Chapter 10 of 25
Chapter 10: Kaisar dan Kecurigaan
1.1k words
Jantung Yuchen berdebar kencang. Undangan rahasia Permaisuri Xiulan, tersembunyi di balik lipatan sutra, membakar telapak tangannya. Malam ini, di Paviliun Teratai, misinya akan dimulai. Misi untuk menghamilinya. Pikirannya dipenuhi bayangan tubuh Permaisuri, sentuhannya, desahannya. Gelombang panas menjalari tubuhnya. Hasrat menggebu, bercampur dengan ketegangan. Bahaya mengintai setiap langkah, namun gairah jauh lebih kuat.
Sebuah panggilan tiba-tiba mengacaukan rencananya. Seorang kasim dengan jubah mewah muncul di depan kediaman Yuchen. Wajahnya datar, namun nada suaranya tegas. Kaisar Ming memanggil. Sekarang juga. Darah Yuchen serasa membeku. Ada apa ini? Apakah ada yang curiga? Apakah hubungan terlarangnya dengan Permaisuri sudah terendus?
Panik mencengkeramnya sesaat. Namun, Yuchen adalah pemain ulung. Dia menarik napas dalam, memaksakan ketenangan di wajahnya. "Baik, aku segera datang." Suaranya mantap, tanpa cela. Pikirannya berpacu, mencoba menganalisis setiap kemungkinan. Kaisar Ming adalah sosok yang sibuk, jarang sekali memanggilnya secara pribadi tanpa alasan yang jelas.
Melangkah di koridor istana yang panjang, marmer dingin di bawah kakinya terasa seperti es. Setiap langkah terasa berat, diiringi ketukan keras jantungnya di telinga. Udara menjadi tebal, dipenuhi firasat buruk. Beberapa dayang dan penjaga menunduk hormat saat ia lewat, namun tatapan mereka terasa menembus, seolah bisa melihat rahasia yang ia sembunyikan.
Akhirnya, ia tiba di depan Aula Keheningan, tempat Kaisar biasa menerima laporan dan membuat keputusan penting. Pintu kayu berukir naga itu menjulang tinggi, megah sekaligus mengintimidasi. Menguatkan tekadnya, Yuchen mendorong pintu itu perlahan.
Ruangan luas itu remang-remang, hanya diterangi lentera minyak yang digantung di tiang-tiang. Aroma dupa cendana yang kuat memenuhi udara, menciptakan suasana khidmat dan mencekam. Di tengah ruangan, di atas singgasana yang diukir rumit, duduklah Kaisar Ming.
Seorang pria paruh baya, Kaisar Ming memiliki rahang kokoh dan tatapan mata setajam elang. Kumis hitamnya terawat rapi, menutupi bibir tipisnya. Wajahnya menunjukkan jejak-jejak kelelahan akibat urusan negara yang tak ada habisnya, namun otoritasnya terpancar kuat. Tangannya yang berurat memegang gulungan perkamen, tampak sedang membaca dengan saksama.
Kaisar tidak langsung berbicara. Dia terus membaca, seolah Yuchen tidak ada di sana. Detik demi detik berlalu, terasa seperti jam. Ketegangan merayap naik, mencengkeram leher Yuchen. Dia berdiri tegak, tangannya terkunci di belakang punggung, menanti takdirnya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Perlahan, Kaisar Ming menurunkan gulungannya. Matanya yang tajam menatap langsung ke mata Yuchen. Sebuah tatapan yang terasa mampu menguliti jiwanya, mencari setiap kebohongan yang tersembunyi. Senyum tipis, hampir tak terlihat, tersungging di bibirnya. Itu bukan senyum ramah, melainkan senyum seorang penguasa yang sedang menilai.
"Yuchen." Suara Kaisar berat, bergemuruh pelan di ruangan itu. "Mendekatlah." Yuchen melangkah maju, kakinya terasa seperti timah. Dia berhenti beberapa langkah dari singgasana, menunduk hormat. "Hamba menghadap, Yang Mulia." Suaranya mantap, sebuah topeng sempurna menyembunyikan badai di dalam dirinya.
"Kau sudah tumbuh besar, Putra Angkatku," kata Kaisar, suaranya kini lebih lembut, namun Yuchen tahu itu bisa jadi jebakan. "Sejak Permaisuri mengadopsimu sepuluh tahun lalu, istana ini terasa sedikit lebih hidup. Dia sangat menyayangimu, bukan?" Pertanyaan itu dilemparkan santai, tetapi ada nada menyelidik yang jelas.
Jantung Yuchen berdetak semakin cepat. Ini dia. Inti dari pemanggilan ini. Kaisar sedang menguji. Dia harus berhati-hati. Setiap kata, setiap ekspresi, harus sempurna. "Permaisuri sangat baik, Yang Mulia," jawab Yuchen, mengangkat kepalanya sedikit, menatap hormat ke arah Kaisar. "Hamba bersyukur atas kebaikan dan perhatiannya. Beliau adalah ibu angkat yang paling mulia dan penuh kasih."
