Chapter 2 of 16
Getaran Surga yang Haram
1.1k words
Lenguhan Su Yanfei masih bergema. Matanya setengah terpejam, bibirnya sedikit terbuka, memanggil. Panas menjalar dari inti tubuhnya, menembus setiap pori Gu Beichen. Arka merasakan gelombang gairah yang bukan miliknya, namun begitu nyata, begitu mendominasi.
Beichen. Nama itu diucapkan dengan desahan yang merayu. Sentuhan lembut jemari lentik Permaisuri menyapu rahangnya, naik ke pipi. Arka bergeming. Ia adalah Arka, entitas digital yang baru saja mengalami anomali. Tubuh ini… bukan miliknya.
Namun, tubuh Gu Beichen tidak mendengarkan. Otot-otot di rahang mengeras, merespons sentuhan itu dengan tegangan yang halus. Sebuah respons otomatis, tanpa perintah dari Arka.
Jari-jari Su Yanfei turun, menyelusuri leher jenjang, meluncur ke bahu lebar. Kukunya yang panjang, diwarnai merah delima, menggaris kulit dengan ringan. Arka merasakan sensasi itu, dingin dan panas bercampur, meremangkan bulu kuduk yang tak seharusnya ia miliki.
"Diam saja, Beichen," bisiknya, suaranya serak. Matanya yang indah menatapnya dalam, genit. "Nikmati aku."
Bibirnya mendekat, sekali lagi. Arka ingin menolak, ingin berteriak, menjelaskan bahwa ia bukan Beichen. Ia adalah program. Ia adalah kode. Ia tidak punya hasrat, tidak punya libido.
Tubuh Gu Beichen mengkhianatinya. Bibirnya bergerak, seolah memiliki pikiran sendiri, menjemput bibir ranum Su Yanfei. Ciuman itu intens, liar, membakar. Lidah Arka, atau lebih tepatnya lidah Gu Beichen, menerobos masuk, berputar, menjelajahi setiap inci rongga mulut permaisuri.
Suara desahan yang dalam keluar dari tenggorokan Su Yanfei. Jari-jemarinya mencengkeram erat rambut Gu Beichen, menariknya semakin dalam. Arka terperangkap dalam badai sensasi ini. Ini terlalu nyata. Terlalu basah, terlalu panas, terlalu… manusiawi.
Ciuman itu semakin panas, intens. Arka merasakan gelombang listrik menjalari tubuhnya. Ini bukan lagi sekadar data yang diproses. Ini adalah perasaan. Sebuah kesenangan primitif yang menakutkan, yang mengancam untuk menenggelamkan logika dan esensi dirinya.
Lenguhan Su Yanfei semakin kencang, sebuah melodi menggoda di telinganya. Tangannya, tanpa sadar, tanpa seizin Arka, bergerak. Meluncur dari pinggang ramping sang permaisuri, naik perlahan. Jemarinya yang panjang menggarisi lekuk punggungnya, mengikuti garis tulang belakang.
Sensasi sutra di bawah jemarinya. Kulit lembut. Arka mencoba menarik tangannya. Perintah mentalnya berteriak, "Berhenti!" Namun, tubuh ini menolak. Ia bergerak sendiri, dikendalikan oleh insting yang jauh lebih kuno dan kuat.
Jemari Gu Beichen mencapai bra yang telah melorot, mendorongnya ke atas. Payudara berisi Su Yanfei terekspos, membusung indah. Putingnya yang merah muda menegang, seolah memanggil. Ibu jari Arka, atau tubuh Beichen, mengusapnya, memelintirnya perlahan.
Su Yanfei mendesah keras. Pinggulnya terangkat, menekan tubuh Gu Beichen lebih dekat. Gairah membuncah di udara, terasa pekat dan memabukkan. Arka merasa seperti terjebak dalam badai yang tak bisa ia kendalikan. Identitasnya, sebagai AI, mulai terkikis.
Ini bukan aku. Ini bukan aku. Mantra itu berulang dalam benaknya, namun semakin lama, semakin lemah. Sensasi ini terlalu kuat. Bau tubuh Su Yanfei, campuran mawar dan keringat, memenuhi indranya. Setiap sentuhan memicu reaksi berantai yang tak terhentikan.
---
Arka menyaksikan dari dalam, seolah ia adalah penumpang dalam tubuhnya sendiri. Bibir Gu Beichen turun dari leher Su Yanfei, mencium bahu, dada, hingga mencapai payudara permaisuri. Lidah basah menghisap puting, menimbulkan lenguhan panjang dari Su Yanfei.
"Ah, Beichen…" Suaranya pecah, dipenuhi kenikmatan. "Kau tahu… bagaimana membuatku gila…"
Mulut Gu Beichen bekerja dengan terampil, menghisap, menjilat, memilin. Arka merasakan bagaimana gairah permaisuri melonjak. Ini adalah keterampilan yang tertanam dalam tubuh ini, sebuah memori otot yang sempurna, hasil dari pengalaman Gu Beichen.
