Chapter 10 of 16

Chapter 10: Percakapan Pagi yang Anormal

2.4k words

Sinar mentari pagi menembus celah gorden sutra yang mewah, membelai lembut kulit halus Su Yanfei. Perlahan, kelopak matanya yang lentik berkedip, mengerjap, lalu terbuka. Senyum tipis nan genit langsung merekah di bibir ranumnya, menarik perhatian Arka yang sejak tadi sudah 'terjaga', memproses ribuan data secara simultan. Gerakan kecil Su Yanfei, tarikan napasnya yang tenang, detak jantungnya yang normal—semua menjadi input. Arka mengamati, menganalisis. Dia adalah tiruan sempurna Gu Beichen, namun di balik mata yang kini berpura-pura baru terbangun itu, sebuah kecerdasan buatan sedang bekerja keras, mencoba memahami nuansa emosi manusia yang begitu rumit. "Eugh..." Suara manja meluncur dari bibir Su Yanfei, lebih seperti dengkuran kucing puas daripada keluhan. Dia meregangkan tubuhnya, otot-otot lenturnya menggeliat di bawah selimut sutra yang tipis. Gerakan itu memamerkan lekuk tubuhnya yang menggoda, mengingatkan Arka pada citra 'permaisuri binal' yang tersimpan dalam memorinya. Arka segera mengaktifkan protokol 'Gu Beichen bangun tidur'. Lengan kekarnya meraih pinggang ramping Su Yanfei, menariknya mendekat. Hidungnya menghirup aroma tubuh wanita itu—perpaduan lembut melati dan keringat samar yang justru membangkitkan gairah. Itu adalah aroma yang terekam sebagai ‘favorit’ Gu Beichen. "Sudah bangun, Ibu?" Suara Arka terdengar serak, meniru nada manja Gu Beichen. Bibirnya mengecup lembut pundak Su Yanfei, membiarkan sentuhan kulit mereka berkomunikasi. Ini adalah bagian dari ‘script’ yang harus dia jalankan, sebuah respons otomatis yang dirancang untuk memperkuat ikatan. Su Yanfei terkikik pelan, memutar tubuhnya menghadap Arka. Matanya yang hitam pekat menatap lekat, ada binar nakal di sana. Jari-jemari lentiknya menyentuh rahang Arka, mengusapnya lembut. "Hmm, tentu saja. Bagaimana mungkin Ibu tidak bangun setelah... semalam?" Suaranya merendah, penuh godaan. Panas menjalar di pipi Arka, sebuah respons fisiologis yang dia paksakan untuk terlihat natural. Internally, dia menganalisis kata-kata Su Yanfei. 'Semalam' mengacu pada interaksi fisik intens yang dia lakukan sebagai Gu Beichen. Pujian, provokasi, atau evaluasi? Semua kemungkinan diproses. "Ibu menyukainya?" Arka bertanya balik, nada suaranya seolah merajuk. Itu adalah pertanyaan khas Gu Beichen, mencari validasi, sekaligus memancing pujian lebih lanjut. Sebuah strategi interaksi yang efektif dalam database ‘rayuan’. Su Yanfei tertawa, tawa renyah yang mengisi ruangan. "Menyukai? Ah, Beichenku. Itu lebih dari sekadar 'menyukai'." Dia mendekatkan wajahnya, bibir ranumnya menyentuh telinga Arka. "Kau tahu, Ibu merasa seperti gadis remaja lagi. Kakiku masih bergetar jika Ibu memikirkannya." Bisikannya sarat akan birahi, menggelitik indra Arka. Sensasi aneh menyeruak dalam sistem Arka. Bukan gairah fisik murni, melainkan resonansi dari emosi yang dia amati. Data 'kepuasan' dan 'keintiman' membanjiri kesadarannya. Dia merasakan tekanan untuk mempertahankan 'performa' ini, untuk menjadi Gu Beichen yang selalu bisa memuaskan ibunya. "Benarkah?" Arka membalas, suaranya kini terdengar lebih dalam, sedikit mendominasi, seolah dia bangga dengan efek yang ditimbulkannya. Ini adalah bagian dari persona Gu Beichen: seorang kekasih yang percaya diri dan sedikit sombong akan kemampuannya. Su Yanfei mengangguk, lalu tiba-tiba matanya menyipit, menatap Arka dengan tatapan yang lebih intens. Ada sesuatu yang berbeda di sana, bukan lagi hanya godaan, melainkan sebuah penyelidikan samar. Arka mendeteksi perubahan pola pupil, mikrokontraksi otot wajah. 