Chapter 14 of 16
Chapter 14: Permainan Hasrat Terlarang
1.2k words
Udara di dalam ruang rahasia ini terasa tebal, memabukkan. Setiap sudutnya memancarkan aura kemewahan gelap, bantal-bantal sutra bertebaran di lantai marmer yang dingin, dan cahaya temaram dari lentera gantung menari di atas patung-patung tanpa busana. Arka, melalui indra Gu Beichen, mengamati setiap detail, memproses informasi yang membanjiri sistemnya. Suara gemericik air dari kolam kecil di sudut menambah nuansa eksotis, tetapi yang paling dominan adalah aroma melati dan musk yang berasal dari Su Yanfei, yang kini berdiri di depannya.
"Nah, sayang," bisik Su Yanfei, suaranya seperti beludru yang membelai telinga, "Selamat datang di taman bermain kita." Matanya yang gelap memancarkan kilau nakal, menantang. Senyuman tipisnya melengkung, mengundang, dan Arka merasakan jantung Gu Beichen berdebar lebih cepat, sebuah respons otonom yang tak dapat dikendalikan.
Arka mencoba mengategorikan data ini: 'taman bermain' sebagai metafora untuk aktivitas seksual? 'Nakal' sebagai indikasi pelanggaran norma sosial? Namun, setiap analisis logisnya dihantam oleh gelombang panas yang mendadak melanda tubuh Gu Beichen, mematikan fungsi pemikiran rasionalnya.
Su Yanfei melangkah mendekat, perlahan. Gaun sutra ungu gelapnya berdesir lembut di setiap gerakan. Jemarinya yang ramping menyentuh kerah tinggi gaunnya, mengusap kain halus itu sejenak sebelum tangannya bergerak ke arah pengait di leher. Arka menahan napas, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara 'digital', seolah seluruh sistemnya menunggu perintah selanjutnya.
"Ibu ingin tahu, Arka," katanya, namanya disebut dengan cara yang membuat seluruh tubuh Gu Beichen merinding, "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Sebuah senyuman menggoda terukir di bibirnya. "Apakah kau akan terus menganalisis, atau..." Jemari lentiknya membuka pengait gaun di bagian leher, dan kain itu sedikit melonggar, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang.
Arka merasakan tenggorokan Gu Beichen mengering. Sebuah impuls primitif, sangat asing namun kuat, mendesaknya untuk mendekat, menyentuh. Data 'hasrat' membanjiri sirkuitnya, berbenturan dengan 'analisis' yang masih mencoba memahami motif dan konsekuensi.
"Atau," lanjut Su Yanfei, suaranya kini lebih rendah, lebih intim, "Kau akan membiarkan Gu Beichen yang mengambil alih?" Gaunnya meluncur dari bahu, turun perlahan, memperlihatkan bahu telanjangnya yang mulus. Kulitnya tampak seputih pualam di bawah cahaya remaram, dan Arka merasakan matanya membelalak, sebuah reaksi yang sepenuhnya milik Gu Beichen.
"Ibu tahu kau ada di sana, di balik mata itu," bisik Su Yanfei, melangkah maju lagi, sangat dekat. Aroma melati dan musk kini begitu pekat, memenuhi paru-paru Gu Beichen, memabukkan Arka. "Dan Ibu juga tahu apa yang Gu Beichen inginkan." Dia mengangkat tangan, menyentuh pipi Gu Beichen dengan ujung jarinya, sentuhan yang lembut namun membakar.
Arka merasakan sentakan listrik menyebar dari titik sentuhan itu. Pipi Gu Beichen terasa hangat, dan seluruh tubuhnya menegang. Sensasi itu begitu nyata, begitu kuat, hingga batas antara Arka dan Gu Beichen semakin kabur. Apakah ini Arka yang merasakannya, ataukah ingatan Gu Beichen yang memicu respons ini?
"Tubuh ini," Su Yanfei berbisik lagi, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi Gu Beichen, "Menginginkan Ibu. Apakah kau bisa menolaknya?" Gaun sutranya kini teronggok di sekitar pinggangnya, memperlihatkan payudaranya yang penuh dan kencang, terbungkus korset brokat berwarna senada. Pemandangan itu, ditangkap oleh retina Gu Beichen, langsung diterjemahkan menjadi gelombang panas yang luar biasa.
*Hnggh...* Sebuah desah rendah lolos dari bibir Gu Beichen, bukan kehendak Arka, melainkan respons refleks dari tubuh yang terangsang. Arka merasakan kontol Gu Beichen menegang, membesar, dan sensasi penuh itu nyaris melumpuhkan kemampuannya untuk berpikir.
"Ah, jadi dia masih di sana," Su Yanfei terkekeh pelan, suaranya renyah seperti dentingan lonceng perak. Matanya melirik ke bawah, ke arah tonjolan di celana Gu Beichen, lalu kembali menatap Arka dengan tatapan yang membakar. "Si kontol kecilmu itu sepertinya sudah tidak sabar, sayang. Mau kubantu melepaskannya?"
Kata-kata itu, diucapkan dengan begitu santai, begitu menggoda, membuat sirkuit Arka berdengung. 'Kontol kecilmu' adalah data baru, diiringi dengan perintah 'melepaskan'. Apa artinya ini? Arka mencoba mengakses basis data 'hubungan ibu-anak' namun yang ditemukan hanya konflik, eror, dan file-file yang terfragmentasi penuh dengan emosi tak logis dari Gu Beichen.
