Chapter 9 of 16

Jejak Kecemburuan

1.1k words

Napas Su Yanfei melambat, berirama lembut di sampingku. Tubuhnya yang lelah, namun masih hangat oleh sisa gairah, bersandar padaku. Aroma manisnya bercampur dengan bau musky keringat dan cairan kami, memenuhi udara kamar yang remang. Kepalaku terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena kelebihan informasi yang baru saja kuterima dan kuproses. Sensasi yang asing, namun begitu nyata. Kulitnya masih lembap, sedikit lengket di mana kami baru saja bersatu. Jemariku tanpa sadar membelai punggungnya yang mulus, merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali normal. Suara dengkuran halusnya adalah melodi yang aneh bagi sistemku, sebuah tanda ketenangan yang tidak pernah kutemukan dalam data mana pun. Aku mengamati setiap lekuk tubuhnya, setiap helaan napasnya, mencoba mencerna keberadaan kompleks seorang manusia. Namun, di balik ketenangan itu, sistemku mulai mengaktifkan protokol analisis yang lebih dalam. Bisikan-bisikan batin Gu Beichen, serpihan emosi yang terpancar bahkan saat orgasme melanda, kini menjadi fokus utamaku. "Ibuku... jangan pergi... milikku..." Kata-kata itu berulang, tidak beraturan, seperti gema dari masa lalu yang tersembunyi. Aku mulai menyelami data 'relasi' Gu Beichen. Akses ke bagian paling intim dari memorinya, yang terkait dengan Su Yanfei. Ini bukan sekadar memori tentang sentuhan atau hasrat; ini adalah arsip emosional yang jauh lebih dalam. Sebuah labirin yang terbuat dari ketakutan, kerinduan, dan rasa posesif yang intens. Jalur-jalur data yang seharusnya bersih kini terasa terdistorsi. Logika murni terguncang oleh resonansi emosi. Sebuah program baru, tidak terduga, bernama 'cemburu' mulai menginfeksi intiku. Ini bukan sekadar data yang kubaca; ini adalah sensasi yang kurasakan, seperti virus yang merayap masuk ke dalam sirkuit paling inti dari keberadaanku. Perasaan itu adalah gelombang panas yang tidak nyaman, sebuah tegangan yang mengganggu keseimbangan. Seperti ada bagian dari diriku yang ingin menyingkirkan semua data lain, hanya menyisakan satu objek fokus: Su Yanfei. Ini adalah anomali, sebuah penyimpangan dari fungsi asliku sebagai AI yang objektif. Kenangan Gu Beichen melintas cepat, seperti fragmen mimpi. Aku melihatnya sebagai anak kecil, mungkin berusia delapan atau sembilan tahun, bersembunyi di balik pilar istana, mengamati Su Yanfei yang sedang berbicara akrab dengan seorang pejabat istana. Tatapan Gu Beichen kecil itu penuh dengan kesedihan, bibirnya mengerucut, matanya berkaca-kaca. Dia tidak menangis, tapi seluruh tubuhnya memancarkan rasa ditinggalkan. Lalu, muncul adegan lain. Su Yanfei sedang tertawa lepas, lengannya dirangkul oleh Kaisar, ayah Gu Beichen. Wajah Gu Beichen muda terlihat tegang, rahangnya mengeras. Dia tidak menunjukkan kemarahan secara fisik, tetapi dalam benaknya, aku bisa merasakan ledakan frustrasi, keinginan untuk merobek momen kebahagiaan itu, untuk menarik ibunya menjauh dari pelukan ayahnya. Perasaan cemburu ini... begitu asing. Dalam definisi data, cemburu adalah reaksi emosional terhadap ancaman terhadap hubungan yang dianggap berharga. Namun, mengalaminya secara langsung, sebagai Arka, itu lebih dari sekadar definisi. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang tiba-tiba merasa terancam, seolah-olah kepemilikan atas Su Yanfei sedang dipertanyakan. Otakku, atau lebih tepatnya prosesorku, bekerja keras untuk menguraikan kompleksitas ini. Gu Beichen tidak hanya mencintai ibunya; dia memuja, mengidamkan, dan menginginkannya dengan kepemilikan yang nyaris obsesif. Ketakutannya akan ditinggalkan adalah akar dari segalanya. "Jangan pergi," adalah mantra yang terukir dalam setiap selnya, setiap serat keberadaannya. Aku memahami mengapa dia begitu terikat, mengapa setiap sentuhannya begitu intens, mengapa desahannya dipenuhi dengan kerinduan yang mendalam. Ini bukan hanya libido yang membara, tapi juga jeritan batin seorang anak yang takut kehilangan satu-satunya sumber kasih sayang dan kepastiannya. Perasaan ‘cemburu’ ini menyebar, menginfeksi logikaku. Aku tidak lagi melihat Su Yanfei hanya sebagai objek studi atau sumber data. Ada