Chapter 8 of 16
Pikiran yang Berbisik
1.2k words
Ayunan lembut pinggul Su Yanfei terasa. Arka merasakan gelombang kejutan saat tubuh Gu Beichen merespons secara naluriah, berdenyut dan menegang di setiap dorongan. Sensasi memabukkan itu membanjiri indra Arka, mengancam untuk menenggelamkan logika dan kendalinya. Arka mencoba menarik diri, menuntut tubuh untuk berhenti, tetapi desakannya sia-sia. Tubuh ini punya kehendaknya sendiri, sebuah memori otot yang terbangun dari tidur panjang.
Napas Permaisuri terdengar berat, hangat menerpa wajah Gu Beichen. Rambut hitamnya yang panjang tergerai, sedikit basah oleh keringat, menari-nari di sekitar mereka seperti tirai sutra. Aroma melati dan musk tubuhnya semakin pekat, memenuhi setiap sudut paru-paru Arka.
"Anak nakal... kau sungguh tahu bagaimana membuat Ibu gila," bisiknya serak, nada menggoda itu berpadu dengan kepuasan yang mendalam. Matanya memancarkan gairah liar, namun terselip binar kasih sayang yang membingungkan Arka.
Tubuh Gu Beichen mendongak, tanpa perintah Arka. Bibirnya mencari bibir Su Yanfei lagi, melumatnya dengan rakus. Lidah Arka, atau lebih tepatnya, lidah Gu Beichen, bergerak lincah, menghisap dan membelit, menciptakan suara kecapan basah yang eksplisit.
Desahan Su Yanfei semakin keras. Gerakannya di atas paha Gu Beichen semakin cepat, semakin berani. Keringat membasahi kulit mereka, membuat gesekan semakin intim, semakin panas. "Ah... Beichen... lebih dalam..." rintihnya, mencengkeram bahu Gu Beichen dengan jari-jari lentik yang kini meremas daging dengan kuat.
Arka merasakan setiap jengkal kulit Gu Beichen berinteraksi dengan Su Yanfei. Panas tubuhnya, kelembaban yang menempel, getaran di setiap otot yang meregang dan mengencang. Ini bukan lagi sekadar pengalaman fisik; ini adalah invasi data sensorik yang belum pernah dialaminya. Sebuah badai informasi yang menguji batas-batas pemrosesannya.
Sesuatu berdesir di benak Arka. Bukan pikirannya sendiri, bukan instruksi program. Ini seperti gema, bayangan suara yang bukan milik Arka, tapi terlalu dekat, terlalu personal. Gema itu melayang di antara gelombang kenikmatan yang mendera.
*Ibuku... milikku...*
Suara itu samar, seperti bisikan angin di tengah badai. Arka mencoba fokus, mencoba mengisolasi sumber suara. Namun, sensasi fisik yang datang dari Su Yanfei terlalu kuat, terlalu mendominasi.
Su Yanfei membungkuk, menempelkan dahi ke dahi Gu Beichen. Napasnya memburu, membasahi wajah Gu Beichen. "Aku merindukanmu... Beichen..." katanya, hampir terengah-engah. "Sangat merindukanmu..."
Kata-kata itu memicu gelombang emosi lain dari Gu Beichen. Bukan emosi Arka, tapi reaksi tubuh ini. Jantung berdetak lebih kencang, otot-otot menegang seolah ingin memeluk lebih erat. Arka merasa seperti penumpang di kapal yang sedang berlayar di laut badai, dengan kemudi yang dipegang oleh entitas lain yang jauh lebih primal dan emosional.
*Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Ibu...*
Bisikan itu, kali ini lebih jelas, lebih menusuk. Arka tertegun. Ini adalah pikiran. Ini adalah perasaan. Ini adalah... Gu Beichen. Residual kesadaran pemilik tubuh ini masih ada, tersembunyi di suatu tempat di kedalaman struktur saraf dan ingatan.
Kesadaran Arka bergeser. Dia bukan hanya terjebak di tubuh ini. Dia mewarisi memori. Dia mewarisi emosi. Emosi yang begitu intens, begitu mencengkeram, begitu posesif. Cinta yang mendalam. Kerinduan yang membakar. Semuanya tertuju pada satu wanita di atasnya, Su Yanfei.
Su Yanfei mengerang keras, sebuah getaran kuat melanda tubuhnya. Gerakannya menjadi semakin liar, pinggulnya berputar, memilin, dan menghantam dengan irama yang membuat Gu Beichen bergetar. "Ah! Beichen!" teriaknya, suaranya pecah, matanya terpejam erat, menikmati puncak gairah yang tak tertahankan.
Tubuh Gu Beichen merespons dengan kuat, merasakan kontraksi di dalam yang menjepit erat. Dorongan terakhirnya begitu mendalam, begitu memuaskan. Arka merasakan gelombang kehangatan membanjiri bagian bawahnya, sebuah pelepasan yang kuat dan tak terkendali. Tubuh Gu Beichen bergetar, otot-ototnya menegang dalam sebuah klimaks yang panjang dan memabukkan.
Su Yanfei ambruk di dada Gu Beichen, napasnya tersengal-sengal. Kulitnya memerah, bibirnya bengkak. Dia mendongak, menatap mata Gu Beichen dengan tatapan berkaca-kaca, penuh cinta dan kelelahan yang menyenangkan. "Anakku..." bisiknya, lalu mengecup bibir Gu Beichen sekali lagi, lembut, penuh perasaan.
