Chapter 4 of 25

Ciuman Pemecah Batasan

1.1k words

Degupan jantung Yuchen menggelegar di telinganya. "Siapkah kau menjadi laki-laki sejati bagiku?" Suara Permaisuri Xiulan berbisik, menggoda, membakar setiap sarafnya. Matanya yang gelap memancarkan hasrat tak terbendung, menguncinya dalam tatapan yang menjanjikan kenikmatan terlarang. Peleknya yang tebal berdenyut, menekan kuat di balik celananya. Otaknya memprotes, sistemnya berteriak "MISI DIMULAI! Ngentot Permaisuri!" Namun, tubuhnya bergerak sendiri, ditarik oleh magnet tak kasat mata. Keberanian, entah dari mana, mengalir dalam nadinya. Yuchen tidak lagi memikirkan konsekuensi. Hanya ada Xiulan, keharumannya, dan hasrat yang membutakan. Satu langkah. Lalu satu lagi. Jarak di antara mereka menipis menjadi nihil. Permaisuri Xiulan tidak bergerak. Ia menunggu, bibirnya yang ranum sedikit terbuka, mengundang. Matanya memancarkan cahaya liar, menantang Yuchen untuk melampaui batas. Telapak tangan Yuchen mendarat di pinggang ramping Xiulan, menariknya mendekat dengan kekuatan yang mengejutkan. Tubuh mereka bertabrakan, gaun tidur sutra Xiulan berdesir lembut di kulitnya. Kehangatan tubuh Permaisuri menembus kain tipis, meresap ke dalam dirinya. Wangi melati dan musk bercampur dengan aroma tubuhnya sendiri, menciptakan koktail memabukkan. "Permaisuri..." Suara Yuchen serak, nyaris tidak terdengar. Ia mendekatkan wajahnya, napasnya memburu, membelai pipi Xiulan yang memerah. Bibir mereka bertemu. Bukan ciuman lembut, melainkan ledakan gairah yang membakar. Bibir Yuchen melumat bibir atas Xiulan, sementara yang bawah ia isap dengan rakus. Lidah Yuchen menerobos masuk, berputar dan membelit lidah Xiulan. Ia mengisapnya dalam, penuh hasrat, seolah ingin menarik napas kehidupan dari wanita itu. "Mmmhh..." Xiulan mendesah dalam ciuman, tangannya melingkari leher Yuchen, jari-jarinya menarik rambutnya dengan gemas. Ia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, bahkan lebih liar. Lidah mereka beradu, menciptakan suara kecapan basah yang memenuhi keheningan paviliun. Yuchen merasakan tubuh Xiulan menekan kuat padanya, dada lembutnya menghimpit dadanya. Di antara paha mereka, Yuchen merasakan kehangatan basah memek Xiulan menggesek pahanya. Kain sutra tipis tidak lagi menjadi penghalang, melainkan konduktor sensasi. Sentuhan itu mengirimkan gelombang listrik ke seluruh tubuh Yuchen, mengumpul di pusat kegairahannya. Kontolnya yang sudah tegang kini semakin mengeras, seolah ingin meledak. Ia tahu. Semua batasan telah runtuh. Etiket, hierarki, bahaya. Semua lenyap, digantikan oleh hasrat primal yang tak terbendung. Hanya ada naluri, api yang menyala-nyala di antara mereka. Yuchen memperdalam ciuman, mengangkat Xiulan sedikit, kakinya melingkari pinggang Yuchen secara naluriah. Sensasi memeknya yang menempel sempurna membuat Yuchen mengerang tertahan. Xiulan menggeliat manja, kepalanya mendongak, bibirnya sedikit bengkak karena ciuman panas mereka. Matanya berkaca-kaca, penuh nafsu. "Kau... anak nakal..." bisiknya, suaranya putus-putus. "Aku tidak tahu kau seberani ini." Senyum tipis tersungging di bibir Yuchen. "Untukmu, Permaisuri, aku akan berani melakukan apa saja." Jari-jarinya mulai menjelajahi punggung Xiulan, merasakan lekuk tulangnya, kehalusan kulitnya. Ia membelai pinggang Xiulan, naik ke atas, menyentuh tepi gaun tidurnya. Kain sutra itu sangat tipis, hampir transparan, memperlihatkan siluet tubuh indahnya. Xiulan memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Yuchen, napasnya semakin cepat. "Jangan berhenti..." pintanya, suaranya merayu. Yuchen tidak berniat berhenti. Sistemnya terus membunyikan notifikasi misi, tetapi Yuchen tidak lagi peduli. Hanya sentuhan Xiulan, aroma tubuhnya, dan desahannya yang memenuhi pikirannya. Tangannya terus bergerak. Ia meraih tali tipis di bahu gaun tidur Xiulan, dengan sengaja menariknya sedikit. Kain itu melorot, memperlihatkan sedikit kulit bahu yang putih dan mulus. Xiulan mendesah, merasakan sensasi sejuk udara di kulitnya yang mulai terpapar. "Lebih..." pintanya, tidak sabar. Yuchen mencium leher Xiulan, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Permaisuri