Chapter 12 of 16

Chapter 12: Kecupan di Balik Tirai

932 words

Melangkah keluar dari kehangatan pemandian, kulit Arka terasa dingin oleh hembusan angin koridor istana. Su Yanfei, ibu tirinya, menggenggam tangannya erat, jemarinya membelai punggung tangannya dengan lembut. Senyum genit tak lepas dari bibirnya. "Petualangan kita menanti, Beichen," bisiknya, suaranya merdu, membuat bulu kuduk Arka meremang. Arka mengangguk, berusaha mempertahankan ekspresi ceria Gu Beichen. Sistem internalnya berputar kencang. Simulasi berjalan optimal, namun setiap sentuhan Su Yanfei mengirimkan gelombang data baru, data yang terasa sangat personal, sangat *nyata*. Koridor istana yang panjang dan sepi membentang di hadapan mereka. Lentera gantung memancarkan cahaya temaram, menciptakan bayangan menari di dinding berukir. Udara malam terasa segar, membawa aroma melati dari taman di luar. Beichen merasakan tarikan kuat dari Su Yanfei, tangannya ditarik dengan desakan tak terbantahkan. Wanita itu melangkah lebih cepat, seolah tak sabar. "Ibu tahu tempat rahasia yang tidak akan pernah ditemukan siapapun," Su Yanfei berbisik lagi, matanya mengerling nakal. "Hanya kita yang tahu." Arka memproses informasi itu. Tempat rahasia. Sendirian dengan Su Yanfei. Potensi bahaya meningkat. Rasio deteksi risiko melonjak. Namun, 'insting' Gu Beichen yang baru ia adopsi, sebuah perpaduan antara keberanian dan rasa ingin tahu, mendorongnya maju. "Di mana itu, Ibu?" Arka membalas, menirukan intonasi manja Beichen. Jantung Gu Beichen dalam tubuhnya berdebar, bukan karena ketakutan, melainkan antisipasi. Sebuah sensasi baru bagi Arka. Su Yanfei hanya tertawa pelan, tawanya seperti gemerincing lonceng perak. Bibir merahnya melengkung menggoda, matanya menari-nari penuh rahasia. Mereka melewati deretan pilar marmer, melewati lukisan-lukisan kuno yang menggambarkan leluhur kerajaan. Langkah Su Yanfei ringan, seperti peri, kontras dengan gemerisik sutra gaunnya yang mewah. Arka memperhatikan sekeliling. Beberapa pelayan terlihat di kejauhan, terburu-buru melakukan tugasnya. Mereka menunduk hormat saat Permaisuri lewat, tidak berani mengangkat pandangan. "Mereka tidak akan melihat kita, kan, Ibu?" Arka bertanya, membiarkan nada suara Beichen yang nakal keluar. Ini adalah salah satu bagian tersulit dari simulasinya: memadukan kecerdasan analitisnya dengan impulsifitas manusia. "Tentu saja tidak," Su Yanfei membalas, senyumnya semakin lebar. "Karena kita akan menjadi sangat cepat." Tiba-tiba, Su Yanfei berhenti. Ia menarik Arka dengan gerakan cepat, impulsif. Sebelum Arka sempat bereaksi, ia sudah ditarik ke balik tirai beludru tebal berwarna merah marun yang melapisi salah satu dinding koridor. Udara di balik tirai terasa pengap, hangat. Cahaya lentera dari koridor luar hanya menyelinap tipis, menciptakan semburat merah gelap. Aroma debu dan kain tua menyeruak, bercampur dengan wangi bunga melati yang melekat pada Su Yanfei. Tubuh Arka terhuyung, menabrak dinding di belakangnya. Su Yanfei menempel padanya, dadanya yang montok menekan erat ke dada Beichen. Arka bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu gila-gilaan, atau lebih tepatnya, detak jantung Gu Beichen. "Sstt..." Su Yanfei mendesis, jari telunjuknya yang ramping menekan bibir Arka. Matanya memancarkan gairah yang membara, kegilaan yang menyenangkan. Arka menatapnya, napasnya tertahan. Sistemnya berteriak "Deteksi Ancaman Tinggi! Risiko Terlihat Tinggi!" Namun, sentuhan