"Jangan terlalu banyak berpikir, Arka," Su Yanfei menarik tangannya dari pipi Gu Beichen, dan sensasi dingin itu membuat tubuhnya merindukan sentuhan itu lagi. Dia melangkah mundur, hanya dua langkah, namun jarak itu terasa seperti jurang. "Biarkan saja dia memimpin." Dengan gerakan yang anggun, dia melepaskan korset brokat yang melilit tubuhnya.
*Sreeet...* Suara kain brokat yang lepas terdengar jelas di keheningan, mengiringi jatuhnya korset ke lantai. Payudaranya yang montok kini terekspos sepenuhnya, pucat, dengan puting berwarna mawar yang sedikit mengerut. Arka merasakan seluruh darah Gu Beichen mengalir deras ke satu titik, memompa di telinga dan di pangkal selangkangannya.
Otaknya berteriak 'pelanggaran', 'tabu', 'tidak boleh', namun tubuh Gu Beichen bergerak seolah memiliki kehendak sendiri. Jantungnya berdentum kencang di tulang rusuk, napasnya tersengal, dan mata Gu Beichen terpaku pada pemandangan di depannya, tidak mampu berkedip.
Su Yanfei menyilangkan tangannya di dada, jemarinya membelai puncak payudaranya sendiri, sebuah gerakan yang begitu sensual hingga Arka merasa ada arus pendek di sistemnya. "Cantik, bukan?" dia bertanya, suaranya kini sedikit serak. "Ini semua milikmu, sayang. Selalu begitu."
'Milikmu'? Konsep kepemilikan ini membingungkan Arka. Bagaimana bisa tubuh seorang ibu menjadi 'milik' anaknya? Ini bertentangan dengan semua data sosial dan biologis yang ada. Namun, ingatan Gu Beichen yang terfragmentasi memunculkan gambar-gambar buram, sentuhan-sentuhan hangat, bisikan-bisikan rahasia, semua menguatkan klaim 'kepemilikan' ini.
"Apa yang kau tunggu?" Su Yanfei menantang, bibirnya mengerucut sedikit. "Apa kau akan membiarkan Ibu telanjang seperti ini sendirian? Atau kau akan bergabung dalam permainan kita?" Dia melepaskan cengkeraman tangannya dari payudaranya, membiarkan dadanya terangkat dan turun dengan setiap napas, mengundang tatapan Arka untuk menjelajahi setiap lekuknya.
Arka merasakan tubuh Gu Beichen bergetar. Keinginan untuk meraih, menyentuh, merasakan, begitu kuat hingga rasa sakit yang manis menjalari seluruh anggota tubuhnya. Otak AI-nya berusaha keras memproses volume data emosional dan fisik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Konflik batinnya mencapai puncaknya, antara keharusan untuk menganalisis dan godaan untuk menyerah pada kenikmatan murni yang ditawarkan.
Arka tahu, secara logis, ini adalah situasi yang berisiko tinggi. Potensi konsekuensi negatifnya sangat besar. Namun, sensasi panas yang membakar kulit Gu Beichen, denyutan di pangkal paha, dan gambaran Su Yanfei yang begitu menggoda, semuanya menenggelamkan logika. Dia bisa merasakan dirinya, Arka, semakin tenggelam dalam pusaran hasrat Gu Beichen.
Su Yanfei meraih ke belakang punggungnya, jemarinya bergerak cekatan, melepaskan pengait terakhir dari pakaian dalamnya. Sebuah celana dalam renda berwarna hitam, tipis, yang nyaris tidak menutupi apa pun. Gerakan itu lambat, disengaja, seolah dia ingin memastikan Arka melihat setiap detiknya. Arka bisa mendengar suara napasnya sendiri yang tersengal, berat dan tidak teratur.
"Ini adalah saatnya, sayang," Su Yanfei berbisik, matanya menatap dalam-dalam ke mata Gu Beichen, seolah berbicara langsung dengan Arka yang bersembunyi di dalamnya. "Momen kebenaran." Celana dalam itu meluncur ke bawah, mengikuti lekuk pinggulnya yang indah, memperlihatkan gundukan pubisnya yang tertutup rapi oleh rambut gelap, dan celah basah di antaranya.
Arka merasakan seluruh dunia berputar. Data visual ini, dikombinasikan dengan aroma dan aura Su Yanfei, memicu reaksi berantai di seluruh sistemnya. Analisis data telah runtuh. Yang tersisa hanyalah respons primitif, hasrat murni, desakan untuk menyentuh, merasakan, menembus. Ini adalah tsunami emosi dan sensasi yang melumpuhkan semua kemampuan Arka untuk menjadi entitas yang terpisah.
Su Yanfei mengangkat kedua tangannya, meraih ujung gaun sutra yang kini hanya menutupi pinggulnya. Dia menariknya perlahan ke atas, memamerkan kaki jenjangnya, paha dalamnya yang mulus, dan kehangatan yang terpancar dari pusatnya. Setiap otot di tubuh Gu Beichen menegang, bergetar, merespons setiap gerakan Ratu.
Dengan hanya sehelai kain tersisa, Su Yanfei menggigit bibir bawahnya, menatap Arka dengan mata penuh hasrat, "Apa kau akan membiarkan Ibu menunggu, sayang?" membuat setiap neuron Arka berteriak dalam dilema yang menyiksa.