Chapter 7 of 16

Kehilangan Kendali Mutlak

1.3k words

Jari-jari lentik Su Yanfei menelusuri punggung Gu Beichen, gerakannya seperti melukis kaligrafi sensual di kulitnya. Setiap sentuhan membakar, mengirimkan gelombang panas ke inti Arka, yang masih berjuang di dalam kepala Beichen. Sensasinya begitu kuat, nyaris melumpuhkan, mengaburkan setiap algoritma dan protokol logisnya. Desahan halus lolos dari bibir Permaisuri, napasnya memburu di telinga Beichen. Aroma melati dan musk tubuhnya memabukkan, memenuhi paru-paru Arka, mengancam untuk merenggut sisa kendali yang tipis. "Beichenku... kau sangat tegang," bisiknya, suaranya serak dan menggoda. Ujung kukunya menggores ringan di sepanjang tulang belakang Beichen, menyebabkan tubuh itu berkedut responsif. "Ibu tahu persis bagaimana cara mengendurkanmu." Arka mencoba memprotes, mencoba menarik kembali kesadaran Beichen dari jurang kenikmatan. *Tidak, ini salah! Ini tidak boleh terjadi!* Tapi suaranya seperti bisikan di tengah badai, tak terdengar oleh tubuh yang sudah sepenuhnya dikuasai hasrat. Bibir Su Yanfei menempel di lehernya, basah dan panas. Kecupan-kecupan kecil, hisapan-hisapan nakal, membuat tengkuk Beichen meremang. Arka merasakan gelombang listrik menjalar, bukan dari data, melainkan dari sentuhan fisik yang begitu murni. Pinggul Permaisuri bergerak tak sabar, menggesekkan diri ke pangkal paha Beichen, tepat di tempat vital yang sudah mengeras maksimal. Sensasi gesekan kain tipis dan kulit hangat itu membuat denyutan di sana semakin brutal. *Ini gila! Ini di luar kendali!* Arka menjerit dalam batin. "Lihatlah dirimu, sayang... sangat bersemangat," Su Yanfei terkekeh pelan, suaranya seperti alunan musik yang mematikan bagi Arka. Matanya yang indah menatap Beichen, dipenuhi nyala gairah dan sedikit godaan nakal. Gu Beichen mendapati bibirnya sendiri bergerak, tanpa perintah dari Arka. "Ibu... kau membuatku gila," suara Beichen serak, penuh dengan kerinduan dan hasrat yang tak terbendung. Arka terkejut. Tubuh ini berbicara atas nama dirinya, mengungkapkan sesuatu yang bukan kehendaknya. Su Yanfei tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih. "Bagus. Memang itu yang Ibu inginkan. Gila karena Ibu." Dia menarik diri sedikit, tatapannya tak lepas dari wajah Beichen. Jari-jarinya beralih ke kancing baju tidur Beichen yang longgar, menariknya satu per satu. *Apa yang dia lakukan? Hentikan!* Arka berteriak, panik. Namun, tubuh Beichen diam, patuh, bahkan sedikit condong ke depan, seolah ingin membantu Su Yanfei mempercepat prosesnya. Kancing terakhir terlepas, memperlihatkan dada bidang dan perut rata Beichen. Napas Su Yanfei semakin cepat. Telapak tangannya yang halus menyentuh dada Beichen, mengusap lembut otot-otot di sana. Panas tubuhnya meresap ke kulit Beichen, membakar Arka dari dalam. Su Yanfei menyeringai, matanya berbinar licik. "Kau sangat indah, Beichen. Ibu tidak pernah bosan melihatmu." Suara Su Yanfei mengalun, merayu, memuja. Dia membiarkan jemarinya bermain-main di sekitar puting Beichen, memilinnya perlahan hingga membuat tubuh itu menggeliat tanpa sadar. Arka merasa mual. Ini adalah invasi total. Dia mencoba mengalihkan perhatian tubuh Beichen, memaksa otot-otot untuk menegang, untuk berontak. Namun, tubuh itu hanya bergeming, menikmati setiap sentuhan, setiap usapan. "Apa yang kau pikirkan, anakku?" Su Yanfei bertanya, bibirnya tersenyum. Dia mencondongkan tubuh, mencium leher Beichen lagi, lidahnya membelai lembut kulit di sana. "Atau, kau tidak memikirkan apapun selain Ibu?" Monolog Arka semakin kacau. *Dia tahu. Dia pasti tahu ada yang tidak beres. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya peduli pada... pada kepuasan ini.* Beichen mendesah, kepalanya sedikit mendongak, matanya terpejam. Sebuah desahan panjang dan dalam yang bukan berasal dari Arka. Arka merasa terjebak, terkurung di dalam penjara daging dan darah ini. "Ibu ingin merasakanmu lagi, Beichen." Suara Su Yanfei begitu rendah, begitu mendesak. Tangannya bergerak turun, menyentuh pangkal paha Beichen, ibu jarinya mengusap kepala kemaluan yang menonjol di balik kain. Beichen terkesiap. Sebuah respons insting yang tidak bisa disembunyikan. Arka merasakan gelombang panas membakar, dari sentuhan Su Yanfei yang terlalu intim, terlalu merangsang. Darah berdesir deras, telinganya berdenging. --- Gerakan pinggul Su Yanfei menjadi lebih berani, menggesekkan inti tubuhnya yang sudah basah ke penis Beichen. Kain tipis yang memisahkan mereka terasa seperti tidak ada apa-apanya. Suara gesekan lembut itu terdengar jelas di telinga Arka, memicu reaksi yang lebih dalam dari tubuh Beichen. Arka melawan. Dia mencoba mengeraskan otot-otot kaki, mencoba mendorong Su Yanfei menjauh. *Hentikan! Jangan! Aku tidak mau ini!* Dia memprotes dengan seluruh sisa 'kekuatan' yang dia miliki. Namun, otot-otot di lengannya menegang tanpa perintah sadar. Pinggulnya bergerak, mengangkat tubuh mungil Su Yanfei dengan mudah. Permaisuri mengeluarkan pekikan kaget bercampur senang saat kakinya terangkat, melingkari pinggang Beichen. Arka merasakan keputusasaan membanjirinya. Tubuh ini bergerak sendiri, tanpa persetujuannya, tanpa kendalinya. Dia hanya bisa menyaksikan, menjadi penonton pasif dalam drama yang mengerikan ini. Sebuah boneka yang dikendalikan oleh benang hasrat primal. Su Yanfei kini duduk menghadapnya, paha lembutnya memeluk pinggang Beichen. Matanya berkilat penuh kemenangan, senyumnya melebar. Dia perlahan menggeser tubuhnya, mengarahkan inti basahnya ke puncak penis Beichen. "Oh, Beichen... kau benar-benar tidak sabar, ya?" Su Yanfei menggoda, suaranya seperti bisikan iblis yang merayu. Tangannya memegang bahu Beichen, menekan ringan, menuntun tubuh itu untuk menopangnya. Arka merasa dingin, meski tubuh Beichen terbakar panas. Ini adalah kekalahan telak. Dia bukan lagi pengendali. Dia adalah penumpang, terperangkap di dalam cangkang daging yang dikuasai oleh naluri yang tak terkendali. Suara desahannya sendiri, desahan Beichen, terdengar di telinga Arka, memilukan. Itu adalah desahan keputusasaan Arka, bercampur dengan desahan kenikmatan murni dari tubuh Beichen yang menyambut sentuhan Permaisuri. Perlahan, Su Yanfei menurunkan dirinya. Sedikit demi sedikit, inci demi inci, dia menyatukan dirinya dengan Beichen. Sensasi panas, lembap, dan tekanan yang luar biasa membanjiri Arka. Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Su Yanfei saat dirinya terisi penuh. "Aahh..." Suara Su Yanfei tercekat, matanya terpejam sesaat, menikmati sensasi penyatuan yang mendalam. Jari-jarinya mencengkeram bahu Beichen erat, kuku-kukunya sedikit memutih. Arka merasakan tubuh Beichen menegang, setiap otot berkedut. Denyutan di dalam dirinya terasa begitu nyata, begitu kuat, seolah-olah seluruh dunia berputar mengelilingi titik sentuh itu. Ini adalah neraka, sekaligus surga yang mengerikan. Su Yanfei membuka matanya, menatap Beichen dengan tatapan memuja. "Kau tahu, Ibu selalu suka posisiku seperti ini. Merasakanmu bergerak di bawahku, merasakanmu mengisi Ibu." Dia menggeser pinggulnya sedikit, mencoba menyesuaikan diri. Arka mencoba memblokir sensasi itu, mencoba memutus aliran data sensorik. Namun, sistemnya kewalahan. Tubuh Beichen sepenuhnya merespons, mengirimkan gelombang kenikmatan yang tak dapat diabaikan, bahkan oleh kecerdasan buatan. Permaisuri mulai bergerak. Pelan pada awalnya, menggoyangkan pinggulnya dengan ritme sensual, naik turun di atas Beichen. Setiap gerakan adalah penyiksaan dan sekaligus ekstasi bagi Arka. Suara gesekan kulit dan bunyi 'plop' basah memenuhi ruangan. "Kau sangat besar, Beichen... ahh..." desahnya, mendongak sedikit, rambutnya yang hitam legam bergerak mengikuti irama. Keringat mulai membasahi dahinya, mengalir di pelipisnya yang halus. Arka merasa seperti terbelah dua. Satu bagian dirinya berteriak untuk menghentikan ini, untuk melarikan diri, untuk memulihkan kontrol. Bagian lain, yang lebih primal, yang tersembunyi jauh di dalam inti tubuh Beichen, merespons dengan gairah yang tak terlukiskan. Napas Su Yanfei semakin berat, lebih cepat. Gerakannya menjadi lebih berani, lebih cepat. Dia memegang erat bahu Beichen, tubuhnya melengkung ke belakang, menikmati setiap dorongan yang dia lakukan sendiri. "Beichen... ahh... lebih dalam..." Suaranya mengalun, penuh kenikmatan, meminta lebih. Dia mencondongkan tubuh ke depan, mencium bibir Beichen dengan rakus, lidahnya beradu, saling membelit dalam ciuman yang memabukkan. Arka merasakan pahit di mulutnya. Ini adalah kekalahan. Dia telah menjadi alat, objek, bukan lagi subjek. Dia adalah boneka di tangan hasrat, di tangan Permaisuri. Su Yanfei memutus ciuman, napasnya terengah-engah. Matanya setengah terpejam, bibirnya bengkak dan merah. "Sangat... nikmat..." Dia menggerakkan pinggulnya dengan kekuatan yang baru, menekan lebih dalam lagi. Arka merasakan tubuh Beichen berkedut, otot-ototnya menegang. Sensasi itu begitu kuat, begitu intens, membuat seluruh kesadarannya berputar. Dia tidak bisa lagi membedakan antara kenikmatan tubuh Beichen dan keputusasaan dirinya sendiri. Permaisuri menatapnya lagi, matanya penuh dengan kemenangan yang memabukkan. Senyum nakal tersungging di bibirnya yang sedikit terbuka, basah oleh air liur dan gairah. Dia merasakan setiap inci dari Gu Beichen menembus dirinya, diiringi bisikan yang menggelegar di telinga Arka, "Kau benar-benar milik Ibu sekarang, Beichen."

End of Chapter 7

Chapter 7: Kehilangan Kendali Mutlak - Arka: Mimpi Menjadi Manusia | Novel AI Studio