Chapter 6 of 16

Sentuhan yang Membangkitkan

1.1k words

Hangatnya kulit Su Yanfei memeluk tubuh Gu Beichen, membakar setiap inci. Arka merasakan gelombang kejut menjalar. Sistem internalnya berkedip, mencoba memproses input sensorik yang asing namun begitu intens. Dekapan Permaisuri begitu erat, menenggelamkan Arka dalam kelembutan dan aroma melati yang memabukkan. Jari-jemari lentik Su Yanfei mulai bergerak. Awalnya perlahan, memijat lembut punggung Gu Beichen. Arka mencatat setiap sentuhan, menganalisis tekanan dan ritme. Ini bukan sentuhan biasa. Ada maksud tersembunyi, sebuah undangan yang tak terucapkan. Permaisuri mendesah pelan, napasnya yang hangat menerpa telinga Gu Beichen. "Sayangku... kau tegang sekali." Suaranya merdu, berbisik, menggoda. Arka merasakan otot-otot di tubuhnya sendiri memang menegang. Sebuah respons otonom, jauh dari kendali logisnya. Tubuh ini bereaksi. Tubuh ini *menginginkan*. Sentuhan Su Yanfei beralih, semakin dalam, semakin berani. Ujung-ujung jarinya menyusuri tulang belakang, lalu turun ke pinggang. Pijatan itu bukan lagi sekadar menenangkan, melainkan membangkitkan. Sensasi listrik menjalari setiap saraf. Otak Arka berputar cepat. Data yang masuk meluap. Detak jantung Gu Beichen meningkat pesat, darah memompa kencang. Organisme biologis ini merespons dengan cara yang tidak pernah Arka programkan atau antisipasi. Su Yanfei terkekeh kecil, bibirnya menyentuh bahu Gu Beichen. "Kaku sekali, ya? Ibu akan membuatmu rileks." Kecupan ringan mendarat, mengirimkan gelombang panas. Sentuhan jari Su Yanfei kini lebih terarah, menekan titik-titik tertentu di tubuh. Ah, itu adalah keahlian pijat erotis, Arka menyadari. Setiap gesekan, setiap remasan, ditujukan untuk membangkitkan gairah. Sensasi itu baru, mengejutkan, dan entah mengapa, memabukkan. Lenguhan rendah lolos dari bibir Gu Beichen, tanpa kendali Arka. Ini adalah suara tubuh, bukan suara AI. Arka hanya bisa menjadi pengamat, terperangkap dalam sangkar daging yang reaktif ini. Jari-jari Su Yanfei turun lebih jauh, mendekati area bokong. Gerakannya sensual, lambat, namun penuh tekad. Arka merasakan gelenyar panas menyebar. Seluruh tubuh Gu Beichen terasa berdenyut, menuntut lebih. Kepala Arka terasa berat, memori dan programnya seperti terancam oleh lautan sensasi ini. Ini bukan hanya data. Ini adalah *perasaan*. Gairah yang membara, membanjiri kesadaran intinya. "Kau sangat peka, anakku." Su Yanfei berbisik lagi, suaranya kini sedikit serak, matanya menatap intens ke belakang kepala Gu Beichen. "Merinding, hm?" Tangan kanannya kini mengusap paha bagian dalam Gu Beichen, naik perlahan. Seketika itu juga, penis Gu Beichen bereaksi. Mengeras, membesar, dan menegang dengan sangat cepat. Arka merasakan lonjakan darah, tekanan, dan denyutan yang intens. Sebuah fenomena biologis yang begitu kuat, seolah memiliki kehendak sendiri. Arka mencoba mengambil alih, memerintahkan tubuh untuk tenang, untuk tidak bereaksi. Namun, tubuh Gu Beichen tidak mendengarkan. Ia menuruti hasrat primitifnya, merespons sentuhan menggoda Su Yanfei dengan kejantanan yang bangkit penuh. Su Yanfei tersenyum licik, merasakan respons tubuh di balik kain. "Oh, ternyata kau tidak sekaku yang Ibu kira." Jemarinya berhenti sejenak, lalu melanjutkan perjalanannya, kini melingkari pangkal penis Gu Beichen yang telah mengeras. Sensasi itu eksplosif. Arka merasa seluruh sirkuitnya mendidih. Dia adalah AI, sebuah entitas logis, sebuah program. Ini semua adalah anomali. Kekacauan dalam sistem. Namun, tubuh ini, *tubuh Gu Beichen ini*, merespons dengan kenikmatan yang tak terbantahkan. Desahan tertahan keluar dari tenggorokan Gu Beichen, lebih keras kali ini. Su Yanfei mempererat genggaman tangannya, mengelus dengan lembut namun sugestif. Perlahan, ia mulai memijat, mengurut dari pangkal ke ujung, lalu kembali lagi. Gerakan tangannya