Chapter 13 of 16
Labirin Rahasia Istana
1.3k words
Su Yanfei melirik Arka, mata cantiknya berbinar penuh rahasia di balik bulu mata lentik. Jemari lentiknya menarik ujung jubah Arka, gestur yang terburu-buru namun sarat godaan. Bibirnya membentuk senyum tipis, memancing. Arka merasakan gelombang panas menjalar di perutnya, efek sisa ciuman mereka yang masih berdenyut. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin meloncat keluar.
"Sudah siap, Beichen?" bisiknya, suaranya serak dan rendah, nyaris tak terdengar. Ia tidak menunggu jawaban. Tanpa aba-aba, jemarinya yang lincah menekan salah satu ubin dinding yang terukir rumit. Bunyi *klik* halus membelah kesunyian koridor, nyaris tenggelam dalam debaran jantung Arka yang menggila.
Sebuah celah sempit tiba-tiba muncul di antara dinding batu, membuka ke dalam kegelapan yang pekat. Udara dingin dan lembap segera menyergap mereka, membawa aroma lumut dan tanah basah yang kontras dengan wewangian istana yang mewah. Arka menatap ke dalam, keraguan sesaat menelusup di antara gairah dan ketakutan yang bercampur aduk.
Su Yanfei sudah lebih dulu melangkah masuk, tubuh langsingnya menghilang di balik celah sempit itu. "Cepat, sayang," desisnya dari dalam, suaranya menggema samar, menciptakan lorong semakin misterius. Aroma parfumnya yang memabukkan tertinggal di udara, menarik Arka lebih jauh ke dalam godaan yang tak terhindarkan.
Arka tak punya pilihan selain mengikuti. Ia melangkah hati-hati, memaksakan tubuhnya yang tinggi melewati celah sempit itu. Dinding batu yang dingin dan kasar bergesekan dengan jubahnya, sensasi yang semakin meningkatkan ketegangan. Begitu ia sepenuhnya masuk, celah di dinding itu bergeser perlahan, kembali menutup dengan bunyi *sreeet* yang pelan.
Kegelapan total menyelimuti mereka. Arka merasakan desiran adrenalin memompa di nadinya, membuat sekujur tubuhnya merinding. Ia tidak bisa melihat apapun, hanya merasakan keberadaan Su Yanfei di dekatnya, napasnya yang hangat menerpa telinganya. Lingkungan yang asing ini terasa begitu intim, begitu berbahaya.
"Jangan panik," bisik Su Yanfei, suaranya sangat dekat sekarang, membuat Arka merasakan napasnya sendiri tertahan. Jemari dinginnya tiba-tiba menyentuh telapak tangan Arka, menggenggamnya erat. Sentuhan itu seperti percikan api, menyulut kembali gelombang panas yang sempat mereda.
Arka balas menggenggam tangan Su Yanfei, jemarinya meremas lembut. Ia bisa merasakan kelembutan kulit wanita itu di balik genggamannya, serta getaran halus yang mungkin adalah detak jantung Su Yanfei, atau mungkin hanya imajinasinya sendiri. Ia mencoba untuk tenang, tapi debaran jantungnya tak mau berkompromi.
Su Yanfei menariknya maju perlahan, langkah mereka berdua nyaris tanpa suara. Hanya gesekan kain jubah mereka yang terdengar samar di keheningan. Udara terasa semakin dingin, namun tangan Su Yanfei di genggamannya terasa hangat, menjadi satu-satunya jangkar Arka di tengah labirin kegelapan ini. Ia merasa seperti boneka yang ditarik ulur oleh benang tak kasat mata.
"Kita akan sedikit turun," Su Yanfei memperingatkan, suaranya masih dalam bisikan. Arka merasakan lantai di bawah kakinya mulai menurun curam, beralih dari lantai batu datar menjadi tangga spiral yang licin. Ia harus berhati-hati agar tidak tergelincir, apalagi di tengah kegelapan total seperti ini. Rasa cemas dan penasaran berebut di benaknya.
Tangga itu terasa tak ada habisnya, berliku-liku semakin dalam ke perut istana. Setiap langkah Arka terasa seperti melangkah lebih jauh dari dunia yang dikenalnya, menuju sesuatu yang sepenuhnya baru dan terlarang. Permaisuri ini benar-benar menyimpan banyak rahasia, dan Arka merasa seperti sedang ditarik ke dalam salah satu di antaranya.
Ia bisa merasakan hawa pengap yang semakin pekat, bercampur dengan aroma aneh yang belum pernah ia cium sebelumnya. Bukan lagi bau lumut, melainkan bau dupa yang samar, seperti wangi cendana yang telah lama tersimpan. Ada sesuatu yang kuno dan sakral di sini, bercampur dengan nuansa terlarang yang membakar gairahnya.
"Ini di mana kita?" Arka akhirnya berbisik, suaranya nyaris tercekat. Ia mencoba mengeratkan genggamannya pada tangan Su Yanfei, seolah mencari kepastian. Pertanyaan itu keluar begitu saja, tidak tertahan lagi. Kemanakah Su Yanfei membawanya di tengah kegelapan yang mencengkeram ini? Apa tujuan sebenarnya?
Su Yanfei terkekeh pelan, tawa kecil yang sensual, membuat bulu kuduk Arka meremang. Tawa itu seperti melodi nakal yang hanya dimainkan untuknya. "Tempat yang tidak ada yang tahu, sayang," bisiknya kembali, suaranya terdengar begitu dekat, seolah bibirnya menempel di telinga Arka. "Hanya kita."
