Chapter 16 of 33

Obat Kuno, Memori Terlarang

1.7k words

Udara kuil yang pengap terasa dingin di kulit Wei Chen yang berkeringat. Bahu kirinya berdenyut-denyut, memompa darah hangat ke kain yang sudah lembap dan lengket. Ia terhuyung di depan altar batu yang telanjang, tatapannya terpaku pada gulungan kuno di tangannya. Jemarinya gemetar saat ia memegang perkamen tipis itu, takut merusak kehalusan permukaannya yang keriput. Sebuah sentuhan dingin menembus telapak tangannya. Pedang Jian itu, tergantung di pinggangnya, bergetar halus. Wei Chen bisa merasakan hawa beku yang familiar merambat naik, seolah bilah itu sendiri merasakan urgensi. Rasa sakit di bahunya menjalar, membakar hingga ke ujung jarinya, membuat setiap gerakan menjadi siksaan. Perlahan, Wei Chen membentangkan gulungan itu di atas altar. Perkamen itu berbau tanah kering dan jamur, usianya mungkin ratusan tahun. Di permukaannya, ia melihat coretan tinta hitam yang pudar. Bukan huruf yang ia kenal, melainkan serangkaian gambar. Sketsa-sketsa detail dari berbagai tanaman: daun lebar, bunga dengan kelopak runcing, akar yang menggeliat seperti ular. Di bawah setiap gambar, ada simbol-simbol aneh, melengkung dan bersudut, membentuk pola yang tak bisa ia baca. “Ini… apa?” bisik Wei Chen, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Ia menunduk, mencoba memahami. Apakah ini mantra? Atau semacam peta menuju harta karun yang tak berguna baginya sekarang? Darah merembes lebih cepat dari lukanya, membentuk noda gelap di kemejanya yang robek. Pening mulai menyerang, pandangannya kabur di tepi. Ia mendesah, pernapasan beratnya memecah keheningan yang tebal. Matanya menyusuri gambar-gambar itu lagi, mencari petunjuk. Sebuah daun berbentuk hati dengan urat merah menyala menarik perhatiannya. Di sampingnya, akar bercabang yang tampak kering dan keriput. Ada garis-garis yang menghubungkan mereka, seolah menunjukkan sebuah proses. Tidak ada kata-kata. Tidak ada penjelasan yang bisa ia tangkap. Hanya gambar, misterius, dari masa lalu yang tak ia pahami. Keputusasaan mulai merayapi benaknya. Ia selamat dari penyergapan brutal, dari luka mematikan, hanya untuk mati kelaparan atau kehabisan darah di kuil tua ini, di hadapan resep kuno yang tak bisa ia pecahkan. Unit-Logika-04: Analisis data visual... selesai. Interpretasi... teridentifikasi. Fungsi... pengobatan luka eksternal. Suara di kepalanya, kini lebih dalam dan resonan, memotong kekalutan Wei Chen. Kata-kata itu berbobot, beriak seperti gelombang sonik dalam benaknya, terasa dingin namun membawa secercah harapan. Wei Chen meneguk ludah yang terasa pahit. Rasa getir itu masih melekat di lidahnya saat ia mencoba mengumpulkan kekuatannya. Pengobatan luka eksternal. Kata-kata itu berputar dalam benaknya, memacu adrenalin yang menipis. “Bagaimana… bagaimana aku menemukan ini?” bisiknya, suaranya parau. Ia mencoba bangkit, mendorong tubuhnya dari altar yang dingin. Bahunya menjerit protes, otot-ototnya tegang dan lemah. Pandangannya berputar sebentar, dan ia harus berpegangan pada dinding batu yang lembap untuk menstabilkan diri. Debu tebal beterbangan setiap kali ia bergerak, mengisi udara yang sudah sesak dengan aroma tanah dan lumut. Langkah-langkahnya terseret saat ia menuju pintu kuil. Engsel kayu yang lapuk mengerang pelan ketika ia mendorongnya terbuka. Sinar matahari sore yang menembus celah pepohonan menyengat matanya yang terbiasa dengan kegelapan. Di luar, hutan lebat membentang, diselimuti bayang-bayang panjang. Pepohonan tua dengan akar yang mencengkeram tanah menjulang tinggi, dan semak belukar yang rimbun membentuk dinding hijau yang hampir tak tertembus. Ini akan menjadi pencarian yang mustahil, pikirnya, rasa putus asa mulai kembali merayapi. Bagaimana ia bisa menemukan tanaman spesifik di antara semua ini, dengan tubuh yang terluka parah dan pandangan yang sering kabur? Ia menatap lagi gulungan di tangannya, membandingkan gambar daun berbentuk hati dengan urat merah menyala itu dengan hijaunya dedaunan yang tak terhitung jumlahnya di sekitarnya. Semua tampak sama. Sempat ia melirik ke arah utara-timur yang disebut Unit-04, lalu ke arah selatan, lalu kembali ke utara. Semua sama saja. Tidak ada petunjuk visual yang jelas. Ia melangkah maju, kakinya tersandung akar yang mencuat. Udara di luar kuil terasa lebih lembap, dan bau tanah basah bercampur dengan aroma dedaunan yang busuk. Wei Chen menyipitkan mata, mencoba fokus pada gambar di perkamen. Daun itu, akar itu. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Beberapa kali ia berjongkok, mengamati semak-semak yang tampak menjanjikan, hanya untuk menemukan tanaman yang salah. Setidaknya ia harus bisa mengenali bentuknya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia merasakan kepalanya pening lagi, dan pandangannya mengabur. Unit-Logika-04: Lokasi spesifik teridentifikasi. Tiga puluh tujuh langkah ke arah timur laut. Di balik batu besar berlumut. Tanaman pertama: Daun Hati Api. Suara Unit-04 terdengar lebih jelas sekarang, seperti instruksi langsung yang terukir di otaknya. Wei Chen terkesiap. Tiga puluh tujuh langkah? Di balik batu? Itu terlalu spesifik untuk kebetulan. Ia mencoba melangkah, menghitung setiap langkah dengan hati-hati, setiap gerakan memeras sisa tenaganya. Dua puluh tujuh… tiga puluh lima… tiga puluh enam… tiga puluh tujuh. Benar saja, di balik batu besar yang ditumbuhi lumut tebal, ia melihatnya. Daun-daun lebar berwarna hijau tua dengan urat merah menyala, persis seperti gambar di gulungan. Seperti api yang membara di antara hijaunya semak. Sebuah sensasi aneh menjalar di tulang punggungnya. Bagaimana Unit-04 bisa begitu akurat? Ia memetik beberapa helai daun dengan tangan gemetar, rasa sakit di bahunya sejenak terlupakan oleh keheranan yang dingin. Ia merasakan tarikan energi misterius dari daun itu, seolah benda hidup yang memancarkan kehangatan. Unit-Logika-04: Tanaman kedua: Akar Geliat. Dua puluh dua langkah ke utara dari lokasi saat ini. Terkubur di bawah tanah gembur dekat pohon tumbang. Wei Chen menelan ludah. Ini bukan lagi kebetulan. Ini adalah kecepatan dan presisi yang tidak manusiawi. Unit-04 bukan sekadar suara di kepalanya, melainkan entitas yang jauh lebih canggih dari yang ia duga. Dalam waktu singkat, dengan panduan yang tak pernah salah, ia berhasil mengumpulkan semua bahan yang ditunjukkan dalam gulungan. Tangan Wei Chen bergetar saat ia memegang akar yang menggeliat dan daun-daun berurat merah. Ia kembali ke kuil, hatinya berdebar dengan campuran kelegaan dan ketakutan atas apa yang baru saja ia saksikan. Ia tidak tahu entitas apa yang kini bersarang di benaknya. Wei Chen kembali ke altar, meletakkan bahan-bahan itu dengan hati-hati. Gulungan perkamen menunjukkan cara mengolahnya. Daun-daun harus dihancurkan, akarnya digiling. Ia mencari batu datar di dekatnya, lalu mulai menggerus daun Hati Api yang berurat merah. Sari hijau pekat segera keluar, membasahi jarinya, meninggalkan sensasi geli yang aneh. Aroma herbal kuat menusuk hidungnya, agak pahit dan menyengat. Ia menggerus akarnya, yang terasa liat dan keras, dengan lebih banyak kesulitan. Otot lengannya menegang. Setiap gerakan kecil terasa seperti beban berat. Perlahan, pasta hijau kental terbentuk di atas batu. Ia mengikuti petunjuk gambar yang menghubungkan daun dan akar, mencampurkan kedua bahan itu hingga menjadi salep kasar. Tangannya gemetar saat ia menyendokkan gumpalan pasta itu. Rasa sakit di bahunya berdenyut tanpa henti, darah masih merembes keluar dari robekan di kemejanya. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian. Ini adalah satu-satunya kesempatan. Mengingat presisi Unit-04 dalam menemukan bahan-bahan, ia harus percaya pada proses ini. Dengan jari-jari yang kaku, ia mengoleskan ramuan dingin itu ke luka terbuka di bahu kirinya. Sensasi awalnya adalah dingin, seperti es. Kemudian, dingin itu berubah menjadi sengatan tajam, seolah ribuan jarum menembus kulitnya. Ia terkesiap, giginya gemeletuk. Rasa sakit yang membakar itu tiba-tiba digantikan oleh aliran energi yang aneh, dingin dan panas secara bersamaan, merambat dari lukanya, menyebar ke seluruh tubuhnya. Itu bukan rasa sakit yang biasa ia kenal, melainkan