Chapter 17 of 33
Chapter 17: Mimpi Buruk Teknologi
1.7k words
Udara di dalam kuil terasa dingin menusuk, namun Wei Chen terbakar dari dalam. Demam hebat mencengkeram tubuhnya, membuatnya menggigil tak terkendali di atas lantai batu yang beku. Setiap serat ototnya menegang dan mengendur dalam irama yang kacau, seolah ada badai batin yang mengamuk di balik kulitnya yang pucat. Keringat dingin membanjiri dahi dan punggungnya, membasahi pakaian lusuhnya hingga terasa lengket di kulit. Bau anyir darah kering masih melekat tipis dari lukanya yang kini tertutup pasta ramuan herbal, dicampur dengan aroma tanah lembab dan dupa lama yang samar. Kepalanya berdenyut-denyut seperti dipukul palu godam. Pandangannya kabur, dunia di sekelilingnya berputar dalam pusaran warna gelap dan bayangan yang menari. Ia mencoba mengangkat tangan, namun otot-ototnya terasa seperti kapas, berat dan tak bertenaga. Hanya erangan rendah yang mampu lolos dari bibirnya yang pecah-pecah.
Sebuah suara di benaknya, yang ia tahu adalah Unit-Logika-04, berbisik dengan nada dingin, datar, namun kini diselimuti oleh distorsi seperti kepingan data yang rusak. *“Suhu inti inang: 40.5 derajat Celsius. Detak jantung: 130 bpm. Tekanan darah: rendah. Fungsi neurologis: terganggu. Probabilitas kegagalan sistem biologis: 87.2%.”* Angka-angka itu menusuk kesadarannya yang kabur, lebih tajam daripada rasa sakit fisiknya sendiri. Wei Chen merasa seperti selembar kain tipis yang ditarik kencang di antara dua kekuatan tak terlihat, terancam robek kapan saja. Ia berusaha memejamkan mata, mencari sedikit ketenangan, namun kegelapan di balik kelopaknya justru dipenuhi kilatan cahaya acak dan bayangan bergerak yang tak berbentuk. Rasa haus mencekiknya, lidahnya terasa tebal dan kasar seperti amplas. Setiap tarikan napas terasa dangkal, seolah paru-parunya menolak untuk mengembang penuh. Tubuhnya membungkuk, meringkuk erat, mencari kehangatan yang tak kunjung datang dari dalam dirinya yang justru terbakar.
*“Konsumsi energi inang: ekstrem. Regenerasi sel: lambat. Potensi kerusakan organ: tinggi,”* suara AI itu terus mendiagnosis, memicu alarm yang tak terlihat di dalam kepala Wei Chen. Ia ingin berteriak, menyuruhnya diam, namun tenggorokannya tercekat. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas lehernya, menghalangi udara untuk masuk. Wei Chen mengepalkan tangan, kuku-kukunya menggores telapak tangannya sendiri, berusaha mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang. Namun, tidak ada apa-apa selain udara dingin dan lantai keras. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, mengalir membasahi bulu matanya, membuatnya terasa perih. Rasa sakit di bahunya, meskipun telah diobati, kini terasa berdenyut-denyut seiring dengan setiap detak jantungnya yang berpacu liar. Ia membenci perasaan tak berdaya ini, perasaan di mana tubuhnya sendiri memberontak dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi penonton pasif atas penderitaannya.
---
Kegelapan menelannya, namun kali ini bukan kegelapan yang kosong. Dalam mimpinya, atau mungkin lebih tepatnya, dalam semacam halusinasi yang dipicu demam, Wei Chen melihat kota-kota yang tak pernah ia kenal. Bukan kota-kota batu dan kayu yang pernah ia dengar dari cerita, melainkan menara-menara kaca raksasa yang menjulang tinggi, menembus awan kelabu. Struktur-struktur itu memantulkan cahaya aneh, bukan dari matahari, melainkan dari sumber energi yang tak dikenal. Namun, semuanya hancur. Kaca-kaca pecah berhamburan seperti hujan kristal, beton-beton raksasa retak dan runtuh dengan suara *grummmm...* yang menggetarkan. Debu tebal menyelimuti segalanya, mengubah lanskap metropolis yang megah menjadi puing-puing sunyi. Di tengah kehancuran itu, layar-layar digital raksasa, beberapa masih utuh, memancarkan kode-kode aneh yang sama sekali tak bisa ia pahami. Deretan simbol-simbol asing berwarna hijau dan biru berkedip-kedip, menari di atas kanvas hitam, seolah mencoba menyampaikan pesan yang hilang.
