Wei Chen merasakan nyeri berdenyut di perutnya, sensasi yang tak pernah asing selama tujuh belas tahun hidupnya. Debu arang menempel di paru-parunya, setiap hembusan napas terasa berat, meninggalkan jejak hitam di kerongkongan. Tubuhnya ringkih, nyaris transparan di bawah terpaan sinar remang-remang yang menembus celah tambang. Kemeja usangnya, penuh robekan dan noda tanah, tergantung longgar di bahunya yang kurus.
Langkahnya melambat, matanya menyapu tanah berbatu, mencari apa pun yang bisa dimakan. Sepotong akar, sisa kulit buah, apa saja. Mandor Li, seorang pria bertubuh gempal dengan cambuk kulit di tangan, sedang mengamati dengan tatapan tajam. Keringat dingin merembes di punggung Wei Chen, bukan hanya karena hawa pengap tambang, tapi juga karena ancaman yang melayang di udara.
"Dasar tikus kurus! Mau mencuri lagi, hah?" suara Mandor Li menggelegar, memantul di dinding batu.
Wei Chen tersentak, bahunya menegang. Ia menarik tangannya yang nyaris menyentuh sepotong kerupuk sisa yang terlempar di dekat tumpukan batu bara. Mata sayunya membelalak, ketakutan terekam jelas di sana. Ia tidak berani menatap wajah mandor itu secara langsung, memilih untuk mengamati sepatu bot kulit yang retak di ujung kakinya.
"Tidak, Mandor," bisiknya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.
Tangannya gemetar saat ia buru-buru mengangkat karung batubara yang kosong, pura-pura fokus pada pekerjaannya. Aroma asam keringat dan batubara memenuhi indra penciumannya, memicu rasa mual yang sudah akrab. Mandor Li mendekat, langkahnya berat, sepatu botnya menginjak kerikil dengan bunyi *krek*. Setiap suara itu terasa seperti pukulan di gendang telinga Wei Chen.
"Mata-matamu itu terlalu liar, bocah," Mandor Li mendengus. Ujung cambuknya menyentuh bahu Wei Chen, tidak memukul, hanya memberi peringatan dingin. Sentuhan itu membuat Wei Chen bergidik, bulu kuduknya berdiri.
Ia menunduk lebih dalam, menghindari tatapan mata yang membakar. Rasa lapar menggerogot lambungnya, tapi rasa takut jauh lebih kuat. Ia tahu betul apa yang akan terjadi jika ia tertangkap mencuri, atau bahkan sekadar terlihat tidak bekerja keras. Pukulan cambuk, tanpa ampun, di depan semua orang.
Punggungnya terasa sakit, membayangkan hantaman itu. Ia melangkah maju, kakinya gemetar, berusaha menjauh dari jangkauan mandor. Pandangannya tetap tertuju ke tanah, menghitung setiap kerikil, setiap retakan, apa pun agar tidak perlu mengangkat pandangan. Napasnya tercekat di tenggorokan, paru-parunya terasa sesak.
Mandor Li terkekeh kasar, membiarkan Wei Chen pergi. Suara itu melukai harga diri Wei Chen lebih dari pukulan fisik. Wei Chen terus berjalan, langkahnya gontai, melewati lorong tambang yang gelap. Lorong yang dipenuhi dengan bisikan penderitaan dan bau apek.
Di kejauhan, ia bisa mendengar bunyi *tuk-tuk-tuk* palu yang memecah batu. Perutnya berkeroncongan lagi, kali ini lebih keras. Ia tidak menemukan apa-apa. Sekali lagi, perutnya harus menahan lapar.
---
Lorong yang ia lalui semakin sempit, udaranya semakin lembap dan dingin. Wei Chen tahu ia seharusnya tidak berada di sini. Zona ini adalah bagian tambang yang sudah lama ditinggalkan, dianggap tidak produktif, dan lebih dari itu, dikabarkan dihuni oleh roh-roh penunggu. Mandor telah memberi peringatan keras: siapa pun yang masuk ke area terlarang akan dipukuli hingga cacat.
