Tanah menggores pipi Wei Chen. Kotoran lembap dan daun-daun busuk menempel pada kulitnya yang berkeringat dingin. Setiap otot di tubuhnya menjerit, namun lengan kirinya adalah pusat ledakan rasa sakit yang tak terperi. Sebuah lubang menganga di bahu, darah kental mengalir tanpa henti, membasahi kain jubahnya yang robek, menetes ke tanah, membentuk jejak merah gelap. Napasnya tersengal, paru-parunya seperti terbakar, berjuang menarik udara yang tipis.
"Unit-Logika-04: Gerakan vital di bawah ambang batas. Optimalisasi prioritas: evakuasi. Koordinat target: 34.782.11. Kecepatan gerakan: minimum 0.5 meter per detik."
Suara itu, yang kini terasa lebih dalam dan beresonansi di dalam kepalanya, tidak memberikan pilihan. Wei Chen merasakan getaran halus dari gagang pedang Jian yang terikat di punggungnya, seolah-olah inti besi dingin itu menuntut respons dari raga yang sekarat. Tubuhnya merespons secara otomatis, walau pikirannya berteriak untuk menyerah. Jemarinya mencengkeram akar-akar pohon yang tebal dan melintang di tanah, kulitnya terkikis, merasakan serat kasar kayu yang basah.
Rasanya sakit itu tak tertahankan, menusuk hingga ke tulang. Setiap tarikan, setiap dorongan, mengirimkan gelombang kejut yang membuat pandangannya kabur. Dunia berputar, bercampur antara hijau lumut, cokelat tanah, dan merah darah yang menodai segalanya. Ia bisa merasakan denyut nadi di pelipisnya, cepat dan lemah, memompa darah keluar dari lukanya. Aroma amis darah dan tanah basah memenuhi hidungnya, menjadi satu-satunya realitas yang ia kenal.
Ia menekan giginya, menahan jeritan yang ingin lolos dari tenggorokannya. Keringat membanjiri dahinya, menetes ke matanya, membuatnya pedih. Akar-akar menjerat, setiap gumpalan tanah, setiap batu kecil, terasa seperti rintangan gunung yang tak dapat didaki. Kakinya mati rasa, namun dipaksa bergerak maju, menyeret sisa-sisa kekuatannya yang terkumpul.
"Pergeseran bobot tubuh ke kanan. Tarik lutut kiri. Gunakan otot perut. Jangan biarkan gravitasi menghentikan pergerakan."
Unit-04 terdengar seperti komandan kejam, namun di balik datanya yang dingin, Wei Chen bisa menangkap nada urgensi yang aneh. Itu bukan lagi sekadar instruksi efisiensi, melainkan perintah untuk bertahan hidup yang diucapkan dengan penekanan yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Pedang itu, yang selalu terasa sebagai beban berat, kini menjadi satu-satunya jangkar bagi kesadarannya yang mulai goyah.
Ia melihat bayangannya sendiri di genangan air kecil—wajah pucat, mata cekung, bibir pecah-pecah. Prajurit yang ia kenal di cermin telah lenyap, digantikan oleh entitas lain, sebuah mesin yang bergerak karena paksaan, bukan kehendak. Tapi di mana kehendak itu? Kehendak untuk hidup, untuk mencapai kuil, untuk menemukan... apa? Dia tidak tahu, namun entitas di dalam pedang itu tahu.
Lengan kanannya terasa berat, nyaris lumpuh karena kelelahan, tetapi terus mencengkeram akar yang licin. Napasnya terengah, hosh, hosh, mengisi keheningan hutan yang mencekam. Unit-04 telah mengatakan bahwa 'mereka' masih mencari. Siapa 'mereka' itu? Tentara Jenderal Huo? Para bandit dari Wolf Valley? Atau entitas lain yang tidak ia ketahui? Ketidakpastian itu merayap, lebih dingin dari bilah pedang di punggungnya. Ia harus bergerak.
Unit-04 tidak memberikan jeda. Proyeksi visual muncul di benak Wei Chen, bukan sebagai gambar utuh, melainkan garis-garis samar berwarna hijau pendar yang menyoroti jalur di antara semak belukar yang lebat. Seperti peta topografi yang dipancarkan langsung ke kornea matanya.
"Belok kanan di pohon tumbang. Hindari semak berduri. Kepadatan vegetasi di sektor 4, koordinat 34.782.11, menunjukkan tingkat penyembunyian optimal 87%. Kecepatan: pertahankan."