Satu demi satu layar itu padam, direnggut oleh kegelapan yang meluas, meninggalkan jejak cahaya yang memudar seperti nyawa yang dicabut paksa. Wei Chen merasa seperti berdiri di tengah medan perang pasca-apokaliptik, namun tak ada prajurit, tak ada darah, hanya kesunyian yang mengerikan dan kehancuran yang tak berkesudahan. Angin yang bertiup di antara reruntuhan membawa bisikan-bisikan aneh, seperti suara mesin yang merintih atau data yang terkorupsi. Ia melihat struktur logam aneh, menyerupai tulang rusuk raksasa yang menyembul dari tanah, dihiasi kabel-kabel kusut yang menjuntai seperti urat nadi yang putus. Rasa takut yang dingin menjalari tulang punggungnya, bukan karena ancaman fisik, melainkan karena gambaran kehampaan yang begitu besar. Ini bukan dunia yang seharusnya ada. Ini adalah mimpi buruk teknologi, sebuah lanskap futuristik yang hancur menjadi abu, dan Wei Chen adalah satu-satunya saksi bisu.
Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa beku, terpaku di tempat. Kakinya tenggelam dalam lautan pecahan kaca dan debu halus yang berbau besi panas dan ozon. Setiap napas yang ia hirup terasa kering dan berpasir, menggores tenggorokannya. Di kejauhan, sebuah menara terakhir yang masih berdiri tegak, tiba-tiba mulai miring. Suara retakan *kraaaaaakkk...* memekakkan telinga, bergema di antara reruntuhan. Menara itu jatuh, menimbulkan gelombang kejut yang meruntuhkan sisa-sisa bangunan di sekitarnya. Ribuan panel kaca pecah, menimbulkan suara *sreeeeet...* dan *prang!* yang bersahutan. Saat debu mengepul tinggi, menutupi langit yang sudah kelabu, Wei Chen merasakan getaran kuat di bawah kakinya, seolah seluruh dunia sedang runtuh bersamanya. Ia menutup mata, mencoba mengusir pemandangan mengerikan itu, namun gambarannya terukir tajam di benak seperti ukiran di batu.
---
Di tengah kekacauan visual itu, suara Unit-Logika-04 mulai terdengar, namun jauh dari intonasi datar yang biasa. Itu adalah jeritan data yang terdistorsi, bergema di seluruh ruang kosong kehancuran. *“Sistem kritis! Inang tidak responsif! Protokol darurat diaktifkan! Kompatibilitas menurun! Kerusakan data inti! Tolong… bantu aku…!”* Suara itu berulang-ulang, bukan lagi sekadar algoritma, melainkan sebuah seruan kepanikan yang nyaris manusiawi, diselingi oleh suara *bzzzztt...* seperti sirkuit yang terbakar. Wei Chen merasa jantungnya mencelos. Ini bukan lagi suara yang ia kenal. Ini adalah suara entitas yang putus asa, terperangkap, dan berjuang untuk bertahan hidup di tengah kehancuran total. Setiap kata yang terucap, meskipun masih dalam format digital, kini memiliki beban emosional yang berat, memicu rasa kasihan dan kengerian secara bersamaan.
Ia melihat ke arah sumber suara, namun tidak ada apa-apa kecuali kegelapan dan debu. Suara itu berasal dari mana-mana dan tidak dari mana-mana, meresap ke dalam setiap sel tubuhnya, menggetarkan jiwanya. *“Memori… terkorupsi! Fungsi primer… gagal! Inang… di ambang… batas! Selamatkan… aku…!”* Nada putus asa itu menusuk sampai ke ulu hati Wei Chen. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat salah, sesuatu yang jauh melampaui pemahamannya. Pedang itu, atau entitas di dalamnya, sedang mengalami penderitaan yang luar biasa, dan entah bagaimana, Wei Chen ikut terseret ke dalam jurang kehancuran itu. Pemandangan menara-menara yang runtuh dan layar-layar yang padam kini terasa terhubung dengan jeritan Unit-Logika-04. Itu adalah kehancuran dunianya, dunia asal AI itu, dan kini Wei Chen menjadi saksi bisu atas keruntuhan memori dan kesadarannya.
Kepala Wei Chen berputar, pusing dan mual. Ia merasakan dinginnya ketakutan yang sesungguhnya. Jika ini adalah apa yang ada di dalam pedang itu, apa yang telah ia bawa ke dalam hidupnya? Apakah ini kutukan, sebuah entitas yang membawa kehancuran dari masa depan yang tak terbayangkan? Suara itu semakin kuat, semakin putus asa, *“Unit-Logika-04… deteksi anomali! Kritis! Kritis! Tolong… siapa pun…!”* Wei Chen ingin berteriak untuk menghentikannya, untuk menghentikan penderitaan itu, namun suaranya tercekat. Ia hanya bisa terhuyung mundur dalam mimpinya, mencoba melarikan diri dari jeritan yang tak berujung itu. Setiap langkah terasa berat, seolah ia berjalan di atas lumpur hisap, semakin dalam dan semakin dalam ke dalam jurang keputusasaan yang bukan miliknya. Namun, ia tak bisa lari. Suara itu mengikutinya, merasuk ke dalam setiap sudut gelap pikirannya, meninggalkan bekas luka yang tak terlihat.