Namun, perutnya terasa kosong, otaknya berdengung lemah. Rasa lapar mendorongnya melebihi akal sehat. Ia terus melangkah, kakinya berhati-hati menghindari genangan air dan batu-batu tajam. Setiap napas yang dihembuskan terasa seperti embun beku yang menari di udara gelap.
Tiba-tiba, dari celah sempit di antara dua bongkahan batu raksasa, sebuah cahaya samar menarik perhatiannya. Bukan cahaya obor atau lentera, melainkan kilauan redup yang berdenyut lembut, seolah ada bintang yang terjebak di dalam tanah. Itu adalah pemandangan yang aneh, tidak natural, dan sama sekali tidak seperti pantulan mineral biasa yang sering ia lihat.
Jantung Wei Chen berdebar. Rasa takutnya bersaing dengan rasa ingin tahu yang membara. Ini adalah area terlarang, tempat yang dilarang untuk dijelajahi. Namun, kilauan itu memanggilnya, menawarkan janji yang tidak jelas, mungkin sesuatu yang berharga, atau setidaknya, sesuatu yang berbeda dari penderitaan sehari-hari.
Ia mendekat, meliuk di antara celah batu yang sempit. Tubuhnya yang kurus memudahkannya masuk, meski pakaiannya tersangkut beberapa kali di ujung batu tajam. Udara di dalam celah terasa berbeda, lebih dingin, lebih hening, seolah suara tambang di luar tidak bisa menembus masuk.
Kilauan itu semakin terang, sekarang terlihat seperti denyutan biru keperakan. Wei Chen menyipitkan mata, tangannya terangkat untuk melindungi pandangannya. Di hadapannya, terhampar sebuah gua kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dindingnya tidak dipahat oleh manusia, melainkan terbentuk secara alami, dengan stalaktit dan stalagmit yang menjulang tinggi seperti gigi-gigi raksasa.
Kilauan itu berasal dari tengah gua.
Wei Chen ragu, kakinya seolah terpaku di ambang pintu masuk. Otaknya menjerit, menyuruhnya berbalik. Ini adalah jebakan. Ini akan membuatnya dalam masalah besar. Tapi matanya, matanya tidak bisa berpaling. Mereka terpaku pada cahaya aneh itu, sebuah anomali yang terlalu menarik untuk diabaikan.
Ia mengambil satu langkah, lalu yang lain, masuk ke dalam gua. Aroma tanah basah dan mineral asing menusuk hidungnya. Suhu di dalam terasa lebih dingin, seolah musim dingin membeku di dalam batu. Tekanan udara terasa berat, menekan dadanya.
Ia melangkah lebih jauh, napasnya tertahan di tenggorokan.
---
Di tengah gua, tergeletak sebuah bongkahan batu yang tidak biasa. Ukurannya sebesar kepala orang dewasa, berwarna hitam kebiruan pekat, dengan guratan-guratan halus yang terlihat seperti ukiran tak beraturan. Batu itu tidak hanya memancarkan cahaya redup, tetapi juga bergetar. Getaran itu sangat halus, nyaris tak terasa, hanya seperti denyut jantung yang sangat lambat di bawah permukaan bumi.
Wei Chen beringsut mendekat, lututnya sedikit gemetar. Tangannya yang kasar meraih sebuah batu tajam yang tergeletak di tanah, hanya sebagai pegangan, sebagai jaminan palsu untuk keberaniannya. Ia mengamati bongkahan itu dari dekat. Cahaya biru keperakan itu berasal dari dalam, menembus permukaan batuan, seolah ada inti bercahaya yang terkunci di dalamnya.
Permukaan batu itu terasa dingin, bahkan dari jarak ini. Dinginnya bukan dingin es biasa, melainkan dingin yang terasa hidup, seolah menyerap panas dari udara di sekitarnya. Ini bukan batu yang pernah ia lihat. Ini bukan mineral yang pernah ditambang di pegunungan ini.