Kaisar mengangguk pelan. Matanya tidak beralih dari Yuchen. "Tentu saja. Xiulan adalah wanita yang baik hati. Tapi..." Kaisar menghela napas, nadanya berubah menjadi lebih serius. "Kedekatan kalian, kadang-kadang, bisa menimbulkan gosip. Kau tahu, istana ini adalah sarang bisikan. Apalagi kau sudah remaja. Tampan pula."
Sebuah jarum es menusuk hati Yuchen. Gosip. Artinya sudah ada yang berbicara. Dia harus benar-benar meyakinkan Kaisar. Membangun tembok tak terlihat antara dirinya dan Permaisuri, setidaknya di depan Kaisar. "Yang Mulia, hamba tidak pernah memiliki pikiran kotor," tegas Yuchen, suaranya bergetar sedikit karena emosi yang ia paksakan. "Hamba menghormati Permaisuri sebagai ibu hamba. Kasih sayang hamba kepadanya murni sebagai anak kepada ibunya."
Kaisar mencondongkan tubuhnya sedikit. "Benarkah? Tidak ada 'kasih sayang' lain yang berkembang? Tidak ada perasaan yang melewati batas antara seorang ibu dan anak?" Pertanyaannya menusuk, membuat Yuchen merasakan darahnya berdesir dingin. Ini bukan lagi sekadar pertanyaan santai. Ini adalah interogasi.
Ketakutan melintas cepat di mata Yuchen, namun ia berhasil menekannya sebelum Kaisar bisa melihat. Dia menunduk lagi, menunjukkan keseriusan dan rasa hormat yang mendalam. "Ampuni hamba, Yang Mulia, jika kedekatan hamba telah menimbulkan salah paham," ucap Yuchen dengan suara rendah, penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Hamba bersumpah demi langit dan bumi, bahwa perasaan hamba kepada Permaisuri Xiulan adalah murni kasih sayang seorang anak kepada ibunya."
"Beliau telah merawat hamba sejak kecil, mengajari hamba banyak hal, memberi hamba perlindungan dan kasih sayang yang tak pernah hamba miliki sebelumnya. Bagaimana mungkin hamba mengkhianati kepercayaan beliau, atau kepercayaan Yang Mulia? Hamba tidak akan pernah berani." Yuchen menambahkan sedikit sentuhan kesedihan dalam suaranya, memproyeksikan dirinya sebagai anak yang tulus, bahkan mungkin sedikit polos.
Kaisar Ming mengamati Yuchen dengan saksama. Setiap otot di wajah Yuchen, setiap getaran dalam suaranya, semua diperhatikan. Kaisar tampaknya mencari celah, keraguan, atau tanda-tanda kebohongan. Namun, Yuchen adalah aktor ulung. Wajahnya menunjukkan ketulusan yang nyaris sempurna, matanya sedikit berkaca-kaca, seperti anak yang disalahpahami.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Kaisar Ming menghela napas panjang. Ketegangan di bahunya tampak sedikit mengendur. "Baiklah, Yuchen. Aku percaya padamu," ucap Kaisar, nada suaranya kembali ke tingkat yang lebih netral. "Aku hanya ingin memastikan. Kesehatan Permaisuri adalah prioritas. Dan juga, nama baik istana. Jangan sampai ada noda sedikit pun." Kaisar menambahkan, suaranya kembali mengeras di akhir.
Yuchen mengangguk hormat. "Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba akan lebih berhati-hati dalam menjaga jarak dan tingkah laku hamba di masa mendatang. Hamba tidak ingin menimbulkan masalah bagi Permaisuri maupun Yang Mulia." Dia mencoba menampilkan ekspresi penyesalan dan janji yang tulus. Ini adalah sebuah kemenangan kecil, tetapi ia tahu, perang belum usai.
"Bagus." Kaisar Ming memberinya lambaian tangan kecil. "Kau boleh pergi." Yuchen membungkuk dalam, hatinya melonjak dengan campuran lega dan adrenalin. Dia berhasil. Setidaknya untuk saat ini. Dia berhasil meyakinkan Kaisar, meski hanya sedikit.
Dengan langkah yang lebih ringan, ia meninggalkan Aula Keheningan. Pintu berat itu tertutup di belakangnya, memisahkan dirinya dari tatapan tajam Kaisar. Nafas lega terembus dari dadanya. Ketegangan yang mencekik perlahan mereda, digantikan oleh rasa pening akibat tekanan mental yang luar biasa.
Namun, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Saat Yuchen melangkah keluar dari aula, ia merasakan tatapan tajam seorang kasim kepercayaan Kaisar yang mengikutinya. Kasim itu berdiri di sudut koridor, wajahnya tanpa ekspresi, namun matanya mengunci Yuchen. Sebuah bisikan di benaknya berkata, 'Kau sedang diawasi.'