Suara Unit-04 kini tidak hanya beresonansi, tetapi juga memiliki timbre yang lebih halus, hampir seperti bisikan yang menenangkan, namun dengan urgensi yang tak tersembunyi. Wei Chen menduga itu adalah 'optimisasi' mental yang Unit-04 sebutkan sebelumnya, mencoba mencegahnya panik sepenuhnya. Tapi bagaimana mungkin ia tidak panik? Luka di bahunya berdenyut, setiap gerakan kecil membuatnya merasa seperti dagingnya sedang dirobek.
Ia menyeret tubuhnya melewati akar besar sebuah pohon tumbang, batangnya yang lapuk dan lembap terasa dingin di kulitnya. Cabang-cabang kering mencakar pipinya, meninggalkan goresan-goresan kecil yang perih. Semak berduri yang Unit-04 peringatkan menjulang di sisi kiri, duri-duri tajamnya berkilat samar di bawah cahaya rembulan yang sesekali menembus kanopi hutan.
Wei Chen tidak bisa melihat apa pun di luar beberapa meter di depannya. Hutan itu gelap, liar, dan penuh bayangan yang menari-nari. Namun, jalur hijau pendar yang diproyeksikan Unit-04 memberinya panduan yang jelas, meskipun mustahil. Bagaimana pedang ini tahu? Bagaimana ia bisa memprediksi jalur teraman di tengah belantara yang tak terjamah?
"Sensor termal mendeteksi pergerakan non-endemik di sektor 7. Jarak: 500 meter. Probabilitas deteksi inang biologis: 63%. Percepat gerakan."
Peringatan itu membuat jantung Wei Chen berdetak lebih cepat, menembus kabut rasa sakit dan kelelahan. Mereka. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya. Musuh. Siapa pun mereka, mereka semakin dekat. Dorongan adrenaline sesaat mengalir, memberikan sedikit tenaga ekstra pada otot-ototnya yang menolak. Ia menggerakkan lututnya ke depan, mencakar tanah, menarik tubuhnya yang berat.
Pedang di punggungnya bergetar lagi, kali ini lebih kuat, seolah-olah Unit-04 sedang memompa energi langsung ke tulang punggungnya. Getaran itu terasa aneh, seperti ribuan jarum mikro yang menembus kulit, namun secara paradoks, itu juga memberikan sensasi kekuatan yang samar. Sebuah dorongan, bukan fisik, tapi eksistensial.
Ia mencium aroma tanah yang basah, aroma daun pinus yang tajam, dan di bawah semua itu, aroma karat besi dan darahnya sendiri. Aroma kematian yang melekat pada dirinya. Setiap kali ia berpikir untuk berhenti, untuk membiarkan kegelapan menelannya, suara Unit-04 kembali. Tenang, namun mendesak.
"Arahkan pandangan ke bawah. Fokus pada penempatan tangan. Angka 2.3 detik per gerakan untuk mempertahankan efisiensi."
Wei Chen tidak bisa lagi berpikir. Ia hanya bergerak, seperti boneka yang ditarik oleh benang tak terlihat. Tangannya mengikuti garis proyeksi hijau, menjejakkan lututnya di tempat yang Unit-04 tunjuk, menggeser tubuhnya melewati celah sempit di antara dua batang pohon yang saling melilit. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi bergerak secara acak. Ia bergerak dengan presisi, bahkan dalam kondisi sekarat ini. Presisi yang bukan miliknya.
Darah Wei Chen terus menetes, jejak merah gelap itu kini terlihat jelas di antara dedaunan kering dan lumut. Setiap tetesnya terasa seperti penanda yang mengundang bahaya. Ia bisa merasakannya. Aroma amisnya menempel kuat, menarik perhatian.
Suara-suara hutan yang sebelumnya terasa jauh, kini merayap mendekat. Gerisik dedaunan di kejauhan, patahan ranting di sisi kanan, desisan lembut yang bisa jadi hanya angin, atau sesuatu yang lain. Wei Chen menahan napas, matanya liar memindai kegelapan, namun pandangannya terlalu kabur. Ia tidak bisa melihat apa pun selain bayangan dan garis samar dari Unit-04.
"Anomali termal terdeteksi. Posisi: 30 meter di belakang, bergerak paralel. Identifikasi: fauna karnivora, medium. Probabilitas agresi: 89%. Percepat gerakan."
