Chapter 24 of 33

Korban Tak Bersalah, Pilihan Sulit

1.7k words

Wei Chen menarik napas perlahan, udara malam yang dingin menusuk paru-parunya. Ia bersembunyi di balik pohon beringin tua, dedaunan lebat menyamarkan siluet tubuhnya yang kini lebih tegap. Dari sini, ia bisa melihat jelas halaman belakang rumah targetnya, seorang pejabat rendahan bernama Bao. Lilin di dalam rumah memancarkan cahaya kuning hangat, menembus jendela kertas tipis. Sebuah tawa renyah terdengar. Wei Chen mencondongkan tubuh sedikit. Ia melihat seorang wanita, mungkin istri Bao, sedang menyuapi seorang anak kecil di pangkuannya. Rambutnya disanggul sederhana, pipinya memerah karena tawa. Di sampingnya, Bao sendiri tersenyum, mengacak rambut anak laki-laki lain yang sedang bermain-main dengan gasing kayu di lantai. Seketika, perut Wei Chen terasa mual. Bukan karena lapar, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, menggerogoti. Tangannya yang memegang gagang pedang Jian terasa dingin, bukan karena bilah meteorit itu, melainkan karena kengerian yang perlahan menyusup. Ia memejamkan mata sesaat. Bayangan wajah ibunya yang sakit melintas, kemudian wajah Li Ming yang ketakutan di sel tahanan, wajah Kapten Lin yang pasrah. Semua orang tak berdaya di hadapan kekuasaan. Bao, pejabat rendahan ini, dengan senyum lembutnya pada anak-anaknya, tidak terlihat seperti monster korup yang digambarkan Menteri Shen. Suara anak-anak itu, riang dan polos, menembus pertahanan dingin yang mulai ia bangun. Wei Chen merasakan sesuatu di dalam dadanya bergeser, sebuah fondasi yang ia kira kokoh kini retak. Misi: Netralisasi target. Probabilitas keberhasilan: 99.8%. Suara Unit-04 terdengar dingin, tanpa emosi, kontras dengan adegan di depannya. Namun, Unit-04 tidak lagi terdengar sepenuhnya dingin baginya. Ada perubahan, sebuah resonansi yang lebih dalam, seperti gema dari pengalaman mereka bersama. Wei Chen membuka matanya, menatap keluarga itu lagi. Mereka makan bubur jagung yang sederhana, bukan hidangan mewah yang biasa dinikmati pejabat kaya. Ada kehangatan, keintiman yang jujur di sana. Jari-jemari Wei Chen mengerat pada gagang Jian. Berat pedang itu terasa ganda di tangannya. Ia bukan lagi Wei Chen si penambang yang penakut, tapi ia juga belum sepenuhnya menjadi alat pembunuh yang tanpa cela. Ada ruang di antara keduanya, ruang yang kini dipenuhi keraguan. Ia melihat Bao mengangkat anak bungsunya, mencium keningnya dengan lembut sebelum menyerahkannya pada istrinya. Gerakan itu, begitu sederhana, begitu universal, menusuk hati Wei Chen. Apakah ini yang dinamakan kemanusiaan? Sesuatu yang bahkan Unit-04, dengan semua datanya, tidak bisa sepenuhnya pahami, tetapi mulai merekam. Wei Chen merasakan gelombang panas aneh di perutnya, kemudian menjalar ke tenggorokan. Ia menekan gagang pedangnya lebih keras, buku-buku jarinya memutih. Mata tajamnya menatap siluet Bao yang kini mengangkat anak bungsunya untuk dicium, sebuah kelembutan yang seharusnya tidak ada pada seorang target korup. Pertanyaan-pertanyaan membanjiri benaknya, mendesak, menuntut jawaban. "Unit-04," bisik Wei Chen, suaranya serak. "Verifikasi ulang data. Ada sesuatu yang tidak cocok." Ada keheningan singkat, bukan keheningan biasa dari sebuah AI yang memproses, melainkan jeda yang terasa seperti Unit-04 sedang menimbang sesuatu. Kemudian, suara itu kembali, jernih dan datar, namun kali ini Wei Chen merasakan resonansi yang berbeda, seperti ada keengganan halus di balik sintesisnya. "Memverifikasi data target: Bao, pejabat tingkat enam di Biro Pengelolaan Sumber Daya Air Distrik Barat," Unit-04 memulai, serangkaian informasi mengalir ke dalam kesadarannya. "Data publik dan rahasia yang dikumpulkan selama tiga siklus terakhir tidak menunjukkan anomali signifikan dalam pola pengeluaran atau aset pribadi. Tidak ada transaksi mencurigakan yang terdeteksi. Pendapatan konsisten dengan pangkat dan masa jabatan. Tidak ada laporan aset tersembunyi. Catatan keluarga menunjukkan gaya hidup sederhana." Wei Chen mengerutkan kening. Itu semua adalah hal-hal yang ia harapkan dari seorang warga negara biasa, bukan seseorang yang pantas menjadi target operasi "netralisasi." Jantungnya berdebar di rongga dada, iramanya tidak teratur. Setiap kata yang diucapkan Unit-04 