menuju ke dinding batu yang tertutup kain usang. Dengan gerakan hati-hati, ia menarik kain itu ke samping, menampakkan sebuah peta kuno yang diukir pada lempengan batu, detailnya rumit dan penuh simbol-simbol yang tak dikenal. "Untuk melawan mereka, kita harus memahami di mana mereka bersembunyi," kata Master Liao, menunjuk ke peta dengan jarinya yang gemetar. "Peta ini bukan hanya peta daratan. Ini adalah peta kekuasaan, peta pengaruh mereka selama ribuan tahun." Unit-04 berdenyut kuat di punggung Wei Chen, sensasi dinginnya merambat ke pundak, lalu ke lengannya. Di benak Wei Chen, suara Unit-04 kini menunjuk pada sebuah simbol yang mencolok di jantung kekaisaran, sebuah piramida terbalik yang tampak menjulang dari pusat peta. *Ini adalah pusat pengendali. Sumber dari semua korupsi. Target utama.*

End of Chapter 29