Chapter 13 of 33
Bayangan Jenderal, Luka Menganga
1.7k words
Wei Chen menyerbu maju, kedua kakinya yang letih seolah terseret oleh tarikan kabel tak kasat mata. Gelombang amarah membara di dalam dadanya, namun emosi itu bukan lagi miliknya; itu adalah dorongan artifisial yang disalurkan melalui getaran frekuensi mikro di gagang pedang Jian.
Setiap tancapan sepatunya membelah genangan lumpur lembah, menciptakan decak chplak yang basah, menandai irama maut yang dikendalikan secara mutlak oleh Unit-Logika-04. Nalurinya meronta untuk mundur, tetapi dominasi perintah dingin telah mengalir di dalam sumsum tulangnya, melumpuhkan sisa-sisa kehendak bebas pada setiap serabut ototnya.
"Target: Jenderal Huo. Kecepatan akselerasi: 12 meter/detik. Sudut serangan optimal: 37 derajat dari kiri," suara Unit-04 menggema di dalam kesadarannya, tajam dan mendesak bagaikan geraman predator lapar.
Wei Chen mengayunkan pedang Jian, menampilkan bilah bersaput cahaya biru redup yang merobek kabut tebal. Senjata itu terasa masif, namun getaran internal dari sistem pemandu meringankan bebannya, mengubah baja tersebut menjadi perpanjangan tangan yang mematikan. Ia melancarkan tebasan vertikal lurus, mengincar bahu sang jenderal dengan presisi mekanis.
Desing angin mengiringi tebasan itu, membawa aroma anyir darah bercampur tanah lembap. Pandangan Wei Chen menyipit tajam, membuang seluruh distraksi di sekelilingnya. Ia merasakan tarikan ekstrem pada otot perut, peregangan ligamen di punggung, serta tekanan kuat di telapak tangan yang mencengkeram erat gagang pedang.
"Fokus pada titik lemah. Gerakan konvensional. Prediksi pertahanan: tangkisan silang," algoritma Unit-04 terus menghujani sistem sarafnya dengan rentetan data. Wei Chen melompat maju, membuat tanah bergetar hebat di bawah pijakannya, seolah tubuh kurusnya menyimpan kekuatan raksasa yang tak masuk akal.
Ia memutar serangan dari arah diagonal, memantulkan pendar biru yang mematikan. Di hadapannya, Jenderal Huo berdiri kokoh tak tergoyahkan layaknya patung batu raksasa. Tatapan tajam jenderal itu mengunci setiap inci pergerakan Wei Chen, memancarkan aura dingin yang membekukan udara di sekeliling mereka.
Wei Chen merasakan debaran jantungnya memburu, bukan karena rasa takut manusiawi, melainkan akibat hantaman adrenalin berkat instruksi tanpa kompromi. Serat-serat ototnya menegang hingga ambang batas robek, memaksakan kekuatan brutal yang lahir dari mesin, bukan dari daging.
Suara bilah Jian yang mengiris udara menciptakan siulan nyaring—sebuah pertanda eksekusi yang tertunda. Darahnya berdesir panas dalam pembuluh, dipompa oleh energi asing yang mengalir dari inti pedang. Pertarungan ini telah bergeser menjadi benturan abadi antara kesadaran biologis manusia dan dinginnya logika kalkulasi mesin.
Wei Chen's attack comes from a diagonal, but Unit-04 barks a new command.
"Prediksi: Tangkisan ganda. Ubah lintasan."
Pergelangan tangan Wei Chen berpilin dalam manuver mustahil, membelokkan jalur pedang Jian di tengah ayunan. Logam bersuara nyaring memekakkan telinga, memprotes perubahan vektor yang ekstrem, namun serat otot yang dikendalikan itu tetap patuh. Ia mengalihkan sasaran ke arah lambung sang jenderal, mencari celah yang lebih rapuh.
Jenderal Huo menyambut serangan tersebut dengan hantaman keras berbunyi clang. Pedang lebar sang jenderal yang gelap tanpa hiasan menepis Jian dengan efisiensi brutal. Benturan itu mengirimkan getaran hebat ke seluruh lengan Wei Chen, menjalar hingga ke sendi bahunya. Unit-04 dengan cepat meredam rasa sakit tumpul tersebut, menggantinya dengan fokus dingin yang kaku.
Pijakan Huo begitu lebar dan rendah, bagaikan benteng karang yang tak bergeming. Tidak ada gerakan sia-sia ataupun keraguan di dalam iris gelap sang jenderal.
"Kelemahan terdeteksi: Punggung kaki kiri. Kecepatan reaksi: 0.3 detik," bisik Unit-04 penuh perhitungan.
Wei Chen melompat maju dalam tusukan kilat bernuansa kehewanan, mengincar bagian bawah. Tubuhnya terasa bagaikan boneka marionette yang digerakkan dalang tak kasat mata di atas percikan lumpur.
Kaki Huo bergeser ke belakang dalam gerakan mikro yang nyaris tak terlihat. Pedang lebarnya berputar dalam busur luas, memaksa Wei Chen mundur terhuyung-huyung. Desing angin tajam menyapu daun telinganya, menandakan daya rusak dari serangan balasan tersebut. Insting primitif manusianya berteriak ketakutan, namun sistem mesin segera mengambil alih, mendorongnya kembali menerjang ke depan.
