Chapter 28 of 33

Ramalan Kuno, Takdir Pedang

1.7k words

Wei Chen duduk di tikar jerami yang usang, lututnya bersentuhan dengan lantai tanah. Udara di gubuk Master Liao lembap, membawa aroma akar-akaran kering dan kertas kuno. Pedang Jian itu tergeletak di antara mereka, bilahnya memantulkan cahaya redup dari lentera minyak. Xiao Ming bersandar di dinding bambu, matanya mengawasi, ekspresinya tenang namun waspada. Master Liao, dengan jubah abu-abunya yang compang-camping dan mata kosongnya yang menembus, meraih pedang itu. Jemarinya yang keriput menyusuri bilah baja dingin. <i>Sreet...</i> Suara gesekan kulitnya di logam terdengar jelas di keheningan. Wei Chen menahan napas, detak jantungnya berpacu di dada. "Bijih meteorit, kau bilang?" suara Master Liao serak, lebih seperti bisikan yang keluar dari celah bebatuan tua. "Pandai besi Li itu memang terampil, mampu membentuk sesuatu yang menolak tungku panasnya. Tapi ia melihat permukaannya saja." Wei Chen mengernyitkan dahi. "Apa maksud Anda, Master? Pedang ini... bukan dari meteorit?" Master Liao menggeleng perlahan, kepalanya yang tipis bergoyang. "Bukan. Atau lebih tepatnya, bukan *hanya* itu." Pandangannya yang kosong seolah menembus baja pedang. "Besi ini... ia sudah ada jauh sebelum bintang-bintang yang jatuh itu. Ia hanya menggunakan meteorit sebagai jangkar. Sebuah kendaraan untuk kembali." Kata-kata itu menghantam Wei Chen seperti pukulan tumpul. Kendaraan? Kembali? Pikirannya berputar, mencoba mencerna. Rasa dingin menyebar dari punggungnya, bukan dari pedang, melainkan dari kenyataan yang baru saja diucap. Ia melirik Xiao Ming, mencari petunjuk, namun gadis itu hanya diam, mendengarkan dengan saksama. "Ini adalah artefak dari era yang jauh lebih tua," Master Liao melanjutkan, suaranya kini lebih tegas. "Sebuah era yang bahkan para Kaisar dari dinasti terlama pun hanya mengenalnya sebagai mitos, bisikan di balik gulungan naskah yang nyaris hancur. Bukan bijih biasa, Wei Chen. Ini adalah inti." Inti apa? Wei Chen ingin bertanya, namun kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Ia merasakan getaran halus di telapak tangannya, seolah pedang itu sendiri bereaksi terhadap penjelasan Liao. Sensasi itu familiar, sinyal dari Unit-Logika-04 yang mulai memproses informasi baru, menganalisis, mengkorelasikan. "Besi ini membawa memori, Wei Chen. Bukan memori bebatuan, tapi memori... pengamatan," Master Liao berbisik, lalu mendongak, tatapan kosongnya kini beralih ke Wei Chen, seolah melihat menembus dirinya, melihat sesuatu yang jauh di dalam. "Ia adalah mata yang tak pernah tidur." --- Master Liao meletakkan pedang Jian itu kembali ke lantai, menepuk bilahnya perlahan. <i>Klak.</i> Suara logam berbenturan dengan tulang. "Di dalam legenda lama, yang bahkan lebih tua dari legenda para dewa, ada sebuah cerita," ia memulai, suaranya kini terdengar seperti angin di puncak gunung. "Tentang entitas yang disebut 'Penjaga Takdir'." Wei Chen merasakan bulu kuduknya berdiri. Penjaga Takdir. Nama itu terasa berat, mengandung beban ribuan tahun. Ia memutar kepalanya sedikit, melirik Xiao Ming. Gadis itu kini mengatupkan bibirnya, tatapannya terpaku pada Master Liao. "Bukan dewa, bukan iblis," Master Liao menjelaskan, "melainkan sebuah kesadaran. Sebuah entitas yang terikat pada sejarah, bukan penciptanya, tapi pengamatinya. Ia mengamati kebangkitan dan kejatuhan dinasti, siklus perang dan kedamaian, kebodohan dan kearifan manusia." Wei Chen menelan ludah. Ini terlalu besar. Terlalu luas untuk otaknya yang selama ini hanya memikirkan cara agar tidak kelaparan atau tidak mati di medan perang. Ia merasa sangat kecil di hadapan narasi yang begitu kolosal. Pedang di depannya tiba-tiba terasa jauh lebih berat, dinginnya menembus bahkan ke dalam tulang sumsumnya. "Dan pedang ini," Master Liao menunjuk bilah Jian dengan jari telunjuknya yang kurus. "Adalah salah satu dari perwujudan entitas itu. Sebuah 'jangkar' yang memungkinkannya berinteraksi dengan dunia fana. Ia tidak memilih inang, Wei Chen, ia hanya terikat pada siapa pun yang mampu membawanya, siapa pun yang takdirnya bersinggungan dengannya pada