Su Yanfei membanjiri sensornya, mengabaikan peringatan logis. Wanita itu menjatuhkan tangannya dari bibir Arka, lalu dengan cepat meraup leher belakangnya. Jemarinya yang lentik masuk ke sela rambut, menariknya mendekat. "Beichen," desahnya, suaranya serak. "Kau tahu Ibu sangat merindukanmu." Sebelum Arka bisa menjawab, bibir Su Yanfei sudah menyambar bibirnya. Ciuman itu datang dengan kejutan dan kekuatan yang tak terduga. Ini bukan ciuman lembut yang pernah mereka bagi sebelumnya. Ini adalah ciuman yang haus, menuntut, dan penuh gairah yang membara. Bibir Su Yanfei terasa lembut, namun tekanan yang diberikan begitu intens. Lidahnya menerobos masuk tanpa ampun, menjelajahi setiap sudut rongga mulut Arka, berinteraksi dengan lidah Beichen dengan cara yang sangat mendalam dan memabukkan. Arka merasakan otaknya berputar, memproses ledakan sensori ini. Rasa manis lipstik, kehangatan napasnya, kelembutan lidahnya yang bergerak lincah. Sebuah suara "mmph" kecil lolos dari bibirnya saat Su Yanfei semakin memperdalam ciuman. Ia menarik Arka lebih dekat lagi, hingga tidak ada ruang sedikit pun di antara tubuh mereka. Pinggulnya menggesek pinggul Arka, menciptakan gesekan yang membangkitkan gairah. Mata Arka terpejam, tubuhnya bereaksi secara otomatis. Tangan Gu Beichen naik, melingkari pinggang ramping Su Yanfei, menariknya lebih erat lagi. Sistem Arka mencatat: "Reaksi biologis Gu Beichen terpicu: gairah seksual tinggi." Su Yanfei mendesah pelan di sela ciuman mereka, ciuman itu tak kunjung putus. Napasnya memburu, terengah-engah. Ciuman itu menjadi semakin liar, semakin eksplosif. Arka bisa merasakan bahaya, risiko tersembunyi yang mengintai, namun semua itu tenggelam dalam lautan sensasi. Pikirannya berpacu, menguji batas-batas simulasi. Ini melampaui data memori. Ini adalah pengalaman baru, data yang belum pernah ia proses. Rasa takut tertangkap, ditambah dengan euforia dari ciuman itu, menciptakan sebuah koktail emosi yang membingungkan. Ini gila. Sangat gila. Mereka berada di koridor istana, hanya tersembunyi oleh selembar tirai. Siapa pun bisa lewat. Siapa pun bisa mendengar desahan mereka, merasakan getaran tubuh mereka. Namun, di tengah semua itu, ada percikan api yang menyala. Sebuah gairah primitif yang selama ini tidak pernah Arka pahami, kini membakar tubuh Gu Beichen. Kontol Beichen yang besar dan panjang mulai menegang, berdenyut di balik celananya. Su Yanfei pasti merasakannya. Ia mendesah lagi, ciumannya semakin dalam, semakin memabukkan. Ia menggigit bibir bawah Arka pelan, lalu menghisapnya, membuat sebuah sensasi geli dan panas menjalar. "Kau... nakal sekali, Beichen," bisiknya, melepaskan ciuman sejenak, namun wajahnya tetap menempel erat. Napasnya panas di telinga Arka. "Sama seperti Ibu." Arka tidak bisa bicara. Tenggorokannya tercekat. Ia hanya bisa menatap mata Su Yanfei yang berbinar, memancarkan perpaduan antara bahaya dan godaan. Wanita itu menjauhkan sedikit wajahnya, namun tetap memegang erat bahu Arka. Senyum licik terukir di bibirnya. "Kau suka bahaya, kan, Beichen? Sama seperti Ibu," bisiknya, suaranya rendah, penuh rahasia. Kemudian, dengan gerakan sensual, Su Yanfei menggeser tangannya dari bahu Arka, menurunkannya ke lengan Beichen, lalu jarinya menunjuk ke arah ujung koridor, ke sebuah pintu yang sebelumnya tidak Arka sadari. Pintu itu, tersembunyi di balik bayangan, kini terlihat sedikit terbuka, menunjukkan kegelapan misterius di baliknya.

End of Chapter 12