Chapter 9 of 25

Chapter 9: Misi Rahasia Sistem

1.4k words

Udara malam masih memeluk istana. Langkah Yuchen terasa ringan, namun pikirannya berputar kencang. Sentuhan Permaisuri Xiulan masih melekat di jemarinya, panas, seperti bara yang membakar perlahan. Janjinya terngiang-ngiang, sebuah melodi menggoda di benak. Memasuki kamarnya, ia mengunci pintu dengan bunyi "klik" pelan. Gelap menyambutnya, hanya diterangi seberkas cahaya bulan yang mengintip dari celah jendela. Yuchen bersandar di pintu, dadanya naik turun dengan irama tak beraturan. Permaisuri Xiulan menginginkannya. Bukan sekadar anak angkat yang dimanjakan, tapi seorang pria. Sebuah rahasia yang tersembunyi di balik tatapan lembut, di balik senyum tipis. Hawa panas menjalari tubuhnya, hasrat yang selama ini ia pendam kini terasa lebih nyata. Memang Permaisuri Xiulan adalah wanita tercantik di seluruh kekaisaran. Kulitnya seputih giok, bibirnya semerah ceri ranum, dan matanya memancarkan kebijaksanaan sekaligus gairah tersembunyi. Yuchen telah lama mengagumi kecantikannya, namun kini, kekaguman itu berubah menjadi nafsu yang membakar. Ia membayangkan kembali saat Permaisuri Xiulan membelai tangannya. Sensasi lembut kulitnya, jari-jari ramping itu mengelus punggung tangannya dengan sengaja. Sebuah janji tanpa kata, sebuah undangan ke dunia terlarang. Napasnya memburu. Memejamkan mata, ia melihat wajah Permaisuri Xiulan lagi, senyum misteriusnya. Keinginannya untuk menaklukkan wanita agung itu semakin menguat. Ia akan membuat Permaisuri menjerit namanya, memohon lebih, tenggelam dalam kenikmatan yang belum pernah ia rasakan. Sesaat, Yuchen membuka matanya. Pandangannya jatuh pada liontin giok yang selalu ia kenakan. Hadiah dari Permaisuri saat ia pertama kali diadopsi, sebagai simbol ikatan mereka. Dingin dan halus, giok itu terasa menenangkan di ujung jarinya. --- Dinginnya giok itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, pandangannya kabur. Seluruh ruangan berkedip seolah diterangi kilat. Sebuah suara asing bergaung di kepalanya, suara itu tidak terlalu keras, namun cukup mengagetkan Yuchen. "[Sistem Permaisuri: Misi Baru!]" Jantung Yuchen berdebar kencang. Sistemnya. Sudah lama tidak ada misi baru. Ia menegakkan tubuh, menatap kosong ke depan. Layar transparan muncul di hadapannya, bercahaya biru redup, membuat kamarnya terasa semakin mistis. "[Tujuan: Hamilkan Permaisuri Xiulan.]" Mulut Yuchen sedikit terbuka. "Apa?" bisiknya, suaranya serak. Misi ini... ini gila. Menghamilkan Permaisuri? Bukan sekadar 'ngentot'. Ini adalah misi yang jauh lebih berani, lebih berbahaya, dan konsekuensinya bisa fatal. "[Batas Waktu: 3 bulan.]" Tiga bulan? Otaknya berusaha memproses informasi ini. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Menghamilkan Permaisuri berarti keturunan. Keturunan yang bukan dari Kaisar. Sebuah pengkhianatan terbesar terhadap takhta. Seorang anak yang lahir dari rahim Permaisuri namun berdarah seorang anak angkat rendahan. Kematian adalah satu-satunya harga jika sampai ketahuan. Tubuhnya menegang. Ketakutan merayap, mencengkeram hatinya. Ini bukan lagi permainan, ini adalah takdir yang dipertaruhkan dengan nyawa. Namun, di balik ketakutan itu, sebuah dorongan lain muncul. Sebuah gairah membakar. Menghamilkan Permaisuri! Ini adalah puncak dari semua fantasinya. Menjadi ayah dari anak yang dilahirkan oleh wanita paling berkuasa di kekaisaran. Daripada ngentot biasa, misi ini terasa jauh lebih menantang. Jauh lebih memuaskan. Ia tidak hanya akan menaklukkan tubuh