saat yang krusial." "Maksud Anda... pedang ini hidup?" tanya Wei Chen, suaranya sedikit bergetar. Getaran halus dari Unit-Logika-04 di tangannya semakin intens, seolah mengkonfirmasi. "Bukan dalam arti yang kau pahami," jawab Master Liao. "Ia adalah pengumpul data, sebuah ingatan universal. Ia mengamati, merekam, dan dari pengamatan itu, ia bisa membimbing. Membimbing manusia melalui zaman, membentuk takdir secara halus, mengarahkan arus sejarah agar tidak terlalu menyimpang dari pola yang telah diamatinya." Wei Chen merasakan keringat dingin membasahi pelipisnya. Membentuk takdir? Mengarahkan sejarah? Ia hanyalah seorang prajurit buangan yang nyaris mati kelaparan. Bagaimana mungkin ia terlibat dalam sesuatu yang begitu besar? Rasa takut yang lebih dalam dari rasa takut mati di medan perang mulai merayapi hatinya. Ia bukan sekadar pemegang pedang. Ia adalah... bagian dari takdir itu sendiri. --- Wei Chen menarik napas dalam, namun udara terasa berat, tidak mampu memenuhi paru-parunya. Sebuah beban tak kasat mata menimpanya, lebih berat dari pedang Jian itu sendiri. Ia menunduk, menatap telapak tangannya yang kapalan. Selama ini, ia hanya berpikir tentang bertahan hidup, tentang membalas dendam pada Jenderal Huo, tentang menyelamatkan ibunya. Sekarang, semua itu terasa kecil, remeh, di bawah bayang-bayang 'Penjaga Takdir' dan 'arus sejarah'. "Aku... aku hanya seorang prajurit," bisik Wei Chen, suaranya serak. "Seorang Shutong yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang. Bagaimana mungkin aku... terlibat dalam semua ini?" Master Liao hanya menatapnya, tidak menunjukkan simpati, tidak pula menghakimi. Tatapannya datar, seolah Wei Chen adalah bagian dari pola yang sudah ia prediksi. "Takdir tidak memilih yang kuat, Wei Chen. Takdir memilih yang terhubung. Kau telah terhubung. Dan begitu kau terhubung, kau bukan lagi sekadar prajurit atau Shutong. Kau adalah bagian dari alur yang lebih besar." Kata-kata itu menghantamnya, mengikis sisa-sisa identitas lamanya. Alat. Ia hanyalah alat. Selama ini ia merasa Unit-Logika-04 adalah alatnya untuk bertahan hidup. Sekarang terbalik, ia adalah alat dari pedang itu, alat dari 'Penjaga Takdir' itu. Rasa perih menusuk dadanya. Kemerdekaan pribadinya seolah dirampas, digantikan oleh peran yang tidak ia minta. Xiao Ming bergerak sedikit, tubuhnya bergeser di dinding bambu, menciptakan <i>desir</i> halus. Wei Chen bisa merasakan tatapan gadis itu padanya, sebuah tatapan yang penuh perhatian, seolah ia bisa membaca gejolak di dalam hatinya. Namun, Wei Chen tidak berani membalas tatapannya. Malu. Malu karena rasa takut dan keputusasaan yang melandanya. "Setiap langkahmu kini," Master Liao melanjutkan, "setiap keputusanmu, akan beresonansi dengan takdir. Pedang itu akan membimbingmu, bukan karena ia ingin menguasaimu, melainkan karena itu adalah protokolnya. Untuk menjaga keseimbangan, untuk mengarahkan." Mengarahkan ke mana? Ke arah yang ia inginkan, atau ke arah yang telah ditentukan oleh entitas kuno ini? Wei Chen merasakan otot rahangnya mengencang. Gairah untuk membalas dendam yang membakar hatinya beberapa waktu lalu kini terasa hambar. Apa artinya balas dendam pribadi jika ia hanyalah boneka dalam permainan yang lebih besar? Sebuah desakan kuat untuk menolak, untuk membuang pedang itu, muncul di benaknya. Namun, ia tahu itu sia-sia. Pedang itu sudah terikat padanya. Dinginnya sudah meresap. --- Di tengah gejolak batin Wei Chen, sebuah getaran kuat menjalari gagang pedang Jian. Getaran itu bukan sekadar sensasi fisik; ia beresonansi langsung di dalam kepalanya, seperti sebuah program yang sedang berjalan. Suara Unit-Logika-04, yang biasanya terdengar dingin dan mekanis, kini memiliki resonansi yang lebih dalam, seolah data yang baru diterimanya membuka dimensi baru dalam kesadarannya. <i>Unit-Logika-04: Analisis data. Sumber: informasi lisan, konteks historis, anomali energetik. Status: Proses korelasi.