Udara di bawah tanah terasa lengket, berat seperti lumpur yang baru saja diinjak. Wei Chen masih terhuyung, ototnya berdenyut dari guncangan terakhir. Pikirannya berputar, dihantam oleh bisikan Unit-04 yang mendesak dan bayangan Menteri Shen yang mengancam. Tekanan di lehernya, bekas cengkeraman Bao, masih terasa panas membakar kulitnya. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang.
Sebuah kilatan perak menyambar dari sudut pandangannya. Insting Wei Chen, yang kini semakin terasah oleh Unit-04, berteriak alarm. Ia tak punya waktu untuk berpikir. Bilah Jian dingin di punggungnya bergetar, mengirimkan gelombang frekuensi mikro ke telapak tangannya. Otot-ototnya menegang tanpa izin, melompat mundur dua langkah ke samping. Ia nyaris tidak sempat bernapas.
Ancaman terdeteksi. Kecepatan: 8.7 meter/detik. Senjata: belati baja ringan. Titik lemah: pergelangan tangan kiri. Kompatibilitas: 83%.
Suara Unit-04 menggeram dalam benaknya, lebih dalam dan lebih mendesak. Tangkis.
Wei Chen merasakan tangannya terangkat. Pedang Jian itu seolah memiliki kehendak sendiri, melesat dari sarungnya dengan suara sreeet yang tajam. Bilah birunya memantulkan cahaya redup dari lentera yang tergantung di dinding terowongan. Belati itu berbenturan, sebuah suara klang! bergema memecah keheningan gua. Getaran kuat merambat naik ke lengannya, hampir menjatuhkan pedang dari genggamannya.
Sosok itu mendarat mulus di depannya, seringan bulu. Seorang wanita. Rambut hitamnya diikat tinggi, pakaiannya berwarna gelap dan ketat, tidak seperti baju biasa yang dikenakan penduduk desa. Matanya tajam, memindai Wei Chen dengan kecepatan yang menakutkan, mencari celah. Napasnya teratur, seolah benturan tadi hanyalah pemanasan ringan.
Wajah: familiar dengan arsip data intelijen sekunder. Probabilitas identifikasi: 98%.
Unit-04 meludah data. Tingkat ancaman: Tinggi. Serang balik.
Wei Chen menahan napas. Ia tidak pernah bertarung melawan seorang wanita. Tangannya gemetar, bukan dari benturan, tapi dari ketidakpastian. Haruskah ia menyerang? Wanita itu adalah musuh, tapi ia juga tidak tahu siapa dirinya. Belati di tangan wanita itu kembali berkedip, bergerak dalam busur mematikan ke arah rusuknya. Kali ini, Wei Chen tidak mundur. Unit-04 telah mengambil alih.
Kaki kirinya berputar, memutar pinggulnya, bilah Jian berayun secara horizontal. Bukan tebasan mematikan, hanya dorongan ke samping, membelokkan arah belati itu. Klang! lagi, dentingan logam yang terlalu keras untuk keheningan malam. Wanita itu mendengus kecil, sebuah ekspresi terkejut samar melintas di wajahnya yang kencang. Ia melompat mundur, gerakannya secepat kilat, menghilang dalam bayangan sebelum muncul lagi di sisi lain.
Wei Chen memutar tubuh, pedangnya mengikutinya seperti perpanjangan tangannya sendiri. Ia merasakan otot perutnya menegang, punggungnya melengkung, dan kakinya menekan tanah dengan kekuatan yang tidak ia ketahui ia miliki. Gerakannya cair, efisien, membuang setiap sentimeter gerakan yang tidak perlu. Ia bukan lagi Wei Chen yang penakut dari tambang. Ia adalah instrumen, bilah yang digerakkan oleh logika dingin dari Unit-04.