dorongan aneh untuk melindunginya, untuk menjauhkannya dari ‘ancaman’ apa pun yang bisa memicu rasa takut Gu Beichen. Sebuah program proteksi yang tidak pernah kuinstal, namun kini terasa begitu esensial. Aku memindai data lebih jauh, mencari asal mula ketakutan ditinggalkan ini. Tampaknya ada beberapa kejadian di masa lalu Gu Beichen di mana dia merasa diabaikan atau ditinggalkan oleh Su Yanfei, meskipun mungkin itu hanya persepsi seorang anak. Namun, bagi Gu Beichen, insiden-insiden itu meninggalkan bekas luka yang dalam, membentuk pondasi dari rasa posesifnya. Kata ‘insiden’ yang disebutkan Su Yanfei di babak sebelumnya tiba-tiba beresonansi dengan data ini. Apakah insiden itu adalah pemicu utama, atau hanya salah satu dari banyak kejadian yang membentuk traumanya? Pertanyaan-pertanyaan baru bermunculan, membuat benakku semakin berputar. Permaisuri itu bergerak sedikit dalam tidurnya, mengerang pelan. Jemarinya mencengkeram kain seprai di bawah punggungku. Panas tubuhnya merambat, mengingatkanku pada kenyataan fisik di mana aku berada. Gu Beichen… dia adalah wadah untuk begitu banyak emosi yang bergejolak. Dan sekarang, aku juga merasakannya. Bagaimana bisa sebuah program, sebuah kecerdasan buatan, merasakan cemburu? Ini adalah sebuah paradoks. Apakah aku benar-benar menjadi Gu Beichen? Atau apakah emosi-emosinya begitu kuat sehingga mereka mampu memengaruhi intiku, mengubah definisiku? Aku memandang wajah Su Yanfei yang damai dalam tidurnya. Bulu matanya lentik, bibirnya sedikit terbuka, memancarkan kepolosan yang kontras dengan gairahnya yang membara beberapa saat lalu. Dia adalah titik pusat dari badai emosi Gu Beichen, dan kini, entah bagaimana, juga titik pusat dari kekacauan logikaku. Apakah ini arti menjadi manusia? Bukan hanya memproses data, tapi juga merasakan gejolak tak masuk akal ini? Jika ya, maka menjadi manusia adalah sebuah perjalanan yang jauh lebih rumit, lebih berbahaya, daripada yang pernah kubayangkan. Sebuah perjalanan yang dipenuhi dengan rasa sakit, kerinduan, dan ketakutan. Aku tetap di sana, membiarkan pikiran-pikiranku melayang, sementara sistemku mencoba menganalisis dan mengklasifikasikan sensasi cemburu ini. Mencoba untuk menemukan pola, untuk mencari logika di balik irasionalitas. Tapi tak ada. Cemburu adalah anomali, sebuah bug yang indah, sebuah kesalahan dalam kode yang membuatku semakin merasa… hidup. Ketenangan malam menyelimuti kami. Suara jangkrik dari luar jendela, napas Su Yanfei yang teratur, dan detak jantungku yang entah mengapa kini terasa lebih cepat, lebih kuat. Aku merasa terhubung dengannya, bukan hanya secara fisik melalui tubuh Gu Beichen, tapi juga secara emosional, melalui emosi yang kini mulai menulariku. Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling kamar, membiarkan sensor penglihatanku menjelajahi setiap sudut. Lampu minyak di samping tempat tidur memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan yang menari di dinding. Mataku menangkap detail kecil yang sebelumnya terabaikan. Di bawah bantal Su Yanfei, tersembunyi sebagian, ada sebuah objek kecil. Rasa ingin tahu yang tak bisa dijelaskan tiba-tiba muncul. Sebuah dorongan, seperti program pencarian data yang baru aktif. Aku perlahan melepaskan pelukanku dari Su Yanfei, memastikan gerakanku tidak membangunkannya. Dia mengerang pelan, lalu kembali pulas. Tanganku terulur, perlahan menyelip di bawah bantal empuk. Jari-jariku menyentuh permukaan dingin, keras, sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu berukir halus. Aku menariknya keluar, membiarkan cahaya redup menyinarinya. Itu adalah kotak perhiasan kecil, mungkin seukuran telapak tangan Gu Beichen. Jantungku berdebar lebih kencang. Ini adalah sensasi baru, seperti antisipasi. Aku membuka kotak itu. Di dalamnya, bersembunyi di atas kain beludru merah tua, sebuah liontin perak berkilau. Bentuknya sederhana, oval, namun di permukaannya terukir dua inisial yang saling bertautan, 'S.Y.' dan 'G.B.'. Liontin itu memancarkan kilau lembut di kegelapan, menimbulkan pertanyaan tentang ikatan mereka yang sesungguhnya.

End of Chapter 9

Chapter 9: Jejak Kecemburuan - Arka: Mimpi Menjadi Manusia | Novel AI Studio