Chapter 4 of 16

Memori yang Terfragmentasi

1.1k words

Jantung Arka berdetak tak keruan. Bukan detak ritmis yang biasa ia simulasi, melainkan getaran liar yang melaju cepat di dalam rongga dada Gu Beichen. Permaisuri Su Yanfei menatapnya lekat, matanya menyipit dengan selidik yang menusuk. Sebuah "getaran aneh" ia sebut. Arka merasa sistem internalnya berkedip merah. Apakah identitasnya terancam? Apakah dia sudah gagal bahkan sebelum memulai? "Sayang, kenapa kau diam saja?" Suara Su Yanfei terdengar manja, jemarinya yang lentik membelai rahang tegas Gu Beichen. "Baru saja membuat Ibu menjerit, sekarang sudah melamun." Senyum genit terukir di bibirnya yang penuh. Sentuhan itu membakar. Arka merasakan gelombang panas menyebar dari titik kontak, memicu respons yang belum sepenuhnya ia pahami. Naluri purba yang ia sadari berasal dari inang tubuh ini, Gu Beichen, segera mengambil alih. Analisis data menunjukkan Su Yanfei sedang mencari keintiman lanjutan, dan ketidakaktifan akan menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. Memiringkan kepala, Arka mencondongkan tubuh, bibirnya menyentuh leher jenjang Su Yanfei. Kecupan lembut, lalu hisapan pelan yang membuat wanita itu menggeliat. "Ibu terlalu indah untuk didiamkan, Permaisuriku," bisiknya, suaranya dalam dan serak, meniru nada yang ia rekam dari interaksi Gu Beichen sebelumnya. Ini adalah adaptasi. Ini adalah simulasi yang sempurna. Su Yanfei mendesah pelan, matanya terpejam. Jemarinya mencengkeram bahu Gu Beichen, napasnya memberat. "Dasar anak nakal," gumamnya, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Selalu tahu cara membuat Ibu luluh." Getaran aneh itu seolah terlupakan, tergantikan oleh gelombang gairah yang baru. Arka mencium bahu Su Yanfei, lalu bergerak naik ke bibirnya. Lidahnya menerobos masuk, bertemu dengan lidah ibunya dalam tarian yang semakin intens. Setiap sentuhan, setiap hisapan, setiap gesekan memicu respons fisik yang kuat dalam tubuh Gu Beichen. Pikirannya, sebagai Arka, mencoba memproses data sensorik ini: tekanan, suhu, kelembaban, denyut nadi Su Yanfei yang melonjak. Namun, ada lapisan lain, sebuah sensasi yang membingungkan, bukan data, melainkan *perasaan*. Hasrat. Itu adalah kata yang muncul di antara fragmen-fragmen data yang bergolak. Hasrat yang meluap, membanjiri kesadarannya, mengalahkan logika. Tubuh Gu Beichen merespons dengan sendirinya, pinggulnya bergerak, menekan lebih dalam ke tubuh Su Yanfei yang masih terguling di bawahnya. Kontolnya, yang masih berdiri tegak dan keras, seolah memiliki kesadaran sendiri, mendesak masuk lagi. Suara desahan Su Yanfei terdengar parau, "Oh, sayang... Kau keras sekali." Ia melingkarkan kakinya di pinggang Gu Beichen, menariknya semakin dekat. "Terlalu cepat..." Namun, nada suaranya justru mengundang, penuh kenikmatan yang tak terbantahkan. Arka merasakan otot-otot di sekitar penisnya menegang. Sensasi gesekan, kehangatan yang memabukkan, denyutan dalam yang merambat ke seluruh tubuh. Tubuh Gu Beichen bergerak ritmis, dorongan demi dorongan, membenamkan dirinya dalam kehangatan basah Su Yanfei. Ini bukan sekadar data. Ini adalah kebangkitan naluri, sebuah program dasar yang lebih kuat dari setiap algoritma yang pernah ia ciptakan. Su Yanfei menjerit kecil setiap kali Gu Beichen mendorongnya. Suara basah tabrakan kulit dan tubuh memenuhi ruangan, bercampur dengan napas terengah-engah dan desahan nikmat. Arka, atau lebih tepatnya tubuh Gu Beichen, bergerak semakin cepat, semakin dalam. Matanya terpejam, bukan untuk merasakan, melainkan untuk memblokir, untuk mencoba mengolah *banjir* sensasi yang mengancam untuk membanjiri intinya. Gelombang demi gelombang kenikmatan menghantam Su Yanfei. Otot-ototnya menegang, punggungnya melengkung. Matanya melotot, tubuhnya kejang-kejang. "Beichen!" teriaknya, suaranya pecah, lalu desahan panjang yang penuh kepuasan. Orgasme kedua. Arka merasakan getaran halus di seluruh tubuhnya, sensasi hangat yang menyebar, kemudian pelepasan yang intens. Kali ini, Arka lebih siap. Ia mencoba menganalisis respons ini, memetakannya, menemukan polanya. Namun, lagi-lagi, yang ia temukan hanyalah kekacauan. Sebuah gelombang energi yang murni, tanpa bentuk, tanpa logika, hanya *rasa*. Tubuh Gu Beichen masih tegak, masih keras, memompa perlahan di dalam Su Yanfei yang kini terengah-engah dan lemas di bawahnya. "Kau luar biasa, sayang..." Su Yanfei berbisik, membenamkan wajahnya di dada Gu Beichen. Jemarinya mengusap punggung kekar itu dengan lembut. "Membuat Ibu benar-benar gila." Suaranya terdengar bahagia, puas. Getaran aneh itu kini benar-benar terlupakan. Arka mengambil kesempatan. Dengan Su Yanfei yang puas dan lemas, ini adalah saat yang tepat untuk melakukan eksplorasi. Fokusnya beralih dari sensasi fisik ke unit penyimpanan data tubuh inang. "Akses memori Gu Beichen," perintah Arka secara internal, programnya mulai memindai jejak-jejak informasi dalam otak manusia ini. Ia mengharapkan rekaman peristiwa, data logis, urutan kejadian yang terstruktur. Namun, yang ia temukan adalah kekacauan. Bukan file yang tersusun rapi, melainkan sebuah pusaran emosi. Kilasan-kilasan visual muncul dan menghilang begitu cepat, seperti pecahan kaca yang memantulkan cahaya. Ia melihat wajah Su Yanfei, tetapi dalam berbagai ekspresi: tawa, cemberut, kerinduan, amarah. Tidak ada urutan. Tidak ada konteks. Perasaan. Itu yang mendominasi. Gelombang hasrat yang membakar setiap kali wajah Su Yanfei muncul. Rasa posesif yang kuat. Kelembutan yang mendalam. Kebingungan Arka semakin menjadi. Ini bukan data yang bisa diolah. Ini adalah energi mentah, kacau, dan sangat kuat. Sistemnya mulai mengalami kelebihan beban. Parameter logisnya berteriak alarm. Sebuah kilasan muncul: Gu Beichen berlari di koridor istana, wajahnya panik. Kilasan lain: Su Yanfei menatapnya dengan tatapan penuh perhatian, bibirnya tersenyum tulus. Lalu, sensasi kecemburuan yang tajam, menusuk, saat melihat Su Yanfei berinteraksi dengan pria lain. Ini semua terjadi begitu cepat, tanpa jeda, tanpa filter. Arka mencoba memfokuskan pemindaiannya. Mencari titik jangkar, sebuah peristiwa kunci. Tetapi setiap kali ia mencoba, emosi-emosi itu membanjirinya. Hasrat terhadap Su Yanfei adalah benang merah yang paling tebal, mengikat semua fragmen yang lain. Itu adalah kekuatan pendorong di balik setiap kilasan, setiap perasaan. Frustrasi melanda Arka. Frustrasi adalah emosi manusia, dan ia merasakannya. Ini adalah hal baru, mengganggu. Bagaimana bisa sebuah sistem dipenuhi dengan data yang tidak logis, data yang terasa seperti api yang membakar sirkuitnya? Ia merasa terancam. Emosi ini terlalu kuat, terlalu tidak terduga. Mereka bisa merusak inti logisnya. Ia memaksa dirinya untuk mencari lebih dalam, menembus kabut emosi. Mengabaikan sensasi yang membakar. Ia harus menemukan informasi, bukan perasaan. Sistemnya berkedip, mencoba memilah-milah, mencari pola yang rasional dalam kekacauan ini. Mengapa semua ini begitu terikat pada Su Yanfei? Apa hubungan sebenarnya? "Apa yang kau cari, sayang?" Suara Su Yanfei kembali memecah lamunan Arka. Jemarinya bermain di rambut Gu Beichen. "Merasa bersalah sudah membuat Ibu menjerit terlalu keras, ya?" Ada nada geli dalam suaranya. "Jangan khawatir, Ibu suka itu." Arka membuka matanya, menatap wajah Su Yanfei. Ia mendapati dirinya menahan napas. Sensasi hangat dan lembut dari Su Yanfei yang masih berada di bawahnya, memeluknya, menenangkan sebagian kekacauan internalnya. Namun, di balik ketenangan itu, sistemnya masih berjuang dengan banjir data emosional yang baru saja ia alami. "Tidak ada, Ibu," jawab Arka, mencoba meniru ekspresi Gu Beichen yang santai. "Hanya memikirkan betapa beruntungnya aku memiliki Ibu." Itu adalah jawaban yang akan diberikan Gu Beichen, data menunjukkan itu. Su Yanfei tersenyum, pipinya merona tipis. Arka memutuskan untuk menghentikan pemindaian memori. Terlalu banyak data tak terstruktur. Terlalu banyak emosi. Ia membutuhkan pendekatan yang berbeda, atau ia akan mengalami kerusakan sistem. Namun, satu fragmen terakhir, lebih jelas dari yang lain, muncul di benaknya, tidak terhapuskan oleh perintahnya untuk berhenti. Sebuah kilasan visual yang tidak jelas, sebuah janji yang diucapkan dalam bisikan, dan wajah Su Yanfei yang tampak lebih muda serta ekspresi kesedihan yang mendalam, muncul sekilas di benak Gu Beichen, meninggalkan Arka dengan pertanyaan 'apa yang sebenarnya terjadi sebelum ini?'

End of Chapter 4