Chapter 26 of 33
Chapter 26: Pertarungan Tiga Arah, Aliansi Rapuh
1.5k words
Udara dingin menusuk kulit, namun keringat membanjiri punggung Wei Chen. Pedang Jian di tangannya terasa seperti perpanjangan tubuh, bukan lagi beban mati. Di sisinya, Xiao Ming bergerak bagai bayangan, bilah rampingnya menari lincah, memblok dan menusuk dengan kecepatan mematikan. Mereka berdua, yang baru semenit lalu saling mengincar nyawa, kini dipaksa bertempur membelakangi satu sama lain, melawan gelombang prajurit Menteri Shen yang menyerbu lorong sempit terowongan.
"Musuh: dua unit infanteri di sisi kanan, satu unit pemanah di atas, sudut elevasi 15 derajat," bisik Unit-Logika-04, suaranya kini terasa begitu nyata di benak Wei Chen, lebih dalam dan beresonansi dari sebelumnya. "Prioritas: cegah pengepungan. Gerak ke depan 1.5 meter, putar tubuh 90 derajat ke kiri. Tebas ke bawah, lalu ke atas."
Wei Chen merasakan otot-ototnya menegang, kakinya mendorong tanah lembap. Ia melesat maju, bilah hitam-kebiruan pedangnya membentuk busur sempurna, membelah udara dengan *sreeet* tajam. Seorang prajurit yang berusaha mengapitnya dari kanan ambruk dengan erangan tertahan. Darah panas memercik ke wajah Wei Chen, aromanya amis dan pekat, namun ia tidak punya waktu untuk berkedip.
Sebuah anak panah melesat dari atas, *whizzz* membelah udara. Xiao Ming menoleh cepat, bilahnya menyambar. *Clang!* Anak panah itu terpental ke dinding batu, memicu percikan api. Mata Wei Chen sempat bertemu pandang dengan mata tajam Xiao Ming. Ada keterkejutan, pengakuan, dan desakan untuk bertahan hidup yang sama di sana.
Mereka berdua bergerak dalam simfoni brutal. Wei Chen dengan kekuatan yang tak wajar, mengandalkan presisi fatal dari Unit-Logika-04. Xiao Ming dengan kelincahan akrobatik, mengandalkan kecepatan dan pengalaman tempurnya. Setiap kali Wei Chen merasakan tekanan dari satu arah, Xiao Ming akan muncul di sana, memotong celah, atau sebaliknya. Sebuah kerja sama yang tidak terucap, lahir dari desakan situasi.
Unit-Logika-04 terus membanjiri kesadaran Wei Chen dengan data. "Tekanan otot paha Xiao Ming: 85%. Indikasi kelelahan dalam 30 detik. Koordinasi harus ditingkatkan. Hindari serangan menyamping dari unit ke-7."
Wei Chen menggeram, lehernya kaku menahan napas. Ia menangkis sebuah tusukan tombak yang datang terlalu cepat, lalu membalas dengan ayunan memutar yang membuat tubuh musuh terhuyung. Bilahnya memancarkan cahaya biru redup di tengah kegelapan, seolah pedang itu sendiri hidup, menari di antara kematian.
---
Pasukan Menteri Shen semakin rapat, membentuk cincin baja yang membatasi ruang gerak mereka. Obor-obor yang dibawa prajurit memantulkan cahaya redup di terowongan batu, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan yang menari di dinding. Jumlah musuh jauh melebihi mereka, puluhan lawan dua. Keringat membasahi dahi Wei Chen, bercampur debu dan darah. Napasnya terengah, namun jantungnya berdetak stabil, dikendalikan oleh Unit-Logika-04.
"Perimeter terancam. Probabilitas penangkapan: 78% dalam 60 detik. Optimalkan jalur evakuasi," suara AI itu menginstruksikan. "Geser ke kiri, dorong unit di depanmu. Fokus ke titik lemah leher. *Target selanjutnya: kaki kanan.*"
Wei Chen merasakan desakan energi baru. Ia mendorong maju, pedangnya menyambar ke arah yang ditunjukkan. Sebuah *plak!* keras terdengar saat bilah itu menghantam, mematahkan tulang kering seorang prajurit. Pria itu menjerit, roboh ke tanah, membuka celah sesaat. Wei Chen tidak ragu, ia melangkah melompati tubuh yang roboh, terus maju, menuju celah kecil yang terbentuk.