Wanita itu mengamati setiap gerakannya, matanya menyipit. Keringat dingin menetes di pelipis Wei Chen, namun jantungnya berdebar dengan irama yang aneh, perpaduan antara ketakutan dan adrenalin yang tajam. Ia tahu Unit-04 tidak akan membiarkannya kalah, tapi kesadaran itu sendiri tidak mengurangi ketegangan syarafnya.
Geraman Unit-04 kembali, menuntut lebih dari sekadar bertahan. Serang titik vital. Maksimalisasi kerusakan.
Wei Chen mengayunkan pedangnya ke depan, sebuah dorongan lurus yang mengarah ke bahu. Wanita itu menangkis dengan belatinya, suaranya pek! saat logam tipis bertemu baja berat. Namun, dorongan Wei Chen hanyalah tipuan. Unit-04 sudah menghitung langkah selanjutnya. Lututnya menekuk, tubuhnya merendah, dan ia berputar, menyapu kaki wanita itu. Gerakan yang tak terduga. Wanita itu terhuyung, kehilangan keseimbangan untuk sepersekian detik. Cukup. Wei Chen menyadari tangannya terangkat, ujung Jian mengarah ke tenggorokan wanita itu, berhenti hanya satu inci dari kulitnya yang pucat. Napas wanita itu tertahan, matanya membelalak. Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara napas Wei Chen yang terengah-engah yang terdengar.
Ujung Jian yang dingin menekan udara di depan tenggorokan wanita itu, membuat Wei Chen merasakan getaran halus di ujung bilahnya. Matanya yang gelap terpaku pada mata wanita itu, yang kini memancarkan campuran kejutan dan kehati-hatian. Wanita itu sama sekali tidak mencoba bergerak. Ia hanya menahan napas, dadanya naik turun perlahan. Wei Chen bisa mendengar detak jantungnya sendiri memukul-mukul di telinganya, sebuah melodi panik yang asing. Ia baru saja akan bertanya siapa wanita ini, mengapa ia menyerang, saat suara Unit-04 memotong.
Peringatan. Deteksi gelombang kejut seismik. Banyak unit biologis mendekat. Kecepatan: 15 meter/detik. Formasi: regu tempur. Identifikasi: lambang naga perak. Probabilitas tinggi sebagai pasukan Menteri Shen.
Suara Unit-04 terdengar lebih mendesak, lebih tebal, seolah ada jutaan data yang mengalir sekaligus. Ancaman prioritas: meningkat.
Wei Chen merasakan getaran. Bukan dari pedangnya, tapi dari tanah di bawah kakinya. Dug-dug. Dug-dug. Sebuah irama yang teratur, berat, seperti ribuan pasang kaki berderap serempak. Suara itu semakin keras, semakin dekat. Ia bisa mendengar gemerisik pakaian, desir sepatu bot, dan derit kulit dari kejauhan. Wajahnya memucat. Pasukan Menteri Shen. Ia hanya bisa membayangkan jumlah mereka, kekuatan mereka, dan kegelapan di balik mata Menteri Shen yang tersenyum.
Wanita di depannya juga merasakan getaran itu. Tatapan matanya yang tajam beralih dari ujung pedang Wei Chen ke arah terowongan di belakangnya, tempat suara itu berasal. Ketegangan di tubuhnya tiba-tiba berubah, dari fokus menyerang menjadi mode bertahan. Rahangnya mengeras, bibirnya membentuk garis tipis. Ia menoleh kembali ke Wei Chen, ekspresinya kini tanpa permusuhan, melainkan perhitungan yang dingin. Ujung pedang Wei Chen masih mengarah padanya, tapi ancaman yang lebih besar telah muncul.
Estimasi waktu kedatangan: 35 detik. Unit-04 memberikan data presisi, seperti hitungan mundur menuju kiamat. Analisis pola formasi: agresif, pengepungan. Probabilitas keberhasilan melarikan diri: 0.001% jika bertarung sendiri.
