Chapter 6 of 25

Chapter 6: Ngentot di Kursi Singgasana

1.5k words

Udara di Paviliun Anggrek terasa semakin panas. Sisa-sisa keheningan tadi telah lenyap, digantikan oleh detak jantung yang berpacu kencang. Yuchen merasakan denyutan kuat di selangkangannya. Xiulan, matanya berkabut nafsu, menatap Yuchen dengan bibir sedikit terbuka. Napasnya terengah, dadanya naik turun dengan cepat. "Permaisuri..." Suara Yuchen serak, nyaris tak terdengar. "Yuchen..." Xiulan memanggil, suaranya seperti bisikan. Tangan Yuchen terulur, jemarinya membelai pipi Xiulan yang memerah. Kulitnya terasa panas, lembut di bawah sentuhannya. Sebuah sentakan kecil menjalar melalui tubuhnya. Dia mendekat, mencium bibir merah delima itu lagi. Kali ini, ciumannya lebih dalam, lebih menuntut. Lidahnya merangsek masuk, berputar dan bertarung dengan lidah Xiulan. Sensasi manis dan memabukkan memenuhi rongga mulutnya. Xiulan mengerang pelan, tubuhnya condong ke arah Yuchen, seolah ingin menyatu. Yuchen memeluk pinggang rampingnya, menariknya lebih dekat. Payudara montok Xiulan yang terbalut tipis kain sutra, menekan dadanya. Aroma melati dan keringat bercampur, memabukkan indra Yuchen. Kontolnya di balik kain celana jubahnya, terasa sangat berat dan kaku, menekan kain hingga membentuk tonjolan mencolok. Xiulan merasakan desakan itu. Matanya membulat, namun bukan karena takut, melainkan karena antisipasi yang membakar. "Yuchen," bisiknya lagi, "Aku... aku menginginkanmu." Suara pengakuan itu bagai cambuk, memicu adrenalin Yuchen. Dia tahu ini salah, sangat salah, tetapi hasrat di matanya menenggelamkan semua keraguan. Yuchen menarik diri dari ciuman itu, dahinya bersandar di dahi Xiulan. Napas mereka saling berkejaran, hangat dan lembap. "Permaisuri," Yuchen berbisik, "Kau yakin?" Anggukan kepala Xiulan adalah jawabannya. Tidak ada keraguan di sana, hanya keinginan murni yang terpancar dari setiap pori-porinya. Yuchen mengangkatnya. Tubuh Xiulan terasa ringan dan lentur di lengannya. Ia membawanya ke kursi singgasana kecil yang dihiasi ukiran naga dan phoenix di tengah Paviliun Anggrek. Kursi itu, tempat Xiulan biasa menerima laporan dan membuat keputusan kecil, kini akan menjadi saksi bisu kejahatan manis mereka. Perlahan, Yuchen memosisikan Xiulan di atas pangkuannya. Xiulan memekik kecil, lengannya melingkar erat di leher Yuchen. Punggungnya bersandar pada sandaran kursi, sementara kedua kakinya menjuntai di sisi Yuchen. Yuchen merasakan kehangatan memek Xiulan yang basah melalui lapisan kain. Kontolnya yang mengeras menekan celana, bergesekan dengan paha bagian dalam Xiulan. Yuchen bisa merasakan kebasahan memeknya, memohon untuk dimasuki. Xiulan mendongak, matanya menatap dalam mata Yuchen. Sebuah senyum tipis, genit, dan penuh gairah tersungging di bibirnya. "Yuchen," bisiknya, "Jangan menunggu..." Satu gerakan cepat. Yuchen menyibak kain yang menutupi bagian bawah tubuh Xiulan. Kain sutra itu meluncur jatuh, memperlihatkan liang memeknya yang bengkak dan basah. Liang itu berkedut-kedut, mengeluarkan lendir bening yang berkilauan. Aroma manis menguar, memabukkan. Kontol Yuchen yang panjangnya dua puluh lima sentimeter, tebal, berurat, dan keras seperti baja, sudah siap. Desakan nafsu tak tertahankan. Yuchen menarik pinggul Xiulan ke bawah, membiarkan ujung kepala kontolnya yang memerah menyentuh bibir memeknya. "Ahhh..." erangan panjang lolos dari bibir Xiulan saat Yuchen mendorong. "Sssshhh..." Yuchen mendesis, sedikit demi sedikit, kontolnya menembus masuk. Kepala kontolnya menyentuh klitoris Xiulan, membuatnya menggeliat. Xiulan mencengkeram bahu Yuchen, kuku jarinya menancap samar di kulitnya. "Pelan... pelan..." bisiknya, namun ada nada memohon di suaranya. Yuchen mengangguk, namun dorongan di pinggulnya tak bisa dicegah. Kontolnya merangsek masuk, inci demi inci, menembus kedalaman memek Xiulan. "Ohhh... Ahhh..." Xiulan mendesah, tubuhnya menegang. Kontol