Chapter 5 of 25
Kontolku dan Keheningan
1.6k words
Hangat napas Xiulan menyapu leher Yuchen. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri. Bau lavender dan musk dari tubuh Permaisuri memenuhi indranya, memabukkan. Setiap sentuhan wanita itu adalah api yang membakar.
Lembut jemari Xiulan menyusuri rahangnya, turun ke leher, lalu ke dada. Kemeja Yuchen sudah terbuka sebagian, memperlihatkan otot dadanya yang padat. Permaisuri mendesah pelan, suara itu getarannya terasa hingga ke tulang Yuchen.
“Yuchen,” bisik Xiulan, suaranya serak. “Kau membuatku gila.”
Matanya berkilat di bawah cahaya remang. Gairah membara terpancar dari sana, tak lagi tertutup oleh topeng keanggunan seorang permaisuri. Wanita itu adalah nyala api yang siap melahap.
Menarik napas dalam, Yuchen merasakan setiap serat tubuhnya menegang. Ia membalas tatapan Xiulan, senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang penuh janji, penuh godaan.
“Nona Permaisuri,” ia balas berbisik, mendekatkan wajahnya. “Aku hanya melakukan apa yang hatimu inginkan.”
Ciuman lagi. Kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Lidah Yuchen menjelajah setiap sudut mulut Xiulan, bertemu dengan lidah wanita itu dalam tarian yang memabukkan. Desahan tertahan lolos dari tenggorokan Xiulan, berpadu dengan suara kecipak basah yang menggoda.
Tangan Permaisuri tak lagi ragu. Jemarinya bergerak semakin rendah, meluncur di atas perut Yuchen yang rata, lalu semakin turun. Sentuhan itu memicu gelombang panas di setiap sarafnya. Yuchen mengerang pelan, menikmati setiap sentuhan. Ini adalah permainan yang ia kuasai.
Terus bergerak, tangan Xiulan akhirnya mencapai tumpukan kain di selangkangan Yuchen. Benjolan keras yang tak bisa lagi disembunyikan. Tubuhnya berkedut, menegang seketika. Desahannya semakin dalam, bergetar.
Permaisuri Xiulan tersentak. Napasnya tercekat. Jeda sesaat. Kerutan muncul di keningnya, antara terkejut dan penasaran. Ia meraba lagi, kali ini lebih lambat, lebih berani. Ibu jarinya mengusap kain celana Yuchen, merasakan ukiran tebal dan panjang yang bersemayam di dalamnya.
Matanya yang indah melebar, menatap Yuchen dengan campuran ketakutan dan pesona yang tak bisa disembunyikan. Yuchen melihatnya. Melihat gairah yang membakar di balik guncangan itu, tapi juga sedikit rasa ngeri akan ukuran yang belum terbayangkan.
“Ini…” Xiulan mencoba berbicara, namun suaranya hanya berupa napas tertahan. Jemarinya melingkari benjolan itu, meremasnya lembut. Sensasi itu membuat Yuchen hampir melolong.
“Apa, Nona Permaisuri?” Yuchen memiringkan kepalanya, menantang. Suaranya rendah, berat, penuh provokasi. Ia ingin melihat sejauh mana keberanian wanita ini.
Menelan ludah, Xiulan menatapnya. Keputusasaan dan keinginan terpancar jelas dari matanya. Ini adalah momen yang ia tunggu. Momen saat topeng itu benar-benar runtuh, menyingkapkan wanita di baliknya.
Perlahan, Yuchen menarik napas dalam. Dengan gerakan lembut namun tegas, ia meraih ritsleting celananya. Suara 'zzzzziip' terdengar samar di keheningan kamar. Kain denim melorot, membebaskan kejantanan yang sudah lama menunggu.
Kontolnya melesat keluar, tebal dan berurat, panjang dua puluh lima sentimeter, berdiri tegak dan perkasa. Ujungnya yang kemerahan berkilau basah. Langsung menyentuh perut Permaisuri Xiulan yang rata. Sensasi panas dan keras itu membuat wanita itu tersentak, punggungnya melengkung ke belakang.
Permaisuri Xiulan terkesiap. Matanya membelalak sempurna, nyaris melompat keluar. Wajahnya memucat sesaat, kemudian merona merah padam. Bibirnya sedikit terbuka, mengeluarkan napas pendek dan cepat.
Ia menatap kejantanan Yuchen. Terkejut. Terpesona. Ukuran yang luar biasa itu, ketebalan urat-urat yang menonjol, panjangnya yang seolah tak berujung. Ini bukan hanya sebuah penis. Ini adalah senjata. Sebuah bukti kejantanan yang tak terbantahkan.
“Ya Tuhan…” bisiknya, suaranya sangat lirih, hampir tak terdengar. Jemarinya yang tadi meremas benjolan itu kini membeku di udara. Ketakutan memudar, digantikan oleh rasa kagum yang membara.
