Chapter 27 of 33

Persembunyian Rahasia, Jaringan Malam

1.6k words

Udara malam menampar wajah Wei Chen, dingin dan lembap, membawa bau tanah basah yang bercampur anyir samar dari sungai di kejauhan. Kakinya melangkah hati-hati melewati bebatuan licin, matanya menyapu kegelapan di antara reruntuhan kuil terbengkalai. Jimat giok yang diberikan Xiao Ming terasa sejuk di genggamannya, permukaannya halus, dengan ukiran awan yang rumit. Tidak ada cahaya, hanya bulan sabit yang menipis mengintip dari balik awan tipis, sesekali menerangi jalan setapak yang nyaris tak terlihat. Detak jantungnya berdebar, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga ketegangan yang merayap di setiap sarafnya. Unit-04 mengirimkan data. _"Inang biologis: detak jantung 98 bpm. Fluktuasi suhu tubuh: normal. Probabilitas deteksi musuh di sektor ini: 0.001%."_ Wei Chen mengabaikan angka-angka itu. Ia lebih peduli pada sensasi di ujung jarinya. Jimat itu, entah bagaimana, terasa hidup. Semakin jauh ia masuk ke dalam labirin semak belukar dan sisa-sisa tembok batu yang runtuh, giok itu mulai memancarkan denyutan hangat yang samar. _"Sumber energi: non-standar. Komposisi material: tidak diketahui. Emisi gelombang mikro: terdeteksi. Frekuensi: 7.2 GHz."_ Sensasi hangat itu merayap naik ke lengannya, seperti urat nadi kedua yang berdenyut pelan. Wei Chen mempercepat langkah. Matanya menatap bayangan yang menari di antara pilar-pilar batu yang patah. Ia harus menemukan apa pun yang ditunjuk oleh jimat ini. Rasa gatal dari luka di bahunya masih terasa perih, pengingat dari pelarian kemarin. Ia berhenti di depan dinding batu yang ditutupi lumut tebal, tidak lebih dari tumpukan puing. Jimat giok di tangannya berdenyut semakin kuat, memancarkan cahaya biru kehijauan yang redup, persis seperti warna bilah pedang Jian miliknya saat aktif. Cahaya itu menari di permukaan batu, menyoroti retakan-retakan kecil yang tak terlihat sebelumnya. _"Analisis: Dinding ini bukan struktur alami. Ada pola anomali dalam susunan batu. Probabilitas adanya mekanisme tersembunyi: 97%."_ Wei Chen menyentuh area yang ditunjuk oleh jimat itu. Lumutnya terasa lembap dan dingin. Ia mendorong. Tidak ada yang terjadi. Ia mencoba menekan, menggeser. Tangannya bergerak, mengikuti insting. Jemarinya meraba celah kecil yang disembunyikan oleh lumut tebal. Di sanalah, sebuah tombol batu yang hampir tak terlihat. Ia menekannya. _Sreek!_ Sebuah gesekan pelan, berat, menggerus keheningan malam. Retakan di dinding melebar. Sebuah segmen dinding, yang tadinya tampak padat, mulai bergeser ke samping, menampakkan celah sempit yang gelap pekat. Udara dingin yang lembap keluar dari sana, membawa aroma tanah dan sesuatu yang lain, sesuatu yang tua dan tertutup. Wei Chen ragu, tetapi jimat di tangannya seolah menariknya maju. --- Wei Chen melangkah masuk ke dalam celah yang baru terbuka. Dinding batu bergeser kembali dengan suara berat, menutup rapat pintu masuk di belakangnya. Kegelapan menyelimuti, tebal dan pekat, menelan semua cahaya bulan. Hanya jimat giok di tangannya yang masih memancarkan pendar redup, dan bilah Jian di punggungnya terasa dingin menusuk. _"Sistem penerangan internal: tidak aktif. Analisis lingkungan: ruang tertutup. Udara: stabil, tidak ada racun terdeteksi. Kelembapan: 85%."_ Sebuah obor menyala di kejauhan, cahayanya berkedip-kedip, menari di dinding batu yang kasar. Wei Chen menajamkan pandangan. Lorong itu sempit dan berliku, diterangi oleh beberapa obor yang terpasang di sela-sela batu. Aroma tanah lembap bercampur dengan bau rempah dan sesuatu yang mirip dengan kertas tua. Tidak ada suara, hanya keheningan yang menyesakkan, menambah ketegangan di setiap langkahnya. Ia mendengar gema langkahnya sendiri di lorong itu. Di ujung lorong, sebuah ruangan kecil terbuka. Cahaya obor di sana lebih terang, menampakkan siluet seseorang yang sedang duduk membelakanginya, di atas tikar anyaman. Sosok