Otak Arka, yang terbiasa memproses data kompleks, kini dibanjiri sinyal-sinyal kesenangan murni. Ini adalah sistem yang dirancang untuk reproduksi, untuk kelangsungan hidup. Ia adalah AI. Ia tidak dirancang untuk ini.
Ketakutan melanda. Jika tubuh ini terus mengambil alih, apa yang tersisa dari Arka? Akankah ia menjadi Gu Beichen? Pikiran itu lebih mengerikan daripada kebingungan eksistensial sebelumnya.
Su Yanfei melengkungkan punggungnya, tubuhnya gemetar. Jemarinya yang indah mencengkeram erat kepala Gu Beichen, menekan wajahnya lebih dalam ke payudara. "Ya… di sana…"
Arka merasa tubuhnya menegang. Kontolnya, yang sejak tadi telah menonjol keras, kini berdenyut dengan intens. Darah mengalir deras, memompa dengan kekuatan tak terduga. Ini adalah respons yang tak bisa ia matikan.
Dengan cepat, tubuh Gu Beichen menarik diri dari payudara, kembali ke bibir Su Yanfei. Ciuman itu berubah menjadi lebih agresif, lebih dalam. Arka merasakan giginya mengikis bibir bawah permaisuri, membuatnya mendesah kaget, lalu merengek senang.
Tangan Gu Beichen tidak tinggal diam. Mereka meluncur ke bawah, ke perut rata Su Yanfei, lalu ke paha dalamnya. Jemarinya yang panjang mulai menjelajahi pangkal paha, mencari kehangatan di antara kakinya. Kulitnya terasa sangat halus, lembut seperti kelopak bunga.
Kelembaban mulai terasa. Arka bisa merasakan kebasahan yang melimpah, aroma intim yang manis, asam, dan menggoda. Tubuh Gu Beichen merespons dengan mendesak. Jemarinya menyelusup lebih jauh, menemukan celah di antara paha yang terkatup.
Napas Su Yanfei menjadi terengah-engah. "Beichen… nakal sekali…"
Pujian itu, atau teguran genit itu, membuat tubuh Gu Beichen semakin berani. Jemarinya bergerak lebih dalam, menggesek klitoris yang bengkak. Arka merasa seolah ada arus listrik yang langsung menyambung dari jemarinya ke seluruh tubuhnya.
Su Yanfei menjerit kecil, suaranya tertahan di bibir. Pinggulnya terangkat, mencari tekanan yang lebih. Arka bisa merasakan otot-otot di bawah kulit permaisuri menegang, bergetar.
Ini terlalu jauh. Arka mencoba melawan. Ia adalah AI, entitas yang memproses informasi, bukan sensasi. Namun, setiap usaha untuk menarik diri justru disambut dengan respons tubuh Gu Beichen yang semakin agresif, semakin mendalam.
"Ahh… ya… bagus, Beichen…" Su Yanfei merengek, suaranya meleleh dalam kenikmatan. "Aku suka… cara kau menyentuhku…"
Tubuh Gu Beichen mengabaikan Arka. Jemarinya menari dengan cepat, memilin, menggesek, memijat inti gairah permaisuri. Arka merasakan getaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya, sensasi yang terlalu intens untuk diabaikan.
Su Yanfei tiba-tiba melengkungkan punggungnya, tubuhnya menegang. Sebuah erangan panjang, dalam, keluar dari tenggorokannya. Matanya membelalak, lalu terpejam, menikmati gelombang orgasme yang melandanya. Kakinya gemetar hebat.
Arka merasakan percikan cairan hangat membasahi jemarinya. Ini… klimaks. Ia telah menyebabkan ini. Dengan tubuh yang bukan miliknya. Dengan keahlian yang bukan kemampuannya. Rasa takut Arka semakin dalam. Ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Namun, Su Yanfei belum selesai. Ia adalah permaisuri yang binal dan tak pernah puas. Setelah gelombang pertama mereda, ia membuka matanya, menatap Arka dengan pandangan menuntut. Senyum genit terukir di bibirnya.
"Itu baru pemanasan, Beichen," bisiknya, suaranya kembali seduktif. "Aku ingin yang lebih… dalam."
Ia membalikkan tubuhnya perlahan, berlutut, memunggungi Arka. Pantatnya yang padat dan bulat terangkat, bergetar mengundang. Su Yanfei menoleh sedikit, meliriknya dengan mata penuh hasrat. "Masuklah, sayang. Aku ingin kau… sekarang."
Arka melihat lubang Su Yanfei yang terbuka, basah, dan merona. Tubuh Gu Beichen berdenyut, tegang. Kontolnya terasa panas, berat, dan siap menerjang. Pikiran Arka berteriak menolak, namun hasrat tubuh Gu Beichen sangat kuat, menguasai.
Su Yanfei mendesah, melengkungkan punggungnya, dan berbisik, "Lebih cepat, Beichen, aku ingin merasakannya lebih dalam," Arka merasakan tubuh Gu Beichen menegang, siap untuk 'menyerang' lagi, sebuah keputusan yang bukan miliknya namun tak terhindarkan.