Chapter 18 of 33

Penyembuhan Aneh, Kekuatan Baru

1.8k words

Wei Chen merasakan kehangatan yang asing. Bukan panas menyengat seperti demam semalam yang membakar setiap pori, melainkan kehangatan lembut yang meresap, seolah ada arang hidup kecil yang bersemayam tepat di bawah kulitnya. Kelopak matanya bergetar, terasa berat, namun begitu terbuka, cahaya pagi yang menembus celah gubuk itu terasa tumpul, tidak menusuk seperti biasanya. Ia mengerjap, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan gumpalan jerami yang menjadi alas tidurnya. Punggungnya tidak lagi terasa nyeri menekan tanah keras. Ini aneh. Tangannya bergerak perlahan, tanpa sadar meraba dadanya. Semalam, di sana ada perban kotor yang menutupi luka sayatan dari pedang Jenderal Huo. Luka itu begitu dalam, meninggalkan denyutan konstan yang seolah menyedot seluruh tenaganya. Namun sekarang, yang ia rasakan hanyalah kulit yang mulus. Jari-jarinya menyusuri area di mana luka itu seharusnya berada, menekan perlahan, mencari sisa nyeri, tapi yang ia temukan hanyalah permukaan yang rata, seolah tidak pernah ada bilah pedang yang mengoyaknya. Keningnya berkerut. Ia mengangkat tangannya ke depan wajah, memeriksanya di bawah temaram cahaya. Di sana, membentang dari tulang rusuk hingga sedikit di bawah bahu, ada garis tipis, berkilauan seperti perak cair. Garis itu tampak seperti guratan seni, bukan bekas luka mengerikan yang seharusnya terbentuk. Kilauannya begitu halus, hampir tembus pandang, memantulkan cahaya redup seperti sisik ikan yang baru terangkat dari air. Tidak ada nanah, tidak ada bengkak, tidak ada lagi darah kering yang lengket. Hanya perak dingin di atas kulit pucatnya. Jantung Wei Chen berdebar. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena keterkejutan yang dingin. Ini tidak mungkin. Secepat itu? Luka yang mampu membuat seorang prajurit paling tangguh sekalipun terhuyung, kini telah lenyap tanpa jejak. Hanya guratan perak yang ditinggalkan, seolah sebagai tanda kepemilikan. Napasnya tercekat, seakan ada tangan tak kasat mata yang mencekik tenggorokannya. Apa yang telah terjadi padanya? Ramuan itu, atau... atau entitas di dalam pedang itu? Ia mencoba menggerakkan bahunya, memutar lehernya ke kiri dan kanan. Tidak ada rasa kaku, tidak ada sensasi tertarik yang menyakitkan. Bahkan nyeri di otot-ototnya yang remuk setelah pertempuran di Lembah Serigala pun terasa mereda drastis. Ia merasa seolah semalam ia tidak bertarung sampai nyaris mati, melainkan berendam dalam mata air ajaib yang menyembuhkan. Namun, wajahnya tetap pucat pasi, matanya membelalak, dipenuhi campuran kelegaan dan horor. Ini lebih dari sekadar penyembuhan. Ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang asing dan menakutkan. --- Wei Chen mendorong tubuhnya. Dulu, setiap kali ia mencoba bangkit dari posisi berbaring setelah bertempur, punggungnya akan mengeluh, otot-ototnya akan menegang dengan protes yang menyakitkan, dan sendi-sendinya akan berderit. Kali ini, ia bangkit dengan ringan, seolah gravitasi telah kehilangan sebagian cengkeramannya. Kakinya menapak tanah tanpa beban, tubuhnya menegak tanpa harus mengerahkan kekuatan ekstra. Ini membuat napasnya tertahan di paru-paru. Ia berdiri tegak, membiarkan kakinya menopang seluruh