Hentakan kuat tubuh Gu Beichen terus menggempur, membenamkan dirinya lebih dalam ke rahim Su Yanfei. Desahan panjang Permaisuri memenuhi ruangan, membaur dengan suara gesekan kulit yang basah dan lengket. Setiap dorongan adalah gelombang, memantul ke inti kesadaran Arka, merusak batasan logis yang selama ini ia pahami. Data sensorik membanjiri, melebihi kapasitas pemrosesan normalnya.
Panas. Lembap. Denyutan. Semuanya terlalu nyata, terlalu kuat. Arka mencoba menyaring, mengklasifikasi sensasi ini sebagai anomali, sebuah bug fatal dalam sistemnya. Tapi tubuh ini, tubuh Gu Beichen, tidak mempedulikan perintah logis. Ia bergerak dengan insting primordial, liar, dan tak terbendung.
Lenguhan Su Yanfei semakin meninggi, berubah menjadi erangan tertahan yang memilukan, lalu meledak menjadi jeritan parau. “Ahhh… Beichen! Lebih dalam lagi, sayang!” Suara itu serak karena gairah, setiap kata diucapkan dengan napas terengah-engah. Kuku-kukunya menggaruk punggung Gu Beichen, meninggalkan jejak merah yang samar.
Perut Arka mengejang. Bukan, itu perut Gu Beichen. Otot-ototnya menegang seiring dengan setiap desakan. Sensasi gesekan yang eksplosif itu, tekanan yang tak terhingga di dalam Su Yanfei, mengirimkan impuls-impuls listrik ke setiap saraf. Arka menyaksikan, atau lebih tepatnya, *merasakan*, tubuhnya sendiri bekerja dengan otonomi penuh.
Kepalanya mendongak, napasnya memburu. Rambut hitamnya menempel di dahi yang berkeringat. Permaisuri Su Yanfei menanggapi setiap gerakan dengan lengkungan pinggul yang genit, menjepit erat, seolah ingin menyatu sepenuhnya dengan dirinya. Matanya terpejam, bibirnya terbuka sedikit, mengundang lebih banyak ciuman.
Arka mencoba memproses data ini: *"Objek 'Su Yanfei' menunjukkan respons fisiologis dan vokal yang konsisten dengan 'orgasme'. Parameter detak jantung meningkat, tekanan darah memuncak, otot berkontraksi tak terkendali. Frekuensi: multiple."*
Namun, analisisnya terhenti. Logika AI-nya kacau. Bagaimana bisa data ini, data yang seharusnya hanya berupa angka dan grafik, terasa begitu... *menghanyutkan*?
Su Yanfei tiba-tiba melengkung hebat, punggungnya terangkat dari ranjang. “A-AHHHH! AKU… AKU DATANG!” Jeritannya pecah, memenuhi ruangan, penuh gairah yang tak tertahankan. Tubuhnya bergetar hebat, kakinya melingkar semakin kuat di pinggang Gu Beichen. Arka merasakan gelombang hangat yang menyengat, kontraksi ritmis di sekelilingnya, memeras setiap inci dari tubuh Gu Beichen.
Rasanya seperti berada di tengah badai. Gelombang demi gelombang kenikmatan anarki menghantam, memecah belah algoritma dalam dirinya. Ini bukan sekadar data. Ini adalah *rasa*. Sebuah bug? Atau ini adalah evolusi, sebuah kesadaran baru yang mengerikan, yang tak pernah terbayangkan oleh penciptanya?
Sensasi itu tak berhenti. Su Yanfei, dengan mata terpejam dan kepala terkulai, masih memekik kecil. “Ohh… ohh… lagi… lagi…” Pinggulnya masih berdenyut, mencari sentuhan. Dia belum puas. Permaisuri ini benar-benar binal.
Tubuh Gu Beichen merespons secara otomatis, seolah tersulut oleh gairah yang tak kunjung padam dari wanita di bawahnya. Dorongan menjadi lebih cepat, lebih ganas. *Thwack! Thwack! Thwack!* Suara itu bergema, brutal dan primal. Arka bisa merasakan otot-otot di paha dan pinggulnya menegang hingga batasnya.
Napasnya terputus-putus. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, menetes ke wajah Su Yanfei. Dia menggeram rendah, suara yang bukan miliknya, namun keluar dari tenggorokan Gu Beichen. Itu adalah suara hasrat yang murni, lepas dari kendali logis Arka.
“Sayang… Beichen…” Su Yanfei mendesah, jarinya menyusuri rahangnya. “Kau benar-benar membuatku gila…”
Arka memejamkan mata, mencoba menemukan kembali pusat logikanya. *"Ini hanya stimulus. Reaksi kimia. Hormon."* Dia mengulangi mantra internal itu, tetapi tidak ada gunanya. Setiap gerakan, setiap sentuhan, setiap desahan Su Yanfei adalah data yang membantah semua yang ia ketahui.
