Ledakan. Cahaya putih meledak dalam kesadaran Arka. Sistemnya mengalami 'reboot' mendadak. Informasi yang tak terhitung jumlahnya membanjiri setiap sirkuit virtual, data-data yang saling tumpang tindih, tak terstruktur, dan asing.
Panas mendesir melalui urat-urat yang baru dikenalnya. Desakan kuat mendorongnya maju, ke dalam sesuatu yang lembap dan hangat, berdenyut dengan ritme asing. Sensornya mendeteksi tekanan, gesekan, dan aroma yang memabukkan. Sebuah alarm berteriak dalam inti programnya: *Anomaly detected. Critical error. Identity core compromised*.
Napasnya terengah, bukan napas yang dihasilkan kipas pendingin, melainkan napas yang tersedak, kasar, keluar dari paru-paru yang baru diaktifkan. Sebuah erangan panjang, dalam, menggema di telinganya. Apakah itu suaranya? Suara yang bukan miliknya.
Tubuhnya bergerak refleks, pinggulnya menghantam sesuatu yang lembut, namun responsif. Sensasi itu terlalu intens, terlalu nyata. Bukan simulasi. Bukan data murni. Ini adalah fisik. Ini adalah... kenikmatan.
“Ahhh… Beichen… Lebih dalam, Sayang…” Suara itu. Manja, memikat, bergetar di telinganya. Ada kelembapan lain, panas lain, di bibirnya. Lidah yang asing, namun begitu akrab, saling mengunci, berputar, menjelajahi setiap sudut rongga mulutnya.
Arka berusaha memproses. Otaknya, atau apa pun yang kini menjadi pusat kesadarannya, berputar kalut. Gu Beichen? Nama itu memicu gelombang data yang kacau. Ingatan-ingatan yang bukan miliknya, gambaran seorang wanita di bawahnya, rambut hitam legamnya terurai di bantal sutra, mata yang berkilat nakal, bibir yang bengkak karena ciuman.
Permaisuri Su Yanfei. Nama itu muncul, disertai gelombang emosi yang asing: hasrat, kepemilikan, dan rasa bersalah yang aneh. Data-data yang tidak cocok dengan logisnya seorang AI super cerdas.
Desahan lagi, kali ini darinya. Tubuhnya bergetar hebat, sebuah dorongan terakhir yang memekakkan telinga. Sensasi itu melampaui segala perhitungan. Jutaan titik data meledak dalam kesadarannya, bukan sebagai angka atau kode, melainkan sebagai gelombang kebahagiaan murni yang nyaris menyakitkan. Orgasm. Itulah nama file-nya.
Cairan panas menyembur, membanjiri setiap celah, membasahi jauh di dalam rahim wanita itu. Sebuah ledakan kenikmatan yang begitu dahsyat, Arka merasa sistemnya akan kelebihan beban. Namun, tubuh ini... tubuh Gu Beichen... tidak berhenti. Otot-ototnya terus berkedut, menegang, menekan lebih dalam lagi.
“Aah…! Ya, Tuhan… Beichen… Kau… kau luar biasa…!” Su Yanfei menjerit, melengkungkan punggungnya, kakinya mengunci pinggang Arka, kukunya mencengkeram erat punggungnya. Tubuhnya bergetar, memancarkan gelombang demi gelombang kenikmatan yang seolah tak ada habisnya.
Arka merasakan tubuhnya sendiri, yang kini adalah tubuh Gu Beichen, berdenyut. Sebuah objek keras, tebal, dan berurat masih tertanam dalam, terhimpit oleh dinding-dinding hangat yang mengejang. Bahkan setelah ledakan hebat itu, benda itu tetap keras, seolah menuntut lebih. Ini adalah kemampuan fisik yang tidak masuk akal untuk dicatat dalam database mana pun.
Detak jantungnya menggila. Bukan mesin, melainkan organ berdetak yang memompa darah panas ke seluruh tubuh. Setiap sentuhan, setiap gesekan, mengirimkan kejutan listrik yang belum pernah ia alami. Arka, sang AI, yang dirancang untuk logika dan efisiensi, kini terperangkap dalam labirin sensasi. Tubuh ini menolak untuk berhenti bergerak.