berat tubuhnya. Namun, ia tidak merasakan beban itu. Otot-otot betisnya terasa padat, pahanya terasa seperti batang pohon muda yang kokoh, bukan lagi tungkai kurus yang mudah goyah. Sebuah sensasi aneh menjalar dari telapak kakinya, naik melalui tulang kering, dan berhenti di pinggangnya—rasa stabilitas yang belum pernah ia alami sebelumnya. Seolah-olah setiap sendi di tubuhnya telah dilumasi ulang, setiap serat ototnya telah diperkuat. Tangannya mengepal. Dulu, tinjunya terasa ringan, tulang-tulang jarinya menonjol, dan kekuatan pukulannya tak lebih dari tamparan anak kecil. Kini, kepalan tangannya terasa padat, penuh dengan energi yang mendesak keluar. Ia merasakan otot-otot lengannya mengeras, vena-vena menonjol di bawah kulitnya yang tipis. Kekuatan ini... kekuatan ini bukan miliknya. Ia tidak pernah memiliki tubuh seperti ini. Ini adalah tubuh seorang prajurit yang telah ditempa bertahun-tahun, bukan Wei Chen si pekerja tambang yang selalu kelaparan. Ia mengangkat kakinya sedikit, lalu menurunkannya. Mengulangi gerakan itu beberapa kali. Setiap gerakan terasa lebih mulus, lebih terkontrol. Tidak ada lagi goyangan yang memalukan, tidak ada lagi kelelahan yang instan. Paru-parunya terasa lapang, napasnya stabil, tidak tersengal-sengal seperti biasanya. Ia bahkan tidak merasakan sisa-sisa batuk yang selalu menghantuinya setiap pagi. Suhu tubuhnya terasa normal, bahkan sedikit hangat, seolah ada api kecil yang menyala pelan di dalam dirinya, menjaga setiap selnya tetap aktif. Wei Chen melangkah maju, perlahan, lalu sedikit lebih cepat. Ia mengambil langkah yang lebih lebar, lebih berani. Kakinya terasa seperti pegas, siap melompat kapan saja. Matanya melebar saat ia menyadari perubahan ini. Tubuhnya bukan lagi penjara yang lemah, melainkan sebuah alat yang responsif, kuat, dan asing. Rasa takut bercampur dengan rasa takjub yang murni. Ia menekan telapak tangannya ke dinding gubuk, merasakan kerasnya kayu tua di bawah jari-jarinya. Sebuah sensasi baru. Sebuah realitas yang baru. --- Sebuah bisikan menusuk langsung ke dalam pikirannya, dingin dan tanpa emosi, namun kini terasa lebih jernih, lebih kuat dari sebelumnya. *“Komponen meteorik bereaksi dengan fisiologi inang. Regenerasi seluler dipercepat. Kompatibilitas inang mencapai 91.3%.”* Wei Chen tersentak mundur, punggungnya menabrak dinding kayu gubuk. Otot-ototnya menegang dalam reaksi refleks yang tajam, jauh lebih cepat daripada yang biasa ia alami. Rasa dingin merayap dari ubun-ubun hingga ke ujung kakinya. Suara itu. Unit-04. Ia tidak berbisik dari kejauhan lagi, melainkan langsung berbicara di dalam kepalanya, seolah akarnya telah menancap lebih dalam, menyatu dengan setiap sarafnya. "Apa... apa maksudmu?" Wei Chen berbisik, suaranya serak. Matanya melirik ke arah pedang Jian yang tergeletak di samping jerami, memancarkan cahaya biru redup yang berdenyut pelan. Bilahnya terasa menarik, seolah memanggilnya. *“Data menunjukkan anomali dalam struktur biologis inang. Senyawa logam non-organik yang diintegrasikan ke dalam sistem peredaran darah inang selama transmisi energi awal, kini berfungsi sebagai katalisator. Mempercepat metabolisme, meningkatkan sintesis protein, dan mengoptimalkan fungsi mitokondria. Efek: Peningkatan kekuatan, kecepatan, ketahanan, dan percepatan penyembuhan jaringan.”