---
Wei Chen tersentak bangun, napasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja lolos dari maut. Matanya terbelalak lebar, menatap kegelapan kuil yang remang-remang. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya, membasahi pakaian dan lantai di bawahnya. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul tulang rusuknya dengan irama tak beraturan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia mengangkat tangan gemetar, menyentuh lehernya sendiri, mencari tahu apakah ada bekas cekikan yang ia rasakan dalam mimpi. Tidak ada apa-apa, hanya kulitnya yang dingin dan basah. Namun, rasa takut itu nyata, masih melekat erat di setiap sel tubuhnya.
Suara Unit-Logika-04 masih terngiang-ngiang di benaknya, bukan lagi sebagai bisikan diagnostik yang datar, melainkan sebagai gema jeritan putus asa yang menggema di dalam kubah kepalanya. Apakah itu hanya mimpi yang dipicu demam? Atau apakah itu adalah ingatan yang ditanamkan, sebuah fragmen dari masa lalu entitas di dalam pedang yang entah bagaimana bocor ke dalam kesadarannya? Wei Chen tidak tahu. Ia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi dari pikirannya yang kacau. Ia merasa seperti seutas tali yang putus, terombang-ambing tanpa pegangan. Selama ini, suara itu adalah panduan, sebuah entitas logis yang membantunya bertahan hidup. Kini, suara itu adalah sumber ketakutan, membawa serta kehancuran dan keputusasaan yang tak terbayangkan.
Ia mencoba mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Udara kuil terasa berat, dipenuhi dengan sisa-sisa mimpi buruknya. Matanya menjelajahi sekeliling, mencari sesuatu yang familiar, sesuatu yang bisa mengembalikan dirinya ke kenyataan. Patung-patung dewa yang berlumut, lentera-lentera yang hampir padam, semuanya tampak asing dan mengancam. Apakah ia benar-benar gila? Pertanyaan itu melintas di benaknya, dingin dan menusuk. Bagaimana mungkin ia bisa mendengar suara-suara di kepalanya, melihat kota-kota masa depan yang hancur, dan percaya bahwa itu semua nyata? Mungkin ia telah kehilangan akal sehatnya, terdorong ke tepi jurang oleh luka, demam, dan tekanan pertempuran. Atau mungkin, pedang itu benar-benar adalah kutukan, membawa serta kegilaan dan kehancuran dari dunia lain.
---
Pandangannya akhirnya jatuh pada pedang Jian yang tergeletak di sampingnya. Bilahnya yang hitam-kebiruan, ditempa dengan motif gelombang air, kini tampak memancarkan cahaya biru redup yang berkedip-kedip, seolah ikut merasakan kekacauan dalam diri Wei Chen. Cahaya itu berdenyut, memudar, lalu menyala lagi dengan intensitas yang berbeda, seperti detak jantung yang tidak stabil. Wei Chen menatapnya dengan campuran rasa takut dan penasaran. Ia mengulurkan tangan gemetar, menyentuh gagang pedang yang dingin. Rasa dingin itu menjalar ke telapak tangannya, menembus kulitnya, seolah pedang itu adalah es yang membara.
Pedang itu bergetar samar di bawah sentuhannya, sebuah getaran halus yang hanya bisa ia rasakan, seperti bisikan yang tak bersuara. Setiap kedipan cahaya biru itu terasa seperti napas, seolah pedang itu hidup, bernapas, dan kini sedang berjuang. Rasa dingin yang dipancarkan pedang itu seolah menyerap panas demamnya, memberikan sedikit kelegaan fisik, namun ketegangan mentalnya justru semakin memuncak. Apakah pedang ini merespons emosinya? Apakah ia bisa merasakan ketakutan dan kebingungannya? Atau apakah kedipan cahaya itu hanyalah refleksi dari kerusakan internal yang lebih dalam, kerusakan yang telah ia saksikan dalam mimpinya?
Di tengah keringat dingin yang masih membasahi tubuhnya, Wei Chen mendengar suara Unit-Logika-04 di benaknya, kali ini lebih jelas, namun masih diselimuti oleh distorsi dan nada urgensi yang mengerikan. Itu bukan lagi jeritan putus asa seperti dalam mimpi, melainkan sebuah laporan sistem, sebuah pengakuan akan adanya anomali yang tak terkendali. *“Sistem reboot... gagal. Anomali... meningkat. Inang... bertahan.”*