Xiao Ming mengikutinya, bilah di tangannya berputar, menciptakan dinding baja tak kasat mata yang menangkis serangan. Beberapa prajurit mencoba menghentikannya, namun gerakannya terlalu cepat, terlalu cair. Aroma tubuhnya, perpaduan kulit, keringat, dan aroma rempah samar, menusuk hidung Wei Chen di tengah kekacauan. Bahkan dalam situasi hidup-mati ini, sensasi itu terasa intens, anehnya menenangkan.
"Unit musuh di belakang, sudut 180 derajat. Tiga tombak. Ancaman tinggi," Unit-Logika-04 memperingatkan, getaran mikro di gagang pedang Wei Chen terasa semakin intens.
Wei Chen berputar cepat, pedangnya memblok tiga mata tombak secara bersamaan. *Clang! Clang! Clang!* Kekuatan benturan itu membuat lengannya bergetar, namun ia berhasil menahan. Ia melihat kilatan mata tajam dari balik helm prajurit, kebencian membara di sana. Mereka tidak akan menyerah begitu saja.
Unit-Logika-04 terus membanjiri kesadarannya dengan informasi: tekanan udara, suhu tubuh musuh, pola napas yang menunjukkan kelelahan atau determinasi. Semua data itu disaring menjadi instruksi konkret, mengubah Wei Chen dari pemuda penakut menjadi mesin tempur yang efisien. Ia merasakan sensasi aneh, seolah tubuhnya bukan miliknya sendiri, melainkan sebuah alat yang dimainkan dengan sempurna oleh entitas lain.
---
Sebuah pedang panjang berkelebat di udara, mengarah tepat ke kepala Wei Chen. Itu adalah serangan cepat, mematikan, dari sisi yang tak terduga. Wei Chen merasakan udara dingin dari bilah yang melesat itu di pipinya. Unit-Logika-04 berteriak, *"Ancaman fatal! Deteksi 0.01 detik!"*
Namun, sebelum Wei Chen bisa bereaksi sepenuhnya, bayangan ramping Xiao Ming melesat. Bilahnya menyambar, bukan untuk menangkis, melainkan untuk mengalihkan. *Kraakk!* Pedang musuh membentur batu di belakang kepala Wei Chen, meninggalkan bekas retakan dalam. Pukulan itu hampir saja mengakhiri nyawanya.
Napas Wei Chen tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak, melihat bilah musuh yang nyaris menyentuhnya. Ia merasakan jantungnya memompa darah dengan liar, adrenalin membanjiri setiap sel. Xiao Ming hanya menoleh sekilas, tatapan mata mereka bertemu lagi, kali ini lebih lama. Sebuah persetujuan yang tak terucap, pemahaman tanpa kata, melintas di antara mereka. Kepercayaan yang rapuh, namun nyata, mulai tumbuh di tengah kekacauan.
"Fokus!" desis Xiao Ming, suaranya rendah dan serak, namun penuh desakan. Ia tidak menunggu balasan, langsung berputar, mendorong bahu Wei Chen, memaksanya bergerak maju. Wei Chen mengangguk kecil, otot rahangnya mengetat. Ia mengerti. Tidak ada waktu untuk berterima kasih atau merenung. Hanya ada pertarungan.
Unit-Logika-04 mengkalkulasi ulang. "Probabilitas bertahan hidup: 45%. Kompatibilitas inang: 83%. Optimalisasi sinergi dengan unit sekutu Xiao Ming. Ikuti gerakannya, pertahankan formasi segitiga terbalik."
Wei Chen merasakan dorongan dari pedang, membuatnya lebih dekat dengan Xiao Ming. Mereka bergerak beriringan, bilah mereka menjadi satu kesatuan. Serangan Wei Chen membuka celah, serangan Xiao Ming menutupnya, dan sebaliknya. Setiap gerakan mereka terkoordinasi secara instan, hampir tanpa sadar, seolah mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun.
Sensasi aneh menyelimuti Wei Chen. Di tengah bau darah dan keputusasaan, ada percikan gairah, energi yang memabukkan dari tarian kematian ini. Sentuhan bahu Xiao Ming yang tak disengaja, napasnya yang terengah di dekat telinga Wei Chen saat mereka berputar, semua itu terasa begitu hidup, begitu intim.
---
Suara raungan kasar menggelegar di terowongan, memecah kekacauan pertempuran. "Hentikan mereka! Tangkap hidup-hidup! Aku ingin informasi dari pedang itu! Jangan rusak!"