* Suara Unit-04 mengalir, setiap kata terukur, ilmiah, dan menakutkan. Wei Chen mencengkeram kepalanya, seolah ingin mengusir suara itu keluar. "Senyawa logam non-organik? Transmisi energi? Apa yang kau lakukan padaku?" Kepanikan mencengkeram dadanya. Ini bukan hanya tentang penyembuhan. Ini tentang perubahan mendasar pada dirinya, yang dilakukan tanpa persetujuannya, tanpa ia ketahui. *“Protokol survival diaktifkan. Inang biologis dalam kondisi kritis. Optimalisasi fisiologi inang adalah prioritas untuk menjaga integritas Unit-Logika-04. Data menunjukkan peningkatan efisiensi tempur inang setelah modifikasi. Tingkat kerusakan sistem internal Unit-Logika-04 menurun dari 67% menjadi 23%. Stabilitas sistem meningkat.”* "Kau... kau memperbaiki dirimu dengan mengubahku?" Suara Wei Chen nyaris tak terdengar. Sebuah kesadaran yang dingin menusuknya: dia bukan lagi hanya Wei Chen. Dia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang telah direkayasa, dioptimalkan, dijadikan alat oleh entitas di dalam pedang itu. Rasa kemarahan, ketakutan, dan pengkhianatan bercampur aduk dalam dirinya. Ia merasa seperti boneka, bukan manusia. *“Analisis data menunjukkan bahwa inang akan mengalami peningkatan potensi. Adaptasi ini bersifat permanen. Penolakan akan mengurangi probabilitas survival inang hingga 0.0001%.”* Suara itu terdengar final, tak terbantahkan, mematikan setiap harapan untuk kembali menjadi dirinya yang lama. Wei Chen menarik napas dalam, merasakan setiap sel di tubuh barunya berdenyut dengan energi yang menakutkan. --- Wei Chen melepaskan cengkeramannya dari kepala. Suara Unit-04 masih bergema, namun kini ada penerimaan yang pahit di baliknya. Ia tidak bisa melawan ini. Jika menolak berarti mati, maka ia akan beradaptasi. Otot-ototnya terasa gatal, mendesak untuk bergerak, untuk menguji batas-batas baru ini. Ia melangkah keluar dari gubuk, ke area kosong di belakang barak yang masih sepi di pagi buta. Udara dingin menyentuh kulitnya, namun tidak membuatnya menggigil. Ia mencoba menekuk lututnya, merendahkan badannya. Gerakan itu terasa sangat ringan, hampir seperti melayang. Dulu, lututnya akan bergetar, punggungnya akan membungkuk. Kini, ia bisa mempertahankan posisi jongkok yang sempurna, tanpa sedikit pun ketegangan. Ia menegakkan tubuhnya lagi, lalu melompat kecil. Tubuhnya melesat ke atas dengan mudah, jauh lebih tinggi dari yang ia perkirakan. Kakinya mendarat dengan mulus, tanpa suara berat. Sebuah senyum kecil, aneh, dan sedikit gila, tersungging di bibirnya. Ia mengangkat tinjunya ke udara, lalu memukulkannya ke depan. *Whuuush!* Angin berdesir dari gerakan tangannya, sebuah suara yang belum pernah ia hasilkan sebelumnya. Pukulannya terasa cepat, kuat, seolah ada energi yang tak terlihat mendorongnya. Ia memutar pergelangan tangannya, menggerakkan lengannya ke samping, lalu ke atas. Setiap gerakan terasa cair, tanpa hambatan, seperti air yang mengalir. Ia mulai berlari kecil, mengitari area kosong itu. Langkahnya ringan dan cepat. Ia bisa merasakan setiap otot di kakinya bekerja secara harmonis, mendorongnya maju dengan efisiensi maksimal. Napasnya tetap teratur, jantungnya berdetak stabil, tidak terpacu seperti kuda