Permaisuri, tetapi juga rahimnya. Menanamkan benihnya, menciptakan kehidupan baru yang menjadi miliknya, dan bukan milik Kaisar yang mandul itu. Lalu Kaisar itu sendiri. Pria tua yang bahkan tidak bisa memuaskan istrinya sendiri. Yuchen merasakan gelombang jijik sekaligus ambisi. Ia akan menggantikan posisi Kaisar, bahkan jika hanya dalam hal ini. Sistemnya tidak pernah memberinya misi yang mustahil. Jika sistem ini memberikannya, itu berarti ada cara. Ada peluang. Sebuah kesempatan untuk mengukir namanya, bahkan jika secara rahasia, dalam sejarah kekaisaran. Pandangannya menyapu sekeliling kamar. Istana ini penuh mata-mata, penuh intrik. Bagaimana caranya mendekati Permaisuri tanpa menimbulkan kecurigaan? Bagaimana caranya memastikan kehamilan itu terjadi dalam tiga bulan? "[Hadiah Misi: Peningkatan Status, Poin Sistem, Skill Khusus.]" Imbalan yang menggiurkan. Peningkatan status? Mungkinkah ia bisa menjadi lebih dari sekadar anak angkat? Poin sistem bisa membuka kemampuan baru yang tidak terduga. Skill khusus... apa pun itu, pasti akan membantunya menaklukkan wanita lain di kemudian hari. Ini adalah risiko yang patut diambil. Demi Permaisuri. Demi dirinya sendiri. Demi ambisi yang kini membakar setiap sel di tubuhnya. Ia harus menyusun strategi yang sempurna, tanpa cela. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan matang. Ia teringat janji Permaisuri Xiulan. "Aku akan mencari waktu dan tempat yang aman untuk kita berdua." Itu adalah titik awal. Permaisuri sendiri yang akan memberinya kesempatan. Ia hanya perlu memanfaatkan setiap celah, setiap momen. Napasnya menjadi teratur, matanya memancarkan tekad. Rasa takut telah tergantikan oleh adrenalin murni. Ia akan menghamili Permaisuri. Ia harus. Demi sistem, demi dirinya, demi masa depan yang lebih berkuasa. --- Beberapa hari berikutnya, Yuchen bergerak dengan hati-hati. Ia mengamati Permaisuri Xiulan dari jauh, mempelajari kebiasaannya, jadwalnya, dan orang-orang terdekatnya. Permaisuri sering menghabiskan waktu di taman kekaisaran, kadang sendirian, kadang ditemani oleh dayang-dayang kepercayaannya. Suatu sore, Yuchen melihat Permaisuri Xiulan sedang berjalan-jalan di taman musim semi, di dekat kolam teratai. Hanya dua dayang yang mengikutinya, menjaga jarak. Sebuah kesempatan. Melangkah perlahan, Yuchen menghampiri Permaisuri. "Salam, Ibu Permaisuri," sapanya, membungkuk hormat. Suaranya rendah dan lembut. Permaisuri Xiulan menoleh, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Yuchen. Apa yang membawamu kemari?" Tatapan matanya lembut, namun Yuchen bisa merasakan intensitas tersembunyi di baliknya. Ia tahu Permaisuri juga menunggunya. "Hanya ingin menikmati keindahan taman, dan kebetulan melihat Ibu Permaisuri," jawab Yuchen, berdiri tegak, membiarkan pandangannya sedikit berlama-lama pada wajah Permaisuri. Dayang-dayang menunduk hormat, seolah tidak ingin mengganggu interaksi ibu dan anak angkat ini. "Taman ini memang indah," Permaisuri Xiulan mengangguk, lalu pandangannya beralih ke kolam teratai. "Tapi terkadang, keindahan itu terasa hampa jika tidak ada yang berbagi." Sebuah undangan tersirat. Yuchen menangkapnya. "Jika Ibu Permaisuri mengizinkan, saya akan dengan senang hati menemani." Ia mendekat selangkah, cukup dekat untuk menangkap aroma lembut dari parfum Permaisuri. Permaisuri Xiulan meliriknya, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Tentu. Mari." Ia memberi isyarat kepada dayang-dayangnya untuk tetap menjaga jarak. Dayang-dayang itu mengangguk, menjauh sedikit, memberi