terkesiap. Lidahnya menjilat kulit sensitif itu, meninggalkan jejak basah yang membakar. "Kau sangat cantik, Permaisuri." Yuchen berbisik, suaranya penuh kekaguman dan hasrat. "Terlalu cantik untuk tidak disentuh." Permaisuri Xiulan memiringkan kepalanya, memberikan akses lebih mudah bagi Yuchen. Tangannya yang ramping meremas rambut Yuchen di tengkuknya, menariknya lebih dekat. "Dan kau... sangat menggoda, Yuchen," balas Xiulan, suaranya rendah dan serak. "Aku sudah lama mendambakan sentuhanmu." Pengakuan itu memicu gelombang panas lain di tubuh Yuchen. Ia merasa bangga dan terangsang. Wanita sekelas Permaisuri menginginkannya, mendambakannya. Jari-jari Yuchen kembali bergerak, lebih berani. Ia memijat lembut punggung bawah Xiulan, merasakan otot-ototnya menegang dan mengendur di bawah sentuhannya. Setiap sentuhan, setiap gesekan, meningkatkan ketegangan di antara mereka. Udara di Paviliun Anggrek terasa berat, dipenuhi aura gairah yang pekat. Xiulan membalikkan tubuh, kini menghadap Yuchen sepenuhnya, kedua tangannya mengunci pinggang Yuchen. Matanya yang panas menatap Yuchen lurus. "Tunjukkan padaku, Yuchen," bisiknya, "Apa yang kau inginkan dariku." Kontol Yuchen berdenyut. Ia tidak perlu diminta dua kali. Yuchen menunduk, bibirnya mencari bibir Xiulan lagi, ciuman kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Ia merasakan kehangatan yang semakin intens di antara pahanya. *Memek* Xiulan yang basah dan berdenyut jelas terasa, menggosok-gosok peleknya dengan irama tak kentara. Ciuman itu berlanjut, Yuchen mengisap bibir bawah Xiulan, memanjangkan ciuman itu, tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Ia ingin mengambil alih seluruh indranya. Xiulan terengah-engah saat Yuchen akhirnya melepaskan bibirnya, tetapi hanya untuk menciumi rahangnya, telinganya, dan kembali ke lehernya yang mulus. "Aku ingin semuanya, Permaisuri," bisik Yuchen di telinga Xiulan, suaranya serak. "Aku ingin setiap inci dirimu." Permaisuri Xiulan menggeliat, tubuhnya melengkung ke belakang, memberikan Yuchen akses lebih besar ke lehernya. Ia memejamkan mata, menikmati sensasi yang mengalir. Tangan Yuchen bergerak dari pinggang ke pinggul Xiulan, mengelus lekuk indahnya. Kemudian, ia menyusup ke bawah gaun tidurnya, jarinya menyentuh kulit paha yang lembut. Sentuhan itu membuat Xiulan tersentak. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. "Yuchen..." panggilnya, seperti rintihan. Jari-jari Yuchen menjelajahi paha bagian dalam Xiulan, naik perlahan, semakin mendekat ke pusat kegairahannya. Ia merasakan panas dan kelembaban yang semakin meningkat. Xiulan meremas bahu Yuchen, kukunya sedikit menusuk kulitnya, tetapi Yuchen tidak peduli. Hasratnya terlalu besar untuk merasakan sakit. "Kau membuatku gila," bisik Xiulan, wajahnya memerah padam. "Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya." Kata-kata itu membakar Yuchen. Ia merasa kuat, berkuasa. Mampu membuat Permaisuri yang agung ini kehilangan kendali adalah sensasi yang luar biasa. Yuchen terus memijat paha Xiulan, sesekali menyentuh lembut tepi *memek*-nya yang tersembunyi di balik kain sutra. Ia merasakan getaran di tubuh wanita itu. Xiulan mendongak, matanya bertemu dengan mata Yuchen. "Lanjutkan," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar, tetapi dipenuhi otoritas seorang Permaisuri yang memberikan perintah. Dan Yuchen menurut. Ia adalah budak hasratnya, budak Permaisuri. Tangannya semakin berani, membelai bokong bulat Xiulan melalui kain. "Kau begitu indah," Yuchen berbisik, mencium bahu Xiulan lagi, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. "Aku tidak sabar untuk merasakanmu sepenuhnya." Permaisuri Xiulan hanya bisa mendesah. Gaun tidur sutra tipis itu kini terasa seperti beban, menghalangi sentuhan yang ia dambakan. Dengan gerakan halus, Yuchen menarik lagi tali di bahu Xiulan, membiarkan gaun itu melorot lebih jauh. Kain itu kini menggantung longgar, nyaris memperlihatkan payudaranya yang indah. Gaun tidur Xiulan mulai melorot dari bahunya saat ia mendesah di telinga Yuchen, "Aku sudah menunggumu, anak nakal... tunjukkan padaku seberapa besar cintamu."

End of Chapter 4