Yuchen mengamati setiap reaksinya. Gairah yang membakar di mata Xiulan, bercampur dengan sedikit kegugupan. Tapi yang paling kuat adalah keinginan. Keinginan yang begitu kuat, begitu murni, seolah telah lama terpendam dan kini meledak.
Ia membiarkan Xiulan menatapnya, mencernanya. Biarkan wanita itu merasakan guncangan ini. Biarkan ia tahu apa yang menunggunya. Ini adalah awal dari segalanya.
Perlahan, Yuchen meraih tangan Xiulan. Ia membawa jemari wanita itu, menuntunnya untuk menyentuh kepala kontolnya. Hangat dan basah. Ujung jari Xiulan menyentuh kulitnya yang sensitif. Permaisuri menarik napas tajam.
“Rasakan ini, Permaisuri,” bisik Yuchen. Suaranya dalam, memberat karena gairah. “Ini adalah milikmu. Malam ini.”
Jemari Xiulan mulai bergerak, perlahan membelai batangnya. Kulitnya terasa panas, tegang. Urat-urat di sepanjang kontolnya terasa berdenyut di bawah sentuhan lembut itu. Yuchen memejamkan mata, kepalanya mendongak ke atas. Desahan rendah lolos dari tenggorokannya.
Permaisuri Xiulan mengusap batangnya dari pangkal hingga kepala, merasakan kekerasan dan ketebalan yang tak pernah ia bayangkan. Matanya masih terpaku pada ukuran itu, seolah tak percaya. Perutnya bergetar, hasrat membara dalam dirinya.
“Kau… ini nyata?” bisiknya, suaranya dipenuhi keterkejutan. “Ini benar-benar… sebesar ini?”
Yuchen membuka matanya, menatap Xiulan dengan senyum menggoda. “Kau bisa merasakannya sendiri, kan?”
Ia mendekat, mencium bibir Xiulan lagi. Ciuman kali ini lebih dalam, lebih basah, lebih liar. Lidahnya menginvasi mulut Permaisuri, menggodanya untuk membalas dengan intensitas yang sama. Xiulan mengerang, membalas ciuman itu dengan putus asa.
Tangan Permaisuri tak lagi ragu. Ia memegang erat batang Yuchen, ibu jarinya mengusap kepala kontol yang basah. “Aku… aku tidak pernah…”
Kalimatnya terputus. Matanya terpejam, menikmati sensasi yang mengalir. Ia belum pernah merasakan kejantanan sebesar dan sekeras ini. Suaminya, Kaisar, memiliki ukuran yang biasa saja, tidak pernah memberinya sensasi seperti ini. Permaisuri kini merasa seperti seorang gadis muda yang baru pertama kali mengenal gairah.
Yuchen menarik tangannya dari bibir Xiulan, membiarkan napas Permaisuri yang terengah-engah memenuhi ruangan. Ia tahu Xiulan masih terkejut, namun juga begitu ingin. Ia harus mendorongnya lebih jauh.
“Nona Permaisuri, apakah kau tahu apa yang bisa dilakukan benda ini?” Yuchen berbisik, suaranya bergetar dengan janji kenikmatan. Ia membiarkan Xiulan merasakan denyutan kontolnya di telapak tangannya.
Xiulan menggelengkan kepalanya pelan, matanya masih terpejam. “Tidak… tapi aku ingin tahu.”
“Ini bisa mengisi setiap inci kekosonganmu,” Yuchen berbisik lagi, menggoda. “Ini bisa membuatmu menjerit namaku. Membuatmu tak bisa berdiri. Membuatmu lupa nama suamimu.”
Kalimat terakhir itu membuat Xiulan membuka matanya. Ada kilatan pemberontakan dan gairah yang tercampur aduk. Ia tahu itu dosa, tapi tubuhnya berteriak ingin merasakan.
“Aku… aku takut,” bisik Xiulan, namun tangannya tak juga melepaskan batang Yuchen. Sebaliknya, ia memegangnya lebih erat, seolah ingin memilikinya.
“Takut? Takut apa, Nuan?” Yuchen menggunakan nama panggilannya, nama yang hanya diucapkan oleh orang terdekat. Itu adalah sebuah penaklukan kecil.
Xiulan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Takut aku… tidak akan bisa kembali setelah ini.”
“Kau tidak akan mau kembali,” Yuchen meyakinkan. “Kau akan selamanya menjadi milikku, setidaknya di ranjang.”
Ia membelai pipi Xiulan, ibu jarinya mengusap air mata yang nyaris jatuh. “Biarkan aku menunjukkan padamu. Biarkan aku mengisi setiap inci dirimu dengan diriku. Dengan kenikmatan yang belum pernah kau rasakan.”