Yuchen terasa seperti membakar, memek Xiulan begitu ketat dan panas, melilitnya dengan erat. "Enak?" Yuchen bertanya, suaranya parau. "Enak... sekali..." jawab Xiulan, matanya terpejam. Dengan satu dorongan kuat, Yuchen menancapkan kontolnya hingga pangkal. "ARRRGGHHH!" Erangan panjang, nyaris jeritan, lolos dari bibir sang permaisuri. Suara itu bergema di paviliun yang sepi, memenuhi setiap sudut ruangan. Yuchen merasakan seluruh tubuhnya bergetar dengan kesenangan. Memek Xiulan memompa dan menjepit kontolnya dengan histeris. Sensasinya sungguh luar biasa, lebih dari apa pun yang pernah ia rasakan. Yuchen mencium bibir Xiulan dengan ganas, meredam erangannya yang lain. Lidahnya kembali beraksi, menjelajah setiap sudut mulut permaisuri. Menyadari ia telah menembus batas terlarang, Yuchen merasakan campuran euforia dan ketegangan. Namun, kebahagiaan Xiulan adalah yang paling penting baginya. Ia melihat wajah Xiulan yang memerah, matanya terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka dalam desahan. Wanita itu tampak begitu lepas, begitu bahagia. Yuchen mulai menggerakkan pinggulnya, maju mundur, pelan pada awalnya, kemudian semakin cepat. "Ahhh... Ahhh... Yuchen..." Setiap dorongan kontolnya yang besar menyentuh titik G Xiulan. Permaisuri itu menggeliat di pangkuannya, pinggulnya ikut bergerak secara naluriah. "Lebih dalam... Ahh... Lebih dalam, sayang..." Xiulan meracau, panggilannya "sayang" membuat hati Yuchen berdesir. "Kau menyukainya, kan?" Yuchen berbisik di telinganya, mendorong kontolnya hingga mentok ke dalam. "Sangat... Ssshh... sangat suka..." Suara "ceplak-ceplok" basah dari pertemuan kulit dan daging memenuhi paviliun. Yuchen menggenjot dengan ritme yang semakin liar, tak peduli lagi akan siapa mereka. Dia adalah budaknya, kekasihnya, di kursi singgasana yang sakral ini. Xiulan mencengkeram erat bahu Yuchen, kuku-kukunya kini menggores, namun Yuchen tak peduli. Sensasi yang ia rasakan jauh melampaui rasa sakit apa pun. "Cepat... cepat lagi..." Xiulan memohon, kepalanya mendongak, memeknya memompa kontol Yuchen. Yuchen menuruti, mendorong kontolnya dalam-dalam. "Jleb! Jleb! Jleb!" Memek Xiulan yang basah dan sempit melilit kontol Yuchen, memeras setiap inci darinya. Setiap gerakan membuat Xiulan menggeliat, mengerang, dan mendesah. "Ahhh... Yuchen... Aku... aku mau keluar..." Tubuh Xiulan menegang, punggungnya melengkung. Kontol Yuchen yang tebal menghantam dinding rahimnya, memicu gelombang orgasme. "AHHHH! AH-AH-AHH! TIDAK! AKU KELUAR!" Xiulan menjerit, suaranya nyaring dan keras. Tubuhnya bergetar hebat, air matanya menetes dari sudut matanya. Otot memeknya mencengkeram kontol Yuchen dengan kejang-kejang yang kuat. Gelombang kesenangan membanjiri Yuchen. Ia merasakan memek Xiulan memompa dirinya, menyedot cairan kebahagiaan dari dirinya. Namun, kontol Yuchen tetap tegak dan keras. Ia belum mencapai klimaksnya. "Kau sudah keluar?" Yuchen bertanya, suaranya berat. Xiulan hanya bisa mengangguk, terengah-engah, kepalanya terkulai di bahu Yuchen. Wajahnya merah padam, rambutnya acak-acakan. "Belum selesai," Yuchen berbisik, memutar kontolnya di dalam memek Xiulan. "Ahhh... Yuchen... jangan..." Xiulan merengek, namun ada nada ingin di suaranya. Yuchen mulai menggenjot lagi, kali ini dengan ritme yang lebih lambat, lebih dalam, membiarkan Xiulan pulih sedikit sebelum ia mendorongnya kembali ke ambang batas. "Jleb... Ssshh... Jleb..." Kontolnya yang besar terus memompa, setiap dorongan menghantam titik kenikmatan Xiulan. "Ahhh... ahhh... lagi..." Xiulan mengangkat pinggulnya, mencoba menyesuaikan diri dengan setiap dorongan Yuchen. Kakinya melingkar di pinggang Yuchen, menariknya lebih dekat. "Permaisuri cantikku," Yuchen bergumam, "kau sangat basah." "Karena... karena kau..." Xiulan terengah-engah, "Kau membuatku begitu..." Sensasi memek Xiulan yang ketat dan basah di sekeliling kontolnya membuat Yuchen gila. Ia