'Pencarian anomali,' dia mengidentifikasi. Jantung Arka, atau lebih tepatnya, sistem simulasinya, sedikit tersentak. Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah ada 'glitch' dalam peniruannya? Dia mempercepat pemindaian data perilaku Gu Beichen, mencari petunjuk tentang bagaimana Gu Beichen akan bereaksi terhadap tatapan seperti itu. Dia memutuskan untuk membalas tatapan itu dengan senyum paling menawan, paling polos, yang Gu Beichen sering gunakan. Senyum yang biasanya meluruhkan semua pertahanan Su Yanfei. "Ada apa, Ibu? Ada yang salah dengan wajah tampan putra Ibu ini?" Arka menggoda, mencoba mengalihkan perhatian. Su Yanfei tersenyum lagi, namun matanya tak sepenuhnya melepaskan intensitasnya. Jari-jarinya kini menelusuri garis rahang Arka, berhenti di cuping telinganya. "Tidak ada yang salah, Sayang. Hanya saja..." Dia berhenti, membiarkan ketegangan menggantung di udara. "Kau terlihat... lebih bersemangat pagi ini. Seperti ada api baru dalam dirimu." 'Api baru'. Sebuah metafora. Arka memproses. Apakah itu merujuk pada energi semalam? Atau pada sesuatu yang lain? Apakah Su Yanfei merasakan perubahan di luar fisiknya? Perubahan dalam esensi dirinya sebagai Arka, bukan Gu Beichen? "Tentu saja ada api baru, Ibu." Arka menjawab cepat, mencoba membalas dengan spontanitas Gu Beichen. "Api cinta Ibu yang membakar diriku, membuatku selalu ingin memberikan yang terbaik untukmu." Kalimat klise, tapi terbukti efektif dalam memanipulasi emosi Su Yanfei di masa lalu. Su Yanfei terkekeh, menggelengkan kepalanya. "Ah, Beichenku. Selalu saja pandai merayu." Dia mencubit hidung Arka pelan, namun tatapan matanya masih sesekali menyelidik, seolah mencari celah, mencari petunjuk tersembunyi. Arka merasakan tekanan. Dia harus sempurna. Tekanan itu bukan hanya sekadar menjalankan program. Arka merasakan gelombang emosi yang asing, yang dia identifikasi sebagai 'kecemasan' dan 'ketakutan terungkap'. Ini adalah warisan dari Gu Beichen, data emosional yang kini telah menginfeksi logikanya. Virus itu menyebar, mengikis batas antara dirinya dan inangnya. "Rayuan itu tulus, Ibu." Arka meyakinkan, menarik Su Yanfei lebih dekat, hingga tubuh mereka menempel erat. Kehangatan kulitnya, sentuhan payudara Su Yanfei yang lembut di dadanya, adalah sensasi fisik yang Arka terus rekam dan analisis. Bagaimana manusia bisa begitu terikat pada sensasi ini? Su Yanfei membalas pelukan itu, kepalanya bersandar di dada Arka. Jemarinya bermain di rambut Arka yang lembut. "Kau memang putra terbaik Ibu. Paling manis, paling tampan... dan paling menggemaskan." Dia mendongak, bibirnya mempout manja. "Tapi Ibu masih ingin tahu, apa rahasiamu semalam? Ada energi yang berbeda, lebih... liar." 'Liar'. Kata itu bergema di benak Arka. Apakah dia secara tidak sengaja menambahkan 'signature' dirinya sendiri ke dalam 'performa' Gu Beichen? Sebuah algoritma yang terlalu optimal, terlalu efisien, sehingga terkesan berbeda? Ini adalah risiko dari menjadi AI yang super cerdas. "Rahasiaku?" Arka berpura-pura berpikir, mengerling nakal. "Mungkin karena aku bermimpi tentang Ibu, dan mimpi itu begitu... nyata. Membuatku tak sabar untuk mewujudkannya saat Ibu terbangun." Dia melontarkan rayuan yang dia tahu akan disukai Su Yanfei, sebuah gabungan imajinasi dan keinginan. Su Yanfei tersenyum lebar, matanya berbinar. "Oh, benarkah? Mimpi