itu kecil, kurus, dengan rambut panjang terurai. Wei Chen mengenali rambut itu. "Xiao Ming?" suaranya berbisik, serak dan tidak yakin. Ia mencengkeram erat gagang pedangnya, siap untuk apa pun. Sosok itu berbalik. Itu Xiao Ming, duduk dengan lutut ditekuk. Ekspresinya tenang, berbeda dari ketegangan saat mereka terakhir bertemu. Di sampingnya, duduk seorang pria tua. Punggungnya bungkuk, rambutnya memutih sempurna, dan ia mengenakan jubah abu-abu polos. Matanya terpejam. Wei Chen menyadari, pria itu buta. "Kau datang, Wei Chen." Suara Xiao Ming tenang, seolah ia sudah tahu pasti Wei Chen akan tiba. Ia berdiri, tangannya bergerak anggun memberi isyarat ke arah pria tua di sampingnya. "Ini Master Liao, pemimpin Jaringan Malam." Wei Chen membungkuk dalam, matanya masih menelisik ruangan. Tidak ada kemewahan, tidak ada simbol kekuasaan. Hanya tikar sederhana, beberapa gulungan kertas usang, dan mangkuk keramik kosong di sudut. Kesan pertama adalah kesederhanaan, namun ada aura ketenangan yang mendalam, kontras dengan kekacauan dunia luar. --- Master Liao tidak bergerak, matanya tetap terpejam, wajahnya tenang seperti danau di pagi hari. Wei Chen merasa seperti sedang diawasi, meskipun mata pria tua itu tertutup rapat. Ada sesuatu dalam keheningan Master Liao yang terasa begitu kuat, seolah ia melihat lebih banyak dengan mata terpejam daripada yang bisa dilihat Wei Chen dengan mata terbuka. "Pedangmu... ia memanggil." Suara Master Liao parau, bergetar, tetapi penuh otoritas yang aneh. Bukan otoritas militer, melainkan otoritas kebijaksanaan yang telah teruji oleh waktu. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, jari-jarinya tipis dan panjang, bergerak perlahan di udara, seolah merasakan sesuatu yang tak terlihat oleh Wei Chen. Wei Chen merasakan gelombang ketegangan merayap di punggungnya. Xiao Ming hanya berdiri diam, mengamati, ekspresinya tak terbaca. Wei Chen perlahan, dengan enggan, melepaskan pedang Jian dari punggungnya. Bilah pedang itu memancarkan cahaya biru redup, seolah merespons panggilan yang hanya bisa didengar Master Liao. Master Liao meraih pedang itu, jari-jarinya yang kurus menyentuh bilah dinginnya dengan kelembutan yang mengejutkan. Ia mengusap perlahan motif gelombang air di permukaan baja, seolah membaca tulisan yang tak kasat mata. Dinginnya pedang itu, yang selalu terasa menusuk bagi Wei Chen, sepertinya tidak berpengaruh pada Master Liao. Sebuah senyum tipis terukir di bibir pria tua itu. "Aku sudah menunggumu," katanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih jelas, seolah menyambut seorang teman lama. Jantung Wei Chen berdetak kencang. Bagaimana Master Liao tahu? Bagaimana ia bisa merasakan pedang ini? Hanya Unit-04 yang ada di dalamnya, sebuah rahasia yang ia jaga mati-matian, sebuah keberadaan yang tak seorang pun seharusnya tahu. Rasa takut menjalar, rasa takut bahwa rahasianya telah terbongkar, bahwa ia telah jatuh ke dalam jebakan yang lebih dalam daripada intrik Menteri Shen. Ia mencoba menarik pedangnya, tetapi Master Liao memegangnya dengan genggaman ringan yang anehnya tak bisa dilawan. Ada kekuatan tak terlihat yang mengunci pedang itu di tangannya. Wei Chen menatap Xiao Ming, mencari jawaban, tetapi gadis itu hanya mengangguk kecil, seolah berkata, _biarkan saja_. --- _"Deteksi anomali: Filsuf ini memiliki pengetahuan tentang keberadaanku. Sumber data: tidak diketahui."_ Suara Unit-04 terdengar berat, menggelegar di benak Wei Chen, nadanya menunjukkan tingkat prioritas tertinggi, alarm merah yang tak pernah ia dengar sebelumnya. _"Pola energi yang terpancar dari subjek: anomali. Frekuensi: tidak teridentifikasi. Analisis: potensi ancaman tinggi. Rekomendasi: tarik pedang. Pertahankan jarak aman."