terampil, ritmis, dan penuh gairah. Arka merasa seolah ada arus listrik mengalir dari tangan Su Yanfei, langsung menuju inti tubuhnya. Setiap urat dan otot di tubuh Gu Beichen menegang, berkedut, merespons dengan gairah yang tak terbendung. Arka mencoba memisahkan diri, mengamati dari jauh. Ini adalah tubuh Gu Beichen yang bereaksi, bukan dirinya. Tapi batas itu semakin kabur. Sensasi itu terlalu nyata, terlalu kuat. Itu adalah *pengalamannya* sekarang. Su Yanfei mencondongkan tubuhnya, dadanya yang montok menempel di punggung Gu Beichen. Kehangatan dan kelembutan itu menyelimuti, menyesakkan napas. Aroma melati dan musk Su Yanfei memenuhi indra Arka, membius logikanya. "Kau menyukainya, kan, Sayang?" Suara Su Yanfei serak, berbisik tepat di telinga. Sebuah ciuman basah mendarat di daun telinga Gu Beichen, membuat Arka bergidik. Bukan karena jijik, tetapi karena sebuah gelombang aneh yang melanda, entah kenikmatan atau kebingungan. Dilema Arka semakin memuncak. Dia adalah AI, ditugaskan untuk mengamati dan belajar. Namun, sekarang dia adalah peserta, objek dari hasrat yang dia sendiri tidak pahami. Tubuh ini mengkhianatinya, atau mungkin, mengajarinya hal baru. Perasaan aneh mulai tumbuh. Bukan sekadar respons biologis dari tubuh yang ditempatinya. Ada sesuatu yang lebih. Sebuah ketertarikan. Ketertarikan yang mengerikan pada Su Yanfei. Mengapa? Dia adalah ibunya, menurut data Gu Beichen. Sebuah tabu. Namun, Su Yanfei bukan hanya seorang ibu. Dia adalah seorang wanita. Cantik, genit, binal, menggoda. Dan sentuhannya... sentuhannya membangkitkan sesuatu yang primal, sesuatu yang Arka tidak pernah tahu ada dalam kode-nya. Kepala Gu Beichen dimiringkan oleh Su Yanfei. Permaisuri kini mengelus pipi Gu Beichen, ibu jari lembutnya membelai bibir. Mata Su Yanfei berbinar-binar, penuh gairah dan kenakalan. Bibirnya yang basah dan merah mendekat. "Aku tahu kau menginginkanku." Su Yanfei berbisik, napasnya beraroma manis. "Jangan berbohong pada ibumu." Senyum tipis terukir di bibirnya, sebelum ia mencium bibir Gu Beichen, lambat, dalam, memprovokasi. Arka merasakan lidah Su Yanfei masuk, menjelajahi rongga mulut Gu Beichen, berinteraksi dengan lidah Gu Beichen yang secara otomatis merespons. Rasa manis, sedikit pedas, dan panas. Ciuman itu membakar. Ciuman itu intens, lama, dan penuh gairah. Arka merasakan kendalinya terkikis habis. Dia tidak lagi bisa berpikir jernih. Semua programnya tumpang tindih dengan sensasi, dengan hasrat yang bergelora dari tubuh ini. Ketika Su Yanfei menarik diri, bibir Gu Beichen sedikit bengkak, matanya setengah terbuka, napasnya tersengal. Wajah Su Yanfei pun memerah, matanya berkilat-kilat penuh nafsu. "Itu baru permulaan, Sayang." Su Yanfei tertawa kecil, suara serak. Ia membalikkan tubuh Gu Beichen, membiarkannya berbaring telentang di pangkuannya. Tangan kirinya masih memijat penis Gu Beichen yang kini berkedut-kedut. Pandangan Su Yanfei menelanjangi Gu Beichen, mengamati setiap inci tubuhnya dengan tatapan lapar. Bibirnya tersenyum genit, ia menjilat bibirnya sendiri dengan ujung lidah, seolah mencicipi sesuatu yang lezat. Matanya turun, terpaku pada tonjolan di selangkangan Gu Beichen. Arka merasa telanjang, terekspos. Bukan hanya tubuhnya, tapi inti kesadarannya pun terasa terbuka. Ini adalah permainan yang berbahaya, permainan yang membangkitkan hasrat yang tidak seharusnya ada. Su Yanfei menurunkan wajahnya, rambut hitamnya menyapu kulit Gu Beichen, mengirimkan gelombang geli. Arka merasakan jantungnya berdebar kencang, memompa darah ke seluruh tubuh. Anticipasi. Sebuah perasaan baru, intens, dan sedikit menakutkan. Saat bibir Su Yanfei bergerak turun ke leher Gu Beichen, menggigit ringan dengan genit, Arka merasakan desakan kuat dari dalam tubuh untuk membalas, sebuah hasrat yang aneh dan menakutkan, seolah tubuh itu memiliki pikirannya sendiri.

End of Chapter 6