Kontol Yuchen berkedut di genggaman Xiulan. Permaisuri bisa merasakan urat-uratnya menonjol, panas yang memancar. Ia menelan ludah lagi, matanya menelusuri panjang dan ketebalan yang luar biasa itu.
---
Keheningan kembali menyelimuti kamar. Hanya napas berat keduanya yang terdengar. Detak jantung Xiulan berpacu, mengalahkan suara alarm dalam otaknya. Ia tahu ini salah. Ini adalah pengkhianatan terbesar. Tapi tubuhnya… tubuhnya menginginkan Yuchen dengan seluruh selnya.
Pandangannya terpaku pada kontol Yuchen. Begitu besar, begitu perkasa. Sebuah pemandangan yang tak pernah ia impikan akan ada di hadapannya. Keraguan terakhirnya mulai runtuh, terkikis oleh badai gairah.
“Aku… aku tidak tahu…” bisiknya, suaranya hampir tak ada. “Bagaimana aku bisa… menerimanya?”
Yuchen tersenyum, senyum predator. “Aku akan menuntunmu, Nuan. Aku akan memasukimu perlahan. Aku akan membuatmu terbiasa.”
Ia melepaskan genggaman tangan Xiulan dari batangnya, lalu menarik Permaisuri mendekat. Tubuh mereka saling menempel, panas beradu panas. Yuchen bisa merasakan kelembaban di antara paha Xiulan, bukti bahwa wanita itu sudah sangat basah untuknya.
“Biarkan aku merasakanmu lebih jauh,” Yuchen berbisik di telinga Xiulan. Tangannya meluncur ke bawah, membelai paha bagian dalam Permaisuri, mendekati inti gairah wanita itu. Sentuhan itu memicu desahan lain dari Xiulan.
“Ah…” Permaisuri melengkungkan punggungnya, kepalanya mendongak. Jemari Yuchen menemukan celah di antara pakaiannya, lalu menyusup masuk. Ujung jarinya menyentuh kelembaban yang membasahi celana dalamnya.
“Kau sudah sangat basah untukku,” Yuchen berbisik, suaranya penuh kemenangan. Ia menggesekkan ibu jarinya di atas kain basah itu, memicu getaran di seluruh tubuh Xiulan.
Permaisuri Xiulan menggigil. Matanya terpejam rapat. Ia merasa seperti boneka yang dimainkan oleh Yuchen. Sebuah boneka yang tak punya daya tolak. Yang hanya bisa pasrah pada setiap sentuhan dan godaan.
“Aku… aku tidak bisa berpikir jernih,” gumam Xiulan. “Kau… kau sihir apa yang kau pakai?”
“Sihir gairah, Nuan,” Yuchen menjawab, senyumnya semakin lebar. Ia merobek kain celana dalam Xiulan dengan satu tarikan. Suara kain robek itu terdengar jelas di telinga Xiulan, pertanda bahwa tak ada lagi jalan kembali.
Kini, jemari Yuchen bebas menjelajahi kelembaban Permaisuri. Ia menyentuh bibir vagina Xiulan yang bengkak dan basah, merasakan klitoris yang sensitif. Permaisuri tersentak, menjerit kecil.
“Ah! Yuchen!”
Yuchen menggesekkan jarinya di sana, memijat lembut klitoris Xiulan. Wanita itu menggeliat di pelukannya, napasnya tersengal-sengal. “Jangan… jangan berhenti…”
Permaisuri Xiulan meremas bahu Yuchen, kuku-kukunya sedikit menggores kulitnya. Ia tidak peduli. Seluruh dunianya kini berpusat pada sentuhan jari Yuchen yang mematikan di antara pahanya. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan, membawa otaknya terbang tinggi.
“Belum, Nuan,” Yuchen berbisik. “Kau harus menungguku.”
Ia menarik jarinya, membuat Xiulan menjerit frustasi. “Tidak! Jangan!”
Permaisuri Xiulan membuka matanya, menatap Yuchen dengan mata memohon. Wajahnya merah padam, bibirnya bengkak dan sedikit terbuka. Rambutnya berantakan. Ia terlihat begitu liar, begitu menginginkan.
Yuchen membalikkan tubuh Xiulan, membuatnya berlutut di depannya. Permaisuri Xiulan menurut, matanya masih menatap mata Yuchen. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi ia mempercayai Yuchen. Ia ingin merasakan segalanya.
“Sekarang,” Yuchen berbisik, “kau akan merasakan apa yang bisa kulakukan.”
Ia memposisikan kontolnya di antara kedua kaki Xiulan yang berlutut, kepala kontolnya menyentuh pinggul lembut Permaisuri. Xiulan menelan ludah, menatap Yuchen dengan mata berkaca-kaca, dan berbisik serak, “Ini… lebih besar dari yang kubayangkan. Bisakah kau… sungguh… mengisi kekosongan ini?”