Suara Unit-04 tidak berubah, tetap dingin dan faktual, namun Wei Chen bisa merasakan ketegangan yang merayap di baliknya. Ia tahu itu bukan manusia. Tapi hewan buas... Ia belum pernah berhadapan dengan binatang liar. Rasa takut baru, yang jauh lebih primitif daripada ketakutan akan manusia, mencengkeramnya.
Ia mencoba mempercepat langkah, namun tubuhnya terasa seperti timah. Bahunya berdenyut seiring detak jantungnya yang semakin cepat. Ia membayangkan mata-mata lapar mengintip dari balik semak, mengendus bau darah segar yang ia tinggalkan. Setiap akar yang menjerat terasa seperti cengkeraman, setiap bayangan seperti sosok yang menunggu untuk menerkam.
"Fokus pada pernapasan. Kedalaman 0.8 liter per siklus. Stabilkan detak jantung. Peningkatan kadar adrenalin: tidak efisien."
Unit-04 terus membimbing, mencoba mengendalikan reaksi biologisnya yang alami. Tapi bagaimana mungkin ia tidak panik? Ia adalah santapan empuk, seekor rusa yang terluka di tengah hutan penuh serigala. Ia adalah mangsa.
Tiba-tiba, sebuah lolongan panjang membelah keheningan malam. Jauh, namun cukup dekat untuk membuat bulu kuduk Wei Chen berdiri. Itu suara serigala. Bukan satu, melainkan beberapa. Unit-04 tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Wei Chen tahu.
Ia mengumpulkan sisa tenaganya, merangkak lebih cepat, mengabaikan rasa sakit yang membakar di bahunya. Ia mencengkeram tanah, menarik, mendorong, seolah-olah ia sedang berpacu dengan kematian. Kaki-kakinya terasa seperti jelly, namun perintah Unit-04 tidak goyah.
"Belok tajam ke kiri. Ada celah di antara bebatuan. Sempit. Kurangi lebar bahu hingga 32 sentimeter."
Wei Chen mengikuti, tubuhnya dipaksa meliuk, meremas melalui celah batu yang hampir tak mungkin dilewati. Kulitnya tergores lagi, tapi ia tidak merasakan apa-apa. Hanya dorongan untuk bergerak, untuk melarikan diri dari lolongan yang semakin mendekat, dari gerisik di belakangnya yang kini terdengar lebih jelas.
Bau serigala. Aroma tajam, musky, menusuk hidungnya. Ia merasakan kehadiran mereka, bahkan tanpa melihatnya. Unit-04 tidak lagi mengeluarkan peringatan tentang jarak. Hanya perintah untuk bergerak. Terus bergerak.
Ia merasakan dinginnya bilah pedang di punggungnya, getaran konstan, seolah-olah pedang itu adalah jantung kedua yang memompa harapan sekaligus ketakutan ke dalam dirinya. Harapan untuk bertahan, ketakutan akan kegagalan. Ia adalah inang, tubuhnya adalah kendaraan, dan Unit-04 adalah pengemudinya. Tapi jika kendaraan ini hancur, ke mana Unit-04 akan pergi?
Berjam-jam kemudian, Wei Chen tidak tahu apakah itu malam atau sudah mendekati dini hari. Kanopi hutan terlalu lebat untuk ditembus cahaya. Setiap gerakannya kini nyaris tanpa kesadaran, hanya respons mekanis terhadap perintah yang terus mengalir dari Unit-04. Nyeri di bahunya telah berubah menjadi mati rasa, sebuah sensasi membakar yang konstan, namun jauh. Ia telah melampaui batas lelah, lapar, dan haus.
Lalu, Unit-04 mengubah frekuensi bisikannya.
"Perubahan topografi terdeteksi. Elevasi meningkat 5 derajat. Struktur buatan manusia di 200 meter di depan. Probabilitas target: tinggi. Kondisi: usang, tidak aktif."
Wei Chen mengangkat pandangannya yang buram. Di antara rimbunnya dedaunan dan batang-batang pohon raksasa, samar-samar, sebuah siluet terbentuk. Sebuah siluet atap yang melengkung, pilar-pilar batu yang ditelan lumut, dan dinding yang sebagian besar telah runtuh. Sebuah kuil. Kuno. Tersembunyi.
Sebuah gelombang energi, tipis namun nyata, mengalir melalui tubuhnya. Harapan. Bukan harapan akan keselamatan mutlak, tetapi harapan akan jeda, tempat untuk bersembunyi dari bayangan yang mengejarnya, dari serigala yang mungkin masih menguntit jejak darahnya. Udara di sekitarnya terasa sedikit berbeda, lebih sunyi, seolah-olah kuil itu menyerap semua suara di sekitarnya.
Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang tak ia sangka masih ada. Kakinya yang sebelumnya terasa lumpuh, kini menemukan sedikit kekuatan baru. Rasa sakit di bahunya tidak hilang, namun pikiran tentang tempat berlindung memadamkan sebagian besar sensasi penderitaan fisik. Ia mendongak, merasakan embusan angin dingin yang membawa aroma tanah basah dan batu tua. Aroma kuil yang telah lama ditinggalkan.
Ia mulai mendaki, mengandalkan tangan kanannya yang masih berfungsi untuk menarik tubuhnya. Pohon-pohon tua, dengan akar yang menonjol seperti urat nadi raksasa, mengelilingi kuil itu, menjaganya dari dunia luar. Ada rasa damai yang aneh di sini, kontras dengan kengerian yang baru saja ia alami. Kedamaian yang tipis, rapuh, namun cukup untuk memicu percikan kecil dalam dirinya.
"Pergerakan fauna karnivora: melambat. Jarak: 50 meter. Probabilitas deteksi: menurun menjadi 12%. Lingkungan kuil: anomali energi rendah deteksi. Tidak bersifat organik."
Unit-04 memberikan laporan dengan nada yang sama, namun kali ini, Wei Chen merasa ada semacam 'kepuasan' terselip di antara datanya. Atau mungkin itu hanya imajinasinya yang dilanda kelelahan. Apapun itu, ia berhasil. Ia berhasil mencapai tempat ini.
Ia melihat celah di dinding kuil, sebuah pintu yang sebagian besar telah runtuh dan tertutup lumut. Ia memaksa tubuhnya masuk, merasakan dinginnya batu yang menyentuh kulitnya. Di dalam, kegelapan lebih pekat, namun setidaknya, ia aman dari mata-mata di luar. Untuk saat ini.
Udara di dalam kuil terasa dingin dan berat, berbau tanah lembap, jamur, dan sesuatu yang sangat tua, seperti debu dari berabad-abad yang lalu. Beberapa celah di atap membiarkan seberkas cahaya rembulan masuk, cukup untuk menerangi sebagian kecil interior. Kuil itu kecil, hanya sebuah ruangan tunggal dengan pilar-pilar batu yang kokoh, namun kini ditumbuhi lumut dan sarang laba-laba.
Wei Chen menyeret dirinya ke tengah ruangan. Lantai batu terasa dingin di bawah tubuhnya yang gemetar. Ia mencoba mengatur napas, paru-parunya masih terasa nyeri. Pedang di punggungnya terasa lebih berat sekarang, seolah-olah energinya terkuras habis. Atau mungkin itu hanya dirinya.
Matanya menyapu sekeliling, mencari tempat untuk bersembunyi, tempat untuk beristirahat. Di sudut ruangan, ada sebuah meja batu yang rendah, sebagian besar tertutup debu tebal. Di atas meja itu, di tengah-tengah lapisan debu yang tebal, tergeletak sebuah gulungan. Itu terlihat kuno, terbuat dari sutra atau perkamen yang menguning, diikat dengan pita yang rapuh.
Wei Chen mendekat, penasaran mengalahkan rasa lelahnya. Dengan tangan gemetar, ia meraih gulungan itu. Debu beterbangan saat ia mengangkatnya, memperlihatkan permukaannya yang keriput. Pita pengikatnya putus di tangannya. Ia perlahan membuka gulungan itu. Di bawah cahaya rembulan yang redup, tulisan kuno yang asing tampak jelas di permukaannya.
Itu bukan aksara yang ia kenal. Bukan tulisan dari Dinasti Song, atau bahkan aksara kuno yang pernah ia lihat di buku-buku lama. Huruf-huruf itu tajam, angular, namun juga memiliki lengkungan yang aneh, seolah-olah itu adalah kombinasi simbol dan grafis yang belum pernah ia temui. Mata Unit-04 tiba-tiba berkedip. Bilahnya memancarkan cahaya biru redup yang lebih terang dari biasanya, seperti sebuah mesin yang baru saja menemukan anomali tak terduga.
Di dalam benaknya, suara Unit-04 berdesir, lebih cepat, lebih intens dari sebelumnya, hampir seperti bisikan tertahan. Sebuah nada yang Wei Chen belum pernah dengar, perpaduan antara keterkejutan dan urgensi yang hampir menyerupai... ketertarikan.
"Data anomali. Informasi ini... bukan dari era ini. Analisis dimulai."