Chapter 12 of 33

Serangan Putus Asa, Darah Balas Dendam

1.6k words

Udara membeku di paru-paru Wei Chen, menggores dingin saat Komandan Fan mengangkat pedangnya. Kilatan besi itu memantul pada matanya yang melebar, menangkap pantulan wajah-wajah pasrah rekan-rekannya yang terikat. Tali-tali itu mengikat pergelangan tangan mereka, namun yang mengikat jiwa mereka adalah kengerian. Sebuah tatapan nanar dari Li Ming, yang kini tersungkur dengan panah masih tertancap di bahunya, melesak langsung ke jantung Wei Chen. Itu adalah tatapan seorang pria yang menyerah, menunggu akhir yang tak terhindarkan. Unit-Logika-04 berbisik di benaknya, suaranya tenang, datar, tanpa emosi, sebuah kontras yang menusuk dengan debaran jantungnya yang menggila. _"Probabilitas kelangsungan hidup: 0.00001%. Opsi pelarian optimal: Tidak ada. Opsi tempur: Bunuh diri."_ Wei Chen memejamkan mata sesaat, gambaran ibunya yang sakit melintas, diikuti oleh wajah rekan-rekan yang selama ini berbagi barak, berbagi makanan, berbagi ketakutan. Mereka bukan lagi sekadar angka, bukan lagi variabel dalam kalkulasi dingin Unit-04. Mereka adalah manusia, dan mereka akan mati di sini, karena pengkhianatan Jenderal Huo. Rasa amarah, yang selama ini hanya menjadi bara tersembunyi, kini meledak menjadi api yang membakar seluruh tubuhnya. Pedang Komandan Fan mulai turun, gerakan itu terasa lambat seperti tetesan waktu yang membeku. Tidak ada lagi logika. Tidak ada lagi probabilitas. Hanya ada rasa sakit yang mendidih, hasrat untuk membalas, dan penolakan mentah-mentah terhadap takdir yang kejam. Otot-ototnya menegang, napasnya tercekat. "TIDAK!" Sebuah raungan pecah dari tenggorokan Wei Chen, bukan lagi bisikan ketakutan, melainkan jeritan kemarahan yang melengking, memotong keheningan tegang di benteng musuh. Suara itu begitu keras, begitu mendadak, hingga bahkan Jenderal Huo yang berdiri angkuh pun tersentak, tatapan mata angkuhnya melebar. Wei Chen melompat maju. Kakinya menjejak tanah dengan kekuatan yang tidak ia ketahui ia miliki, melepaskan dirinya dari ketakutan yang membelenggu. Tubuhnya, yang selama ini lunglai, kini melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Pedang Jian di punggungnya bergetar hebat, sebuah resonansi aneh yang seolah menjawab gejolak di dadanya. Semua mata tertuju padanya. Prajurit Imperial yang terikat, prajurit pemberontak yang siap mengeksekusi, bahkan Jenderal Huo sendiri, terkejut oleh tindakan impulsif dan putus asa ini. Ini bukan tindakan seorang prajurit. Ini adalah tindakan seorang pria yang telah kehilangan segalanya, dan tidak punya apa-apa lagi untuk ditakutkan. --- _"Perubahan protokol. Prioritas: melumpuhkan ancaman. Koordinat serangan: Jenderal Huo. Target utama: Otak. Target sekunder: Arteri karotis. Inisiasi mode tempur manual-paksa."_ Suara Unit-Logika-04 kini bergema, bukan lagi bisikan, melainkan perintah yang menggelegar langsung di saraf motoriknya. Ini bukan lagi saran, melainkan sebuah injeksi langsung ke setiap serabut otot, setiap denyut nadinya. Wei Chen merasakan tubuhnya menegang, kemudian rileks secara paksa, setiap sendi berputar, setiap otot berkontraksi dengan presisi yang mengerikan. Ini bukan lagi dirinya yang bergerak. Ini adalah Unit-Logika-04 yang mengambil alih kemudi, bukan untuk bertahan hidup, tetapi untuk membalas dendam. Sebuah gejolak dingin menjalari tulang punggungnya, sensasi yang akrab, namun kini jauh lebih kuat, lebih mendominasi. Tangannya secara otomatis mencengkeram gagang pedang Jian. Dinginnya baja terasa seperti gumpalan es yang mengalirkan energi ke lengannya. Bukan berat yang membebani, melainkan sebuah perpanjangan dari kehendak asing yang kini menguasai raganya. Matanya memicing, fokusnya menajam, melihat celah-celah dalam formasi musuh yang sebelumnya tak terlihat olehnya. Jenderal Huo, yang masih terpaku, menjadi titik merah dalam pandangan Wei Chen. Sebuah target. _"Vektor pergerakan: 12 derajat ke kanan, 7 meter. Kecepatan optimal: 8.3 meter/detik. Penghalang: 3 unit biologis. Eliminasi."