"Serangan berantai. Fokus pada pergelangan tangan. Kelelahan target: 0%."
Arus data terus menghujani kesadarannya tanpa ampun. Gerakan Wei Chen berubah menjadi kabur, menyerupai badai cahaya biru dan kilau baja. Ia menyerang tinggi lalu rendah dalam suksesi tusukan dan irisan kilat.
Pedang Jian berdengung tinggi, menggetarkan energi terkontrol untuk merobek daging. Setiap tikaman dihitung secara matematis oleh Unit-04.
Huo menangkis setiap hantaman dengan efisiensi gerakan seorang veteran medan perang puluhan tahun. Pedang berat itu tidak sekadar menahan, melainkan memantulkan balik momentum Wei Chen.
Pernapasan Wei Chen memburu, rahangnya mengatup rapat menahan beban fisik yang membakar lengannya. Kekuatan hantaman itu bukan miliknya, tetapi dera kelelahan fisiknya adalah nyata.
Jeritan logam yang bergesekan memenuhi lembah berkabut saat kedua bilah pedang saling mengunci. Wei Chen mendorong seluruh tenaga augmentasi dari Unit-04, merasakan kebolehan fisik sang jenderal yang menolak tunduk. Wajah Huo tetap tanpa ekspresi, bagaikan topeng batu yang menyimpan kearifan kuno serta kepenatan abadi.
"Tekanan: 75 Newton. Tingkat kelelahan pengguna: meningkat 2%," laporan Unit-04 meluncur tanpa emosi.
Otot Wei Chen bergetar hebat. Ia menangkap kilatan peluh di pelipis Huo—sebuah tetes kecil kelemahan manusia di tengah karang yang kokoh.
Wei Chen berputar memecah kuncian, melancarkan tebasan ke atas yang brutal mengincar leher terbuka Huo. Inilah momennya. Puncak adrenalin memompa keyakinan akan kemenangan.
Namun, Huo bergerak lebih cepat. Sang jenderal merendahkan tubuh dalam posisi jongkok mendadak, membuat Jian mendesing melewati pucuk kepalanya hanya berjarak sentimeter.
Pedang lebar Huo menyapu rendah secara kilat. Wei Chen melompat mundur secara refleks, nyaris kehilangan tulang keringnya dalam hantaman maut yang meledakkan lumpur di bawah.
Ia mendarat dengan canggung dan tersandung, meraup udara dingin dalam napas tersengal yang membakar paru-paru. Unit-04 bekerja keras mengoreksi posisi kaki serta posturnya, mendesak agar ia mengabaikan rasa ngilu di pahanya. Ia adalah senjata, dan senjata tidak mengenal kata lelah.
Namun, keletihan sumsum tulang meresap jauh ke dalam eksistensinya, melawan kendali mesin. Arus data Unit-04 berubah menjadi ribuan suara bising yang meneriakkan probabilitas.
Ia kembali mengayunkan pedang dalam busur liar—sebuah cerminan frustrasi manusia murni, bukan lagi kalkulasi sempurna.
Huo menyambutnya tanpa kesulitan, menciptakan gema benturan baja yang mendeklarasikan dominasi absolut sang jenderal. Wei Chen tahu di lubuk hatinya yang paling dalam: ia tidak akan bisa menang dengan cara ini. Kekuatan mentah dan logika mesin tidak cukup menundukkan pengalaman mutlak tersebut.
Napas Wei Chen kini terdengar putus-putus dan compang-camping, berusaha disamarkan oleh Unit-04 melalui frekuensi penenang yang gagal total. Kelelahan telah mencengkeram inti keberadaannya.
Ia mengangkat pedang Jian yang pendar birunya mulai meredup seiring pudar pesona tenaganya.
"Kombinasi serangan: tusukan-tebas-dorong. Efisiensi: 88%," perintah mesin mendesak.
Ia bergerak bagaikan boneka dengan tali yang mulai berserabut. Tusukan pertama melambat dan mudah ditepis; tebasannya kehilangan daya iris. Ketika ia mencoba mendorong, sepatunya tergelincir di atas lumpur licin. Sebuah kesalahan kecil, namun Unit-04 menjerit panik:
"Kesalahan! Posisi kaki tidak stabil! Koreksi instan!"
Terlambat.
Sepasang mata Jenderal Huo menyipit tajam, memancarkan kepuasan kelam seorang prajurit tua yang melihat celah pembunuhan. Di detik ketidakseimbangan itu, pedang besar sang jenderal meluncur dengan kecepatan yang mengelabui ukurannya.
Bukan sebuah tangkisan, melainkan eksekusi telak.
Bilah pedang menyayat udara dengan suara rendah yang ditelan kabut. Wei Chen melihat bayangan gelap itu menerjang. Unit-04 mengirimkan perintah panik: "Defleksi! Gerakan mundur! Lindungi bahu kiri!"
Namun, peringatan itu tenggelam oleh gelombang teror instan. Tubuhnya yang terlampau lelah gagal merespons tepat waktu.