terasa seperti pukulan, merobohkan tembok keyakinannya. "Lanjutkan," desaknya, napasnya memburu. Ia memejamkan mata sejenak, berharap informasi berikutnya akan membalikkan semuanya, akan mengembalikan kepastian yang selama ini menjadi pegangannya. Ia ingin Unit-04 mengatakan ada kesalahan, bahwa ada sesuatu yang terlewat. Unit-04 melanjutkan, tanpa jeda kali ini. "Analisis perilaku dan interaksi sosial dengan pejabat lain dan warga sipil menunjukkan tingkat integritas yang tinggi. Tidak ada bukti kolusi atau penyuapan. Laporan warga menunjukkan kepuasan terhadap penanganan kasus-kasus kecil yang ditangani Bao. Satu-satunya 'anomali' adalah sumbangan rutin ke panti asuhan lokal yang ia dirikan sendiri bertahun-tahun lalu, mengambil sebagian kecil dari gajinya setiap bulan. Ini tidak sesuai dengan profil korupsi yang diberikan." Wei Chen membuka matanya. Anomali. Kata itu berputar-putar di benaknya. Sumbangan ke panti asuhan. Seseorang yang korup tidak akan melakukan hal seperti itu. Rasa mualnya kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Tenggorokannya tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya. "Probabilitas terlibat dalam korupsi," Unit-04 akhirnya mengucapkan kalimat yang paling ditakuti Wei Chen, suaranya bahkan lebih dingin dari biasanya, mungkin untuk mengkompensasi resonansi yang mulai didengar Wei Chen. "Berdasarkan semua data yang tersedia, diperkirakan pada 1.2%." Angka itu menghantamnya seperti palu godam. 1.2%. Itu bukan "kemungkinan kecil," itu "hampir tidak mungkin." Wei Chen tiba-tiba merasa dingin, meskipun keringat membasahi punggungnya. Semua yang ia yakini, semua alasan di balik misi ini, runtuh di hadapannya. Ia telah dikirim untuk membunuh seorang pria yang, menurut AI paling canggih di dunia, hampir pasti tidak bersalah. Tangan Wei Chen gemetar. Ia bukan lagi seorang penambang, juga bukan pembunuh tanpa ampun. Ia hanyalah seorang pria yang memegang pedang, dan di hadapannya, seorang pria tidak bersalah sedang tertawa bersama keluarganya. Angka 1.2% itu berputar-putar di kepala Wei Chen, mengalahkan suara tawa riang anak-anak Bao. Ia merasa seperti berada di tepi jurang, satu kaki di atas kehampaan, kaki lainnya berpegangan pada sesuatu yang kini terasa rapuh. Dada Wei Chen terasa sesak, seolah udara enggan memasuki paru-parunya. Ia menekan telapak tangan ke dahi, mencoba menyingkirkan gambaran keluarga bahagia di depannya, gambaran angka yang menuduh. Ini salah. Semuanya salah. "Unit-04," suaranya parau, nyaris tak terdengar. "Apa maksudnya ini? Mengapa Menteri Shen—" Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Unit-04 menyela, nadanya berubah mendesak, tanpa emosi, tetapi dengan urgensi yang tak terbantahkan. Sebuah sinyal berkedip merah di sudut pandang optik Wei Chen. Ini bukan lagi data mentah, melainkan komunikasi langsung. "Pesan masuk prioritas tinggi dari Menteri Shen," kata Unit-04. "Kode otentikasi terverifikasi. Memutar rekaman audio." Suara Menteri Shen menggelegar di benak Wei Chen, berat dan penuh otoritas, menghilangkan sisa-sisa kehangatan dari malam itu. "Wei Chen. Saya harap Anda menerima ini. Laporan terakhir Anda terlalu ambigu. Ini bukan waktu untuk keraguan, prajurit. Kita memiliki jendela sempit. Reformasi yang saya usulkan sedang diperdebatkan di Dewan Besok Pagi. Untuk mendapatkan dukungan, saya membutuhkan bukti yang jelas, bukti konkret, bahwa saya bertindak tegas terhadap korupsi." Wei Chen merasakan tubuhnya menegang. Setiap ototnya menolak untuk bergerak, untuk patuh. Suara Shen terus menusuk. "Pembentukan Unit-04 adalah investasi besar. Jangan biarkan investasi itu sia-sia karena kelemahan. Anda memahami konsekuensinya, bukan? Bagi Anda, bagi misi ini, bagi semua yang kita perjuangkan." Ada jeda singkat, penuh ancaman yang tidak terucap. "Bao harus ditangani. Dengan cepat. Efisien. Saya membutuhkan hasil, Wei Chen. Laporan misi Anda harus berada di meja saya sebelum fajar. Kegagalan bukanlah pilihan. Saya ulangi: hasil sebelum fajar." Rekaman itu berakhir. Keheningan yang mengikuti terasa lebih berat daripada suara Shen sendiri. Tekanan itu mencengkeram Wei Chen dari segala arah. Unit-04 tetap diam, menunggu, menganalisis. Wei Chen bisa merasakan tatapan tak terlihat dari AI itu, menuntut