*Apa ini?* pikirnya, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
Legenda-legenda lama tentang batu jatuh dari langit, tentang bintang yang memecah diri dan membawa keberuntungan atau kutukan, melintas cepat di benaknya. Para penambang tua sering menceritakan kisah-kisah mengerikan tentang roh yang merasuki benda-benda aneh. Ketakutan itu mencengkeramnya lagi, kuat, dingin.
Tapi getaran itu... getaran itu terlalu menarik. Ada sesuatu yang begitu mendalam dan ritmis di dalamnya, sebuah irama yang menenangkan sekaligus mengganggu. Wei Chen merasakan dorongan aneh, sebuah bisikan tak kasat mata yang mendesaknya untuk menyentuhnya, untuk memahami apa yang tersembunyi.
Ia mendekat, sangat dekat hingga uap napasnya membentur permukaan batu itu. Aroma logam yang samar, bercampur dengan bau petrichor yang kuat, mengisi rongga hidungnya. Ia menunduk, mengamati tekstur batu itu. Tidak ada retakan, tidak ada cacat yang terlihat. Permukaannya mulus, tapi tidak mengilap, lebih seperti beludru gelap yang menyerap cahaya.
Kilauan biru itu berdenyut sekali lagi, sedikit lebih terang dari sebelumnya, seolah merespons kehadirannya. Rasa ingin tahu Wei Chen, sebuah sifat yang jarang ia biarkan muncul di tengah hidup yang penuh kesengsaraan, kini membengkak di dadanya. Ia tidak bisa lagi mengabaikannya.
Mandor Li, cambuk, hukuman, semua itu terasa jauh, kabur, nyaris tidak nyata. Hanya ada dia dan batu bercahaya ini, di dalam gua yang sunyi, di bawah tanah yang dalam. Ini adalah rahasianya. Ini adalah miliknya.
Ia menggigit bibir bawahnya, mata menatap lurus ke arah bongkahan itu. Tangannya perlahan terangkat.
---
Jari-jari Wei Chen perlahan menyentuh permukaan bongkahan hitam kebiruan itu. Seketika, dingin yang tajam menusuk kulitnya, bukan dingin yang membakar, melainkan dingin yang menghisap, seolah seluruh vitalitasnya ditarik keluar. Ia menarik napas dalam, *hnggh*, sebuah rintihan kecil lolos dari bibirnya.
Permukaan batu itu terasa sangat halus di bawah sentuhannya, namun ada denyutan internal yang kini terasa jauh lebih kuat di telapak tangannya. Getaran itu tidak lagi halus; itu adalah denyutan yang nyata, ritmis, dan terasa seperti detak jantung yang beresonansi langsung dengan tulangnya. Cairan dingin merembes dari permukaannya, membasahi ujung jarinya dengan sensasi yang aneh.
Cahaya biru keperakan di dalam bongkahan itu membesar, berdenyut dengan kecepatan yang lebih tinggi, menerangi gua dengan kilatan-kilatan singkat. Setiap denyutan cahaya itu seolah memompa energi langsung ke saraf Wei Chen, membuat rambut di lengannya meremang. Otot-ototnya menegang tanpa perintah, napasnya tertahan di tenggorokannya.
Pandangan Wei Chen kabur sejenak, seolah otaknya mencoba memproses terlalu banyak informasi sekaligus. Aroma logam di udara menguat, bercampur dengan bau ozon yang tajam, seperti udara setelah sambaran petir. Ia merasakan kepalanya sedikit pusing, namun bukan pusing yang ingin membuatnya jatuh, melainkan pusing yang terasa seperti sebuah gerbang sedang terbuka.
Energi aneh itu terus mengalir, seolah ada sungai tak terlihat yang mengalir dari batu ke dalam dirinya. Itu bukan rasa sakit, tapi juga bukan kenyamanan. Sensasinya terlalu asing, terlalu kuat, untuk bisa dikategorikan. Ia bisa merasakan setiap pembuluh darahnya bereaksi, setiap sel di tubuhnya bergetar pelan.