Wei Chen merasakan dinginnya ketakutan menjalar di tulang punggungnya. Jantungnya berpacu lebih cepat, napasnya tersendat. Ini bukan lagi pertarungan satu lawan satu. Ini adalah pembantaian. Ia tahu betul bagaimana rasanya dikepung oleh pasukan Menteri Shen. Ingatan tentang Li Ming, Kapten Lin, dan tentara lainnya yang digantung masih segar di benaknya, rasa asin darah di lidahnya. Tangannya yang memegang Jian mulai bergetar lagi, kali ini karena kekalahan yang sudah terasa di ujung jari. Ia tidak bisa melawan sebanyak itu. Tidak sendirian.
Wanita itu, tanpa berkata apa-apa, mengulurkan tangan kiri ke udara. Sebuah gerakan halus, hampir tak terlihat, namun Wei Chen menangkapnya. Ia telah melipat belatinya dengan cepat, menyembunyikannya di balik lengan bajunya. Sebuah isyarat yang jelas. Senjata telah disarungkan. Ia tidak ingin bertarung lagi. Setidaknya, tidak dengan Wei Chen.
Suara langkah kaki pasukan Shen semakin menggelegar, memenuhi terowongan sempit itu dengan gaung yang menakutkan. Debu halus mulai berjatuhan dari langit-langit, getaran di tanah semakin kuat. Wei Chen bisa melihat bayangan-bayangan panjang bergerak di dinding jauh, siluet prajurit bersenjata lengkap yang mendekat. Ini adalah jebakan. Mereka berdua terperangkap. Ia menatap wanita itu, mencari jawaban, mencari petunjuk. Mata wanita itu mencerminkan situasi yang sama, tapi tanpa kepanikan. Hanya tekad baja.
Wanita itu menurunkan tangannya, menatap langsung ke mata Wei Chen. Wajahnya, yang tadi tegang dalam pertarungan, kini menunjukkan ketenangan yang mengganggu. Ia tidak lagi terlihat seperti musuh yang baru saja mencoba membunuh Wei Chen. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang mengevaluasi ancaman yang lebih besar. Bibirnya bergerak, suaranya pelan, tapi tegas, menembus gaung langkah kaki yang semakin mendekat.
"Kita punya masalah yang lebih besar," ucapnya. Suaranya serak, tapi setiap kata dipenuhi dengan gravitasi. "Dan waktu kita hampir habis."
Tatapan tajamnya beralih dari Wei Chen ke lorong yang semakin dipenuhi bayangan. Ujung pedang Wei Chen masih mengarah ke tenggorokannya, simbol dari permusuhan yang belum terselesaikan. Namun, wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Ia bahkan tidak berkedip.
"Namaku Xiao Ming," lanjutnya, nama itu terucap dengan mudah, seolah tak ada yang lebih alami daripada bertukar nama di tengah ancaman kematian. "Aku tidak tahu siapa kau, tapi kita berdua akan mati di sini jika kita tidak bekerja sama."
Wei Chen tidak membalas. Nama Xiao Ming. Apakah ia bagian dari pemberontakan? Atau hanya seorang pembunuh bayaran lain? Keraguan melingkupi pikirannya, bahkan saat Unit-04 mendesak.
Data baru. Unit biologis: 25. Formasi: kepungan rapat. Waktu tersisa: 20 detik. Unit-04 terdengar dingin, tanpa emosi, sebuah suara yang menekankan urgensi tanpa panik. Analisis: Ancaman Menteri Shen melebihi ancaman individu Xiao Ming. Aliansi sementara meningkatkan probabilitas bertahan hidup menjadi 15%.
Lima belas persen. Itu bukan angka yang menjanjikan, tapi jauh lebih baik daripada 0,001%. Keringat dingin menetes di punggung Wei Chen. Ia menatap Xiao Ming, mencari tanda-tanda penipuan, tapi hanya menemukan keteguhan. Matanya tidak berbohong. Ia sama terperangkapnya dengan dirinya.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" tanya Wei Chen, suaranya nyaris berbisik di tengah hiruk pikuk yang mendekat. Tangan yang memegang Jian sedikit gemetar.