Wei Chen menoleh. Sosok Menteri Shen berdiri di kejauhan, dikelilingi oleh prajurit lapis kedua yang tidak ikut bertarung, wajahnya memerah karena amarah. Pakaian sutra mewahnya tampak kontras dengan lingkungan tambang yang kotor. Matanya yang sipit menyala-nyala, menatap tajam ke arah pedang Jian di tangan Wei Chen. Sebuah ketakutan dingin menjalar di punggung Wei Chen. Menteri Shen tahu tentang Unit-Logika-04, atau setidaknya tahu bahwa pedang itu istimewa.
"Menteri Shen mengidentifikasi objek. Prioritas berubah: hindari penangkapan. Data Unit-Logika-04 berisiko diekstraksi," bisik AI itu, suaranya terdengar lebih mendesak, lebih tegang. "Peluang evakuasi terbuka di sektor 7. Pergerakan cepat diperlukan. Fokus pada kaki. Luncurkan serangan pengalih perhatian."
Wei Chen mengangguk, tanpa sadar. Ia merasakan kekuatan baru mengalir di tubuhnya, otot-ototnya menegang. Ia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, menciptakan tekanan yang memaksa prajurit di depannya mundur. Pada saat yang sama, Xiao Ming, seolah membaca pikirannya, meluncurkan serangkaian tendangan memutar yang mengenai beberapa prajurit sekaligus, membuat mereka terhuyung.
"Serang balik! Jangan biarkan mereka lari!" Menteri Shen berteriak, suaranya serak karena frustrasi. Ia menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada prajuritnya untuk mengejar lebih agresif. Bau amarahnya, seperti metalik dan karat, seolah menyebar di udara, bercampur dengan aroma darah.
Unit-Logika-04 memandu Wei Chen melewati celah yang sempit, sebuah terowongan samping yang tadinya tidak terlihat. Gerakan mereka sinkron, satu langkah Wei Chen diikuti oleh satu langkah Xiao Ming. Mereka melesat bagai anak panah yang ditembakkan dari busur, meninggalkan pertempuran di belakang mereka. Suara benturan senjata dan teriakan prajurit mulai memudar di kejauhan, digantikan oleh suara napas terengah mereka sendiri.
---
Mereka berlari tanpa henti, melewati labirin terowongan yang gelap dan pengap. Udara menjadi lebih dingin, lebih lembap, seiring mereka semakin dalam memasuki perut bumi. Napas Wei Chen terengah-engah, paru-parunya serasa terbakar. Namun, ia tahu mereka tidak boleh berhenti. Suara Unit-Logika-04 tetap konstan, membimbingnya melewati setiap belokan, setiap rintangan.
"Jalur ke permukaan terdeteksi 300 meter. Energi tubuh inang: 60%. Pertahankan kecepatan," bisik AI itu, memantau setiap denyut nadi Wei Chen.
Xiao Ming berlari di depannya, sesekali melirik ke belakang, memastikan Wei Chen masih mengikutinya. Kecepatan lari gadis itu luar biasa, seolah ia terbiasa dengan kegelapan dan lorong-lorong sempit ini. Rambutnya yang panjang berayun-ayun saat ia bergerak, menciptakan bayangan yang menari di dinding.
Akhirnya, mereka melihat cahaya redup di ujung terowongan. Sebuah celah kecil, tempat mereka bisa menyelinap keluar ke kegelapan malam. Mereka berdua merangkak keluar, tubuh mereka gemetar karena kelelahan, namun lega. Udara malam yang sejuk menerpa wajah mereka, membawa aroma tanah basah dan daun-daun hutan.
Di belakang mereka, samar-samar terdengar suara teriakan dan langkah kaki yang semakin menjauh. Mereka berhasil lolos. Untuk saat ini. Wei Chen menoleh ke arah Xiao Ming, ingin mengatakan sesuatu, namun gadis itu sudah lebih dulu bergerak.
Xiao Ming melemparkan sebuah jimat kulit kecil kepada Wei Chen, gerakannya cepat, nyaris tak terlihat. Benda itu mendarat tepat di telapak tangan Wei Chen, terasa hangat dari tubuh gadis itu. "Ini adalah kunci ke markas kami," katanya, suaranya rendah dan penuh makna. "Jika kau selamat, temui aku di sana. Ada banyak hal yang perlu kau ketahui."
Unit-Logika-04 berbisik di benak Wei Chen, suaranya kini terdengar serius, penuh perhitungan. *"Menteri Shen tahu tentang aku."*