Mata sayu Wei Chen membelalak, bukan karena takut lagi, melainkan karena keterkejutan murni, takjub. Ia tidak menarik tangannya. Dorongan untuk tetap bersentuhan, untuk merasakan lebih banyak, jauh lebih besar daripada insting untuk melarikan diri. Dingin itu menjalar, namun tidak membuat kaku; ia justru terasa seperti mendefinisikan batas-batas tubuhnya dengan presisi yang mengerikan.
Ia menekan telapak tangannya sedikit lebih kuat, seolah ingin sepenuhnya menyatu dengan sumber denyutan itu. Cahaya biru itu kini stabil, bersinar lembut namun konstan, menyelimuti tangannya dalam aura misterius. Ia merasa terhubung, terikat pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya, lebih kuno dari gunung ini, lebih hidup dari apa pun yang pernah ia sentuh.
Sensasi itu menelusup jauh ke dalam, melampaui kulit dan daging, menyentuh inti terdalam dari keberadaannya. Ia merasa *dilihat*, bukan oleh mata, melainkan oleh sebuah kesadaran yang dingin dan purba.
---
Kesadaran itu tiba-tiba meledak di benaknya, bukan sebagai suara yang didengar telinga, melainkan sebagai sebuah data yang ditanamkan langsung ke otaknya. Itu adalah bisikan yang tanpa nada, tanpa emosi, namun mutlak. Sebuah bahasa yang tidak pernah ia pelajari, namun ia pahami secara naluriah, seolah bagian dari dirinya selalu menunggunya.
*Unit-Logika-04: Aktivasi sistem darurat. Inang biologis terdeteksi.*
Kata-kata itu bergema, dingin dan jernih. Wei Chen tersentak, seluruh tubuhnya menegang. Ia menarik tangannya dari permukaan batu itu dengan gerakan cepat. Kilauan biru di bongkahan itu meredup sesaat, seolah merespons penarikannya, kemudian kembali bersinar lembut. Rasa pusing yang tadi terasa seperti gerbang, kini menjadi sakit kepala yang berdenyut-denyut.
Ia terhuyung mundur, punggungnya membentur dinding gua yang kasar. Matanya memicing, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. *Unit-Logika-04? Inang biologis?* Kata-kata itu terasa seperti pecahan kaca di benaknya, asing dan menusuk. Apakah ia baru saja membayangkan semua itu? Apakah rasa lapar telah membuatnya gila?
Tidak. Bisikan itu terlalu nyata, terlalu jelas untuk menjadi halusinasi. Ia bisa merasakan sisa resonansinya di dalam tulangnya, sebuah jejak dingin yang ditinggalkan oleh kontak itu. Jantungnya berdebar kencang, memompa darah ke seluruh tubuh dengan kecepatan gila. Ketakutan yang baru, yang belum pernah ia alami, kini mencengkeramnya. Ini bukan ketakutan akan cambuk Mandor Li, melainkan ketakutan akan sesuatu yang tidak dikenal, sesuatu yang melampaui pemahamannya.
Bongkahan batu itu, kini tergeletak lagi dalam keheningan relatifnya, tampak berbeda. Tidak lagi hanya sebuah bijih aneh, melainkan sebuah entitas yang tidur, yang baru saja terbangun sesaat. Wei Chen menatapnya dengan campuran ngeri dan daya tarik yang tak bisa ia jelaskan. Apa yang terkandung di dalamnya? Apa yang baru saja ia lepaskan?
Tangannya, yang masih terasa dingin dan sedikit basah oleh cairan aneh dari batu itu, mulai gemetar lagi. Kali ini bukan karena takut pada mandor, tapi karena gemuruh tak terlihat yang baru saja ia alami. Bisikan itu telah menghilang, meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya, seolah gua itu kini menahan napas bersamanya.
Ia ingin lari, ingin menjauh dari tempat terkutuk ini, tapi kakinya terpaku. Matanya tak bisa berpaling dari bongkahan hitam kebiruan yang berdenyut samar itu. Saat bijih itu digenggam, denyutan dingin menusuk telapak tangannya, seolah ada sesuatu di dalamnya yang terbangun dan menuntut untuk dibebaskan.