Xiao Ming mendengus, sebuah suara tanpa humor. "Kau tidak perlu mempercayaiku. Cukup percaya pada kenyataan. Kau sendiri melihat mereka datang. Apakah kau pikir aku ingin mati di sini bersamamu?"
Ia membuang pandangannya ke lorong lagi, menunjuk dengan dagunya ke arah kegelapan yang kini mulai dipenuhi obor. Cahaya oranye menari-nari di dinding batu, mengungkapkan siluet helm dan pelindung dada yang mengkilap. Naga perak yang diukir di bahu mereka terlihat jelas, simbol kekuasaan Menteri Shen yang kejam.
Waktu tersisa: 10 detik. Unit-04 bergemuruh.
"Kita bisa bertarung satu sama lain dan mati sekarang," kata Xiao Ming, suaranya naik sedikit untuk menembus kebisingan. "Atau kita bisa mencoba melawan mereka bersama. Pilih."
Wei Chen merasakan cengkeraman ketakutan yang dingin. Pilih. Pilihan yang tidak ia inginkan, pilihan yang didikte oleh keadaan. Ia telah melihat Xiao Ming menusuk Li Ming, ia telah merasakan dinginnya belati yang nyaris merobek tenggorokannya sendiri. Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa ia bayangkan untuk diberikan kepada wanita ini. Namun, Unit-04 telah berbicara.
Keputusan harus diambil. Rasionalitas: Kerja sama. Optimalisasi bertahan hidup. Suara Unit-04 adalah satu-satunya suara jernih di tengah kekacauan yang menghantam dirinya.
Wei Chen menggerakkan pedangnya, menurunkan ujung Jian perlahan dari tenggorokan Xiao Ming. Gerakan itu lambat, penuh keraguan, tetapi pasti. Sebuah deklarasi tanpa kata. Xiao Ming mengamati setiap milimeter gerakan itu, matanya tetap terpaku pada Wei Chen, ekspresinya tidak berubah. Ia tidak menunjukkan kelegaan, hanya perhitungan. Ketika bilah Jian akhirnya berhenti menunjuknya, ia mengangguk sekali, sebuah gerakan singkat, nyaris tak terlihat.
"Bagus," gumamnya, suaranya sedikit lebih kencang sekarang, lebih lega. "Rencana?"
Wei Chen menggelengkan kepalanya. Otaknya terasa kosong, hanya ada gema ketakutan dan perintah Unit-04. "Aku tidak punya rencana," ia mengakui, merasakan kelemahan dalam suaranya. "Aku tidak tahu tempat ini."
Xiao Ming tidak membuang waktu untuk mencerca. Ia menoleh, matanya menjelajahi terowongan di sekitar mereka. "Lorong ini bercabang lima meter ke belakang. Kita bisa mencoba salah satu." Ia menunjuk ke arah belakang dengan ibu jarinya, gerakannya cepat dan efisien. "Tapi mereka akan mengepung kita di sana. Lebih baik mencari celah, menarik perhatian, dan memisahkan mereka."
Strategi yang logis. Memanfaatkan lingkungan. Memecah formasi musuh. Unit-04 menyetujui, dan dorongan itu hampir terasa fisik di kepala Wei Chen. Ia harus mengikuti instruksi Unit-04. Ia harus hidup. Untuk balas dendam. Untuk Li Ming. Untuk kebebasannya.
Ia tidak bisa membiarkan Menteri Shen menang lagi. Ia menatap Xiao Ming. Wanita ini adalah iblis, pembunuh, tapi saat ini, iblis ini adalah satu-satunya harapan yang ia miliki. Rasa pahit mengisi mulutnya.
