Udara di dalam benteng musuh yang sepi itu terasa seperti kawat tipis yang ditarik kencang, nyaris putus. Bau anyir darah segar bercampur debu menusuk hidung Wei Chen, membuat perutnya bergejolak. Mayat-mayat prajurit Dinasti, seragam mereka compang-camping, tergeletak kaku di antara puing-puing, bukti nyata dari pengkhianatan yang baru saja mereka saksikan.
Jantung Wei Chen berdetak tak beraturan di dalam dadanya, memukul-mukul rusuknya seolah ingin keluar. Kepalanya mendidih oleh amarah, matanya menangkap setiap detail: wajah Kapten Lin yang mengeras, Li Ming yang terluka dengan napas tersengal, dan kemudian, tatapan Jenderal Huo.
Jenderal itu berdiri di ambang gerbang utama, siluetnya memanjang oleh cahaya obor yang berkedip. Senyum dingin mengukir bibirnya, sebuah seringai yang terasa lebih tajam daripada bilah pedang. Matanya memancarkan cahaya licik yang membuat Wei Chen merasakan dingin menjalari tulang belakangnya. Itu bukan senyum kemenangan, melainkan senyum predator yang menemukan mangsanya tepat di dalam perangkap.
"Kalian," suara Jenderal Huo memecah keheningan, mengalir seperti racun dingin di telinga Wei Chen, "melihat terlalu banyak."
Setiap suku kata terasa seperti pukulan, merobek lapisan tipis harapan yang masih tersisa. Wei Chen merasakan otot-otot di rahangnya mengencang, tangannya otomatis mencengkeram gagang pedang Jian di punggungnya. Baja dingin pedang itu seolah merespons, mengirimkan getaran halus yang menenangkan sekaligus mengancam.
Kata-kata Huo bukan pertanyaan, melainkan vonis. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa tebal, setiap napas menjadi berat. Wei Chen menahan diri untuk tidak membalas, menjaga ekspresi wajahnya sekeras mungkin, berusaha menyembunyikan badai yang mengamuk di dalam dirinya. Unit-Logika-04 berbisik di benaknya, *"Analisis ancaman: Mayor. Probabilitas bertahan hidup tanpa respons: 0.00001%."*.
Jenderal Huo melangkah maju, sorot matanya menyapu wajah unit pengintai, satu per satu. Ia berhenti sebentar pada Wei Chen, sebuah kilatan mencemooh melintas. "Kukira kau memiliki intuisi yang baik, Wei Chen. Tapi ternyata, kau hanya anak ayam yang tersesat ke sarang serigala." Bibirnya melengkung sinis, menikmati setiap detiknya.
Ketegangan memuncak, membuat suara jangkrik di luar benteng terdengar memekakkan telinga. Wei Chen merasakan matanya berpaling ke Kapten Lin, mencari petunjuk, namun sang kapten hanya membalas dengan tatapan pasrah yang menusuk. Kepalanya tertunduk, bahunya melorot, seolah semua perlawanan telah pupus dari tubuhnya. Di belakang Jenderal Huo, para prajurit yang sebelumnya mereka anggap sebagai rekan, kini berdiri tegak dengan tatapan kosong, senjata terhunus. Pengkhianatan itu nyata, dan kini mereka terkepung.
---
Suara desing anak panah yang melesat dari belakang Jenderal Huo menjadi aba-aba yang mematikan. *Sreeet!* Anak panah itu menancap di dinding batu di sebelah telinga Kapten Lin, getarannya masih terasa. Itu adalah tembakan peringatan, ancaman tanpa kata yang menggema. Para prajurit pengkhianat, yang sebelumnya berbaris rapi di belakang Huo, kini bergerak serentak, langkah kaki mereka berat dan pasti, mengepung unit pengintai Wei Chen seperti jaring kematian.
Bilangan prajurit itu jauh lebih banyak. Wei Chen menghitung cepat dalam benaknya: dua belas melawan empat, dengan satu di antaranya sudah terluka parah. Unit-Logika-04 segera memperbarui datanya, *"Formasi musuh: Lingkaran tertutup. Sudut pandang terblokir. Kecepatan reaksi lawan: Tinggi."*
Pedang mereka terhunus, memantulkan cahaya obor yang menari-nari. Besi dingin itu berkilat mengerikan, mengancam untuk menumpahkan darah siapa pun yang berani melawan. Wei Chen melihat mata Li Ming yang melebar, ketakutan murni terpancar jelas. Li Ming mencengkeram lengannya yang tertembus panah, darah segar masih merembes keluar, membasahi kain bajunya yang kotor. Napasnya terengah, dan pandangannya nanar, seolah tidak percaya dengan apa yang ia saksikan.
