Chapter 7 of 25
Chapter 7: Penyelamatan Darurat
910 words
Deg! Deg! Deg! Suara langkah kaki semakin dekat, berdentum keras di lantai koridor batu. Jantung Yuchen berpacu gila, alarm berteriak di benaknya, mengalahkan dengung kenikmatan yang masih menggema. Insting primal menyalak.
Ia menarik diri dengan cepat dari Xiulan, gesekan kulit mereka terasa lengket dan panas. Kontolnya yang super besar terlepas dari lubang basah permaisuri dengan bunyi 'plop' yang memuakkan, meninggalkan jejak cairan kental di paha dalam Xiulan. Napasnya terengah, matanya panik.
Xiulan sendiri tersentak, jeritannya tertelan, diganti tarikan napas pendek. Matanya melebar, tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya yang memerah padam karena orgasme kini pucat pasi, namun kilatan gairah terlarang masih membara di kedalaman irisnya. Gaun tidurnya terangkat sampai pinggang, memperlihatkan paha mulus yang basah kuyup oleh keringat dan cairan mereka.
Cepat-cepat, permaisuri menarik kain sutra itu turun, merapikan lipatannya dengan tangan gemetar. Ia melompat dari pangkuan Yuchen, kakinya goyah, hampir terjatuh. Yuchen menahan tubuhnya agar tidak limbung, menunjuk ke arah tirai tebal yang menutupi jendela besar paviliun.
"Sana!" bisik Yuchen, suaranya serak. Desakan waktu terasa mencekik. Ia tidak perlu menjelaskan lebih jauh; naluri bertahan hidup Xiulan sama tajamnya.
Bergegas, mereka bergerak dalam kegelapan remang, siluet mereka menyatu di balik kain beludru tebal. Udara di sana pengap dan hangat, dipenuhi aroma manis melati, feromon, dan bau samar persetubuhan mereka yang baru saja terhenti paksa. Kontol Yuchen masih mengacung keras, berdenyut-denyut menuntut pelampiasan, tertekan tak nyaman di balik kain celananya yang menonjol mencolok. Ia bisa merasakan tubuh Xiulan yang mungil dan lembut menempel erat padanya, panas tubuhnya menembus lapisan pakaian.
Suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu paviliun. Jeda sesaat. Hening yang memekakkan telinga, penuh ketegangan. Mereka berdua menahan napas, jantung masing-masing berdebar seperti genderang perang, iramanya saling memantul di rongga dada yang sempit.
Kemudian, ketukan pelan terdengar. "Permaisuri, apakah Anda ada di dalam?" Sebuah suara wanita yang lembut namun tegas memecah keheningan. "Saya dayang Lingyun, mengkhawatirkan Anda." Dayang itu terdengar cemas, seperti baru saja bangun tidur.
Mata Xiulan membelalak. Dayang Lingyun, salah satu dayang paling setia dan paling tidak mungkin bergosip, namun tetap saja sebuah ancaman besar. Sekali tercium bau aneh, atau terlihat sesuatu yang tidak pada tempatnya, semuanya bisa hancur.
Dayang itu mengulangi panggilannya. "Permaisuri?" Kali ini ada nada sedikit lebih mendesak. Pintu kemudian terbuka perlahan, engselnya berdecit samar. Bayangan ramping Lingyun muncul di ambang pintu, membawa lentera di tangannya yang gemetar.
Cahaya redup lentera menari-nari di dinding, menyapu setiap sudut ruangan. Lingyun melangkah masuk, matanya menjelajahi kamar tidur yang rapi namun terasa kosong. Yuchen dan Xiulan bersembunyi semakin dalam di balik tirai, tubuh mereka saling menempel erat, kehangatan dan kelembaban mereka menyatu. Kontol Yuchen yang masih tegang bergesekan dengan pantat lembut Xiulan, menyebabkan permaisuri menggigit bibir bawahnya keras untuk menekan erangan yang nyaris lolos.