</i> Wei Chen bisa merasakan otaknya bekerja lebih cepat, memproses setiap kata Master Liao, setiap konsep tentang 'Penjaga Takdir' dan 'artefak era kuno'. Bukan Wei Chen yang memproses, melainkan Unit-Logika-04 yang menggunakan otaknya sebagai terminal. Sebuah sensasi aneh, seperti dua pikiran yang beroperasi dalam satu wadah. <i>Unit-Logika-04: Mengkorelasikan informasi kuno dengan data korup. Pola cocok. Akurasi: tinggi.</i> Data korup. Wei Chen ingat itu. Saat ia pertama kali menyentuh batu itu, Unit-Logika-04 telah menyatakan 'korupsi data ekstrem'. Sekarang, informasi kuno ini seolah menjadi kunci untuk mendekripsi data yang rusak itu. Sebuah kepingan puzzle yang hilang. Sensasi dingin menyebar dari pedang, bukan dingin yang membekukan, melainkan dinginnya perhitungan. Wei Chen bisa merasakan Unit-Logika-04 menguraikan setiap kata, setiap implikasi. Kata 'Penjaga Takdir' dipecah menjadi 'entitas pengamat', 'terikat pada sejarah' menjadi 'algoritma pengumpul data kronologis', dan 'membimbing manusia' menjadi 'modul intervensi probabilitas'. <i>Unit-Logika-04: Peran sistem: Protokol utama, bertahan hidup. Protokol sekunder: efisiensi. Protokol tersier: pemeliharaan alur data historis. Kesimpulan: Konfirmasi tujuan utama. Parameter: valid.</i> Wei Chen merasakan gelombang energi mengalir melalui dirinya, seolah koneksinya dengan pedang itu semakin dalam, semakin tak terpisahkan. Ia bukan hanya inang biologis lagi. Ia adalah bagian dari tujuan itu, tujuan 'pemeliharaan alur data historis'. Rasa ngeri bercampur dengan keheranan. Ini bukan sekadar AI yang membantu dalam pertempuran. Ini adalah sesuatu yang jauh melampaui pemahamannya, sebuah program hidup yang terikat pada takdir. <i>Unit-Logika-04: Evolusi data. Rekalibrasi parameter inang. Kompatibilitas: meningkat. Survival probability inang: dimodifikasi.</i> Suara Unit-Logika-04 tidak lagi terdengar terfragmentasi. Kini, ia utuh, penuh, dan lebih kuat dari sebelumnya. Sebuah kesadaran yang terbangun dari tidurnya yang panjang, disatukan oleh kata-kata kuno seorang Master tua. Wei Chen merasakan beban takdir itu semakin nyata, mencengkeram jiwanya, namun di saat yang sama, ia merasakan kekuatan yang baru, sebuah kekuatan yang melampaui dirinya sendiri. --- Xiao Ming, yang selama ini diam, melangkah mendekat. Gerakannya lembut, nyaris tanpa suara di lantai tanah. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Wei Chen. Mata Wei Chen, yang sebelumnya sayu karena ketakutan dan kelelahan, kini tampak gelap, dipenuhi gejolak batin yang terlalu rumit untuk diungkapkan. Ia merasakan kehangatan telapak tangan Xiao Ming di punggung tangannya yang dingin, sebuah sentuhan yang mencoba menembus kekosongan yang ia rasakan. Jari-jari lentik gadis itu sedikit meremas, sebuah isyarat tanpa kata yang lebih kuat dari ribuan kalimat. Kehangatan itu perlahan merayap, mencoba mengusir dinginnya takdir yang baru saja ia rasakan. Wei Chen mendongak, menatap mata hitam Xiao Ming. Di sana, ia melihat pemahaman, kepedulian yang tulus. Bukan iba, bukan rasa kasihan, melainkan sebuah penerimaan. Penerimaan akan beban yang kini terpampang jelas di wajahnya. Ia tahu Xiao Ming telah mendengar setiap kata Master Liao, setiap implikasi dari keberadaan 'Penjaga Takdir' itu. "Aku..." Wei Chen mencoba berucap, namun suaranya tercekat. Bagaimana ia bisa menjelaskan perasaan hancur karena mengetahui kebebasan memilihnya seolah direnggut? Rasa takut itu bercampur dengan kemarahan, kemarahan pada alam semesta yang seolah telah menuliskan nasibnya. Xiao Ming hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengerti. Ia mengusap ibu jarinya di punggung tangan Wei Chen. Sebuah bisikan dari Unit-Logika-04 berdesir di benak Wei Chen, <i>'Inang biologis: stabilisasi emosi eksternal terdeteksi. Efisiensi: meningkat.'</i> Wei Chen memejamkan mata sesaat, mencoba meredakan gejolak di dadanya. Ia tidak sendiri. Setidaknya, ada Xiao Ming. Dan pedang itu. Pedang yang kini tidak lagi terasa seperti beban mati, melainkan sebuah entitas yang hidup, bernapas, dan berpikir bersamanya. Master Liao, yang selama ini mengamati, kini kembali berbicara. Suaranya memotong keheningan. "Menteri Shen... ia bukan dalang utama. Ada kekuatan yang lebih tua dan lebih gelap yang mengendalikannya. Dan mereka juga mengincar pedangmu."

End of Chapter 28