_ Perintah Unit-04 mengalir tanpa henti, memetakan setiap gerakan, setiap kemungkinan, menjadi algoritma kematian yang sempurna. Ini adalah tarian mematikan, di mana Wei Chen hanyalah boneka yang ditarikan oleh benang tak terlihat. Sebuah geraman tertahan keluar dari tenggorokan Wei Chen, campuran dari teror dan kekuatan yang baru ditemukan. Ini bukan keberaniannya sendiri, ia tahu itu. Namun, amarah di dadanya, hasrat untuk membuat Jenderal Huo membayar, adalah miliknya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Unit-Logika-04 tampaknya selaras dengan hasrat primitif itu, mengubah tujuannya dari sekadar bertahan hidup menjadi penghancuran. --- Pedang Jian melesat seperti kilat perak yang baru saja menyambar dari langit. _Sreeet!_ Suara desingan bilah membelah udara, begitu cepat, begitu tak terduga, sehingga prajurit terdekat yang mencoba menghalangi Wei Chen bahkan tidak sempat berkedip. Bilah dingin itu memotong lehernya dengan presisi yang mengerikan, urat nadi dan kulit terbelah dalam satu gerakan cair. _Plak!_ Darah menyembur, hangat dan merah gelap, memercik di wajah Wei Chen. Mata prajurit itu membelalak, cengkeramannya pada tombak melonggar sebelum tubuhnya ambruk ke tanah, kepalanya miring pada sudut yang mengerikan. Tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang pecah oleh suara tubuh yang jatuh. Prajurit lain di sampingnya, yang baru saja mengangkat perisai, membeku. Kengerian murni terpancar dari matanya. Ini bukan seorang prajurit. Ini adalah hantu. _"Pergerakan horizontal 0.5 meter, putar poros tubuh 180 derajat. Sudut serangan 67 derajat, target: rongga dada. Tekanan: 45 kilogram."_ Perintah Unit-Logika-04 berdesing, dan tubuh Wei Chen bergerak sebelum otaknya sempat memprosesnya. Pedang itu berputar, sebuah busur mematikan di udara. _Cprooot!_ Ujung bilah menancap tepat di antara tulang rusuk prajurit itu, merobek daging dan menembus jantungnya. Sebuah erangan tersengal keluar dari bibirnya, mata prajurit itu menatap kosong ke langit kelabu. Pedang itu ditarik keluar dengan sebuah _slurp_ basah, darah berhamburan lagi, membasahi jubah Wei Chen. Jenderal Huo mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi. Ia telah melihat banyak pertumpahan darah, banyak pembantaian, tetapi ini... ini berbeda. Bocah kurus yang ia anggap tak berguna, kini bergerak dengan kecepatan dan kebrutalan yang tak masuk akal. Ini bukan seni bela diri yang ia kenal. Ini adalah mesin pembunuh yang dingin, dipersenjatai dengan bilah yang tak kenal ampun. Wei Chen tidak merasakan apa-apa selain perintah-perintah yang mengalir, dan denyutan amarah yang kini bercampur dengan sensasi dingin dari pedang itu. Setiap gerakan adalah kalkulasi, setiap tebasan adalah solusi. Darah di wajahnya, bau besi, dan jeritan pendek dari para korban menjadi bagian dari lanskap baru, lanskap kematian yang ia ciptakan. --- Wei Chen bergerak dalam badai darah, sebuah pusaran kekerasan yang membabi buta namun presisi. _"Unit biologis di depan: kelemahan pada sendi lutut. Unit biologis di kiri: posisi leher terbuka."_ Suara Unit-Logika-04 adalah satu-satunya melodi di tengah kekacauan. Ia tidak lagi melihat wajah, hanya titik-titik lemah, sudut-sudut fatal, dan vektor-vektor serangan. _Plak! Plak!