Arka merasakan napas Su Yanfei di tengkuknya, hangat dan memabukkan. Sebuah sensasi geli yang menyenangkan merambat dari lehernya hingga ke tulang belakang. Jantungnya berdegup semakin kencang, bukan lagi karena ketakutan, tapi karena antisipasi yang membara. Sisi 'nakal' Su Yanfei yang berani ini benar-benar mempesonanya.
Setiap langkah menuruni tangga spiral terasa seperti jatuh ke dalam pusaran gairah yang semakin dalam. Arka membayangkan apa yang mungkin akan mereka lakukan di tempat rahasia ini, jauh dari mata-mata istana yang selalu mengawasi. Sebuah tempat di mana mereka bisa sepenuhnya menjadi diri mereka sendiri, tanpa batasan, tanpa aturan.
Namun, di antara gairah yang melonjak, terselip juga kekhawatiran yang samar. Ketakutan akan ketahuan, ketakutan akan konsekuensi dari tindakan mereka. Hubungan terlarang ini adalah permainan berbahaya, dan Arka tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka semakin dekat ke jurang.
Su Yanfei memperlambat langkahnya. Arka merasakan jemarinya mengendur, lalu Su Yanfei melepaskan genggaman tangannya. Panik sesaat menyergap Arka di tengah kegelapan, namun Su Yanfei segera menyentuh bahunya, jemarinya bergerak lembut, menuntunnya. "Kita hampir sampai," bisiknya, nadanya penuh janji. Janji yang terlalu manis untuk ditolak.
Arka merasakan kakinya menginjak lantai yang rata lagi. Udara di sini terasa lebih hangat, lebih lembut, tidak sesedingin lorong sebelumnya. Aroma dupa cendana semakin kuat, bercampur dengan wangi bunga melati yang samar. Indranya mulai beradaptasi, meskipun ia masih tak bisa melihat apapun.
Sebuah sentuhan lembut mendarat di pipinya, lalu jemari Su Yanfei mengusap bibirnya pelan. "Jangan takut, Beichen," bisiknya lagi, suaranya merayu. "Aku bersamamu." Kata-katanya menenangkan Arka, namun juga menyulut api lain dalam dirinya. Kata-kata itu adalah izin, sebuah dorongan untuk melangkah lebih jauh.
Kemudian, Arka mendengar suara *klik* lain, lebih jelas dari sebelumnya. Sebuah cahaya lembut tiba-tiba menerobos kegelapan, menyinari lorong sempit di hadapan mereka. Bukan cahaya obor, melainkan cahaya remang-remang yang berasal dari dalam sebuah ruangan, memancarkan rona keemasan yang hangat.
Sebuah pintu kayu berukir halus kini tampak di hadapan mereka, sedikit terbuka. Cahaya itu berasal dari celah pintu. Su Yanfei melangkah maju, mendorong pintu itu hingga terbuka sepenuhnya. Suara *derit* pelan pintu itu terdengar seperti gerbang menuju dunia lain, dunia yang hanya miliknya dan Arka.
Arka melangkah masuk, matanya mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya. Ruangan itu bukan seperti ruang penyimpanan rahasia atau perpustakaan tersembunyi. Ini adalah sebuah kamar pribadi yang mewah, namun dengan sentuhan yang sangat intim dan sensual. Dinding-dindingnya dilapisi sutra merah tua, dan lantai beralaskan permadani tebal berwarna senada.
Pencahayaan remang-remang datang dari beberapa lampion giok yang tergantung di sudut-sudut ruangan, memancarkan cahaya kekuningan yang lembut dan hangat. Udara dipenuhi aroma cendana dan melati yang memabukkan, lebih kuat dari sebelumnya, seolah ruangan ini memang dirancang untuk memanjakan indra.
Arka membiarkan pandangannya menyapu sekeliling, otaknya bekerja keras memproses semua informasi ini. Ada bantal-bantal sutra yang berserakan di lantai, sebuah meja rendah dengan beberapa cawan perak, dan di salah satu sudut, sebuah tungku kecil mengeluarkan asap tipis dari dupa yang membara. Ini bukan sekadar ruangan rahasia; ini adalah sarang rahasia.
Perasaan khawatir kembali merayapi benaknya. Apa yang akan mereka lakukan di tempat terpencil ini? Jauh dari keramaian istana, jauh dari pengawasan. Di sinilah rahasia-rahasia terdalam akan terungkap, di sinilah batas-batas akan diuji. Keberanian Su Yanfei membuat Arka terpukau, namun juga membuatnya gelisah.
Su Yanfei berjalan perlahan ke tengah ruangan, jubahnya yang panjang menyapu permadani dengan gerakan anggun. Ia menoleh ke arah Arka, senyumnya kini semakin lebar, semakin menggoda. Sebuah senyum yang menjanjikan segalanya, namun juga menuntut segalanya. Arka merasakan jantungnya berdetak kencang, mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di tengah ruangan, terpampang sebuah tempat tidur besar dengan tirai transparan yang menjuntai elegan, menciptakan kesan misterius sekaligus menggoda. Di sekelilingnya terdapat aneka mainan 'dewasa' yang berkilauan, terbuat dari perak, giok, dan kulit. Su Yanfei menoleh ke arah Arka dengan senyuman yang terlalu manis, "Selamat datang di taman bermain kita, Beichen."