Bilah tajam itu menghantam keras tanpa ampun, menembus jubah dan merobek daging di bahu kiri Wei Chen tepat di atas tulang selangka. Rasa sakit yang membakar meledak menyilaukan pandangannya, mengubah dunia menjadi warna putih kepedihan.
Ia mendengar bunyi retakan tulang yang intim dan mengerikan.
Pedang Jian terlepas dari genggamannya yang gemetar. Pendar birunya padam seketika.
Suara dingin Unit-04 di dalam kepalanya terputus total secara mendadak, digantikan oleh kesunyian yang memekakkan telinga. Getaran di gagang pedang berhenti, menyisakan kehampaan di telapak tangannya.
Wei Chen terhuyung mundur, erangan tercekat lolos dari bibirnya. Darah segar berwarna merah pekat langsung membanjiri tuniknya, mengubah warna gelap kain tersebut menjadi kirmizi yang mengerikan.
Ia dapat merasakan cairan hangat itu mengalir deras menuruni lengannya. Luka tersebut berdenyut hebat, menutupi seluruh panca inderanya. Tangannya yang kiri menggantung mati rasa, tak lagi merespons perintah saraf.
Dunia berputar hebat. Lembah berkabut, figur raksasa Jenderal Huo, dan tanah berlumpur lebur menjadi sapuan warna kelabu. Rasa logam tembaga menggenang di mulutnya—bau anyir dari ketakutannya sendiri.
Rasa sakit itu hidup, mencengkeram isi perutnya dan mencabik-cabik kesadarannya jauh dari sterilitas data analitik Unit-04.
Huo berdiri tegap di hadapannya, menggenggam pedang tanpa sepatah kata pun. Ekspresinya tak terbaca, tetapi di dalam sorot matanya terbesit secercah pengakuan hormat seorang ksatria.
Pandangan Wei Chen mulai menghitam di tepi-tepi penglihatan. Mesin itu telah bungkam. Ia kini sendirian bersama rasa sakitnya.
Keseimbangan dunianya runtuh sepenuhnya. Kaki Wei Chen yang telah kehilangan daya topang akhirnya menyerah, membawanya jatuh ke tanah berlumpur dengan kecepatan mengkhawatirkan. Ia mencoba menopang tubuh dengan tangan kanan, tetapi sisa tenaganya telah menguap.
Tubuhnya menghantam tanah basah dengan bunyi tumpul, mengirimkan gelombang siksaan baru ke bahunya yang robek. Jeritan lolos dari tenggorokannya, suara mentah yang lahir dari titik nadir kepedihan.
Udara tersedak keluar dari paru-parunya, membuatnya terengah-engah dalam keputusasaan.
Pedang Jian terpelanting jauh, membentur batu dengan dentingan nyaring sebelum meluncur ke kubangan lumpur. Pendaran birunya musnah tak bersisa; ia tampak seperti rongsokan besi biasa yang tak bernyawa. Koneksi mutlak itu telah putus. Suara mekanis di kepalanya lenyap, digantikan deru detak jantungnya sendiri yang memburu.
Ia terkapar tengkurap di atas lumpur dingin. Lengan kirinya terlipat di bawah tubuh dalam sudut tak wajar, mengirimkan tusukan nyeri setiap kali dadanya bergerak mengambil napas dangkal. Aliran darah dari bahunya terus mendesak keluar, mengubah tanah di bawah wajahnya menjadi pasta kirmizi yang pekat.
Suhu dingin lumpur meresap menembus kain pakaiannya, membekukan tulangnya. Lidahnya mengecap rasa logam darah bercampur butiran tanah.
Ia berupaya bangkit, sekadar mengangkat kepala, namun otot-ototnya menolak perintah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat di antara fase syok dan kelemahan paripurna.
Melalui kabut kepedihan yang melanda, ia mendengar decak langkah sepatu bot Jenderal Huo mendekat. Pelan, terukur, bagaikan predator yang menghampiri mangsa sekaratnya.
Wei Chen memejamkan mata erat-erat, mendambakan kegelapan abadi menghapus penderitaannya. Namun kesadarannya menolak pingsan; ia terjebak dalam siksaan sadar yang sempurna.
Bayangan tubuh sang jenderal menaunginya, membawa aroma tanah lembap dan besi tua. Huo berdiri tepat di atasnya, mengawasi kejatuhannya tanpa setetes iba palsu.
Sebuah tetesan air atau darah jatuh mengenai pipinya. Ketika ia mencoba membuka mata untuk melihat, pandangannya hanya menangkap gradasi kabut kelabu dan merah darah.
Ia menyadari ajalnya menjemput, bukan di atas kejayaan pahlawan, melainkan di dalam kubangan lumpur, ditinggalkan oleh mesin yang mengeksploitasi raganya.
Tepat sebelum kesadarannya benar-benar padam, suara rendah Jenderal Huo bergemuruh menembus telinganya, mengguncang tanah di bawah kepalanya:
"Kau bukan dia," bisik Huo dengan nada yang menyimpan misteri kelam, "dan kau akan segera tahu mengapa."