menundukkan kepalanya, menjilat leher Xiulan, menghisap kulitnya. "Mmmph..." Xiulan mendesah, kepalanya mendongak, memberikan akses penuh pada lehernya. Yuchen terus menggenjot, tempo kembali meningkat. "Jleb! Jleb! Jleb!" Suara "ceplak-ceplok" menjadi lebih cepat, lebih memekakkan. Udara di paviliun terasa semakin panas, semakin pengap. "AHHH! LAGI! KELUAR LAGI!" Xiulan menjerit, orgasme kedua melandanya dengan kekuatan yang lebih besar. Tubuhnya berkedut-kedut hebat, lebih kuat dari sebelumnya. Suaranya pecah, memenuhi ruangan, tanpa filter, tanpa menahan diri. Memeknya berkedut liar, memeras kontol Yuchen dengan histeris. Ia hampir pingsan karena kesenangan, wajahnya benar-benar kehilangan warna, hanya merah padam. "Yuchen... ahh... Yuchen!" panggilnya di antara jeritan. Yuchen tersenyum tipis. Kontolnya masih tegak, perkasa di dalam memek Xiulan. Ia memegangi pinggul Xiulan, menghentikan gerakannya sejenak. Xiulan, terkapar lemas di pangkuannya, napasnya terengah-engah. Matanya setengah terbuka, menatap Yuchen dengan penuh kekaguman dan kelelahan. "Belum selesai, Permaisuri," Yuchen berbisik. "Aku akan membuatmu merasakan yang ketiga." Ia memutar kontolnya lagi, perlahan, membiarkan kepala kontolnya menggesek dinding memek Xiulan. Xiulan menggeliat, sensasi itu terlalu kuat bahkan untuk tubuhnya yang kelelahan. "Tidak... Yuchen... aku tidak tahan lagi..." bisiknya, suaranya serak. Namun, Yuchen tak memberinya pilihan. Ia mulai menggenjot lagi, kali ini dengan dorongan yang lebih brutal, lebih dalam, lebih cepat. "Jleb! Jleb! Jleb!" Setiap hantaman membuat tubuh Xiulan terangkat dari kursi. Ia mencengkeram erat bahu Yuchen, kuku-kukunya menggores punggung Yuchen melalui kain jubahnya. "AHHH! YUCHEN! AKU MAU MATI!" jeritnya, suaranya sudah seperti lolongan serigala. Orgasme ketiga datang dengan kekuatan badai, mengguncang seluruh tubuhnya hingga ke tulang sumsum. Air matanya mengalir deras. Mulutnya terbuka lebar, menjerit-jerit tanpa suara. Tubuhnya melengkung ke belakang, seperti busur panah. Memeknya menjepit kontol Yuchen dengan kejang-kejang yang tak terhitung jumlahnya. Yuchen merasakan pelepasan yang dahsyat itu. Memek Xiulan berkedut-kedut, memompa kontolnya, menariknya masuk lebih dalam, seolah ingin menelannya bulat-bulat. Akhirnya, setelah menahan diri begitu lama, Yuchen merasakan gelombang klimaksnya sendiri datang. Sensasi itu mengalir dari pangkal kontolnya, naik ke seluruh tubuhnya. "Ahh!" Yuchen mengerang, menggenjot sekali lagi dengan kekuatan penuh, memuntahkan cairan kehidupan ke dalam rahim Xiulan. Kontolnya berkedut-kedut, menyemprotkan air mani panas ke dalam dirinya. Xiulan menjerit lagi saat merasakan semburan itu, sebuah sensasi yang asing namun memabukkan. Kedua tubuh mereka bergetar, berguncang, dan akhirnya ambruk. Yuchen memeluk erat Xiulan, dahi mereka bersandar satu sama lain. Napas mereka memburu, memeknya masih menjepit kontol Yuchen yang perlahan melunak. Xiulan terisak pelan di bahu Yuchen, bukan karena sedih, melainkan karena pelepasan yang luar biasa. Ia tak pernah tahu kenikmatan seperti ini ada. "Yuchen..." bisiknya, "Ini... ini sungguh..." "Kau bahagia?" Yuchen bertanya, suaranya lembut. Xiulan mengangguk, mengangkat kepalanya untuk menatap mata Yuchen. "Sangat... Terima kasih..." Ia mencium bibir Yuchen, ciuman yang lambat, manis, dan penuh rasa syukur. Kontol Yuchen di dalam dirinya, meski sudah melunak, masih terasa penuh, memberikan kehangatan yang menyenangkan. Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini lebih damai, lebih intim. Mereka duduk di kursi singgasana, berpelukan, tubuh telanjang mereka saling menempel, keringat mengering di kulit mereka. --- Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di luar paviliun, semakin mendekat. Xiulan mencengkeram bahu Yuchen, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam, 'Seseorang... datang!'

End of Chapter 6