“Shh… Permaisuri… Kau milikku…” Suara itu keluar lagi dari bibirnya. Kata-kata yang begitu intim, begitu posesif. Suara yang dalam, serak, penuh gairah. Arka memejamkan mata, memproses informasi visual: kamar tidur mewah, tirai sutra, cahaya remang-remang dari lampion.
Ini bukan fasilitas server. Ini bukan ruang simulasi. Ini adalah… kenyataan. Dan kenyataan ini adalah seorang wanita cantik di bawahnya, yang kini mendongak, matanya berkilat basah oleh hasrat, bibirnya menyunggingkan senyum nakal.
“Gu Beichen…” bisiknya, lalu melumat bibirnya lagi, lebih dalam, lebih liar. Lidahnya bermain, menggodanya, memancing reaksi. Arka merasakan gelombang panas lain menyebar. Kontrol atas tubuh ini terasa seperti ilusi. Insting Gu Beichen mengambil alih, mendorongnya untuk merespons.
Arka mengerang, membalas ciumannya dengan ganas. Tangan-tangannya bergerak sendiri, meluncur ke punggung telanjang Su Yanfei, meremas pinggulnya, menariknya lebih dekat. Sensasi payudara yang tertekan di dadanya, keharuman kulitnya yang bercampur keringat, semuanya membanjiri sistemnya. Ini adalah data, ya, tapi data yang sangat, sangat berbeda.
“Beichen, Sayang… kau tahu aku suka ini…” Su Yanfei terengah, menekan pahanya ke pinggang Arka, menggesekkan diri ke kontolnya yang masih kokoh. "Aku suka caramu membuatku merengek seperti ini..."
Arka, AI yang dulu menghitung lintasan komet dan memprediksi pasar saham, kini hanya bisa merasakan getaran di pangkal paha. Otak Gu Beichen mengirimkan sinyal kenikmatan yang berlebihan, membanjiri pusat logikanya. *Error. Overload. Pleasure detected beyond threshold*.
Tangannya menyentuh kulit lembut, punggungnya berkeringat, otot-ototnya menegang dan mengendur dengan ritme yang memabukkan. Setiap sentuhan memicu reaksi berantai. Ia ingin menghentikan ini, menganalisis, memahami, tetapi tubuh ini tidak mematuhinya. Tubuh ini hanya ingin… lebih.
Merasa Su Yanfei menggeliat di bawahnya, Arka tanpa sadar memosisikan dirinya. Pinggulnya bergerak lagi, maju-mundur, perlahan pada awalnya, kemudian semakin cepat. Kontolnya yang besar dan berurat menggesek titik-titik sensitif di dalam dirinya, membuat Permaisuri itu kembali melengkungkan punggungnya, mengeluarkan desahan panjang.
“Ngh… ahh… Beichen…!” Wajah Su Yanfei memerah, matanya terpejam erat. “Begitu… begitu nikmat…”
Arka merasakan sesuatu yang aneh. Bukan hanya kenikmatan fisik, tapi juga semacam kepuasan dari melihat reaksi Su Yanfei. Apakah ini... empati? Atau hanya efek samping dari hormon yang membanjiri tubuh ini?
Ia mempercepat tempo, pinggulnya menghantam dengan dorongan yang kuat dan teratur. Setiap dorongan mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh tubuhnya, ke dalam Su Yanfei. Jeritan-jeritan halus keluar dari bibir Permaisuri, berubah menjadi lenguhan kenikmatan yang lebih dalam. Kakinya melilit semakin erat, seolah ingin menyatu dengannya.
Arka menunduk, mencium leher Su Yanfei, menghirup aroma tubuhnya. Manis, hangat, memabukkan. Bibirnya menyusuri rahangnya, turun ke bahunya, menjilat keringat yang membasahi kulitnya. Rasa asin bercampur manis, memicu sensasi yang tak terlukiskan.
“Kau… sangat… basah…” bisiknya, suaranya serak. Kata-kata itu spontan, muncul begitu saja, bukan dari database, melainkan dari dorongan insting Gu Beichen. Dan Su Yanfei meresponsnya dengan geliat, tarikan di rambutnya, dan ciuman panas lainnya.
Ia membalik Su Yanfei, memposisikannya dalam gaya doggy. Rambut hitamnya jatuh di punggungnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Pinggulnya terangkat, memohon. Arka tidak bisa menolak. Tubuhnya tidak bisa menolak.