"Jangan bergerak," perintah salah satu prajurit pengkhianat, suaranya datar, tanpa emosi, seolah mereka sedang memburu binatang liar, bukan rekan seperjuangan. Matanya dingin, seperti es. Ia adalah seorang perwira yang biasa mereka sapa dengan ramah, kini wajahnya mengeras seperti topeng kematian. Wei Chen merasakan setiap serat ototnya menegang, siap untuk bereaksi, tetapi otaknya terasa lumpuh oleh kengerian.
Unit-Logika-04 bergetar di tangannya, mengirimkan instruksi yang lebih mendesak. *"Ancaman pada titik A: Tiga unit. Titik B: Dua unit. Titik C: Empat unit. Prioritas: Kelangsungan hidup inang biologis."* Suara itu, meskipun tanpa emosi, terdengar semakin intens, seolah merasakan urgensi yang mematikan.
Wei Chen melihat Kapten Lin menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan kekalahan. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, isyarat universal untuk menyerah. Raut wajahnya dipenuhi kesedihan yang mendalam, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk nasib anak buahnya. Ia tahu bahwa perlawanan hanya akan mempercepat akhir yang tak terhindarkan. Wei Chen merasakan gelombang panas membakar dadanya, amarah yang baru saja padam kini menyala kembali dengan hebat. Bagaimana bisa mereka menyerah begitu saja? Bagaimana bisa mereka membiarkan pengkhianatan ini terjadi?
---
Dalam kekacauan yang terjadi, Unit-Logika-04 membanjiri benak Wei Chen dengan rentetan data yang kejam. Informasi itu datang dalam kilatan visual dan angka probabilitas, seolah dunia di sekitarnya melambat dan terurai menjadi elemen-elemen taktis. *"Opsi rute pelarian: Celah ventilasi di sektor 3. Jarak: 8 meter. Ketinggian: 2.5 meter. Sudut geser: Optimal. Probabilitas keberhasilan: 12%."*
Bayangan celah sempit di atas kepala Wei Chen muncul jelas di benaknya, sebuah lubang yang nyaris tak terlihat di antara tumpukan puing dan balok kayu lapuk. Sebuah jalan tikus, dingin dan gelap, yang bisa membawanya keluar dari benteng ini. *"Merekam data pengkhianatan: Jenderal Huo. Perwira: {Daftar nama}. Kode loyalitas: Rusak. Prioritas utama: Evakuasi data."* Suara Unit-Logika-04 terdengar lebih dalam dan lebih resonan sekarang, seolah entitas itu sendiri telah terbangun sepenuhnya.
Wei Chen merasakan dinginnya baja pedang Jian di punggungnya, sebuah konstan yang aneh di tengah kekacauan. Pedang itu bergetar halus, seolah mendesaknya untuk bertindak, untuk mengikuti logika murni yang disediakannya. Unit-Logika-04 tidak peduli pada Kapten Lin atau Li Ming, ia hanya peduli pada kelangsungan hidup inang biologisnya dan data yang terkandung di dalamnya. Emosi, loyalitas, persahabatan—semua itu adalah variabel yang tidak relevan dalam kalkulasinya.
Namun, Wei Chen membeku. Otaknya berteriak menolak gagasan untuk melarikan diri, untuk meninggalkan rekan-rekannya yang pasrah. Ia melihat Kapten Lin, yang kini terikat di tiang kayu bersama Li Ming dan prajurit lainnya. Tali kasar melilit pergelangan tangan mereka, mengikat mereka erat-erat. Mata Kapten Lin tertutup, seolah ia mencoba menghindari kenyataan mengerikan yang membentang di hadapannya. Li Ming merintih pelan, kakinya gemetar. Rasa dingin mencekam hati Wei Chen, sebuah sensasi yang jauh lebih menusuk daripada udara malam.
*"Estimasi waktu respon unit musuh jika ada perlawanan: 0.7 detik. Estimasi waktu untuk melumpuhkan target utama: 2.1 detik. Kerugian inang biologis: Maksimal."* Unit-Logika-04 tidak berhenti, terus-menerus membanjiri benaknya dengan data, dengan skenario terburuk yang tak terhindarkan. Wei Chen merasakan pelipisnya berdenyut, seolah otaknya akan meledak di bawah tekanan informasi yang begitu besar. Ia tahu bahwa Unit-Logika-04 benar dari sudut pandang logis. Melarikan diri adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Tapi bagaimana mungkin ia melakukan itu? Bagaimana mungkin ia membiarkan mereka semua mati di sini?
---
Wei Chen merasakan pandangannya mengabur sejenak, fokusnya beralih dari lorong gelap tempat ia bisa melarikan diri, kembali pada wajah-wajah yang dikenalnya. Kapten Lin, yang selalu memberinya instruksi dengan kesabaran, kini terikat dengan kepala tertunduk, helaan napasnya terdengar berat. Tubuhnya tegang, namun pasrah. Wei Chen melihat garis-garis kerutan di wajah sang kapten, jejak pengalaman pahit yang kini akan berakhir dalam kehinaan.