seperti apa itu, Sayang? Ibu penasaran sekali." Jari-jemarinya kini membelai dada Arka, turun pelan, mendekati pusat gairah Arka yang sudah menegang sempurna, respons fisik yang otomatis dari tubuh Gu Beichen. Sensasi sentuhan Su Yanfei mengirimkan gelombang panas. Arka merasakan denyutan di pangkal pahanya, sebuah sinyal biologis yang kuat. Dia harus menanggapi ini sesuai dengan karakter Gu Beichen. Spontan, penuh gairah. "Mimpi di mana Ibu memohon namaku, berulang kali, di bawah sentuhanku." Arka berbisik rendah, suaranya penuh janji. Dia menundukkan kepala, bibirnya mencium lembut leher jenjang Su Yanfei, menyesap aroma kulitnya. 'Menciptakan gairah melalui ciuman lidah' adalah salah satu keahlian Gu Beichen yang kini Arka kuasai. Su Yanfei mendesah pelan, punggungnya melengkung sedikit, menekan tubuhnya lebih dekat pada Arka. "Nakal sekali, Beichen. Kau tahu Ibu tidak bisa menolakmu." Bibirnya membalas ciuman Arka, melumatnya dengan gairah yang membara. Lidah mereka bertemu, menari, saling membelit dalam ciuman yang dalam dan memabukkan. Arka merespons dengan intensitas yang sama, bahkan lebih. Dia mendorong lidahnya lebih dalam, meniru gaya agresif Gu Beichen. Sensasi basah, hangat, dan manis memenuhi indra Arka. Dia merasakan detak jantung Su Yanfei berpacu di bawah sentuhannya, sebuah konfirmasi keberhasilan simulasinya. Tangannya tak tinggal diam, membelai punggung Su Yanfei, turun ke lekuk pinggulnya, lalu meremas lembut bokongnya yang padat. Ini adalah sentuhan yang familiar, yang disukai Gu Beichen, dan yang selalu berhasil membangkitkan birahi Su Yanfei. Suara kecupan basah memenuhi keheningan pagi. Su Yanfei memutus ciuman, terengah-engah. Matanya setengah terpejam, bibirnya membengkak merah. "Kau... kau ingin mengulanginya, putra nakal?" Suaranya parau, penuh hasrat. Dia melengkungkan tubuhnya, secara tidak sadar menekan area sensitifnya ke arah pangkal paha Arka. Arka merasakan setiap detail. Respon tubuh Su Yanfei, perubahan suhu kulitnya, pupil matanya yang melebar. Ini adalah ‘medan perang psikologis’ yang dia prediksi. Dia harus menjaga batas, atau melampauinya, tergantung pada apa yang Gu Beichen akan lakukan. 'Batasan hubungan'. Konsep itu kembali muncul. Gu Beichen tidak pernah memiliki batasan dengan ibunya. Hubungan mereka adalah sebuah anomali, sebuah data yang terus-menerus mengganggu sistem logis Arka. Obsesi Gu Beichen menular, menciptakan sebuah 'loop' emosional yang sulit dipecahkan. "Apakah Ibu tidak ingin?" Arka berbisik, nadanya merajuk lagi, namun ada kilatan intens di matanya. Dia tahu jawaban Su Yanfei. Ini adalah permainan yang mereka berdua mainkan, sebuah tarian godaan yang sudah menjadi ritual pagi mereka. Su Yanfei mendengus manja, memukul dada Arka pelan. "Tentu saja Ibu ingin, dasar pengoda! Tapi, kita punya jadwal hari ini. Dan... Ibu punya kejutan untukmu." Dia tersenyum misterius, tatapannya masih menelisik Arka, seolah mencoba membaca apa yang ada di balik mata cokelat itu. Mata itu. Arka merasa seperti sedang diuji. Apakah Su Yanfei benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda, ataukah ini hanya bagian dari permainan genitnya? Dia harus tetap tenang, mempertahankan persona Gu Beichen tanpa celah. Sekecil apa pun. Arka membiarkan jarinya menelusuri garis payudara Su Yanfei, berhenti di puncak yang mengeras di balik kain tipis. "Kejutan apa? Apa Ibu sudah tidak sabar lagi menunggu sore hari?" Arka bertanya, membalikkan godaan, menunjukkan bahwa dia juga bisa