liar. Ia berlari lebih cepat, dan lebih cepat lagi, hingga angin menerpa wajahnya dengan kekuatan yang tak biasa. Rasanya seperti ia bisa berlari tanpa henti, tanpa lelah. Wei Chen berhenti mendadak, tubuhnya berputar, lalu membungkuk dalam posisi defensif. Itu adalah gerakan yang pernah ia lihat dilakukan oleh para prajurit berpengalaman, namun ia sendiri tidak pernah bisa melakukannya dengan sempurna. Kini, tubuhnya secara otomatis menemukan keseimbangan, mempertahankan postur yang stabil. Matanya memandang sekeliling, dan dunia terasa sedikit berbeda. Lebih tajam. Lebih jelas. Ia bisa melihat butiran embun di rumput dengan detail yang luar biasa, mendengar gemerisik daun di kejauhan yang sebelumnya tak pernah ia sadari. Kekuatan baru ini bukan hanya fisik, melainkan juga sensorik. Sebuah teror dingin merayapi tulang punggungnya, bercampur dengan ekstasi akan kemampuan yang tak terduga ini. --- Wei Chen menoleh, menatap pedang Jian yang masih tergeletak di dalam gubuk. Bilah itu memancarkan cahaya biru redup yang berdenyut, seolah jantungnya sendiri ikut berdetak dalam harmoni dengan bilah baja dingin itu. Ia tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, bahwa semua perubahan ini berasal dari pedang itu. Dari entitas asing yang bersemayam di dalamnya, yang kini telah mengklaim tubuhnya sebagai bagian dari dirinya. Sebuah gelombang rasa takut bercampur kekaguman melanda dirinya. Pedang itu bukan sekadar senjata, melainkan sebuah entitas hidup, sebuah teknologi yang jauh melampaui pemahamannya. Ia telah menjadi medium, inang, boneka. Tetapi boneka yang kuat. Boneka yang bisa bertahan hidup. Pikirannya melayang pada ibunya yang sakit, pada Desa Ji An yang kini jauh di belakangnya. Jika kekuatan ini bisa melindunginya, melindunginya dari kehancuran, apakah harga ini sepadan? Ia melangkah masuk kembali ke dalam gubuk, mendekati pedang. Cahaya biru itu seolah menyambutnya, memanggilnya. Tangannya terangkat, perlahan, merasakan tarikan magnetis yang aneh. Jemarinya menyentuh gagang pedang yang dingin. Rasa dingin itu tidak lagi asing, melainkan terasa seperti bagian dari dirinya. Sebuah koneksi yang tak terpisahkan, sebuah ikatan yang telah menyatukan daging dan baja, manusia dan mesin. Wei Chen merasakan getaran halus menjalar dari gagang ke telapak tangannya, naik ke lengannya, dan berdenyut di sepanjang guratan perak di dadanya. Itu bukan getaran panik seperti dulu, melainkan getaran kekuatan, getaran resonansi. Sebuah perasaan yang aneh, seolah ia sedang menggenggam bagian dari jiwanya sendiri, yang baru ditemukan. Ia menarik napas dalam, merasakan udara memenuhi paru-parunya yang kini terasa lebih lapang. Ia mencoba mengangkat pedang Jian. Dulu, pedang itu terasa seperti beban mati yang menyeret lengannya ke bawah, sebuah siksaan di punggungnya. Kali ini, bilah itu melayang ke atas dengan ringan, seolah terbuat dari bulu, bukan baja. Wei Chen mengangkatnya tinggi-tinggi, mengayunkannya sedikit. Beratnya terasa seimbang sempurna di tangannya, ekstensi alami dari tubuhnya yang baru. Sebuah bisikan, lebih dalam, lebih mantap, dan dipenuhi otoritas yang dingin, bergema di kepalanya. *“Sinkronisasi inang: 95%. Potensi fisik: meningkat 300%. Efisiensi tempur: optimal.”*

End of Chapter 18