getaran intens yang mengalir melalui tulang dan sarafnya, membuat setiap sel dalam dirinya berdenyut. Matanya melebar. Dunia di sekelilingnya memudar. Kuil yang suram itu lenyap, digantikan oleh kilasan cahaya terang yang menyilaukan. Sebuah gambar muncul dalam benaknya, tiba-tiba, tanpa peringatan. Kota-kota metalik menjulang tinggi ke langit, permukaannya memantulkan cahaya matahari yang terpolusi. Bangunan-bangunan ramping, berkilauan dengan panel-panel yang tidak ia kenal, berdiri tegak tanpa cacat. Kendaraan-kendaraan tanpa roda meluncur di antara gedung-gedung itu, meninggalkan jejak cahaya biru di belakangnya, bergerak dengan kecepatan yang mustahil. Jalanan di bawahnya dipenuhi oleh kerumunan figur, siluet panjang yang bergerak dengan ritme yang asing. Semuanya terbuat dari logam dan kaca, memancarkan aura futuristik yang membuat jantung Wei Chen berdebar kencang. Lalu, suara. Bukan bisikan angin atau gemerisik daun, melainkan raungan mesin yang memekakkan telinga, dengungan listrik yang konstan, dan bisikan ribuan suara elektronik. Sebuah alarm melengking, memecah semua itu. Langit yang tadinya biru keabu-abuan tiba-tiba dirobek oleh kilat merah menyala. Sebuah ledakan menggelegar, sangat dekat, sehingga Wei Chen merasakan gelombang kejutnya menembus dirinya, mengguncang jiwanya hingga ke inti. Ia melihat puing-puing metal berhamburan ke segala arah, hujan pecahan kaca dan asap tebal yang membumbung tinggi. Jeritan. Ketakutan yang mencekik. Semua indranya dibanjiri oleh sensasi yang asing dan mengerikan ini. Ia tersentak, terengah-engah, tubuhnya bergetar tak terkendali. Kilasan itu menghilang secepat ia datang, meninggalkan Wei Chen terhuyung di depan altar, bahunya masih diselimuti pasta hijau. Namun, di dalam dirinya, kekacauan telah terjadi. Wei Chen menekan telapak tangannya ke altar batu yang dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Pening yang jauh lebih parah dari sebelumnya menyerang, membuat seluruh kuil berputar di sekelilingnya. Ia memejamkan mata erat-erat, berharap kilasan-kilasan mengerikan itu lenyap, namun bayangan kota metalik yang hancur itu masih terukir jelas di benak. Suara ledakan masih berdengung di telinganya, sebuah resonansi yang menusuk. Itu bukan mimpi, ia tahu itu. Rasanya terlalu nyata, terlalu intens. Seperti ingatan, tapi bukan miliknya. Bagaimana mungkin ia melihat hal-hal seperti itu? Apa hubungannya ramuan kuno ini dengan kota-kota yang terbuat dari metal, dengan kendaraan terbang, dengan kehancuran yang begitu mendalam? Rambut di tengkuknya berdiri. Ia merasa seperti baru saja mengintip ke dalam lubang hitam yang tak terbatas, ke sebuah realitas yang seharusnya tidak ia ketahui. Ia membuka mata, pandangannya kabur, tapi ia berhasil melihat salep hijau di bahunya. Rasa sakit di lukanya sudah jauh berkurang, hampir hilang sama sekali, digantikan oleh mati rasa yang aneh. Keajaiban? Atau kutukan? Kekuatan apa yang baru saja ia lepaskan? Kemejanya yang robek masih berlumuran darah, tapi aliran darah itu sendiri sudah berhenti. Luka itu telah tertutup, meskipun masih terasa lunak di bawah sentuhannya. Sebuah keajaiban penyembuhan, tetapi dengan harga yang mengerikan. Wei Chen mencoba menarik napas dalam, merasakan paru-parunya berjuang untuk mengisi udara. Ia perlu memahami ini. Apa yang baru saja terjadi? Apakah itu efek samping dari ramuan itu? Atau ada hal lain yang bermain di sini? Ia merasakan gelombang dingin merayapi dirinya, bukan dari udara kuil, melainkan dari dalam. Sebuah ketakutan yang tak terlukiskan. Kemudian, suara Unit-04 kembali. Kali ini, bukan nada resonan yang dulu ia dengar, melainkan sebuah bisikan. Suara itu terdengar seperti pecahan kristal yang saling bergesekan, rapuh dan penuh ketegangan, seolah kesulitan untuk mempertahankan koherensinya. Bisikan itu bergema pelan di rongga kepalanya, jauh di dalam. Sebuah bisikan yang lebih menakutkan daripada raungan apapun. Data memori. Terlalu banyak. Memori korup. Hapus… gagal.

End of Chapter 16

Chapter 16: Obat Kuno, Memori Terlarang - Besi Dingin, Darah Hangat | Novel AI Studio