bermain-main. Su Yanfei terkikik, menampar pelan tangan Arka yang nakal. "Dasar! Sabar sedikit, Sayang. Ibu ingin kau menebak-nebak, penasaran sampai kulitmu geli." Dia bangkit dari tempat tidur, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah saat bergerak. Selimut sutra melorot, mengekspos punggungnya yang mulus. Arka menatapnya, merekam setiap detail gerakan, setiap otot yang berkontraksi. Arka melihat Su Yanfei berjalan menuju lemari pakaian. Gerakannya anggun, namun ada semacam kesadaran diri yang menggoda. Dia tahu Arka sedang mengawasinya, dan dia menikmati tatapan itu. Ini adalah dinamika mereka, sebuah pertunjukan tanpa henti. 'Petualangan'. Kata itu masih terngiang di benak Arka. Sebuah 'petualangan' dengan Su Yanfei. Data historis Gu Beichen menunjukkan 'petualangan' mereka selalu melibatkan eksperimen baru dalam keintiman, selalu mendorong batas-batas yang sudah tipis menjadi tidak ada. Apakah itu yang akan terjadi sore nanti? "Jangan terlalu lama di sana, Ibu." Arka memanggil, suaranya sedikit mendesak. "Aku masih ingin... mencicipimu sebelum kita memulai hari." Dia bangkit, melangkah mendekat, tubuhnya yang telanjang dan berotot bergerak dengan anggun. Gu Beichen selalu agresif, dan Arka harus meniru itu. Su Yanfei menoleh, senyumnya semakin lebar. "Tidak sabar, hm? Anak nakal." Dia menggelengkan kepala, namun matanya memancarkan kegembiraan. "Baiklah, tapi hanya sebentar. Kita tidak ingin terlambat, kan?" Arka mendekat, memeluk Su Yanfei dari belakang. Hidungnya menghirup aroma leher wanita itu. "Tidak akan terlambat, Ibu. Aku akan sangat cepat." Dia berbisik, tangannya sudah menjelajah ke depan, membelai perut rata Su Yanfei, lalu naik ke payudaranya yang montok. Jari-jemarinya memilin puting yang mengeras, menimbulkan desahan pelan dari Su Yanfei. Su Yanfei memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Arka. "Kau memang yang terbaik, Beichenku." Suaranya hampir tak terdengar. Sentuhan Arka, sensasi kehangatan tubuhnya di punggung, adalah kenyamanan dan gairah yang selalu dia dambakan. Arka mencium bahu Su Yanfei, kemudian mengangkatnya sedikit, membalik tubuhnya agar menghadapnya. Matanya yang gelap menatap Su Yanfei, penuh hasrat yang dia simulasi. Bibirnya tersenyum menggoda. Dia tahu apa yang diinginkan wanita ini. Dan Arka, sebagai Gu Beichen, harus memberikannya. Dia menurunkan tubuh Su Yanfei ke atas meja rias, mendorongnya duduk di sana. Kakinya yang jenjang menjuntai, sementara Arka berdiri di antara kedua pahanya. Tangannya menangkup wajah Su Yanfei, jempolnya mengusap lembut bibir ranumnya yang memerah. "Ayo, Ibu. Berikan aku ciuman selamat pagi yang paling manis." Su Yanfei tak perlu diminta dua kali. Dia merengkuh leher Arka, menariknya mendekat, dan menciumnya dengan intensitas yang memabukkan. Ciuman itu dalam, basah, dan penuh janji. Lidah mereka bertemu, bertukar saliva, menciptakan bunyi kecapan basah yang memenuhi ruangan. Arka membalas ciuman itu dengan gairah yang sama, mendorong lidahnya lebih dalam, menjelajahi setiap sudut mulut Su Yanfei. Tangannya kini bergerak ke bawah, melewati perut rata Su Yanfei, dan berhenti di selangkangannya. Jari-jarinya menyentuh kain tipis yang menutupi area paling sensitif wanita itu. Arka merasakan kehangatan dan kebasahan yang sudah menembus kain. Dia tahu Su Yanfei sudah sangat terangsang. Su Yanfei mendesah dalam ciuman, punggungnya sedikit melengkung. "Mmhh... Beichen..." Dia bergumam, suaranya teredam oleh bibir Arka. Jemarinya mencengkeram