keputusan. Ia menatap Bao lagi, yang kini sedang menggendong anak kecilnya, mengayun-ayunkannya perlahan. Senyum di wajah Bao adalah senyum seorang ayah, bukan senyum seorang penjahat yang pantas mati. Wei Chen merasa jantungnya ditarik kuat ke bawah, ke dalam kegelapan yang mengancam. Shen tidak peduli dengan kebenaran, hanya dengan narasi yang bisa ia gunakan untuk mencapai tujuannya. Jika Wei Chen gagal, apa yang akan terjadi? Ia tahu. Li Ming, Kapten Lin, ibunya—mereka semua terancam. Kekuatan Shen tak terbatas. Ia bisa menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Wei Chen telah melihatnya berkali-kali. Ia adalah pion, alat, dan sekarang ia diminta untuk mengorbankan orang tak bersalah demi permainan kekuasaan yang kejam. Napasnya tersendat. Pedang Jian terasa dingin di tangannya, namun otot-otot lengannya gemetar hebat. Ia tidak bisa melakukannya. Namun ia juga tidak bisa tidak melakukannya. Pilihan itu terasa seperti dua mata pisau yang mengirisnya dari arah berlawanan. Wei Chen merasa terjebak, terperangkap di antara kebenaran dan kelangsungan hidup. Keraguan melilitnya seperti rantai es, namun tekanan dari Menteri Shen, ancaman tersirat terhadap semua yang ia sayangi, terasa lebih kuat. Dengan gemetar, Wei Chen mengangkat pedang Jian, bilahnya memantulkan cahaya redup dari lilin di dalam rumah Bao. Ia tidak lagi melihat Bao sebagai seorang ayah, tetapi sebagai target. Sebuah target yang tidak bersalah, namun target yang harus ia "netralisasi" demi kelangsungan hidup orang-orangnya. Gerakannya kaku, setiap otot menolak perintah. Ia menarik napas dalam, merasakan udara dingin mengisi paru-parunya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdentum di dadanya seperti gong perang. Ia tahu rute serangannya, titik lemah pertahanan rumah, dan bagaimana cara masuk dan keluar tanpa terdeteksi. Itu adalah bagian yang paling mudah. Bagian yang sulit adalah mengangkat pedang itu. Wei Chen melangkah keluar dari balik pohon beringin, sepatu botnya menginjak daun-daun kering yang bergemerisik pelan di bawah kakinya. Ia menunduk, menyatu dengan bayangan malam, bergerak seperti hantu menuju dinding rendah halaman belakang. Setiap langkah terasa berat, seperti ia menyeret beban seluruh dunia di pundaknya. Ia sudah mencapai dinding, tangan kirinya terulur untuk meraih tepian batu yang usang, siap melompati pembatas. Pedang Jian di tangan kanannya terasa dingin dan mematikan. Pikirannya kosong, hanya fokus pada tugas di depan mata, menekan semua keraguan dan kengerian yang menyertainya. Satu gerakan cepat. Satu tusukan yang bersih. Lalu pergi. Tiba-tiba, suara gemerisik keras terdengar dari semak-semak di dekatnya. Wei Chen membeku. Ia tidak mendeteksi apa pun. Unit-04 juga tidak memberi peringatan. Sial. Otaknya baru saja mulai memproses informasi itu, baru saja mulai memerintahkan tubuhnya untuk berbalik atau bertahan, ketika sebuah bayangan hitam melesat dari kegelapan di sampingnya. Itu terlalu cepat. Sebuah kekuatan brutal menghantam sisi tubuhnya, tepat di antara tulang rusuk dan bahu. Udara keluar dari paru-parunya dalam embusan yang menyakitkan. Pedang Jian terlepas dari genggamannya, berputar di udara sebelum jatuh ke tanah dengan bunyi denting logam yang nyaring, memecah kesunyian malam. Wei Chen terhuyung, keseimbangannya hilang. Ia merasakan tangan yang kuat mencengkeram bahunya, mendorongnya lebih keras ke belakang. Punggungnya menghantam dinding batu dengan benturan yang memekakkan telinga, bintang-bintang kecil menari di depan matanya. Rasa sakit membakar seluruh tubuhnya. Sebuah lengan kuat melingkari lehernya, menariknya ke belakang, mencekiknya. Ia terperangkap. Napasnya tercekat. Rasa sakit di kepalanya berdenyut-denyut. Ia mencoba meronta, tapi cengkeraman itu terlalu kuat, terlalu terlatih. Siapa ini? Bagaimana dia bisa begitu dekat tanpa terdeteksi? Wei Chen berusaha meraih pisau cadangan di pinggangnya, tapi lengannya terjepit. Penglihatannya mulai kabur. Wajah Bao yang tersenyum dengan anak-anaknya melintas lagi di benaknya, disusul oleh wajah ibunya yang memohon. Cengkeraman di lehernya menguat. Udara semakin menipis. Dunia berputar.

End of Chapter 24

Chapter 24: Korban Tak Bersalah, Pilihan Sulit - Besi Dingin, Darah Hangat | Novel AI Studio