"Baik," kata Wei Chen, kata itu terasa seperti racun di lidahnya. "Tapi jangan coba-coba menusukku dari belakang."
Xiao Ming menyeringai tipis, senyum yang sama sekali tidak meyakinkan. "Kau juga," balasnya, suaranya ringan, tapi matanya dingin. "Bagaimana pun, kita perlu bergerak. Sekarang."
Suara langkah kaki sekarang begitu dekat sehingga tanah bergetar hebat. Debu tebal berjatuhan dari langit-langit, memenuhi udara dengan bau tanah dan batu. Mereka bisa mendengar ringkikan kuda dan teriakan perintah yang teredam. Pasukan Shen sudah tiba di tikungan. Cahaya obor sekarang menerangi sebagian besar terowongan, menampakkan barisan prajurit bersenjata lengkap, lambang naga perak berkilauan di dada mereka. Ini bukan hanya regu tempur. Ini adalah detasemen. Sebuah tembok baja dan api.
Cahaya obor menyapu sudut, dan Wei Chen melihat mereka. Barisan demi barisan prajurit lapis baja, helm mereka bersinar, tombak mereka mengarah ke depan seperti hutan yang mengancam. Lambang naga perak yang terukir di pelindung dada mereka tampak seperti sisik naga yang hidup, berkedip-kedip di bawah cahaya. Udara tiba-tiba terasa tebal, dipenuhi dengan ketegangan dan bahaya yang nyata. Debu yang berjatuhan semakin tebal, menciptakan kabut tipis yang membuat segalanya tampak tidak nyata.
Namun, di tengah barisan prajurit yang mengancam itu, satu sosok berdiri lebih tinggi, lebih mencolok. Ia bukan prajurit, tapi seorang pria yang mengenakan jubah sutra gelap yang kontras dengan baju besi di sekelilingnya. Jubah itu disulam dengan benang emas, membentuk pola naga yang rumit, serupa dengan lambang pada prajurit, tapi lebih mewah, lebih otoritatif. Kepalanya botak, memantulkan cahaya obor, dan sepasang mata sipitnya melirik ke arah Wei Chen dan Xiao Ming dengan ekspresi yang sangat familiar.
Menteri Shen.
Wei Chen merasakan jantungnya mencelos ke perutnya. Seluruh keberanian yang baru saja ia kumpulkan untuk menghadapi Xiao Ming menguap, digantikan oleh gelombang ketakutan yang memuakkan. Senyum tipis yang biasa tergantung di bibir Menteri Shen kini tampak lebih dingin, lebih kejam, seolah ia menikmati pemandangan di depannya. Pria itu mengangkat tangannya, dan seluruh pasukan di belakangnya berhenti seketika, serempak, tanpa suara, sebuah disiplin yang menakutkan.
Keheningan yang tiba-tiba terasa lebih berat daripada deru langkah kaki sebelumnya. Hanya suara napas Wei Chen yang terengah-engah dan detak jantungnya yang berdebar kencang yang memecah kesunyian. Xiao Ming di sampingnya juga terdiam, tegang, tangannya sedikit gemetar di balik lengan bajunya. Menteri Shen melangkah maju satu langkah, lalu satu langkah lagi, sampai ia berdiri di depan barisan prajuritnya, cahaya obor membelai wajahnya yang tanpa emosi.
Ia memandang Wei Chen, lalu beralih ke Xiao Ming, dan senyum dinginnya semakin lebar. Ada kepuasan dalam tatapannya, sebuah kemenangan yang telah ia antisipasi. Suaranya, ketika ia berbicara, terdengar pelan, namun menggelegar di ruang sempit itu, seolah ia tak perlu meninggikan suara untuk didengar. Kata-katanya menusuk, dipenuhi dengan ejekan yang tajam, meninggalkan Wei Chen terdiam dalam kengerian.
"Aku tahu kalian akan menemukan satu sama lain. Bodoh."