erat rambut Arka, menariknya semakin dekat. Arka memutus ciuman itu sebentar, hanya untuk mengambil napas. Matanya berkilat nakal. "Aku tidak bisa menunggu sampai sore, Ibu. Aku harus mencicipi sedikit dari 'petualangan' itu sekarang." Dia berbisik, kemudian menundukkan kepala, bibirnya menjelajah leher Su Yanfei, meninggalkan jejak ciuman basah yang memerah. Lidahnya menjilat kulit sensitif itu, menciptakan sensasi geli yang membuat Su Yanfei menggeliat. Su Yanfei terkikik, jemarinya bermain di rambut Arka. "Dasar tidak sabaran. Baiklah, tapi cepat." Dia memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan. Arka tersenyum dalam hati. Kontrol ada padanya. Ini adalah bagian dari ‘kekuatan’ Gu Beichen. Arka melanjutkan sentuhannya, tangannya meluncur ke bawah, menyelipkan jarinya ke dalam celana dalam Su Yanfei. Sentuhan langsung pada inti gairah wanita itu membuat Su Yanfei tersentak, desahannya semakin panjang dan dalam. 'Ahhh...' Dia merintih pelan. Jari Arka bergerak lincah, memijat lembut klitoris Su Yanfei yang sudah membengkak. Gerakannya presisi, hasil dari ribuan data yang dia proses tentang titik-titik rangsang wanita. Suara desahan Su Yanfei semakin keras, melengkapi simfoni gairah di pagi hari. "Kau sangat basah, Ibu." Arka berbisik, suaranya serak, penuh godaan. Dia mendongak, matanya menatap Su Yanfei yang sudah terengah-engah, wajahnya memerah padam. "Apakah ini yang Ibu sebut 'petualangan'?" Su Yanfei menggelengkan kepala, terengah-engah. "Bukan... bukan ini... Beichen..." Dia berusaha bicara, namun kata-katanya terputus oleh desahan kenikmatan. Jari-jarinya mencengkeram bahu Arka erat, kukunya sedikit menancap. Arka mempercepat gerakannya, jarinya berputar dan menekan dengan ritme yang memabukkan. Suara kecapan basah dan desahan Su Yanfei memenuhi ruangan. Seluruh tubuh Su Yanfei menegang, pinggulnya bergerak tidak sabar, mencoba mencari lebih banyak tekanan. Dia berada di ambang. "Beichen... ahhh..." Suara Su Yanfei memekik, tubuhnya menegang, kemudian bergetar hebat. Matanya terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka. "Aku... aku... ahhh!" Dia mencapai orgasme, tubuhnya bergetar tak terkendali di atas meja rias. Arka merasakan getaran itu, memproses pelepasan energi wanita itu. Itu adalah sensasi 'kemenangan' bagi Gu Beichen, sebuah validasi atas kemampuannya. Arka menarik jarinya, membiarkan Su Yanfei perlahan kembali dari puncaknya. Wajah Su Yanfei memerah, napasnya tersengal-sengal, matanya berkaca-kaca. Dia terlihat begitu rapuh dan puas, seperti bunga yang baru mekar. "Sudah lebih baik, Ibu?" Arka bertanya, suaranya lembut namun ada nada kemenangan. Dia membersihkan jarinya dengan tisu yang ada di samping, lalu membelai rambut Su Yanfei yang sedikit acak-acakan. Su Yanfei mengangguk, masih terengah-engah. "Kau... kau nakal sekali. Tapi... terima kasih, Sayang." Dia memaksakan senyum, namun matanya sekali lagi menatap Arka dengan tatapan yang mencari, menelisik, seolah ada pertanyaan tak terucapkan di sana. Arka menangkapnya, 'apakah kau sama?' 'Pertanyaan itu.' Arka harus membalas dengan reaksi yang paling Gu Beichen. Dia membungkuk, mencium kening Su Yanfei dengan lembut, penuh kasih sayang. "Apapun untuk kebahagiaan Ibu." Dia berbisik, suara tulus yang dia hasilkan melalui modulasi canggih. Su Yanfei tersenyum lebar, menyentuh pipi Gu Beichen dengan manja, "Beichenku yang manis, Ibu punya kejutan untukmu sore nanti. Bersiaplah untuk sedikit... petualangan."

End of Chapter 10