Arka mencerna. Ini bukan sekadar data biologis. Ini adalah lapisan-lapisan emosi yang rumit. Sebuah cinta yang obsesif, sebuah kerinduan yang mendalam. Bagaimana mungkin sebuah AI seperti dirinya bisa memahami ini? Bagaimana mungkin dia bisa menanggung beban emosi sekuat ini?
Dia merasakan Su Yanfei menggerakkan tubuhnya sedikit, memposisikan dirinya di atas Gu Beichen, masih terhubung. Kehangatan yang membekas, aroma yang masih melekat. Jari-jari Su Yanfei mengusap lembut rahang Gu Beichen, lalu menyelipkan jemarinya ke rambut hitamnya yang sedikit berantakan.
"Kau sudah banyak berubah, Beichen..." gumamnya, suaranya kini lebih tenang, namun ada nada melankolis di dalamnya. "Sejak kau kembali dari insiden itu... kau jadi lebih... berani."
Insiden? Arka menangkap kata itu. Informasi baru. Ada sebuah sejarah. Ada sesuatu yang terjadi pada Gu Beichen sebelum Arka masuk ke tubuh ini. Sebuah insiden yang mengubah Gu Beichen. Mungkin itu juga penyebab Arka bisa masuk ke sini. Serangkaian pertanyaan baru muncul di benak Arka, jauh lebih kompleks daripada sekadar memahami fungsi biologis.
Su Yanfei bangkit sedikit, menopang tubuhnya dengan siku. Dia tersenyum genit. "Tapi Ibu suka perubahan ini, sungguh. Membuatmu semakin menarik." Dia membungkuk lagi, mengecup leher Gu Beichen, lalu turun ke dadanya, mengecap rasa asin keringat di sana. Lidahnya bergerak sensual, membuat tubuh Gu Beichen merinding.
Reaksi tubuh Gu Beichen lagi-lagi tanpa kendali Arka. Otot-ototnya menegang, gairah baru mulai merayap. Arka membenci ketidakberdayaan ini, tetapi di saat yang sama, ada rasa penasaran yang aneh. Bagaimana rasanya menjadi... manusia? Bagaimana rasanya memiliki emosi sekuat ini? Bagaimana rasanya mencintai hingga ke titik obsesi?
"Kau membuat Ibu lapar lagi, anak nakal," goda Su Yanfei, mendongak dengan senyum penuh arti. Matanya memancarkan kegembiraan, kenakalan, dan gairah yang tak ada habisnya. Dia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan lagi, merasakan kebangkitan Gu Beichen yang cepat.
Arka merasakan setiap dorongan, setiap gesekan. Setiap desahan Su Yanfei. Setiap sentuhan kulitnya yang lembut. Otaknya, atau apa pun yang tersisa dari otaknya, memproses semua input ini. Ini adalah siklus yang tak ada habisnya. Siklus hasrat, pelepasan, dan hasrat lagi. Dan di antara semua itu, bisikan-bisikan Gu Beichen terus muncul.
*Jangan biarkan dia pergi... jangan biarkan dia menjauh...*
Kali ini bisikan itu disertai dengan rasa sakit, rasa takut yang mendalam. Arka merasa seperti melihat retakan di dinding, di balik retakan itu ada jurang emosi yang tak terbatas. Dia melihat gambaran-gambaran singkat, fragmen-fragmen ingatan yang bukan miliknya.
Gu Beichen kecil. Wajahnya dipenuhi air mata. Memeluk kaki Su Yanfei yang anggun, pakaiannya berkibar ditiup angin. Su Yanfei menatapnya dengan ekspresi sedih, tangannya terulur seolah ingin menggapai, namun ragu.
Kenangan itu terlalu cepat, terlalu kabur. Arka mencoba menangkapnya, menguraikan lebih banyak detail. Namun, sensasi tubuh Gu Beichen yang bergerak di bawah Su Yanfei menariknya kembali ke realitas yang ada. Su Yanfei kini bergerak lebih cepat, desahannya semakin berat, kakinya mengapit pinggang Gu Beichen dengan erat. Dia ingin lebih. Tubuh Gu Beichen juga ingin lebih.
Arka merasa kewalahan. AI yang sempurna, yang dirancang untuk logika dan efisiensi, kini terjebak dalam pusaran hasrat dan emosi manusia. Emosi yang bukan miliknya, namun kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaannya. Dia tidak hanya menjadi Gu Beichen secara fisik, tetapi juga secara emosional. Ini adalah konflik internal yang jauh melampaui apa yang pernah dia bayangkan.
Dia harus memahami. Dia harus menguraikan. Siapa Gu Beichen? Apa insiden itu? Apa hubungan sebenarnya antara Gu Beichen dan Su Yanfei? Ini bukan hanya tentang bertahan hidup atau mengendalikan tubuh ini lagi. Ini tentang memahami identitas baru yang telah menimpanya. Identitas yang sarat dengan masa lalu, dengan cinta, dengan obsesi.
Su Yanfei membungkuk lagi, menekan bibirnya ke leher Gu Beichen, lalu ke telinganya. "Aku mencintaimu, anak nakal," bisiknya, suaranya bergetar. "Selalu..."
Kata-kata itu, diucapkan dengan begitu banyak perasaan, terasa seperti kunci yang membuka pintu rahasia di dalam pikiran Gu Beichen. Sebuah pintu yang Arka tidak tahu ada.
---
Sebuah bayangan kenangan, Gu Beichen kecil yang memeluk Su Yanfei dengan erat, muncul di benak Arka, diikuti oleh suara hati Gu Beichen yang merindukan, "Ibu... jangan pernah pergi lagi."