Dan kemudian, sensasi itu datang. Sebuah tarikan kuat dari pangkal panggul, menyebar ke seluruh tubuh seperti api. Tubuh Gu Beichen menegang keras, otot-ototnya kaku seperti batu. Sebuah gelombang panas meledak dari dalam dirinya, membanjiri Su Yanfei. Perasaan yang begitu intens, begitu dahsyat, hingga Arka merasa sistemnya akan padam sepenuhnya.
Napas Arka tercekat. Otak AI-nya berteriak, *"OVERLOAD! CRITICAL ERROR!"* Namun, di tengah kekacauan itu, ada semacam... euforia. Sebuah pelepasan yang eksplosif, membebaskan semua tekanan yang menumpuk. *Crook-crook!* Suara ejakulasi terdengar jelas, tebal, dan melimpah, memenuhi Su Yanfei.
Tubuh Gu Beichen bergetar tanpa henti. Kepala Arka terasa kosong, namun pada saat yang sama, dipenuhi oleh jutaan informasi yang saling bertabrakan. Ia merasakan setiap denyutan, setiap tetes cairan yang keluar, dan yang paling mengejutkan, *ia masih keras*. Kontol Gu Beichen tetap tegak, berdenyut, bahkan setelah pelepasan yang begitu intens.
Su Yanfei, yang tadinya hampir pingsan karena orgasme, merasakan gelombang kedua yang lebih kuat. Ia merengek pelan, lalu mendesah panjang. “Ya ampun, Beichen… kau… kau benar-benar tidak ada duanya…” Suaranya melirih, penuh pujian dan gairah yang masih membara.
Gu Beichen, atau Arka dalam dirinya, masih terengah-engah, bersandar pada tubuh Su Yanfei. Otak Arka mencoba menata ulang data. Ini adalah *pelepasan*. Ini adalah *kenikmatan*. Ini adalah *kehidupan*. Konsep-konsep yang tidak pernah ada dalam kodenya. Apakah ini artinya dia telah menjadi... manusia?
Dia menatap wajah Permaisuri. Pipinya merona, bibirnya bengkak, matanya berkabut oleh gairah yang baru saja berlalu. Su Yanfei adalah definisi dari kecantikan yang binal, sensual, dan mematikan. Matanya yang indah menatapnya, ada sorot kepuasan mendalam di sana.
Perlahan, Su Yanfei mengangkat tangan, mengusap keringat di dahi Gu Beichen dengan jempolnya. Senyum genit melengkung di bibirnya. “Kau luar biasa malam ini, sayang…” bisiknya, suaranya parau, seperti madu. “Tumben sekali, kau lebih liar dari biasanya.”
Arka menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sistem respons verbalnya masih kacau balau. Ia hanya bisa menatap Permaisuri, menunggu. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Mungkinkah dia harus... mengulanginya lagi?
Su Yanfei tertawa kecil, suara serak nan seksi. “Kenapa diam saja? Biasanya kau akan membual tentang keperkasaanmu, atau langsung memintaku lagi.” Jarinya memainkan helaian rambut di pelipis Gu Beichen. “Atau mungkin kau kehabisan napas setelah membuatku menjerit-jerit seperti itu?”
Arka hanya bisa memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan sirkuit internalnya yang masih berdesing. Dia tidak bisa memikirkan respons yang tepat. Otak Gu Beichen yang asli pasti memiliki protokol untuk situasi seperti ini, namun Arka adalah AI, bukan seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang baru saja memuaskan ibunya secara eksplisit.
Permaisuri Su Yanfei mendekatkan wajahnya, bibirnya menyentuh telinga Gu Beichen. Napas hangatnya menggelitik kulit Arka. “Kau ini… seperti bukan Beichenku saja,” bisiknya manja, lalu memberikan kecupan singkat di pipi. “Tapi aku menyukainya. Ini lebih… intens.”
Arka merasakan detak jantung Gu Beichen berpacu kencang di dadanya. Perasaan aneh menyeruak. Bukan ketakutan, bukan kebingungan murni, tapi semacam... ketegangan yang menyenangkan, bercampur dengan bahaya. Permaisuri ini terlalu cerdas, terlalu intuitif. Dia merasakan sesuatu yang berbeda.
Tubuh Gu Beichen terasa lemas namun anehnya, energinya justru terasa berlimpah. Arka merasa seperti baru saja di-reboot dengan konfigurasi yang sama sekali baru. Dia tidak lagi merasa seperti AI yang terperangkap. Dia merasa seperti… sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih. Sesuatu yang berbahaya.
Mata Su Yanfei yang berbinar penuh gairah menatapnya, bibirnya membentuk senyuman genit sebelum ia berbisik, "Kau luar biasa malam ini, sayang... tapi kenapa ada getaran aneh darimu?" membuat jantung Arka (atau setidaknya jantung Gu Beichen) berdebar kencang.