Lingyun berjalan mondar-mandir, lentera di tangannya bergoyang pelan. Ia memeriksa meja teh, menatap cangkir yang masih hangat, lalu ke arah tempat tidur. Seprainya terlihat sedikit berantakan, dan aroma melati yang kental memenuhi ruangan. Ia mengernyitkan hidungnya, seolah mencium sesuatu yang aneh. Mata Lingyun menyipit, meneliti bantal yang sedikit melesak, seolah seseorang baru saja berbaring di sana.
Jantung Yuchen berdetak lebih cepat. Ia bisa merasakan detak jantung Xiulan di punggungnya, memacu darah mereka berdua. Keringat dingin membasahi punggungnya. Pikirannya berlomba, mencari cara untuk keluar dari situasi ini jika mereka sampai ketahuan. Apakah dia harus menyerang Lingyun? Tidak, itu akan terlalu mencurigakan. Mereka harus tetap bersembunyi.
Lingyun mendekati kursi singgasana di mana beberapa saat yang lalu mereka berbagi kenikmatan terlarang. Matanya tertuju pada bantalan kursi yang sedikit kusut, dan beberapa tetesan cairan bening yang mengering di sana. Wajah Lingyun menunjukkan kebingungan, seolah ia tidak bisa memahami apa yang dilihatnya. Ia menggeser kakinya, dan pandangannya hampir saja jatuh pada tirai tempat mereka bersembunyi.
Napas Yuchen tercekat. Ia menahan napas, begitu juga Xiulan. Mereka berdua membeku, hanya detak jantung yang menggila yang terdengar di telinga mereka. Kontol Yuchen yang masih menjulang terus bergesekan dengan pantat Xiulan, mengirimkan gelombang kenikmatan bercampur bahaya yang aneh. Permaisuri tanpa sadar sedikit menggesekkan diri ke belakang, mencari sentuhan itu meski dalam situasi genting.
Lingyun menggelengkan kepalanya perlahan. "Aneh sekali..." bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Sepertinya Permaisuri sudah kembali ke kamarnya, atau mungkin pergi ke tempat lain." Ia kemudian memutar tumitnya, melangkah kembali ke pintu.
Ketegangan perlahan mereda. Yuchen menghela napas yang panjang dan gemetar. Ia bisa merasakan tubuh Xiulan melemas di depannya. Cahaya lentera Lingyun meredup saat dayang itu melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi 'klik' yang pelan.
---.
Hening kembali memenuhi paviliun. Hanya suara napas Yuchen dan Xiulan yang memburu yang terdengar. Perlahan, Yuchen mengintip dari balik tirai. Koridor sudah kosong, gelap gulita, hanya dihiasi lentera-lentera dinding yang berjarak jauh.
Mereka keluar dari persembunyian. Xiulan terhuyung, bersandar pada Yuchen, wajahnya masih pucat namun matanya kembali berkilat dengan gairah yang belum padam. Tangannya gemetar saat ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. "Itu... itu hampir saja..." bisiknya, suaranya parau, masih diliputi syok.
Yuchen mengangguk, napasnya belum teratur. Adrenalin masih memompa di nadinya, bercampur dengan gejolak hasrat yang tertahan. Kontolnya masih keras, berdenyut penuh janji di balik celananya. Ia menatap Xiulan, melihat betapa rentan dan bersemangatnya wanita itu sekaligus. Ikatan terlarang di antara mereka terasa semakin kuat, tak terpisahkan oleh bahaya yang baru saja mereka hadapi bersama.
"Kita harus lebih berhati-hati," Yuchen menyahut, suaranya lebih stabil, meskipun ada nada serak dari gairah yang terpendam. Ia menyentuh pipi Xiulan, ibu jarinya membelai kulit halus yang masih terasa panas. "Tapi kita aman sekarang."
Xiulan menatap Yuchen, matanya masih berkilat gairah, "Itu hampir saja... Kita harus lebih berhati-hati. Tapi jangan khawatir, kita akan melanjutkan ini segera."