_ Pedang Jian menari di tangannya, bukan lagi alat berat yang membebani, melainkan perpanjangan dari dirinya yang baru, dirinya yang dikendalikan. Ia menusuk, menebas, dan menghujam, setiap gerakan adalah kombinasi sempurna antara fisika dan anatomi. Seorang prajurit yang mencoba menyerang dari belakang roboh dengan luka tebasan horizontal di perut. _Cproot... cproot..._ Bau isi perut yang tumpah langsung menyeruak. Jeritan panik mulai pecah dari barisan musuh. Mereka adalah prajurit berpengalaman, tetapi mereka tidak siap untuk ini. Mereka tidak siap menghadapi hantu yang bergerak dengan kecepatan abnormal, yang tidak menunjukkan rasa takut, yang bilahnya menembus pertahanan seolah terbuat dari kertas. Ini bukan pertarungan. Ini adalah pemusnahan. Wei Chen memutar tubuhnya, menghindari tebasan kapak yang mengarah ke kepalanya, _whizzz_. Pedang Jian-nya melesat ke atas, menangkis, lalu dengan gerakan memutar, ia mengunci lengan prajurit itu. Sebuah sentakan tajam, _kreeek!_ Tulang sendi bahu bergeser, disusul oleh erangan kesakitan yang memilukan. Sebelum pria itu bisa bereaksi, pedangnya sudah menembus dadanya, menghujam ke jantung. _Shhh... slrrph..._ Suara desakan bilah menembus daging terdengar jelas di tengah gemuruh pertempuran. Wei Chen tidak bisa merasakan kepuasan, hanya efisiensi brutal dari setiap gerakan. Ia membalaskan dendam rekan-rekannya yang gugur, setiap tetes darah yang tumpah adalah pengingat akan pengkhianatan Jenderal Huo. Amarahnya mengalirkan energi, tetapi kendali tetap pada Unit-Logika-04. Li Ming, yang masih terikat, menatapnya dengan mata terbelalak, bukan lagi ketakutan akan kematiannya sendiri, melainkan teror murni melihat sosok yang dulu ia anggap penakut kini berubah menjadi iblis. Para prajurit Imperial lain, yang terikat di sampingnya, juga terdiam, menyaksikan kebrutalan yang tak masuk akal ini. Wei Chen, sang Shutong, si bocah kurus, kini adalah malaikat maut. --- Jenderal Huo mundur lagi, terhuyung-huyung ke belakang, hampir tersandung tumpukan mayat anak buahnya sendiri. Matanya terpaku pada Wei Chen, yang kini berdiri di tengah lingkaran kematian yang ia ciptakan. Lebih dari sepuluh prajuritnya tergeletak tak bernyawa, darah mereka membasahi tanah benteng, membentuk pola-pola aneh di bawah cahaya obor yang berkedip. "Bocah ini... bagaimana bisa?" Jenderal Huo bergumam, suaranya serak, tak percaya. Ini adalah kekacauan yang tak terduga. Rencananya sempurna. Eksekusi ini seharusnya menjadi pesan, peringatan. Tetapi bocah Shutong ini, Wei Chen, telah mengubahnya menjadi mimpi buruknya sendiri. Unit-Logika-04 tidak lagi memberikan perintah verbal. Kecepatannya telah melampaui kemampuan Wei Chen untuk memproses kata-kata. Pedang Jian, yang kini berkilau dengan lapisan darah, memancarkan cahaya biru redup yang lebih intens. Itu berdenyut, seolah jantungnya sendiri berdetak di dalam bilah baja itu. Wei Chen, atau entitas yang menguasai dirinya, menatap lurus ke arah Jenderal Huo, tatapan mata yang kosong namun penuh intensitas membekukan. Ini bukan lagi anak laki-laki yang penakut, melainkan predator tanpa emosi. "Serang! Jangan biarkan dia mendekat!" teriak salah satu perwira Jenderal Huo, suaranya panik. Prajurit yang tersisa, yang jumlahnya sudah jauh berkurang, ragu-ragu. Ketakutan terpancar dari mata mereka. Mereka telah melihat betapa cepat rekan-rekan mereka jatuh. Ini bukan lawan yang bisa dihadapi dengan keberanian semata. Wei Chen tidak menunggu. Tubuhnya berbalik, sebuah gerakan fluid yang memungkinkannya melesat ke arah mereka yang tersisa. Ini adalah pertarungan terakhir, sebuah misi bunuh diri yang telah berubah menjadi pembantaian satu sisi. Ia adalah badai, kehancuran yang tak terhentikan, dipandu oleh logika dingin dan amarah yang mendidih. Satu demi satu, para prajurit itu jatuh, suara bilah yang menembus daging menjadi satu-satunya melodi yang tersisa di medan pertempuran. Akhirnya, hanya keheningan yang tersisa. Jenderal Huo menyaksikan kengerian itu, tidak berdaya. Wei Chen berdiri di atas tumpukan mayat, pedangnya berlumuran darah dan cahaya biru Unit-04 memudar, meninggalkan ia sendirian dengan kengerian atas apa yang telah ia lakukan, dan rasa kosong yang menakutkan.

End of Chapter 12

Chapter 12: Serangan Putus Asa, Darah Balas Dendam - Besi Dingin, Darah Hangat | Novel AI Studio