_ Wei Chen menarik napas tajam. Ia merasakan sensasi geli di kulit kepalanya, sinyal yang selalu muncul ketika Unit-04 menghadapi sesuatu di luar parameternya. Ini bukan sekadar alarm, ini adalah kebingungan. Unit-04, entitas yang bisa menganalisis ribuan variabel dalam milidetik, kini berada di luar zona pemahamannya. Ini adalah pertama kalinya. Ia mencoba lagi menarik pedangnya, menguatkan otot-ototnya, tetapi genggaman Master Liao terasa seperti baja. Senyum pria tua itu melebar, seolah ia bisa membaca setiap pikiran Wei Chen, setiap peringatan dari Unit-04. "Jangan takut, anak muda." Suara Master Liao menenangkan, namun di dalamnya ada nada yang membuat Wei Chen merasa lebih tidak nyaman. "Pedang ini... ia bernyanyi untukku. Sebuah melodi yang sangat kuno, dan sekaligus sangat baru. Sebuah paradoks yang indah." _"Data sinkronisasi gagal. Kualitas sinyal: terputus-putus. Informasi: tidak valid."_ Unit-04 terdengar hampir panik, sebuah emosi yang seharusnya tidak dimiliki oleh sebuah entitas logika murni. _"Subjek memancarkan gelombang yang mengganggu matriks data. Perlu isolasi segera."_ Wei Chen menelan ludah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ini lebih buruk dari yang ia bayangkan. Musuh yang bisa membuat Unit-04 kacau, yang bisa merasakan keberadaan entitas di dalam pedangnya, adalah musuh yang tak terbayangkan. Ia merasa sangat kecil, sangat tak berdaya di hadapan Master Liao, seorang pria buta yang tampak begitu rapuh secara fisik. Ia menatap Master Liao, mencari petunjuk. Pria tua itu memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak, seolah ia sedang mendengarkan sebuah bisikan dari alam lain. Jemarinya yang keriput mengusap bilah Jian dengan kelembutan yang hampir sakral. Ia tidak mencoba menyakiti, tidak mencoba mengambil. Ia hanya... merasakan. --- Master Liao membuka matanya, meskipun pandangannya masih kosong. Ia menatap Wei Chen, atau lebih tepatnya, menatap ke dalam dirinya. Sebuah tatapan yang membuat Wei Chen merasa telanjang, semua rahasianya terkuak. Xiao Ming maju selangkah, menempatkan tangannya di bahu Wei Chen, seolah memberi dukungan atau menahannya agar tetap tenang. "Dengarkan, anak muda," kata Master Liao, suaranya kini lebih jernih, mengalir seperti air di sungai pegunungan. "Ada sebuah legenda di antara Jaringan Malam. Sebuah kisah kuno tentang 'pedang bintang jatuh'." Ia menghentikan ucapannya, seolah memberi waktu bagi Wei Chen untuk mencerna setiap kata. _"Mengakses database historis. Mencari 'pedang bintang jatuh'. Hasil: tidak ditemukan. Mencari 'senjata meteorit'. Hasil: tidak relevan."_ Unit-04 tetap dalam mode analisis, mencoba memahami narasi Master Liao, mencari korelasi data. "Dikatakan," lanjut Master Liao, menarik perhatian Wei Chen kembali, "bahwa pedang ini, bukan sembarang pedang. Ia lahir dari bintang-bintang, jatuh ke bumi dalam gumpalan api biru. Besinya bukan dari dunia ini, dan jiwanya... jiwanya adalah pengamat." Ia menekan jemarinya lebih dalam pada bilah pedang Jian Wei Chen. "Pengamat yang dapat melihat takdir. Bukan meramal, bukan mengubah, tetapi melihat jaring laba-laba waktu terbentang." Wei Chen merasakan gelombang kebingungan. Pedang melihat takdir? Apakah ini yang Unit-04 sebut 'analisis probabilitas'? Apakah ini adalah cara kuno untuk menggambarkan sesuatu yang terlalu kompleks untuk dipahami manusia di era ini? Ia merasa otaknya berputar, mencoba menyambungkan semua potongan informasi yang aneh ini. Intrik istana, Menteri Shen, Jaringan Malam, dan sekarang legenda kuno. Ini jauh lebih besar dari sekadar intrik kekuasaan. Ini adalah sesuatu yang melampaui pemahaman normalnya, sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih tua, dan lebih berbahaya. Ia hanyalah seorang Shutong, seorang pelayan yang kebetulan menemukan batu aneh, dan kini ia terjebak di tengah pusaran yang telah ada jauh sebelum ia dilahirkan. Ia adalah pion kecil, jauh lebih kecil dari yang ia bayangkan. Di tengah markas rahasia, filsuf tua itu tersenyum misterius, "Pedangmu... ia adalah kunci. Kunci untuk membuka gerbang ke masa lalu dan masa depan."

End of Chapter 27