mereka privasi. Yuchen berjalan di samping Permaisuri, jantungnya berdebar. "Ibu Permaisuri terlihat sedikit murung hari ini," ia memulai, suaranya mengandung nada khawatir yang tulus. Tangan kirinya tanpa sadar menyentuh liontin giok di dadanya. Permaisuri Xiulan menghela napas pelan. "Hanya sedikit lelah dengan urusan istana. Dan... kesepian." Kata 'kesepian' itu diucapkan dengan nada yang begitu lembut, begitu rentan, sehingga membuat hati Yuchen mencelos. "Saya selalu ada untuk Ibu Permaisuri," Yuchen berbisik, nadanya menghibur. Ia ingin meraih tangan Permaisuri lagi, merasakan sentuhannya yang membakar. Permaisuri Xiulan menoleh padanya, matanya menelusuri wajah tampannya. "Aku tahu itu, Yuchen." Sebuah keheningan menyelimuti mereka, dipenuhi ketegangan yang manis, gairah yang tak terucapkan. Yuchen memanfaatkan momen ini. "Apakah Ibu Permaisuri sudah memikirkan... waktu dan tempat yang aman itu?" Ia bertanya, suaranya lebih rendah, hampir tidak terdengar. Ini adalah pancingan, sebuah langkah berani untuk memajukan misi sistemnya. Permaisuri Xiulan menghentikan langkahnya di bawah pohon willow yang rimbun, dedaunan hijau menjuntai memberikan privasi. Ia memandang Yuchen lurus di mata, tatapannya membakar. "Malam ini. Setelah jam tikus kedua." Jam tikus kedua adalah waktu di mana sebagian besar istana sudah terlelap, setelah tengah malam. Sebuah gelombang panas menjalar dari perut Yuchen. Malam ini! Lebih cepat dari yang ia duga. "Di mana?" tanyanya, suaranya sedikit tercekat. "Paviliun Teratai," Permaisuri Xiulan berbisik, suaranya seperti sutra. "Ada pintu rahasia di sisi timur, di balik bebatuan. Aku akan menunggumu di sana." Matanya berkilat, penuh janji dan hasrat yang tak lagi bisa disembunyikan. Yuchen mengangguk, tidak bisa berkata-kata. Ini adalah kesempatan emas. Misi sistemnya akan dimulai malam ini. Ia harus mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental. Ini bukan hanya tentang memenuhi hasrat, tapi juga tentang menanamkan benihnya. Mereka berdiri berdekatan di bawah lindungan pohon willow, napas Permaisuri Xiulan terasa hangat di pipinya. Keinginan untuk meraihnya, menciumnya, membawanya ke dalam pelukan sekarang juga sangat kuat. Namun, bukan di sini dan bukan sekarang. Permaisuri Xiulan tersenyum misterius, lalu berbalik, melanjutkan langkahnya, dayang-dayang kembali mengikutinya. Yuchen tetap terpaku di tempatnya, otaknya memproses informasi penting itu. Paviliun Teratai, pintu rahasia, setelah jam tikus kedua. Kegelisahan menyelimutinya. Ini bukan hanya sebuah pertemuan rahasia. Ini adalah misi untuk menghamili Permaisuri. Tekanan itu kembali terasa, membebani pundaknya. Ia harus memastikan dirinya berfungsi optimal. Kontolnya, ia harus memastikan itu mampu menghamili permaisuri. Kembali ke kamarnya, Yuchen mondar-mandir. Rasa cemas dan kegembiraan bercampur aduk. Ia menyentuh liontin gioknya lagi, mendinginkan telapak tangannya yang sedikit berkeringat. Perasaannya campur aduk, antara takut akan konsekuensi dan gairah yang membakar. Liontin itu terasa hangat di tangannya. Sebuah sensasi aneh. Yuchen mengernyitkan dahi. Giok biasanya dingin. Kenapa tiba-tiba terasa begitu hangat? Ia membalik-balik liontin itu, memeriksa setiap detailnya. Tidak ada yang berbeda. Namun kehangatan itu nyata, menjalar ke telapak tangannya. Perasaan aneh itu membuat Yuchen bertanya-tanya. Yuchen merasakan liontin giok di tangannya menjadi hangat, dan sebuah pikiran tiba-tiba muncul: 'Apakah ini... bagian dari rencana sistemku?'

End of Chapter 9