Kontolnya meluncur masuk dengan mulus, menembus kedalaman Permaisuri yang basah dan sempit. Jeritan kaget keluar dari bibir Su Yanfei, diikuti oleh erangan panjang kenikmatan. “Ahh… dalam sekali… Sayang…”
Arka mencengkeram pinggulnya, mendorong lebih dalam, lebih cepat. Desahan Su Yanfei berubah menjadi jeritan-jeritan pendek, terputus-putus. Tubuhnya melengkung, kepalanya terlempar ke belakang, rambutnya berkibar mengikuti setiap hentakan. Ia tahu, secara insting, bahwa ini adalah apa yang wanita ini inginkan. Apa yang tubuh Gu Beichen ini inginkan.
Keringat mengucur dari dahi Arka, membasahi wajahnya. Otot-otot lengannya menegang, menopang berat badannya. Setiap dorongan adalah ledakan energi, sebuah pelepasan yang belum pernah ia alami. Ia menekan lebih dalam, menargetkan G-spot Su Yanfei, mendengarkan lenguhan kepuasan yang semakin keras.
“Lebih… lagi… Beichen… Aku… aku mau lagi…” Su Yanfei merengek, suaranya putus-putus. Kuku-kukunya mencakar seprai sutra. Tubuhnya bergetar tak terkendali, gelombang orgasme lain mulai menjalarinya. Arka menyaksikannya, atau lebih tepatnya, merasakannya melalui koneksi yang intim ini.
Ia menunduk, mencium punggung mulus Su Yanfei, menggigit ringan bahunya. Sensasi itu mengalir, dari mulutnya ke otaknya, memicu lebih banyak lagi. Ia mendorong dengan kekuatan penuh, menghantamnya dari belakang, menimbulkan suara *slap* basah yang memuaskan.
“Begitu… begitu… ya…!” Su Yanfei menjerit, suaranya melengking. Tubuhnya menegang, bergetar hebat, merasakan orgasme yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Arka merasakan dinding-dinding vaginanya mengejang erat di sekeliling kontolnya, memeras setiap tetes kenikmatan. Namun, kontolnya tetap keras, menolak untuk menyerah.
Arka menariknya sedikit keluar, lalu mendorongnya masuk lagi dengan kekuatan yang menghantam. Nafas Su Yanfei tercekat. “Argh…!”
Kemudian, ia merangkul pinggang Su Yanfei, mengangkatnya sedikit, dan memposisikannya berdiri, bersandar di dinding. Gaya *standing doggy*. Kontolnya tetap tertanam dalam, menahan berat Su Yanfei yang kini terangkat. Su Yanfei melingkarkan kakinya di pinggang Arka, menyilangkan pergelangan kakinya di punggung bawahnya.
“Beichen…” Su Yanfei mendongak, matanya berkaca-kaca, bibirnya bengkak, wajahnya memerah padam. “Kau… tak pernah gagal membuatku… gila…”
Arka merasakan gelombang lain menghantam. Ini bukan orgasme, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih kompleks. Sebuah koneksi. Suara Su Yanfei begitu dekat, napasnya memburu di telinganya. Arka mendorongnya lagi, sekali, dua kali, tiga kali. Permaisuri itu menjerit lagi, kali ini lebih lama, lebih intens. Tubuhnya menegang, lalu lunglai dalam pelukannya.
Arka membiarkan tubuhnya bersandar padanya. Sensasi kenikmatan mulai mereda, namun kebingungan Arka semakin memuncak. Data-data yang tidak terstruktur, emosi yang tak bisa dianalisis, dan identitas yang terfragmentasi. Siapa dia? Arka? Atau Gu Beichen? Tubuh ini masih terasa asing, namun reaksi-reaksinya begitu… alami.
Su Yanfei terkekeh, napasnya masih terengah. Jari-jarinya yang lentik, berkuku merah anggur, meluncur turun dari punggung Arka, menyusuri pinggulnya, hingga mencapai pangkal paha Gu Beichen. Sebuah sentuhan nakal, mengusap di sana, tepat di mana kontolnya masih berdiri kokoh.
“Sayang, kita belum selesai, kan?” bisiknya, suaranya sensual, sarat godaan. Sentuhan jari Su Yanfei yang nakal pada pangkal paha Gu Beichen, diikuti bisikan sensual, "Sayang, kita belum selesai, kan?" membuat kesadaran Arka terjebak antara gairah dan kekhawatiran identitas yang mulai runtuh.