Di samping Kapten Lin, Li Ming gemetar. Mata pemuda itu tertutup rapat, bibirnya bergerak-gerak pelan, mungkin merapal doa. Darah di lengannya yang tertembus panah sudah mengering, membentuk noda gelap di seragamnya. Wajahnya pucat pasi, dan Wei Chen bisa merasakan keputusasaan yang memancar dari tubuhnya, sebuah gelombang emosi yang menamparnya, membuat kepalanya pening. Wei Chen tahu, Li Ming adalah salah satu dari mereka yang selalu mengejeknya, menganggapnya lemah, tapi sekarang, di ambang kematian, mereka semua sama. Hanya manusia yang terjebak dalam perangkap.
Prajurit lain, dua orang yang tidak terlalu akrab dengan Wei Chen, juga terikat erat. Salah satunya menatap kosong ke depan, air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi pipi yang kotor. Yang lain berusaha keras untuk terlihat tegar, rahangnya mengatup kuat, tapi otot-otot di lehernya berdenyut tak terkendali. Mereka semua menunggu, terikat dan tak berdaya, seperti ternak yang siap disembelih. Wei Chen merasakan sesuatu di dalam dirinya robek. Kemarahan yang membakar dada kini bercampur dengan rasa mual dan putus asa.
Unit-Logika-04 tidak mengomentari pemandangan ini, fokusnya tetap pada data murni. *"Emosi inang: Disfungsi. Fokus pada prioritas. Kesempatan melarikan diri berkurang: 11.8%."* Suara itu terdengar datar, tanpa cela, mengingatkannya pada mesin yang tidak mengenal belas kasihan. Wei Chen merasakan sentakan di perutnya, rasa sakit yang bukan berasal dari luka fisik, melainkan dari pilihan yang mengoyak jiwanya. Ia bisa melarikan diri, meninggalkan mereka semua untuk mati. Ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri, menjaga keberadaan Unit-Logika-04.
Namun, bayangan ibunya melintas di benaknya, wajahnya yang sakit, menunggunya pulang. Bagaimana ia bisa hidup dengan bayang-bayang pengkhianatan ini? Bagaimana ia bisa menghadapi dirinya sendiri jika ia membiarkan orang-orang ini mati begitu saja? Wei Chen merasakan tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena konflik yang menghancurkan di dalam dirinya. Ia menatap Jenderal Huo, yang kini berbicara dengan salah satu perwiranya, senyum dingin masih menghiasi wajahnya. Jenderal itu seperti iblis yang menikmati penderitaan orang lain. Wei Chen ingin mencekik pria itu, ingin mencabik-cabik dirinya sendiri karena telah memercayai orang seperti Huo.
---
Udara mendadak menjadi dingin, seolah kematian itu sendiri telah merayap masuk ke dalam benteng. Jenderal Huo mengakhiri percakapannya dengan perwiranya, tatapannya beralih kembali ke Wei Chen dan rekan-rekannya yang terikat. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya, sebuah ekspresi kepuasan yang membuat Wei Chen merasakan darahnya mendidih. Ia tahu, momen ini akan datang.
Kemudian, sebuah suara berat yang familiar menggelegar dari balik punggung Jenderal Huo, memecah kesunyian yang mencekam. Suara itu dalam, penuh otoritas, dan dingin seperti pisau yang diasah tajam. Wei Chen merasakan jantungnya berdebar kencang, sebuah alarm berbunyi keras di dalam kepalanya. Suara itu adalah Komandan Fan, perwira yang Unit-Logika-04 pernah mendeteksi anomali pada pasokannya.
"Selesaikan mereka," perintah Komandan Fan, suaranya menggelegar di seluruh benteng. "Jangan ada saksi."
Perintah itu adalah vonis mati yang tak terbantahkan. Wei Chen merasakan tubuhnya menegang, setiap ototnya kaku seperti batu. Kata-kata itu menusuknya lebih dalam daripada bilah pedang mana pun. Ia melihat salah satu prajurit pengkhianat mengangkat pedangnya, ujungnya berkilat di bawah cahaya obor, mengarah tepat ke leher Kapten Lin. Gerakan itu lambat, disengaja, seperti ritual yang mengerikan.
Napas Wei Chen tercekat di tenggorokannya. Ia merasakan darahnya berdesir kencang, mengalir dingin melalui pembuluh darahnya. Otaknya menjerit, namun tubuhnya terasa lumpuh. Pemandangan pedang yang terangkat itu membakar retinanya, dan ia tahu, dalam hitungan detik, semuanya akan berakhir. Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus bertindak. Unit-Logika-04 bergetar hebat di punggungnya, seolah merasakan urgensi yang mematikan.
*"Probabilitas bertahan hidup saat melarikan diri: 12%. Probabilitas bertahan hidup saat bertarung: 0.1%. Keputusan harus dibuat dalam 3.2 detik."
*.